
Rasya yang tengah bergelung didalam selimut pun langsung terbangun, rasanya dia sungguh berat sekali untu melaksanakan tugas dari kakak iparnya, tetapi jika tidak dituruti maka nyawanya menjadi taruhannya.
"Si Luna yang mana sih? ngerepotin banget." keluh Rasya.
Dengan langkah yang gontai Rasya keluar dari dalam kamarnya, saat sudah menutup pintunya terdengar notifikasi dari dalam hp nya.
'Sya cepetan berangkatnya, Farid gak bisa nungguin lama-lama di club soalnya istrinya lagi rasain kontraksi mau lahiran, gue gak bisa berangkat si kembar bangun'
Rasya mengacak-acak rambutnya frustasi, dia segera melangkahkan kakinya dengan langkah tergesa. Tak lama kemudian Rasya sudah sampai di lantai bawah, dia menuju parkiran dimana mobilnya berada, dengan gerakan cepat Rasya melajukan mobilnya dengan setengah edan menuju club yang sudah di beritahukan oleh Adel.
15 menit kemudian.
Rasya memarkirkan mobilnya di depan sebuah club malam, dia langsung keluar dengan berlari masuk kedalam club tersebut, ia menutup hidungnya kala mencium bau alkohol yang begitu menyengat.
"Bau banget, gue gak tahan kayak pengen muntah njir." keluh Rasya.
Rasya mencari keberadaan Luna dan Farid, dari kejauhan Farid melambaikan tangannya kala melihat Rasya yang tengah berdiri di depan pintu. Melihat Farid yang tengah melambaikan tangannya , Rasya langsung berjalan kearahnya.
"Pak Rasya, di suruh kesini sama Adel kan?" tanya Farid.
"Iya, mana cewenya?" tanya Rasya.
"Ini, yang lagi tepar." jawab Farid menunjuk kearah Luna.
"Yaudah, ayo bantuin gue bawa dia ke mobil, bukannya kata si madam istri lo lagi kontraksi." ucap Rasya.
"Oke, iya tadinya istri gue bilang dia kontraksi taunya itu kontraksi palsu." ucap Farid.
Farid pun membantu Luna keluar dari dalam club, dia dibantu oleh Rasya membawa Luna yang sempoyongan seraya meracau.
"Kenapa harus ibu gue, hikss.." racau Luna.
"Kenapa dia?" tanya Rasya.
"Cowoknya selingkuh, parahnya sama nyokapnya." jawab Farid.
"Anjaaay, pantesan ni cewek jadi bego." ucap Rasya.
Bukkk..
Farid mendudukkan Luna tepat di belakang mobil, Rasya masuk kedalam mobil bagian belakang memasangkan seatbelt pada Luna. Setelah dipastikan Luna sudah aman, Farid pun berpamitan pada Rasya untuk pulang ke rumahnya. Rasya berpindah tempat kearah depan, dia duduk di kursi kemudi kemudian melajukan mobilnya menuju hotel Wiguna sesuai perintah dari kakak iparnya.
15 menit berlalu.
Rasya memarkirkan mobilnya, dia membuka pintu belakang mobilnya hendak membuka seatbelt namun Luna tiba-tiba memuntahkan isi perutnya.
Huueeekkk...hueekkk..
__ADS_1
"MOBIL GUEEEE.." teriak Rasya frustasi.
Luna memuntahkan isi perutnya di dalam mobil Rasya, dia menyugar rambutnya kebelakang setelah selesai muntahnya. Rasya melongo dibuatnya sampai ia tak bisa berkata-kata lagi, sedangkan pelaku bersandar memejamkan matanya tanpa melihat wajah Rasya sudah memerah menahan amarahnya.
"Udah mah nyusahin, ngotorin, aaarrgghhh sial!" amuk Rasya.
Walaupun dia tengah emosi tetap saja ia membawa Luna naik keatas, dia menggendong tubuh Luna yang bau Alkohol sampai Rasya tidak kuat mencium baunya. Langkah Rasya di tengah perjalanan lupa mengabari Adel, dia bingung harus membawa Luna ke kamar mana, akhirnya ia memutuskan untuk menghampiri resepsionis meminta kamar yang kosong.
"Gue simpen dulu nih cewek, nanti gue kabarin madam." gumam Rasya.
Resepsionis memberikan kartu kamar pada Rasya, dengan langkah panjangnya Rasya berjalan kearah kamar yang sudah di berikan kartunya oleh resepsionis. Sampai di kamar, Rasya menahan tubuh Luna menggunakan kakinya, tangan kanannya ia gunakan untuk menempelka kartu untuk membuka pintunya.
Ceklek.
Rasya berjalan masuk kedalam kamar, dia merbahkan tubuh Luna diatas ranjang. Rasya langsung saja berlari keluar kamar Luna, biasanya kalau orang tengah dalam pengaruh alkohol akan melakukan hal yang aneh-aneh, ia tidak mau itu terjadi jadi ia lebih memilih keluar.
"Hiih, membayangkannya saja menjijikan." gumam Rasya.
Rasya segera menghubungi ponsel kakak iparnya, dia menyuruh Adel untuk datang ke kamar Luna.
Tak butuh waktu lama Adel datang sendirian menemui Rasya dengan membawa paper bag ditangannya, dilihatnya Rasya tengah bersandar dindekat pintu kamar Luna.
"Sya, gimana keadaannya? Kenapa loe tinggal?" cecar Adel.
"Ya kali gue di dalem, kalau gue di perk*s* gimana? Emang gue cowok apaan?" jawab Rasya.
"What!? Madam yang bener aja, gue kan udah turutin perintah lu buat jemput dia, kenapa sekarang lu nyuruh gue buat jaga si kembar sih? Mana dia muntah di mobil kesayangan gue lagi." protes Rasya.
"Iissh, berisik. Cepet pergi sana, kasihan suamiku tercinta kesusahan jaga si kembar." ucap Adel.
Rasya mencebikkan mulutnya kesal, dia memberikan kartu kamar Luna pada Adel. Dengan ekspresi kesalnya Rasya pergi dari hadapan Adel, sudah tak heran lagi jikalau kakak iparnya ituseringkali bersikap seenaknya. Anehnya dia tidak bisa menolak perintah Adel, Rasya pun menaiki lift menuju kamar kakaknya untuk menjaga si kembar sesuai perintah Adel.
Begitu Rasya pergi, Adel langsung masuk kedalam kamar dimana Luna berada. Dia melihat penampilan Luna yang acak-acakan, bau alkohol begitu menyengat berasal dari baju yang dipakai Luna.
"Asem lu Luna, bisa-bisanya manusia slebew kayak loe minum alkohol. Kalau galau lari sama Tuhan, bukan ke minuman, lagian punya cowok kurang ajar banget sih. Selingkuh kok sama emak lu, kagak ada wanita seksi, cantik dan lebih bohay kah? Elu nya juga bego, mau aja dikibulin sama cowok yang bilangnya (temenin aku dari nol sampai sukses, nanti aku bakal nikahin kamu dan juga bahagiakan kamu) preeet, ah. Mana ada raja yang nagajak ratunya berperang, ratu mah diem di rumah biar raja yang berjuang." gerutu Adel sambil mengganti pakaian Luna.
Selesai memakaikan baju pada Luna, Adel membereskan baju Luna yang bau Alkohol lalu memasukkannya ke dalam paper bag. Tiba-tiba Luna meracau, dia menangis dengan kencang lengkap dengan tangannya yang mengepal.
"HUAAAAA...BRENGSEKK! SETAN! KENAPA GAK BUNUH GUE AJA, SAKIT ANJAY!" teriak Luna.
"Luna, lun, sadar begeh." ucap Adel menepuk-nepuk pipi Luna.
Luna membuka matanya yang sudah sembab akibat terus menangis, dia melihat Adel yang tengah duduk disampingnya. Luna langsung memeluk tubuh Adel dengan masih terpengaruh alkohol, dia menangis sejadinya di pelukan Adel.
"Gue salah apa del! Gue salah apa!" tekan Luna.
"Luna loe gak salah, mereka yang salah Lun." ucap Adel.
__ADS_1
"Mereka tega ngelakuinnya di rumah Del, hati gue sakit liatnya." ucap Luna di sela tangisnya.
"Lu tenangin diri loe dulu, kita bahas nanti aja ya. " ucap Adel mengusap punggung Luna yang bergetar.
Tangisan Luna semakin pecah kala mengingat kelakuan menjijikan dari pacarnya dan juga ibunya, Adel merasa iba melihat kondisi Luna yang tengah rapuh, dia berjanji dalam hatinya akan membalaskan semua perbuatan yang sudah mereka lakukan pada sahabatnya.
' kalian salah menyakiti orang yang gue sayangi, silahkan nikmati sisa kebahagian kalian, tapi setelah ini gue pastika kalian memohon pada Luna' batin Adel.
.
.
Edgar dan Zalea kini tangah duduk di sofa dengan saling bertatap muka, keduanya sudah menyelesaikan makannya. Edgar tidak tahu harus mulai bicara dari mana, yang pastinya dia ingin mengajak Zalea berdiskusi.
"Lea." panggil Edgar.
"Iya om?" sahut Zalea.
"Bisa gak, jangan panggil om? Saya itu suami kamu loh sekarang?" protes Edgar.
"Terus panggilnya apa dong?" tanya Zalea bingung.
"Aa, mas, sayang, suami atau apa kek." jawab Edgar.
"Mas aja deh ya." ucap Zalea.
"Bebas, terserah kamu mau panggil aku apa yang penting sopan. Oh iya, sekarang kita ngomongnya aku kamu biar enak di dengernya. Mulai sekarang kita akan memulai dengan awal yang baik, agar kita bisa menerima satu sama lain dan saling mengenal satu sama lain." ucap Edgar.
"Om, eh. Mas, bagaimana kalau kita buat kesepakatan?" tanya Zalea.
"Kesepakatan seperti apa?" tanya Edgar menaikkan sebelah alisnya.
Zalea terdian sejenak, dia harus memikirkan benar-benar kesepakatan yang akan ia bicarakan dengan Edgar, dia tidak mau mempermainkan pernikahan jadi ia memutuskan untuk menerima semuanya tanpa terkecuali.
"Bagaimana kalau kita pacaran, maksudnya pacaran setelah nikah. Dimana kita gak boleh tidur satu kasur, rutinitas lainnya layaknya suami istri tetapi kalau urusan tidur bareng kayaknya engga dulu deh, nanti kalau kita emang sudah saling menerima satu sama lain atau sudah ada benih-benih cinta di hati kita, maka kita akan melakukannya." jelas Zalea dengan ragu.
"Aku mengerti maksudmu, aku akan menjaga batasanku. Aku juga tidak akan memaksakan kehendakku padamu, aku akan menunggu kau siap kalau masalah urusan ranjang. Lebih baik kita nikmati waktu untuk saling menerima, itu saja bagiku sudah cukup." ucap Edgar.
"Ehhm, o-oke mas." ucap Zalea gugup.
"Oh iya, aku tidak akan memintamu merubah penampilanmu. Tetapi disini aku tetaplah suamimu, aku ingin kau berhenti balapan dari mulai sekarang! Tidak boleh bekerja, cukup diam di rumah menyambutku datang dan keluar dari rumah harus atas izinku." ucap Edgar.
"Yaahh, padahal balapan itu udah jadi hobiku mas." ucap Zalea lesu.
"Tidak boleh!" tegas Edgar.
"Sesekali boleh dong mas ganteng." goda Zalea.
__ADS_1
"Sekali tidak boleh, tetap tidak boleh! Dan satu lagi. KAU TIDAK BOLEH DEKAT DENGAN PRIA LAIN SELAIN AKU!" ucap Edgar menekankan kata-katanya.