
Edgar memberikan kabar kepada Leo dan juga Halimah agar menghandle perusahaan, sementara dirinya pergi memenuhi keinginan istrinya. Saat ini, Edgar bersama Nathan tengah mencari ayam warna-warni, mereka mendatangi pasar tradisional karena biasanya ada yang menjual ayam dengan berbagai macam warna.
"Nathan, beneran ayamnya ada di pasar tradisional?" tanya Edgar.
"Biasanya sih ada, tapi kalau gak ada ya kita cari ke sd atau ke pasar yang lain kak." jawab Nathan.
"Yaudah yuk turun, siapa tahu ada disini." ajak Edgar.
Nathan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, ia lantas mengikuti kaka iparnya keluar dari mobil, Edgar baru pertama kalinya menginjakkan kakinya masuk kedalam pasar tradisional pun melongo. Banyaknya orang berlalu lalang sambil mendengar penjual yang mempromosikan dagangannya, jalanan yang lumayan becek dan bau yang khas mengusik hidungnya.
"Waduuhh." gumam Edgar.
"Kenapa kak?" tanya Nathan.
"Eh, gapapa kok Nathan. Ayok kita cari ayamnya, kalau gak dapet nanti kakakmu tantrum lagi." ajak Edgar dengan wajah ragunya.
Nathan melihat raut wajah Edgar pun menghela nafasnya panjang, dia lupa kalau Edgar orang kaya yang tidak terbiasa masuk kedalam pasar.
"Biar Nathan aja yang cari, kak Edgar tunggu saja di mobil." ucap Nathan.
"Ya gak bisa gitu dong dek, kan kakak kamu pengennya kak Ed yang beliin, jadi kakak yang harus cari." ucap Edgar.
"Yaudah, terserah kak Edgar aja." ucap Nathan.
Edgar melangkahkan kakinya dengan berjinjit, seraya melihat ke kanan dan ke kiri mencari penjual ayam warna-warni. Banyak orang yang mengangkut karung terlihat berat dan juga kesusahan, tubuh Edgar tak sengaja tertubruk karena padatnya jalanan pasar.
Brukk..
"Awwshhh, kaget njir." ucap Edgar hampir terhuyung.
"Kak, kakak gapapa kan?" tanya Nathan.
"Gapapa kok, mungkin dia juga gak sengaja kan jalannya sempit juga." ucap Edgar.
"Syukurlah kalau gapapa, di pasar memang seringkali berdesakan jadi sudah biasa kalau ada yang gak sengaja ketabrak, bahkan kalau lagi hari raya sampe susah gerak saking penuhnya. Kak Lea juga pernah kerja di pasar kalau lagi libur semester, dia ngangkut beras supaya daper upah, kadang dia juga buat kue kalau ada modalnya terus di dagangin di pasar." tutur Nathan.
"Apa? Ngangkut beras? Yang bener aja, masa ngangkut beras? yang sekarung itu?" cecar Edgar menunjuk kearah toko beras yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
__ADS_1
"Iya, dulu ada pemilik toko beras di pasar yang nawarin kerjaan ke ibu soalnya ada pekerjanya yang gak bisa masuk katanya lagi di rawat, kebetulan saat itu kakak lagi libur habis semester jadi dia kerja." jelas Nathan.
Edgar tidak menyangka sama sekali Zalea menjadi buruh angkut beras, dilihatnya karung berasnya cukup beras, bahkan untuk seorang pria pun terlihat cukup kesusahan. jauh dari dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia akan terus berusaha membuat istrinya dan juga adik iparnya bahagia, sudah cukup mereka menderita selain karena perekonomian mereka juga menderita hidup bersama ayahnya sendiri.
"Ayo kak cari lagi, keburu tambah siang nanti tambah panas." ucap Nathan.
"Ayo." sahut Edgar.
Edgar dan Nathan terus berjalan mencari kesana kemari, tetapi mereka tidak mendapatkan apa yang tengah dicari, sampai akhirnya keduanya memutuskan untuk mencari di tempat lain karena tidak mendapatkan ayam warna-warninya.
"Coba kita cari ke sekolah dasar kak, dulu pas aku belum pindah suka ada yang jualan." ucap Nathan.
"Kamu ke sekolah jam berapa? Kalau nanti telat gimana?" tanya Edgar.
"Tenang aja kak, aku ke sekolah nanti sekitar jam 10. Besok ada acara di sekolah kayak perlombaan gitu, Nathan cuma mau latihan buat tampil besok." jawab Nathan.
"Loh, kok kakak gak tau sih dek? Kalau tau kan kakak nanti bisa dateng ke acaranya." ucap Edgar.
"Gak usah kak, ini cuman lomba puisi antar kelas kok dan orangtua atau wali murid yang lain juga gak dateng, ini acaranya juga sambil seleksi buat perlombaan resmi antar sekolah. Puisi siapa yang paling bagus, itu yang akan mewakili sekolah nanti." jelas Nathan.
"Oh gitu, yaudah kakak doain kamu lolos seleksi dan ikut lomba mewakili sekolah." ucap Edgar.
Edgar dan Nathan sudah masuk kedalam mobilnya, tempat tujuan mereka adalah sekolah dasar dimana dulu Nathan bersekolah.
Tak butuh waktu lama, Edgar memarkirkan mobilnya tak jauh dari area sekolah, dia keluar bersama Nathan yang langsung berlari mencari penjual yang biasa berjualan disana.
"KAK, AYAMNYA ADA NIH." teriak Nathan.
Mendengar teriakan Nathan membuat Edgar tersenyum senang, dia segera menyusul Nathan menghampiri penjual tersebut. Dilihatnya seorang pria yang sudah tua, wajahnya sudah keriput serta badannya yang sedikit membungkuk.
"Kek, satu ayamnya berapa?" tanya Nathan.
"Se-puluh ri-bu." jawab di kekek dengan gemetar.
Edgar berjongkok dihadapan kakek penjual tersebut, dia menatap wajah sang kakek yang terlihat bergetar serta tangan yang memegangi perutnya.
"Kakek kenapa?" tanya Edgar.
__ADS_1
"Dagangan kakek belum laku, sedangkan kakek belum makan dari semalam." ucap sang kakek dengan mata yang sudha mengkristal.
"Ya Tuhan, kalo gitu saya beli semua ayamnya ya kek." ucap Edgar menatap iba pada kakek tersebut, dia juga bisa melihat masih banyak ayam yang berada di dalam sebuah box.
Seketika buliran bening berjatuhan mendengar kata-kata Edgar, dia langsung bersujud diatas tanah karena ada yang mau memborong dagangannya. Edgar langsung mengangkat tubuh kakek tersebut untuk bangkit dari duduknya, ia juga menyuruh Nathan membawa box yang berisikan ayam tersebut kedalam mobil bersama kakek penjualnya.
"Kita beli makanan dulu ya kek, nanti saya antar pulang ke rumah." ucap Edgar.
"Terimakasih nak, hatimu begitu baik dan mulia." ucap kakek terharu.
Edgar membalas ucapan kakek tersebut dengan sebuah senyuman di bibirnya, hidungnya sudah memerah bahkan ia sengaja menengadahkan wajahnya menahan agar air matanya tidak tumpah. Bagaimna bisa pria yang sudah sangat tua seperti itu bekerja, sedangkan masih banyak anak muda di luaran sana yang berfoya-foya.
Edgar memberikan sebuah roti kepada sang kakek untuk mengganjal perutnya, dia juga memberikan sebotol air minum yang selalu tersedia di mobil.
Satu jam berlalu.
Edgar dan Nathan sudah kembali ke mansion, ia membawa anak ayam dengan berbagai warna sesuai kemauan Zalea, dia meletakkannya di belakang mansion.
"Kak, Nathan mau ke kamar ya, sebentar lagi ke sekolah." ucap Nathan.
"Iya, makasih ya udah nemenin kakak." ucap Edgar.
"Iya, sama-sama kak." balas Nathan.
Nathan berlalu meninggalkan Edgar, dia langsungbmasuk kedalam kamarnya bersiap untuk pergi ke sekolah. Sedangkan Edgar memilih untuk naik keatas kamarnya, dilihatnya Zalea tengah bersandar di kepala ranjang sambil memainkan ponselnya.
Ceklek.
Pandangan Zalea beralih menatap suaminya yang baru masuk kedalam kamar, dia melihat wajah Edgar yang memerah dan..
Greepp..
"Huhuhuhu..." tiba-tiba Edgar menangis.
"Hey, kamu kenapa mas? Kenapa menangis?" tanya Zalea.
"Peluk aku dulu, nanti jawabnya aku lagi sedih sekarang." ucap Edgar.
__ADS_1
Zalea mendekap tubuh suaminya, dia juga mengelus rambut Edgar agar suaminya itu tenang, dia sama sekali tidak mengerti mengapa Edgar bisa menangis sampai sesenggukkan.