Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten

Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten
Lamaran


__ADS_3

Halimah dan kedua orangtuanya berserta kakak serta ibunya bergegas pergi ke rumah sakit, beruntung Difa datang tepat waktu ke apartemen Nisa. Di dalam mobil, Halimah terus menangis takut terjadi sesuatu kepada adik satu-satunya. Sesangkan kedua orangtua Halimah yaitu Jana dan Lasmi sudha berkeringat dingin, mereka akui kalau mereka telah melakukan kesalahan yang cukup fatal karena telah mengusir Nisa.


Begitu sampai di rumah sakit, Rasya langsung menarik tangan Halimah menuju ruangan tepat dimana Nisa di rawat. Difa tengah berada diluar ruang rawat Nisa, dia menunggu kedatangan Rasta dan juga anggota keluarga lainnya untui melihat keadaan Nisa.


"Bagaimana keadaan Nisa?" Serbu Halimah.


"Nisa belum sadarkan diri, kodisi tubuhnya lemah karena darah yang mengalir dari tangannya cukup banyak, ditambah lagi saat ini kondisinya tengah mengandung jadi sangat berbahaya bagi dirinya. Dokter menyarankan agar Nisa tetap dalam pengawasan orang terdekatnya, dia stress karena pikirannya yang selalu berperang dan kalian juga pasti tahu kenapa, itu akan berpengaruh buruk pada perkembangan janin yang ada di perutnya." Jelas Difa.


"Terimakasih Difa, kau sudah menolong adikku lagi. Aku banyak berhutang budi padamu." Ucap Halimah dengan tulus.


"Berterima kasihlah pada tuan Rasya, dialah yang sudah menyurugku untuk tetap mengawasi Nisa dimanapun dia berada." Ucap Difa.


"Terimakasih, kak Sya." Ucap Halimah beralih menatap calon suaminya.


"Sama-sama, jangan sungkan sayang dia adikku juga." Ucap Rasya seraya mengusap air mata Halimah.


 Saat melihat kedatangan Jana dan Lasmi, tatapan Difa diliputi kebencian pada mereka berdua. Difa tahu betul seperti apa sikap mereka pada kedua anaknya, jika terjadi sesuatu pada Nisa maka dia tidak akan tinggal diam.


Halimah dan yang lainnya masuk, mereka ingin melihat kondisi Nisa dan juga kandungannya. Wajah pucat Nisa masih terlihat begitu jelas membuat hati Halimah sakit melihatnya, orangtua Halimah tidak berani mengeluarkan sepatah katapun karena mereka sangat malu dan menyesal.


*


*


Keesokan Harinya.


Leo benar-benar datang ke rumah Luna bersama keluarga Giomani dan juga Wiguna, untuk pertama kalinya Leo merasa gugup di depan seorang wanita yang akan ia jadikan sebagai istri dan juga ibu dari anak-anaknya.


"Muka Leo kalau tegang jadi hulk." Bisik Adel di telinga Zalea.

__ADS_1


"Katanya takut di tolak, pas mas Edgar ngerjain kak Leo mukanya jadi pias. Kalau dia ditolak lamarannya, dia mau pergi jauh katanya dari sini." Timpal Zalea.


"Ngapain di tolak langsung cabut? Udah kayak cewek aja kelakuannya." Seru Cindy.


"Malu katanya, xixixi." Ucap Zalea terkikik geli.


"Anjir, sampe segitunya. Gak nyangka gue Lele, secinta itu loe sama sohib orok gue." Ucap Adel menggeleng-gelengkan kepalany pelan.


"Circle Adel memang paling the best, pesonanya sangat memukau. Buktinya dengan muka pas-pasan aja yang kita miliki, cowok tajir plus cakep gak ada obat aja nyantol gak perlu pake p3l3t." Ucap Nabila.


"Kalian tahu gak, semalem kak Leo latihan ijab qobul iseng kayak gitu bareng daddy. Tahu gak apa yang terjadi?" Zalea semakin semangat berghibah membicarakan kelakuan Leo.


Adel, Cindy dan Nabila langsung menajamkan telinganya, mereka menyelipkan rambut yang sengaja di buat terurai agar pendengaran mereka tidak terhalang.


"Apaan tuh?" Kepo Adel.


Ketiga perempuan yang tengah mendengarkan cerita Zalea sontak menutup mulutnya agar tidak tertawa dengan lepas, para pria yang tengah duduk di kursi depan saling menatap satu sama lain heran melihat para istrinya.


"Mereka kenapa? Kok kayak lagi pada seneng banget?" Heran Edgar.


"Kayak yang gak tau aja, mereka kan kalo kumpul gak ada bedanya ama kita." Sahut Burhan.


"Jadi pada gila semua." Timpal Satria.


"Apalagi nanti, Luna sama si madam kan satu circle. Calon bini gue juga keliatannya kalem, aslinya mah random cocok banget ama mereka." Ucap Rasya.


"Buahahha, pantes perutnya kayak kembung pas ketemu di dapur. Andai aku ada disana, udah aku pencet perutnya biar keluar g4snya." Ucap Cindy tertawa.


"Kenapa suami kita pada random semua ya, begitu juga temannya. Cuma Al tuh yang rada normal sama Satria, gue sampe bingung sama cape liat keliakuan suami gue yang selalu diluar nurul." Ucap Nabila.

__ADS_1


"Laki gue diluar emang datar banget idupnya, tapi kalo udah sama gue manjanya, nyebelinnya, randomnya kagak ada obat. Jadi intinya loe salah dalam menilai, padahal loe gak tahu kayak gimana sifat tambahannya." Timpal Adel.


"Anjir, kakak gue disebut punya sifat tambahan." Ucap Cindy.


Acara pun dimulai dengan lancar. Adel dan juga Nabila berjalan mendampingi sahabatnya Luna, sedangkan Cindy memegang salah satu anaknya duduk menemani Zalea atas permintaan Edgar yang tidak boleh meninggalkan Zalea sendirian selama proses lamaran berlangsung. Para pria memberikan dukungan pada Leo yang tengah gugup, tak hanya itu. Mereka sengaja duduk di kursi depan agar punya bahan ghibah setelah acara selesai, yah begitulah kelakuan para anak sultan yang gesrek.


Halimah berhalangan hadir karena harus menemani adiknya di rumah sakit, sedangkan kedua orangtuanya pergi entah kemana.


Acara demi acara sudah dilalui, sekarang tiba waktunya untuk bertukar cincin. Tangan Leo dingin karena gugup, begitupun Luna yang gemetar saat Leo hendak memasukkan cincin ke jarinya.


"Jangan gemeter dong, cincinnya susah masuk." Tegur Leo. Cincin yang akan ia sematkan mengalami kesusahan karena tangan Luna tak bisa diam, wajah Luna aja sampai pias di buatnya.


"Bapak Leo, aduhh tegang makanya sampe gemeter." Terang Luna.


"Rileks, jangan tegang jadi ga bisa masuk ini." Ucap Leo mulai kesal.


Akhirnya Luna berusaha menguasai dirinya, Leo langsung memasukkan cincin tersebut ke jari manis Luna. Keduanya saling berpelukan dengan air mata yang sudah mereka tahan sebelumnya, mereka terharu karena bisa sampai melangkah jauh walaupun sebelumnya pernah meragu.


Riuh tepuk tangan membuat keduanya semakin mengeratkan pelukannya, orang-orang terlihat bahagia melihat pasangan yang kini telah resmi menajdi sepasang calon semua istri. Untuk pertama kalinya Leo menangis dalan pelukan seorang wanita, dan wanita tersebut adalah belahan jiwanya sendiri. Menjalani kehidupan tanpa di dampingi orangtua semasa ia kecil membuat kesedihan yang ia pendam tumpah tanpa bisa di tahan lagi, Rio berjalan mendekat kearah Leo dengan mengusap punggung pria yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri.


"Daddy selalu ada untukmu, ini saatnya kau berbahagia nak." Ucap Rio.


Begitupun dengan ayah Luna yang bernama Subhan, dia mengelus punggung putrinya dengan perasaan campur aduknya. Dia tahu saat ini putrinya tengah merasakan sedih karena ibunya tidak hadir dalam acara resminya, Tria tengah mendekam di penjara atas tuduhan telah terlibat perkelahian dengan salah satu wanita yang jalan bersama Dodi.


"Bapak akan selalu ada buat Luna, ibumu juga pasti ingin melihat anaknya bersanding dengan pria pilihannya. Walaupun Luka yang di torehkan ibumu cukup membuatmu trauma, jangan pernah sekalipun kamu dendam padanya." Ucap Subhan.


Luna mengendurkan pelukannya dari Leo, dia perlahan melepaskan tubuhnya dari dekapan calon suaminya. Luna membalikkan tubuhnya memeluk sang ayah tercinta, cinta pertamanya di dunia yang tidak pernah sekalipun menyakitinya, pria yang rela banting tulang tak pernah mengeluh. Meskipun Luna seringkali membuat onar semasa ia sekolah, tak pernah sekalipun Subhan marah, membentak, memukul ataupun melakukan hal yang termasuk tindak kekerasan karena kelakuan putrinya.


Subhan dan Luna saling menumpahkan isi hatinya lewat air mata yang terus keluar tanpa bisa di hentikan, keduanya terisak karena sama-sama memiliki luka daei orang yang aing berharga. Mungkin jika disakiti oleh Dodi saja Luna pasti sudah langsung melupakannya, tapi di khianati oleh ibunya yang sama-sama menghianati cinta ayahnya rasanya berat. Selama masih ada sang ayah Luna akan tetap berusaha untuk ikhlas seperti apa yang selalu ayahnya katakan, entah seluas apa hati Subhan sampai ia bisa mengikhlaskan penghianatan ibunya.

__ADS_1


__ADS_2