
2 hari kemudian.
Zalea sudah di perbolehkan pulang oleh dokter, kondisinya juga sudah membaik. Kini Zalea pulang bersama Edgar, dia dibawa ke mansion menemui adik dan juga keluarganya yang lain. Edgar mendorong kursi roda Zalea menyusuri lorong rumah sakit, mereka hanya berdua karena yang lain tengah menunggu di mansion.
"Lea." panggil Edgar.
"Ada apa mas?" tanya Zalea.
"Apa kau bahagia menikah denganku?" tanya Edgar.
"Kenapa bertanya seperti itu?" tanya Zalea balik.
"Tinggal jawab aja, kenapa malah balik nanya sih." omel Edgar.
"Kalau aku tidak bahagia, untuk apa aku tetap bersamamu. Aku bukan tipikal orang yang gila harta, jadi jangan berfikir aku menikah denganmu karena kau kaya, selama menjalani rumah tangga denganmu rasanya aku bahagia dan sangat, sangat bahagia." jawab Zalea.
"Apa kau mencintaiku?" tanya Edgar.
DEGG!
Lidah Zalea terasa kelu untuk menjawab pertanyaan Edgar, apakah memang cinta harus dipertanyakan. Edgar yang mendapati Zalea diam pun menghentikan laangkahnya dan juga kursi rodanya, dia merubah posisinya menjadi berlutut di hadapan Zalea.
"Apa cinta sudah ada dihatimu? untukku?" tanya Edgar lagi, sambil memegang tangan Zalea.
Zalea menangkup wajah Edgar dengan kedua tangannya, dia bisa melihat tatapan penuh cinta Edgar yang ditujukkan padanya, tak bisa dipungkiri kalau memang Zalea mencintai Edgar.
"Apa cinta harus diungkapkan? Kalau memang begitu, aku akan mengatakannya. Aku mencintaimu tanpa alasan, rasa cintaku mungkin tidak seluas samudera. Tetapi cintaku cukup untuk suamiku seorang saja, kau adalah duniaku sekarang, jadi cintaku tak perlu seluas samudera, sedalam lautan dan setinggi langit karena itu tidak ada apa-apanya, dan kau pun tak ada bandingannya." jelas Zalea.
"Kepalamu tidak terbentur bukan? Kenapa kau bisa berbicara manis seperti ini? Aku jadi salting deh." ucap Edgar.
"Haiiisshhh, yyakkkk. Aku sudah menjawab pertanyaanmu, kenapa kau tidak bisa diajak serius sih." kesal Zalea.
Edgar terkekeh melihat wajah Zalea, istrinya itu mengerucutkan bibirnya kesal. Dia langsung memeluk tubuh Zalea yang tengah duduk di kursi roda, memelui dengan penuh kehangatan.
"Aku juga mencintaimu, jangan pernah tinggalkan aku. Ditinggal koma selama satu minggu membuatku tersiksa, maka dari itu, aku tidak mau hal itu terulang lagi." ucap Edgar.
__ADS_1
"Iya, maafkan aku. Lain kali aku akan lebih berhati-hati lagi, aku mencintaimu juga suamiku." ucap Zalea.
"Eekkhhemm." dehem seseorang.
Mendengar deheman seseorang yang mereka berdua kenali, seketika mereka melepaskan pelukannya. Edgar menaikkan sebelah alisnya menatap kearah Leo yang tengah berdiri tak jauh darinya, sedangkan Leo sendiri memutar bola matanya jengah.
"Untung disini sepi, daritadi ditungguin di mobil eh malah ngebucin disini." ucap Leo kesal.
"Tau apa jomblo." ucap Edgar santai.
"Maafkan kami, sekarang juga kita pulang." ucap Zalea.
Akhirnya, Edgar kembali mendorong kursi roda Zalea. Leo berjalan lebih dulu, sedangkan Edgar dan Zalea mengekor dari arah belakang. Begity sampai di mobil, Leo sudah membukakan pintu bagasi untuk menyimpan kursi roda Zalea, dia juga membukakan pintu mobil bagian belakang untuk majikannya. Edgar menggendong tubuh Zalea masuk kedalam mobil, sedangkan Leo memasukkan kursi rodanya kedalam bagasi. Dirasa semua sudah selesai, Leo masuk kedalam mobil bagian kemudi, dia melajukan mobilnya menuju kediaman Giomani.
Beberapa menit kemudian.
Mobil yang ditumpangi oleh Zalea sudah sampai di halaman mansion, Edgar keluar terlebih dahulu kemudian menggendong tubuh istrinya. Leo mengeluarkan kursi roda dari dalam bagasi, Edgar meletakkan kembali Zalea diatas kursi rodanya.
"Selamat datang kembali, tuan puteri." ucap Edgar.
"Mulai, mulai, mulaaaiiiii." cibir Leo.
Edgar tertawa lepas melihat wajah kesal Leo, sedangkan Zalea menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya malu. Wajah Leo seketika berubah, dia kesal bahkan sanga kesal kepada pasangan suami istri dihadapannya. Dirasa cukup tertawanya, Edgar mendorong kursi roda Zalea masuk kedalam mansion Giomani, begitu pintu terbuka semua anggota keluarga sudah berdiri mebyamvut kedatangan Zalea.
"SELAMAT DATANG KEMBALI." ucap semua orang serempak.
"Oh, ya ampun." ucap Zalea menutup mulutnya tak percaya.
Nathan bedjalan kearah kakaknya, dia memberikan sebuah buket bunga berwarna merah pada kakaknya itu, Nathan memeluk kakaknya sambil menangis.
"Kakak, jangan tinggalin Nathan." ucap Nathan sedih.
"Enggak kok, buktinya kakak masih ada disini." ucap Zalea.
"Nathan takut kakak ninggalin Nathan, sedangkan yang Nathan punya di dunia ini hanyalah kakak saja, ibu kan sudah tenang di alam sana, hiks."ucap Nathan menangis sesenggukkan.
__ADS_1
"Cup, cup, cup. Udah ya nangisnya, nanti adek capek loh." ucap Zalea mengusap air mata adiknya.
"Hai, aunty." sapa Cindy menirukan suara anak kecil.
Cindy dan Satria menggendong kedua bayi kecilnya, mereka membawanya medekat kearah Zalea.
"Hai, ponakan aunty." sapa Zalea pada kedua anak Cindy dan Satria.
Zalea menggendong salah satu bayi kembar yang berada dalam gendongan Cindy, dia menoel-noel bayi yang masih berwarna merah tersebut.
"Lucunya, siapa namanya kak?" tanya Zalea.
"Jordie dan Jonathan, yang ada di gendongan kamu itu Jordie kakaknya, sedangkan yang ada di gendongan suamiku adoknya yang bernama Jonathan." jawab Cindy.
"Nama yang bagus." ucap Zalea.
Edgar dan yang lainnya mengobrol sambil bercanda tawa bersama, berbeda halnya dengan Leo yang masih betah cemberut sedari turun dari mobil, dia memilih berdiam diri di belakang taman. Rasya yang melihat bestienya cemberut pun mendekatinya, Leo menatap sekilas kearah Rasya yang duduk disampingnya.
"Bro, daritadi semberut aja, kenapa sih?" tanya Rasya.
"Sebel gue, Sya loe punya kenalan cewek gak?" jawab Leo, dia juga memberikan pertanyaan balik pada Rasya.
"Oh, gue tau nih. Loe pasti kesel kan, lihat penhantin basi bucin." tebak Rasya.
"Tuh loe tahu, yang gue sebel nih. Masa mereka c****n di mobil gak menghargai status gue, ya oke lah kalau mereka diem-diem bae, lah ini njir suara lucknutnya pada keluar. Panas dingin gak tuh gue dengernya, sial banget emang gue hari ini." gerutu Leo.
"BUAHAHHAHAA.." tawa Rasya pecah seketika.
Raut wajah Leo semakin bertambah masam, Rasya memegangi perutnya sembari tertawa dengan begitu kerasnya. Mereka hanya berdua saja di belakang rumah, tidak ada yang melihat maupun mendengar pecakapan mereka karena posisinya yang lain tengah berkumpul di ruang tamu.
"Dahlah, mending gue cabut aja dari sini. Bukannya bikin mood gue bagus, loe malah bikin tambah acak-acakan." kesal Leo.
Leo bangkit dari duduknya, dia memilih pergi dari mansion dariipada moodnya bertambah rusak. Menurutnya bekerja membuatnya pusing, tetapi lebih pusing lagi ia melihat orang bucin disaat posisinya jomblo.
"Haiissshh, Tuhan. Sampai kapan kau sembunyikan jodohku, kenapa dia masih bersembunyi di semak-semak." keluh Leo.
__ADS_1