
Satu minggu kemudian.
Semua anggota keluarga sudah berkumpul di sebuah gedung yang sudah dihias dengan begitu megahnya, banyak bunga-bunga berjejer menghiasi sebuah panggung yang sudah tertata rapih. Seorang pria sudah rapih dengan jas yang membalut tubuhnya, senyumnya tak pernah lepas dari wajahnya, dia diapit oleh ibu dan juga kakak tertuanya.
Ceklek.
Terdengar bunyi sebuah pintu yang terbuka. Pintu itu berukuran besar tinggi menjulang, sebuah cahaya masuk diiringi datangnya seorang bidadari yang diantar oleh beberapa orang yang mendampinginya. Wanita tersebut terlihat begitu cantik dan juga mempesona, semua tamu undangan menatap takjub kearahnya. Dia berjalan perlahan menuju sang pangeran, gaun putih panjang membalut tubuhnya dilengkapi dengan jilbab yang menutupi kepala sampai dadanya. Sebuah mahkota bertahta diatas kepalanya, kedua orangtuanya berdiri disamping melemparkan senyum haru yang kini tengah meliputi perasaan keduanya.
Seorang pria tersebut adalah Rasya, putra dari Wiguna dan Indah. Hari ini adalah hari yang bersejarah dalam hidupnya, kini ia sudah sah menjadi seorang suami dari Halimah.
Sesampainya Halimah dihadapan Rasya, dia tersenyum dengan mata yang sudah mengkristal. Rasya mengulurkan tangannya yang disambut oleh istri tercintanya, keduanya berjalan menuju pelaminan diantar oleh pihak WO dan diikuti oleh kedua orangtua mereka masing-masing.
Para tamu undangan mulai naik keatas memberikan ucapan selamat kepada Rasya dan juga Halimah, mereka berdua menyambut para tamu undangan dengan baik.
Dari arah panggung sudah terdengar kegaduhan, siapa lagi kalau bukan geng Adel yang tengah bersiap dangdutan.
"Madam, udah siap belum?" Tanya Edgar.
"Sabar, kan aing juga lagi cek suara dulu." Ketus Adel.
"Gatel nih pinggul, udah pengen geol." Timpal Leo.
"Sekali lagi loe berdua berisik, gue gedig juga pake mic." Ancam Adel.
Jreeennggg..
Suara lantunan musik sudah terdengar di telinga para penonton, inilah yang ditunggu oleh para tamu undangan. Sebagian banyak dari mereka sudah tahu bagaimana meriahnya acara dangdutan yang diadakan oleh Adel and the geng, mereka semua sudah mulai berdiri seakan ingin ikut bergoyang bersama. Tapi, ada sebagian juga tamu yang enggan ikut bergoyang, mereka tampak menikmati setiap pertunjukkan dan rentetan acara yang tengah dilaksanakan.
"Lagu apa nih guys?" Tanya Adel pada kawan-kawannya.
"Yang penting happy, tapi koplo ya madam." Request Nabila.
"Woke. Akang kendang, mulai dong ahhhhh." Ucap Adel dengan mendayu-dayu.
"4ny1ng geli dengernya." Ucap Edgae bergidik.
Alunan musik pun mulai terdengar, Adel and the geng mulai melompat-lompat diatas panggung. Zalea hanya menonton dari bawah panggung, dia tidak di perbolehkan ikut berjoget oleh suaminya dengan alasan karena tengah mengandung. Zalea melipat kedua tangannya dengan pipi yang sudah menggembung, dia duduk bersama Nisa dan juga para maid yang ditugaskan untuk menjaga anak Nabila, Cindy, dan juga Adel.
Kalau cinta sudah membara (aha-aha)
Rindu jadi menggebu-gebu (uhu-uhu)
Janji-janji seribu janji (ihi-ihi)
Janji apel di malam ini
Pacarku tak ada di rumah (aha-aha)
Malam minggu jadi kelabu (uhu-uhu)
Dalam hati ngomel sendiri (ihi-ihi)
__ADS_1
Akhirnya aku pulang pergi
Aku tak mau malam ini kecewa
Ya-ya-ya-ya-ya
Kuambil gitar
Suka-suka
Nyanyi di pinggir jalan
Suka-suka
Joged di pinggir jalan
Bernyanyi walau bukan dangdut asli
Yang penting goyangnya, asyik asyik
Berjoged walau bukan dangdut asli
Yang penting kita bisa hepi
Oo-ooh
Aku tak mau malam ini kecewa
Ya-ya-ya-ya-ya
Kuambil gitar
Suka-suka
Nyanyi di pinggir jalan
Suka-suka
Joged di pinggir jalan
Suka-suka
Nyanyi di pinggir jalan
Suka-suka
Joged di pinggir jalan
Bernyanyi walau bukan dangdut asli
Yang penting goyangnya, asyik asyik
__ADS_1
Berjoged walau bukan dangdut asli
Yang penting kita bisa hepi
Suka-suka
Suka-suka
Suka-suka
Suka-suka
Oo-ooh
Keedanan Adel and the geng mengundang tawa dari para tamu undangan, mereka bersuka cita di acara pernikahan Rasya. Tak lama kemudian Rasya ikut bergabung karena tak bisa menahan dirinya, dia berjoget paling heboh diantara yang lainnya.
Rio dan Indah hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anak dan menantunya, tapi mereka tetap bangga dan senang karena mereka rukun dan juga saling menyayangi satu sama lain tanpa ada yang membedakan satupun.
"Aku kira kau akan mengadakan qosidah, hahaha." Ucap Rio tertawa.
"Hahaha, tadinya sih begitu." Sahut Indah yang ikut tertawa.
Waktu pun berlalu tanpa terasa, acara pesta pernikahan sudah selesai dilaksanakan. Kini pengantin pria dan wanuta sudah berada di dalam kamarnya yang sudha dihias seromantis mungkin, Rasya melepaskan jas dan juga dasi yang melingkar di lehernya. Rasanya hari yang ditunggu-tunggunya sangat melelahkan tapi mengasyikkan, berbeda dengan Halimah yang kini tengah duduk di depan meja rias melepaskan jarum dan mahkota yang masih terpasang di kepalanya. Dari kejauhan Rasya melihat Halimah kesusahan melepaskan semua jarum yang ada di jilbab Halimah, dia berjalan menghampiri Halimah dan berdiri di belakangnya.
"Mau aku bantu?" Ucap Rasya memberi tawaran.
"Apa mas tidak lelah?" Tanya Halimah menatap pantulan Rasya dari cermin.
"Tidak, bahkan aku ingin sekali melihatmu tanpa memakai penutup kepala." Jawab Rasya.
"Baiklah mas, itukan sudah hakmu." Ucap Halimah tersenyum.
Rasya pun membantu Halimah melapaskan jarum pentul dan juga mahkota dari kepala Halimah, perlahan dia juga melepaskan penutup kepala Halimah. Rasya melepaskan ikatan rambut milik Halimah sampai rambut panjang legam itu tergerai dengan begitu indahnya, dia menatap takjub pemandangan yang sudah ia nantikan.
"Wooww, cantik sekali istriku ini. Sesempurna inikah manusia ciptaan Tuhan, aku beruntung sekali." Ucap Rasya.
Aroma shampo yang tercium dari rambut Halimah membuat Rasya terbuai, wanginya lembut sampai mata Rasya terpejam. Tangan Rasya menggapai resleting gaun Halimah, matanya mulai sayu menahan sesuatu yang ingin ia salurkan.
"Ssshhhh, sayang." desis Rasya. Dia mengendus ceruk leher Halimah, bahkan ular pitonnya sudah mulai memberontak.
"Aku milikmu mas." Ucap Halimah.
Tanpa babibu lagi. Rasya langsung memegang bahu Halimah menyuruhnya untuk berdiri, dia melepaskan pakaina yang membalut tubuh istrinya sampai terlihat bongkahan bulat sempurna. Tidak perlu membersihkan tubuhnya, Rasya menggendong Halimah ke tempat peraduannya.
Sreekkkk..
"Ssshhh, aku sudah tak tahan sayang." erang Rasya.
"Lakukanlah mas, kau tidak perlu menahannya lagi. Aku sidha siap." Ucap Halimah.
Halimah pasrah dengan apapun yang akan dilakuakn oleh suaminya, toh sudah kewajiban sebagai istri melayani suaminya. Rasya merobek t4n9t0p yang dikenakan oleh Halimah, dia mengecup setiap inci tubuh istrinya dan...
__ADS_1
Adegan panas pun mulai terjadi, erangan demi erangan saling menyahuti satu sama lainnya. Rasya begitu puas karena ia menjadi orang pertama bagi istrinya, dan gak lama kemudian suara emplak-emplak pun terjadi xixixi 😂