
Zalea tertegun kala mendapat serangan dadakn dari Edgar, dia mendapatkan kecupan manis di bibirnya yang membuat mulutnya langsung terkunci rapat. Edgar melihat ketegangan dari wajah Zalea yang terpancar dengan begitu jelasnya, di dalam hatinya ia bersorak karena berhasil membungkam Zalea.
"Kok diem? Mau lagi ya?" goda Edgar.
Zalea langsung tersadar dari lamunannya, dia memalingkan wajahnya yang memerah menahan malu. Perlahan Zalea melepaskan diri dari tubuh Edgar, dia langsung berjalan ke arah ranjang lalu masuk kedalam selimut menutupi seluruh tubuhnya.
"Aduh, kok jadi deg-degan ya." gumam Zalea pelan.
Edgar berdiri dari duduknya, dia melangkahkan kakinya walaupun harus menahan sensasi nyeri yang masih terasa ngilu. Dia merebahkan tubuhnya di samping Zalea tanpa di ketahui oleh istrinya, Edgar terkekeh melihat reaksi malu sekaligus kaget Zalea yang sampai menyembunyikan tubuhnya ke dalam selimut. Edgar menyingkap selimutnya kemudian menariknya, Zalea langsung menatap kearah Edgar ya g tengah tersenyum jail padanya.
"Balikin selimutnya." pinta Zalea.
"Sini dong, masa suami istri tidurnya Ldr-an." ucap Edgar meminta Zalea mendekat kearahnya.
"Gamau ah, sesuai perjanjian kan kita tidurnya terpisah." tolak Zalea.
"Enggak ada perjanjian tidur pisah, mulai sekarang saya rubah aturannya. Mulai saat ini juga, kita tidur satu kasur bareng." ucap Edgar.
"Loh kok gitu? Jangan ngerubah seenaknya dong, kan dari awal mas udah setuju." protes Zalea.
"Terserah aku lah, disini siapa suaminya? Katanya istri itu harus nurut sama suami, kalau gak nurut nanti durhaka loh. mau kamu, aku kutuk jadi kodok? Enggak kan." kekeh Edgar.
"Apaan sih? Emangnya masih zaman main kutuk-kutukan? Jangan ngaco deh." protes Zalea.
"Ssstt, udah malem. Aku mau tidur, besok ada meeting penting pagi-pagi, jadi jangan protes lagi kaena keputusan aku udah FINAL." putus Edgar.
"Haissshhh, ya Allah. Kenapa engkau berikan hambamu suami modelan kayak gini, kaya sama ganteng sih iya, tapi haahhhh syudahlaaahhh.." keluh Zalea.
"Jadi orang tuh harus banyak bersyukur, udah dikasih suami paket komplit malah ngeluh. Mantan kamu aja yang tampangnya pas-pasan bikin kecewa, di kasih yang lebih istimewa itu bonus yang luar biasa tau." ucap Edgar.
"Iya deh, si paling paket komplit." ucap Zalea memutar bola matanya malas.
Zalea lebih memilih menarik selimut dari tangan Edgar, dia tidur dengan posisi membelakangi tubuh Edgar agar suaminya itu tak meneruskan percakapan unfaedahnya. Jujur saja Zalea malas, jika harus membahas mantannya yang menyebalkan. Edgar tidak langsung tidur, dia lebih memilih menunggu Zalea untuk terbang ke alam mimpinya.
Beberapa saat kemudian.
Terdengar suara dengkuran halus yang membuat Edgar senang, dia mulai masuk kedalam selimut kemudian merapatkan tubuhnya ke tubuh Zalea. Edgar memeluk tubuh Zalea dari arah belakang, dia mengecup kepala Zalea dengan lembut sebelum ia benar-benar menutup matanya.
"Jadi anget, hihi." gumam Edgar terkekeh.
Keduanya pun akhirnya tidur pulas, Edgar mendapatkan apa yang ia inginkan, yaitu tidur dambil memeluk tubuh istrinya.
.
.
__ADS_1
Pagi hari.
Zalea bangun terlebih dahulu, dia merasakan perutnya terasa berat dan begitu ia raba ada tangan kekar yang melingkar sempurna disana.
"Mas, bangun." ucap Zalea menepuk tangan Edgar.
"Hemmm." sahut Edgar tanpa membuka matanya.
"Bangun dong, aku mau sholat subuh." ucap Zalea.
"5 menit." sahut Edgar.
"Tapi, aku mau pipis." rengek Zalen.
"Tinggal pipis aja, lagian spreinya juga waterproof." ucap Edgar.
"Hadeeuhh, buat apa ada toilet kalau harus ngompol di kasur, hemm? Awas ah, aku mau pipi sekalian sholat subuh." omel Zalea.
"Iya ih, bawel banget. Dasar ibu-ibu." ejek Edgar melepaskan pelukannya.
Zalea langsung beranjak dari kasurnya menuju kamar mandi, dia langsung menuntaskan hajatanya seraya membersihkan tubuhnya. Selang beberapa menit, Zalea keluar dari dalam kamar mandi, dia segera memakai pakaiannya kemudian mengambil mukena.
"Bukannya subuh, malah ngoroknya di kerasin." ucap Zalea melihat kearah kasur, dia menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya.
"Mas, subuh dulu." ucap Zalea menepuk pipi Edgar dengan pelan.
"Kan aku kristen." sahut Edgar enggan membuka matanya.
"Jangan sok amnesia deh, kan udah muallaf gimana sihh?" ucap Zalea heran.
"Oh iya yah, sorry. Lupa, maklum masih belum terbiasa." ucap Edgar langsung membuka matanya.
Edgar merubah posisinya menjadi duduk, dia mengucek matanya sambil mengumpulkan nyawanya yang sudah berpencar entah kemana.
"Aku ke bawah dulu, mau masak. Jangan lupa mandi sama sholat, nanti langsung turun gabung sarapan." ucap Zalea.
"Hemm." sahut Edgar.
Zalea pun keluar dari dalam kamarnya, dia turun menuruni tangga berjalan kearah dapur. Dilihatnya sudah ada beberapa pelayan yang tengah berkutat di dapur, Zalea menghampiri pelayan membantu membuat sarapan untuk penghuni mansion.
Beberapa menit kemudian.
Sarapan sudah siap di meja makan, orang-orang mulai berdatangan kecuali Cindy yang memang tidak bisa bergabung dengan yang lain karena kesusahan bergerak.
"Loh, kak Cindy mana?" tanya Zalea pada Satria.
__ADS_1
"Dia sekarang masih tidur, semalam beberapa kali kontraksi palsu. Jadi sarapannya nanti aja di kamar, kasihan udah makin susah geraknya." jawab Satria.
"Oh gitu ya, kasihan sekali." ucap Zalea.
"Lea, Edgar belum bangun?" tanya Rio.
"Tadi sih udah dad. Yasudah, kalian makan duluan aja, aku mau nyusulin mas Edgar dulu." ucap Zalea.
Zalea langsung berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Dia membuka pintu kamarnya, dilihatnya Edgar masih merapikan penampilannya.
"Ayo sarapn dulu." ajak Zalea.
"Bantuin pasang dasi dong, suamimu yang ganteng ini masih ngantuk takutnya nanti dasinya malah nyekik leher." pinta Edgar.
Zalea menghela nafasnya panjang, dia segera menghampiri Edgar kemudian mengambil dasi dari tangan suaminya, dengan sedikit berjinjit dia memasangkan dasi di leher Edgar. Edgar menarik pinggang Zalea sehingga tak ada jarak diantara keduanya, selesai memasangkan dasinya Zalea mendapatkan kecupan di keningnya.
"Terimakasih istriku." ucap Edgar tersenyum.
"S-sama-sama." jawab Zalea gugup.
Zalea berusaha melepakan tangan Edgar dari pinggangnya, entah setan apa yang merasuki tubuh Edgar sehingga perlakuannya berubah manis dengan drastis.
"Om lepasin dong, kita kan mau sarapan." ucap Zalea.
"Om? Sekali lagi kamu panggil aku om, maka kamu harus di hukum." ucap Edgar.
"Apaan sih main hukuk segala?" protes Zalea.
"Seperti ini hukumannya." ucap Edgar.
Cup..
"Emmhh." Zalea langsung membulatkan matanya.
Edgar menyambar b*b*r manis Zalea, dia m*l*m*tnya dengan lembut. Meskipun tidak mendapatkan balasan Edgar tetap melanjutkan c*****nya, dia perdalam sampai membuat Zalea terbuai. Lama kelamaan Zalea terbawa suasana, dia membalas c***** Edgar meskipun kaku, tangannya dituntun oleh Edgar untuk di kalungkan dilehernya.
Tok..Tok..Tok..
"Kakak." panggi Nathan dari luar.
Beberapa kali mengetuk pintu, tetali taka ada jawaban dari dalam. Nathan mencoba membuka pintunya yang tidak dikunci, perlahan dia mendorong pintu kemudian masuk kedalamnya.
"Astagfirullah!" ucap Nathan terkejut.
Dia langsung membalikkan tubuhnya, kedua tangannya ia gunakan untuk menutupi matanya agar tidak ternodai lebih jauh lagi. Mendengar ada suara seseorang, Zalea langsung tersadar kemudian menghentikan c*******, mata Zalea terbelalak melihat siapa yang tengah berdiri membelakangi dirinya.
__ADS_1