Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten

Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten
pemakaman


__ADS_3

Zalea kini sudah lebih tenang, Edgar mengusap air mata sang istri menggunakan telapak tangannya. Zalea mengatur nafasnya agar sesak di dadanya berkurang, Edgar menyodorkan segelas air pada Zalea yang langsung ditenggaknya sampai habis.


"Ikhlaskan ibu, jangan persulit langkahnya. Kami disini tetap menjadi bagian keluargamu, tidak ada yang dibedakan disini. Kau harus tetap kuat menghadapi kenyataan yang ada, pahit manisnya kehidupan telah Tuhan ukur untuk setiap makhluknya. Kau masih memiliki Nathan yang butuh dukunganmu, tiada kata lain selalin ikhlas walaupun sulit, karena sebesar apapun usahamu untuk membuat ibumu kembali itu akan menjadi sia-sia karena pemiliknya sudah mengambil haknya." ucap Edgar.


"Aku ingin menemui ibu, setidaknya ini untuk terakhir kalinya." pinta Zalea.


"Baik, aku akan mengantarmu." ucap Edgar.


Edgar membantu Zalea berdiri dari duduknya, dia menuntun Zalea keluar dari dalam kamarnya. Begitu pintu terbuka Zalea bisa melihat ramainya orang-orang yang mengaji, fokusnya teralihkan melihat adik lelakinya tengah duduk mendoakan sang ibu telat di sampingnya. Sebelum kembali melangkahkan kakinya, Zalea menghela nafasnya panjang. Edgar mengusap bahu Zalea memberikan kekuatan padanya, dengan langkah yakin Zalea berjalan mendekat kearah jenazah ibunya. Dia duduk disampng sang ibu, membuka kain penutup yang menutupi tubuh yang sudah terbujur kaku. Zalea mengusap wajah yang selalu membuatnya tenang, sang pelindung, pelipur lara dikala ia gundah gulana. Air matanya seakan habis tak tersisa, di kecupinya wajah sang ibunda tercinta untuk terakhir kalinya bahkan ia menempelkan b*b*rnya di pipi Naraya dengan waktu yang cukup lama. Dirasa sudah cukup, ia kembali menutup kainnya, Zalea perlahan mundur kebelakang mendoakan ibunya.


Berhubung anggota keluarga dari Naraya sudha berkumpul, Naraya di masukkan kedalam keranda untuk di sholatkan.


Beberapa menit kemudian.


Semua orang kini tengah berjalan mengantarkan Naraya ke tempat peristirahatannya yang terakhir, Zalea dan Nathan masing-masing memegang figura dan juga bunga untuk sang ibunda. Proses pemakaman berjalan dengan lancar, Zalea menaburkan bunga diatas gundukan tanah diiringi dengan tangisnya. Berbeda dengan Nathan, dia lebih tabah daripada yang diperkirakan, entah apa yang membuatnya tabah yang lainnya pun penasaran.


.

__ADS_1


.


Semua anggota keluarga kembali ke rumah Naraya, rumah yang tadinya ramai para pelayat pun kini sangat terasa sepi. Zalea duduk menatap kosong kearah depan, dia tak mengeluarkan suara maupun menangis lagi.


"Lea, jangan melamun." tegur Adel.


Lamunan Zalea pun langsung buyar begitu mendengar suara Adel, dia menatap kearah Adel yang tengah menatap kearahnya.


"Mau kau melamun selama bertahun-tabun pun tidak akan merubah segalanya, menangis boleh. Tetapi jika berlarut-larut pun tidak baik, bukan hanya kau saja yang kehilangan, kami juga merasakan kehilangan yang amat sangat dalam." ucap Adel.


"Iya kak, aku akan membiasakan diri tanpa ibu, ya meskipun itu berat." ucap Zalea.


"Terimakasih kak." sahut Zalea.


"Ed, bawa Lea istrirahat di kamarnya." titah Indah.


"Baik mom." sahut Edgar.

__ADS_1


Edgar membawa Zalea masuk kedalam kamarnya, baru kali ini Edgar melihat Zalea serapuh ini.


"Istirahatlah, nanti akan aku bangunkan begitu pengajian di mulai." ucap Edgar.


"Terimakasih om," sahut Zalea.


"Aku akan keluar sebentar, kalau kau butuh sesuatu panggil saja aku." ucap Edgar.


Zalea menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, Edgar menyelimuti tubuh Zalea sebelum ia keluar dari kamarnya. Zalea perlahan menutup matanya yang perih karena terlalu lama menangis, Edgar menutup pintu kamarnya dengan perlahan agar tak mengganggu Zalea.


Dikamar yang lain.


Dihadapan orang lain mungkin Nathan terlihat tabah, tetapi jika dikamarnya sendiri dia menangis memeluk foto ibunya.


"Ibu, Nathan janji akan sukses. Nathan mau jadi dokter, agar bisa mengobati banyak orang, doakan Nathan dari atas sana ya bu." gumam Nathan.


Beberapa menit kemudian.

__ADS_1


Tangisan Nathan perlahan mulai mereda, matanya pun mulai tertutup dan menjelajahi alam mimpinya. Rindu yang paling menyakitkan di dunia ini adalah, merindukan sosok yang paling berharga di hidup kita tetapi tak bisa memeluknya secara nyata, hanya bisa diungkapkan dengan kata dan juga untaian doa.


Maaf untuk sekarang author update sedikit dulu, efek cuaca yang kurang bersahabat aku sama bocil pada tepar, 🙏🤧


__ADS_2