
Farhan kehilangan jejak Zalea saat melewati kerumunan banyak orang, dia terus mencari ke sekeliling mall namun tidak mendapati Zalea sama sekali.
"Ahh, sial. Cepet banget ngilangnya, gue akan terus cari loe Lea sampai gue berhasil dapetin hati loe." gumam Farhan.
Di luar mall.
Zalea langsung masuk ke dalam mobilnya, dia meminta pak Didin untuk langsung melajukan mobilnya menuju kantor Edgar.
.
.
Di perusahaan.
Edgar kini tengah sibuk menangani beberapa berkas penting, Leo juga berada di dalam ruangan yang sama dengan Edgar karena tengah memantau proyekbaru yang akan di bangun di luar kota.
"Boss, istri boss belum kesini?" tanya Leo.
"Tadi dia ijin ke mall dulu, mau beli sepatu buat Nathan." jawab Edgar.
"Emang bos gak beliin sepatu buat Nathan?" tanya Leo.
"Bisa aja sih gue beli satu toko sepatu buat Nathan, tahu sendiri kan Lea gimana? Dia ngelarang gue buat ngasih banyak barang ke Nathan, Lea maunya Nathan berusaha. Contohnya gini, Nathan nyisihin sebagian uang jajannya untuk ditabung, nanti kalau dia mau beli sesuatu tapi uangnya kurang baru Lea yang nambahin. Istri gue emang jempol deh, Lea bilang sama gue. Meskipun sekarang ibarat katanya dia udah nikah sama gue yang notabenenya holang kaya, dia gak mau Nathan sampai terlena dan semena-mena." jelas Edgar.
"Tapi kelihatannya Nathan itu baik, Nathan juga bukan anak yang suka menghambur-hamburkan uang. Bukannya setiap hari bos ngasih uang saku sama Nathan? Tapi dia lebih milih makan bekal dari rumah." ucap Leo.
"Loe tahu nggak? Waktu itu, gue ngasih uang tiga ratus ribu buat dia jajan, dia nolak uang yang gue kasih. Terus dia bilang, jangan banyak-banyak cukup lima ribu aja. Ya gue kaget dong, uang lima ribu buat jajan di sekolah elit mah cukup buat air minum doang cuy." tutur Edgar.
"Hahaha," Leo tergelak.
Tok..Tok..Tok..
"Masuk." sahut Edgar.
__ADS_1
Ceklek.
"Permisi, paket." ucap Zalea begitu masuk kedalam ruangan Edgar.
Edgar melihat siapa yang datang, dia langsung saja berdiri menyambut kedatangan istrinya yang datang menenteng paperbag yang berisikan kotak makan siang untuknya.
"Ucap salam, bukannya paket, pkeettt." protes Edgar.
"Mohon ampuni hambamu ini baginda raja." ucap Zalea menyatukan kedua telapak tangannya, kemudian membungkukkan badannya dihadapan Edgar.
"Perasaan tadi masih waras, kenapa pas dateng kesini jadi berubah gila?" ledek Edgar.
Geplaakk..
Zalea memukul lengan Edgar dengan sedikit keras, bisa-bisanya dia di sebut gila. Leo yang sudah terbiasa melihat pemandangan dihadapannya hanya menggelengkan kepalanya, Edgar dan Zalea bagaikan kucing dan tikus ketika bertemu.
"Masih waras ini, buktinya gak nyasar nganterin makan siang." ucap Zalea.
"Gue gak ikutan bos," ucap Leo mengangkat kedua tangannya keatas.
"Sialan loe." sewot Edgar.
"Udah jangan berisik deh, mending makan siang aja. Aku mau pulang, mau temenin daddy check up ke rumah sakit." ucap Zalea.
"Temenin dulu ya istriku, biar nikmat mamamnya." ucap Edgar manja.
"Kok gue enek ya liat muka lu bos, geli pula." ejek Leo.
"Keluar sana, jangan ganggu pasutri baru." usir Edgar.
Leo pun langsung bangkit dari duduknya, dia mengambil berkas yang sedang ditanganinya untuk dibawa ke ruangannya, Zalea memberikan bekal yang sengaja ia buatkan sekalian untuk Leo. Edgar menarik tangan Zalea untuk duduk bersamanya di sofa, dia meminta istrinya itu untuk menyuapinya dengan alasan makan sambil kerja.
"Suapin ya." pinta Edgar.
__ADS_1
"Gak lah, makan aja sendiri." tolak Zalea.
"Kerjaan lagi banyak banget, tinggal suapin aja apa susahnya sih." protes Edgar.
"Yaudah, aku suapin nih." ucap Zalea membuka kotak makan siang yang dia bawa.
Akhirnya Zalea menyuapi Edgar yang makan sambil mengerjakan pekerjaannya, memang benar adanya kalau pekerjaan Edgar semakin menumpuk setiap harinya. Tak berapa lama kemudian, Edgar selesai dengan makan siangnya. Zalea pamit pada Edgar untuk kembali ke mansion, dia sudah janji pada Rio akan mengantarnya check up ke rumah sakit.
"Kabari aku, jika sudah sampai." ucap Edgar.
"Baik bos." jawab Zalea.
Zalea membereskan kotak makannya kedalam paper bag, dia menyalimi tangan Edgar sebelum keluar dari dalam ruangannya.
10 menit kemudian.
Telpon Edgar terus berdering, ada panggilan masuk yang tertera nama Zalea disana. Karena tedus menerus berbunyi, akhirnya Edgar menghentikan sejenak pekerjaannya kemudian mengangkat telponnya.
"Hallo."
"Hallo pak, saya hanya ingin mengabarkan bahwa pemilik hp ini sedang di bawa ke rumah sakit karena kecelakaan."
Deg!
"APA?! Di bawa ke rumah sakit mana?"
"Rumah sakit permata, di jalan xxx."
"Saya segera kesana sekarang."
Tuutt..
Tubuh Edgar langsung gemetar setelah mendapatkan telpon tersebut, perasaannya menjadi tak karuan. Edgar langsung keluar dari ruangannya, dia mengajak Leo untuk ikut bersamanya ke ruamh sakit dimana Zalea berada. Leo menyerahkan sebagian pekerjaannya pada sekertaris barunya yaitu Halimah, dengan langkah tergesa keduanya berjalan menuju tempat parkir, begitu masuk kedalam mobil Leoangsung malajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1