
Pagi hari.
Cahaya matahari mulai menampakkan dirinya, tetapi itu tak membuat kedua insan yang tengah berpelukan dibawah selimut itu terbangun. Mereka masih betah menjelajahi alam mimpinya, dengkuran halus saling bersahutan sampai suara ponsel membangunkan salah seorang diantara keduanya.
Eeuugghh
Zalea melenguh pelan, dia hendak menggeliatkan tubuhnya namun tubuhnya seakan susah bergerak, begitu ia membuka matanya dia melihat kearah samping dimana Edgar tengah memeluk tubuhnya dengan erat. Mata Zalea langsung terbelalak, refleks ia menyingkap selimut lalu memeriksa pakaiannya.
"Hhuuhh, syukurlah masih lengkap." gumam Zalea.
Zalea hendak melepaskan tangan Edgar yang melingkar diatas perutnya, namun bukannya lepas Edgar malah mempererat pelukannya. Zalea bingung harus apa, sejenak ia memandangi wajah Edgar yang masih tertidur dengan pulasnya, tak disangka ia bisa menikah dengan Edgar dalam kurun waktu yang begitu cepat.
"Kalau dilihat-lihat si om emang ganteng, tapi sayangnya dia nyebelin dan anehnya gue gak bisa nyelah setiap ucapannya, bahkan gue jadi kayak cewek penurut sama kalau lagi bareng dia." cicit Zalea.
Zalea menelisik wajah tampan Edgar, pandangannya tertuju pada hidung mancung Edgar. Dia memberanikan diri memegang hidung Edgar, tanpa disangka Edgar terusik sampai melepaskan tangannya yang tengah memeluk Zalea dengan erat, dia menggeliatkan tubuhnya sambil menutup mulutnya yang tengah menguap.
Hooaammm..
Zalea pura-pura menutup matanya kembali, Edgar perlahan membuka matanya yang terasa perih karena kurang tidur.
"Njir, mata gue hampir gak bisa dibuka." gumam Edgar.
Perlahan tapi pasti Edgar bisa membuka matanya, dia memalingkan wajahnya kearah samping melihat Zalea yang masih menutup matanya. Edgar mengubah posisinya menghadap kearah Zalea, dia memandangi wajah wanuta yang baru satu hari menjadi istrinya.
__ADS_1
"Kalo dilihat-lihat lu itu cantik juga cil, tapi sayangnya lu rada polos makanya lu di begoin sama mantan lu." ucap Edgar.
'Nih orang bilang gue cantik? Kayak mimpi, tapi kok jantung gue kayak gak aman pas dia bilang cantik' batin Zalea.
Jantung Zalea langsung berdetak tak karuan, dia sebisa mungkin mempertahankan posisinya yaitu berpura-pura tidur, sebelum Edgar pergi ia akan tetap menutup matanya.
"Cil gue janji, bakalan berusaha buat ngejaga lu dan keluarga lu, tapi izinkan gue untuk belajar mencintai lu dengan tulus, meskipun kita menikah bukan karena adanya cinta tapi jauh dari lubuk hati yang paling dalam gue akan mempertahankan pernikahan ini." ucap Edgar lagi.
'Ternyata di balik sikapnya yang nyebelin, dia baik banget sama gue. Makasih om, gue juga bakal berusaha buat nerima lu' batin Zalea.
Edgar terus menatap wajah Zalea, rasanya sangat menyenangkan disaat ia membuka mata ada seorang gadis yang tertidur disampingnya. Edgar mempunyai sebuah keinginan, diamana ia memiliki keluarga kecil dan disaat ia membuka mata ada sosok istri yang menemani tidurnya. Tangan kekar Edgar di letakkan di pipi Zalea, dia mengusapnya dengan lembut. Jangan tanya bagaimana reaksi Zalea, jantungnya hampir lompat dari tubuhnya, tubuhnya membeku di tempatnya.
'Om udah dong awasin tangannya, jantung gue udah dag-dig-dug serr nih' batin Zalea resah.
Edgar terus membelai wajah Zalea, ia melihat hidung kecil Zalea yang sangat imut dan terlihat lucu. Dengan jailnya ia menarik hidung Zalea, Zalea terbangun dari tidurnya karena tak bisa bernafas.
Edgar menutup telinganya begitu mendengar teriakan Zalea, dia dengan wajah tanpa dosanya menatap Zalea dengan menaikkan salah satu alisnya. Zalea menatap tajam Edgar, sungguh dia kesal pada pria yang baru menyandang status suaminya itu.
"Om ngapain tarik hidung aku? Terus ngapain juga om ada di kasur? Bukannya om yang bilang kalau mau tidur di sofa?" cecar Zalea.
"Pagi-pagi udah berisik kayak emak-emak aja, orang aku mau bangunin kamu kok." kilah Edgar.
"Ngeles aja, om gak ngapa-ngapain aku kan?" tanya Zalea.
__ADS_1
"Kenapa jadi panggil om sih? Bukannya udah sepakat bilang mas?" tanya Edgar.
"Belum terbiasa, jadi maklumin aja." ucap Zalea.
"Ck, udah sono mandi." ucap Edgar berdecak.
"Gak ada bajunya, gimana mau mandi om?" keluh Zalea.
"Yaudah, nanti aku pesenin baju sama Leo." ucap Edgar.
"Yaudah mandinya nanti aja, kalau bajunya udah ada." ucap Zalea.
"Berarti mandi bareng ya?" goda Edgar menaik turunkan alisnya.
"Matamu!" sewot Zalea.
Edgar terkekeh mendengarnya, Zalea langsung turun daei tempat tidurnya melemparkan bantal kearah Edgar.
"Jangn mesum om, inget kesepakatan kita." ucap Zalea.
"Ya kalau aku mau juga gapapa, sah-sah aja kan udah halal ini." ucap Edgar santai.
"Awas aja kalau macam-macam, tak tonjok tuh kayu berurat nya." ancam Zalea.
__ADS_1
"Auchh, takut. Hahaha," ledek Edgar.
Zalea memutar bola matanya jengah, dia lebih memilih pergi meninggalkan Edgar lalu duduj di sofa. Edgar ikut turun mengikuti langkah Zalea, dia duduk disamping Zalea yang tengah kesal padanya.