Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten

Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten
Kebelet


__ADS_3

Edgar menghela nafasnya panjang, sejenak ia mengedarkan pandangannya melihat setiap sudut Villa yang pernah sering ia kunjungi bersama ayahnya.


"Darimana om tahu?" tanya Zalea.


"Darimana aku tahu itu tidak penting, yang penting sekarang katakan apa yang kau inginkan dariku sebagai pertimbangan agar kau mau menjadi istriku." jawab Edgar.


"Jika aku menikah denganmu, bapakku tetap harus menjadi wali di pernikahanku nanti. Kau tentunya mengerti bukan?" ucap Zalea dengan ragu.


"Urusan ayahmu serahkan semuanya padaku, tugasmu sekarang adalah persiapkan dirimu karena dalam waktu 3 hari kita akan melangsungksn pernikahan." ucap Edgar dengan tegas.


"WHAT? 3 HARI?" teriak Zalea terkejut.


Pletak.


Edgar menyentil kening Zalea dengan keras, karena teriakan Zalea dia hampirnsaja tersedak ludahnya sendiri.


"Auuhh, aduh.. aduhhh." ringis Zalea.


"Bisa gak sih, gak usah teriak-teriak?" sewot Edgar.


"Ya kaget lah om, masa 3 hari lagi?" tanya Zalea.


"Lebih cepat lebih baik, pernikahan kita akan diadakan secara tertutup dan hanya dihadiri para kolega bisnis untuk mematahkan rumor yang sudah beredar," jawab Edgar.


"Yaudahlah, terserah om aja." ucap Zalea lesu.

__ADS_1


"Hey, kenapa lesu gitu jawabnya? Yang semangat dong! Kita kan mau nikah? Bilang, horreee kita nikah prok..prok.." protes Edgar.


"Kamu nanyeaakkk? kamu bertanyeaa-tanyeaakk?" ledek Zalea.


Edgar kesal pada Zalea yang menyebalkan, dia menarik kepala Zalea lalu menyembunyikannya di ketiaknya. Tak hanya sampai disitu, Edgar menggelitik pinggang Zalea sampai Zalea berteriak meminta ampun.


"Hahaha, om ampun! Ampun!" teriak Zalea sambil tertawa kegelian.


"Rasain, makanya jangan nyebelin!" sewot Edgar.


Bu Siti menghampiri Edgar dan Zalea yang terlihat tengah bercanda, padahal aslinya Zalea tengah berusaha melepaskan diri dari Esgar yang terus menggelitiknya.


"Aduh, calon manten manis banget." gumam Siti senyum-senyum sediri.


Edgar melihat bu Siti yang tengah berdiri tak jauh dari hadapannya, dia seketika menghentikan aksinya menherang Zalea. Dilihatnya bu Siti mesem-mesem menatap kearahnya, Zalea merapikan rambutnya yang acak-acakan akibat ulah Edgar.


"Tuan, saya sudah masak. Mari makan dulu, nanti keburu dingin." ucap bu Siti.


"Baiklah, nanti aku menyusul." ucap Edgar.


Bu Siti pun menganggukkan kepalanya, dia pergi dari hadapan Edgar lalu melangkahkan kakinya kembali ke dapur. Zalea meraup oksigen sebanyak-banyaknya, akibat lama tertawa perutnya samlai terasa kaku sampai rasaya ingin pipis saat itu juga.


"Cil, ayo makan dulu." ajak Edgar.


"Mau ke toilet dulu om, pengen pipis." ucap Zalea.

__ADS_1


"Yaudah sana, toiletnya deket dapur jadi sekalian aja." ucap Edgar.


"Yaudah om, ayo buruan udah gak tahan nih." desak Zalea bergerak tak nyaman.


"Ayo calon istri, biar calon suamimu yang ganteng, keren nan aduhai ini yang nganter." goda Edgar.


"Kayaknya nanti gak cuman pipis doang deh om, sekalian mau muntah juga." ucap Zalea.


"Lu sakit cil?" tanya Edgar khawatir.


"Sakit telinga om, soalnya denger om ngomong kayak tadi jadi pengen muntah." ucap Zalea.


"Sialan lu cil, awas aja nanti terpesona lu liat ketampanan gue! Camkan itu bocil nyebelin." tekan Edgar.


"Cepetan!" desak Zalea.


Edgar langsung bangkiy dari duduknya, dia berjalan menarik tangan Zalea membawanya ke dapur. Setelah sampai di dapur Edgar menunjukkan toilet pada Zalea, buru-buru Zalea masuk kedalam toilet tersebut membung sesuatu yang sudah sedari tadi ditahannya.


"Banyak banget masaknya bu?" tanya Edgar.


"Lagian kan tuan jarang kesini, jadi mumpung lagi disini ibu sengaja masak agak banyakan." jawab bu Siti.


"Yaudah, kita makan bareng aja sekalian sama paman." ucap Edgar.


"Eh, gausah tuan. Nanti aja ibu sama paman makannya, tuan sama calon istri tuan aja yang makan." tolak bu Siti.

__ADS_1


"Gapapa, barengan aja biar enak." kekeh Edgar.


Bu Siti tak bisa menolak lagi, jika dia bersikukuh menolak ajakan Edgar untuk makan bersama maka bisa dipastikan Edgar akan marah. Mau tak mau bu Siti mengajak suaminya untuk bergabung, Edgar duduk terlebih dahulu menunggu Zalea datang.


__ADS_2