Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten

Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten
Anak hebat


__ADS_3

Edgar sudah sampai di rumah sakit, dia melangkahkan kaki panjangnya menuju ruangan diamana Zalea di rawat. Rio melihat kedatangan putranya yang tengah berjalan kearahnya, seketika ia merentangkan tangannya menyambut kedatangan putranya.


Greeepp..


"Anak hebat." ucap Rio menepuk punggung Edgar.


"Apa Lea udah sadar dad?" tanya Edgar.


Rio melepaskan puelukannya dari Edgar, dia menggelengkan kepalanya pelan menjawab pertanyaan dari anak sulungnya itu. Edgar mendesah pelan mendalati jawaban dari sang ayah, dia berjalan meninggalkan ayahnya yang menatap sendu punggung anak sulungnya yang begitu tabah menerima semuanya.


"Aku tahu kau kuat nak." gumam Rio.


Ceklek.


Zalea masih terbaring lemah dengan wajah pucatnya, langkah kaki Edgar terasa berat saat hendak mendekat kearah istrinya.


"Kenapa kau masih belum sadar Lea? Apa kau berniat menyiksaku?" tanya Edgar begitu sampai di dekat Zalea.


Tubuh Edgar kini sangatlah lelah, ditambah lagi ia harus melihat istri tercintanya masih dalam keadaan tak sadarkan diri. Dia tertidur dengan posisi duduk, tangannya tetap menggenggam tangan Zalea yang terasa dingin.


*


*


Cindy kini sudah di pindahkan ke ruanh rawat, dia tengah memberikan asi untuk kedua putranya di temani sang suami. Indah dan Adel lebih memilih keluar dari ruangan Cindy, mereka sedang bertanya-tanya dengan apa yang sebenarnya terjadi, bertepatan saat mereka keluar dari ruangan Cindy Albert datang bersama Raden.


"Dinda." panggil Albert.


"Kakanda, habisa dari mana sih? Katanya sebentar?" cecar Adel.


"Cari yang muda, biar bisa jadi istri kedua." canda Albert.


"Gue tabok juga lu ya, berani cari yang muda berarti cari mati!" sewot Adel dengan berkacak pinggang.


Adel mengepalkan tinjunya kearah Albert, berani sekali suaminya itu memancing emosi naga yang sedang meringkuk. Albert menyingkirkan tangan Adel dari hadapannya, dia terkekeh geli melihat ekspresi marah istrinya yang selalu lucu menurutnya.


"Masa sih mau cari yang muda, sedangkan yang dirumah selalu awet muda bahkan tanpa pengawet." gombal Albert menoel dagu Adel.


BLusshh..


Seketika emosi Adel menurun drastis, dia memalingkan wajahnya yang memerah karena salah tingkah, dia mesem-mesem sendiri sambil menggigiti kukunya. Indah dan Raden sudah teebiasa melihat kebucinan mereka berdua, seketika keduanya pun memmutar bola matanya jengah.

__ADS_1


"Nyebelin deh." ucap Adel memukul dada bidang Albert pelan.


"Isshhh, jengkel juga lama-lama." cibir Indah.


"Apalagi saya nyonya." ucap Raden menimpali.


"Sebenernya kalian habis dari mana sih?" tanya Indah.


"Ada urusan penting, ini menyangkut Edgar dan Zalea." jawab Albert serius.


"Emangnya Lea sama Edgar kenapa?" tanya Adel.


"Begitu daddy Rio sama Zalea nganterin Cindy kesini, mobik mereka dihadang sama penjahat. Zalea nyuruh daddy Rio bawa Cindy ke rumah sakit karena nyawa Cindy sedang dalam bahaya, dia lebih milih lawan penjahatnya sendirian sampai akhirnya tertembak dan kritis." jelas Albert.


Deg!


Indah dan Adel langsung mematung di tempatnya, begitupun Satria yang baru saja keluar dari ruangan Cindy.


"Apa?! Kenapa gak kasih tahu mommy sih Al?" sentak Indah.


"Sabar dulu mom, kondisinya Al juga harus ngurus pelaku yang sebenarnya, disisi lain juga Al gak mau sampai Cindy denger kejadian yang sebenarnya takutnya dia drop." ucap Albert.


"Bagiamana keadaan kakak ipar sekarang? Tadi pas operasi berlangsung Cindy juga bilang kalau mereka dihadang penjahat, dia juga khawatir soal keadaan kakak ipar, tapi aku bilang kalau kakak ipar baik-baik saja." jelas Satria.


"Ya Allah, anakku." lirih Indah.


Indah tak kuasa menahan tangisnya, dia sudah menganggap Zalea dan Nathan sebagian dari keluarganya sendiri, mendengar kondisi Zalea mampu membuat hatinya serasa teriris. Adel memeluk tubuh Indah dari samping, dia juga merasakan bagaimana sakitnya hati Indah saat ini.


"Al, boleh mommy lihat keadaan Lea?" tanya Indah sendu.


"Boleh kok mom, Edgar juga membutuhkan mommy." jawab Albert.


Indah mengusap air matanya dengan kasar, dia lupa memikirkan bagaimana perasaan Edgar. Indah langsung manarik tangan Albert agar ia segera bertemu dengan Edgar, dia ingin Melihat bagaimana kondisi Zalea saat ini.


"Dinda, kau temani Cindy bersama Satria. Kalau Cindy menanyakan mommy dan kakanda, bilang saja kita sedang mencari makan." pesan Albert.


"Baik kakanda." sahut Adel.


"Terus saya gimana tuan?" tanya Raden.


"Tugasmu sudah selesai, sekarang kamu balik lagi ke kantor." jawab Albert.

__ADS_1


"Hadeeuuhh, kapan nyari calon istri kalau tiap hari kerjaannya di kantor terus." keluh Raden.


"Sabar bro, kau tahu sendiri bagaimana aku dulu bekerja sebagai asisten kakak ipar." ucap Satria menepuk pundah Raden.


Raden menghela nafasnya panjang, ternyata naik pangkat bukannya membuatnya senang malah menambah banyak pekerjaannya, beruntung gajinya besar jadi dia tetap menekuninya. Albert langsung mengajak ibunya ke tempat dimana Zalea berada, Indah begitu tidak sabar ingin segera melihat Zalea.


Begutu sampai di ruangan Zalea, Indah bisa melihat Rio yang tengah duduk di luar ruangan karena memang hanya boleh ada satu orang yang masuk kedalam.


"Rio." panggil Indah.


"Indah, kanapa kau kesini? Bagaimana dengan cucuku?" tanya Rio.


"Mereka baik-baik saja, lebih baik kau temui kedua cucumu. Aku dan Al yang akan berjaga disini, setelah itu kau bisa kembali lagi kesini, dan satu hal lagi. Tolong jangan beritahukan keadaan Lea yang sebenarnya, aku takut Cindy kenapa-napa mengingat dia baru saja selesai operasi dan melahirkan." ucap Indah.


"Baiklah, aku titip anak sulungku beserta menantuku. Aku akan segera kembali lagi kesini, aku ingin melihat cucu pertamaku." ucap Rio.


"Pergilah dad, jangan khawatirkan mereka." ucap Albert.


Rio menganggukkan kepalanya, dia segera berjalan menuju ruangan Cindy dan kedua putranya di rawat. Sudah lama ia menantikan kedua cucunya lahir, Rio mengusap airmatanya yang tiba-tiba terjun bebas tanpa bisa ia cegah.


Tak lama kemudian ia sampai di ruangan Cindy, sebelum masuk kedalam Rio mengusap air matanya agar tidak mengundang rasa curiga.


Ceklek.


"Mana cucu daddy?" tanya Rio begitu masuk kedalam.


"Stop!" Satria langsung mengahalangi Rio dengan tubuhnya.


Rio menaikkan satu alisnya menatap bingung pada Satria, dia hendak melangkahkan kakinya kembali namun Satria tetap menahannya.


"Ada apa sih dek? Kanap menghalangi jalan daddy?" tanya Rio.


"Aku gak mau daddy ngeliat aset Cindy, dia lagi ngasih asi buat para jagoan." ucap Satria posesif.


"Oalah, sodakoh dikit napa dek." goda Rio.


"NO! Big no dad!" ucap Satria menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.


"Hahaha, baiklah. Daddy tunggu diluar dulu, kalau udah kabarin daddy ya, soamnya daddy udah gak sabar lihat cucu daddy." ucap Rio.


Satria mengantar ayahnya keluar dari ruangan Cindy, dia memegang tangan sang ayah dab menatap matanya dengan lekat. Air mata Rio kini kembali mengalir, dia tak tega melihat anak sulung dan menantunya yang kini masih betah menutup matanya, luka yang di torehkan oleh mendiang ayahnya berimbas pada anak dan menantunya.

__ADS_1


"Kenapa kelakuan kakekmu berimbas pada keselamatan kalian? Tidak cukupkah dia menghancurkan rumah tanggaku? Apa dia tidak puas setelah membuat ibu dan istriku meninggal? Kenapa dek! Kenapa! Bahkan saat dia sudah mati pun masih menyusahkan anak sulungku, nyawa istrimu pun hampir terancam, hikss..." ucap Rio dengan kerapuhannya.


Satria memeluk tubuh ayahnya, air matanya juga tak bisa ditahan lagi. Keduanya menangis sambil berpelukan, menangis dalam dia membuat dada keduanya sakit, tali jika bersuara itu akan mengundang yang lainnya ikut sakit apalagi terdengar oleh Cindy.


__ADS_2