Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten

Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten
Mendekati Halimah


__ADS_3

Di sisi lain, Rasya dan Halimah beserta Difa baru saja pulang dari proyek yang akan dikerjakan, mereka kembali ke hotel dan masuk ke kemarnya masing-masing. Rasya membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, sedangkan Halimah tengah merebahkan tubuhnya diatas kasur karena merasa lelah.


"Aduuhh, cape banget. Udah lama gak tanyain kabar ayah sama ibu, gimana ya kanar mereka?" gumam Halimah menatap langit kamar hotelnya.


Jika saja orangtuanya tidak menjodohkannya dengan orang yang sama sekali tidak ia cintai, mungkin saat ini ia masih berkumpul bersama keluarganya. Halimah bisa saja terima dan menjalani biduk rumah tangga bersama lelaki pilihan kedua orangtuanya, hanya saja lelaki yang di jodohkannya berniat merusak dirinya sebeluk pernikahan terjadi, bahkan dengan terang-terangan pria tersebut menjalin hubungan dengan sahabatnya sendiri.


"Andai ayah sama ibu tahu, aku hampir saja menjadi orang gila jika tidak ada yang menolongku saat itu, walaupun begitu aku tidak membenci kalian. Aku berharap kalian tidak melakukan hal yang sama pada Nisa, jika kalian melakukannya aku tidak akan segan-segan untuk melakukan hal yang tidak akan pernah kalian bayangkan." gumam Halimah lagi.


Tok..Tok..Tok..


Suara ketukan membuyarkan lamunan Halimah, ia beranjak dari kasurnya kemudian merapika jilbab yang tengah di pakainya.


Ceklek.


Halimah membuka pintu kamarnya, di hadapannya kini tengah berdiri seorang pria tinggi yang sudah rapi dengan pakaiannya, ia tersenyum dengan begitu manisnya pada Halimah.


"Tuan? Ada yang bisa saya bantu? Atau ada yang mau tuan bahas mengenai pekerjaan?" tanya Halimah.


"Tidak Halimah, aku hanya ingin mengajakmu keluar." jawab Rasya.


"Hah? Jalan kemana tuan? Saya belum mandi." tanya Halimah.


"Jalan kemana saja, aku ingin keliling kota malang saja." ucap Rasya.


"Tapi, saya belum mandi tuan. Tubuh saya sangat lengket, bagaimana kalau tuan berangkat bersama tuan Difa saja." ucap Halimah.


"Aku akan menunggumu, anak itu pasti sudah terbang ke alam mimpi. Aku hanya ingin pergi bersamamu, bahkan aku sudah menyewa sebuah kendaraan." ucap Rasya.


"Emm, baiklah tuan. Aku akan mandi dulu, jika tidak keberatan tuan tunggu saja di kamar tuan, nanti saya akan mengirimkan pesan jika sudah siap." ucap Halimah. .


Rasya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, Halimah menutup pintunl kamarnya, ia bergegas lergi ke kamar mandi membersihkan tubuhnya. Rasya berjingkrak-jingkrak saking bahagianya bisa mengajak Halimah pergi, petugas hotel menatap Rasya dengan tatapan yang tak bisa diartikan, merasa tengah di perhatikan oleh orang lian Rasya merapihkan penampilannya kemudian pergi ke kamarnya.


"Jalan-jalan sama calon istri, uuhhuuuyyy." gumam Rasya bahagia.


Difa membawa sebuah berkas yang akan ia bawa ke kamar Rasya, tak sengaja ia bertemu Rasya yang tengah senyum-senyum sendiri.


"Tuan, kayaknya bahagia banget." ucap Difa.


"Kepo amat lu kayak d0r@, bawa apa tuh?" tanya Rasya.

__ADS_1


"Ini berkas proyek tadi, tadi aku lupa memberikannya padamu tuan." ucap Difa.


"Sini berkasnya, sekarang kamu kembali ke kamar kamu dan jangan keluar. Aku sama Halimah mau jalan, jadi gausah ganggu." ucap Rasya.


"Lah, apa hubungannya sama saya tuan?" tanya Difa.


"Kalau kamu keluar, nanti Halimah ngajak kamu juga. Sedangkan aku pengennya menghabiskan waktuku berdua saja, butuh effort buat dapetin dia." ucap Rasya.


"Baiklah, semoga lancar ya tuan, asal ada bonus saya akan mengikuti ucapan tuan." ucap Difa.


"Dasar laki mata duitan, ntar bonus mah gampang." ucap Rasya.


Difa mengacungkan jempolnya kearah Rasya, dengan senyum mengembang menghiasi wajahnya Difa pun pergi dari hadapan Rasya. Begitu Difa pergi, terdengar notifikasi pesan masuk. Rasya segera membuka hp miliknya melihat siapa yang sudah mengiriminya pesan, dan orang yang ia harapkan sudah memberikan kabar padanya untuk pergi sesuai kemauannya. Rasya masuk ke kamarnya terlebih dahulu menyimpan berkas yang di berikan Difa, setelahnya ia bergegas keluar menuju kamar Halimah.


Dari kejauhan Halimah melihat Rasya berjalan kearahanya, jantung Halimah langsung berdetak tak karuan melihat senyum manis Rasya. Begitu pun Rasya, dia tidak bisa mengontrol jantungnya yang berdegup kencang melihat kecantikan Halimah.


'Gila, cantik banget. Kalau ciki udah gue bungkus pake plastik, aduh mommy pengen kawin' batin Rasya.


'Ya Allah, kenapa ngeliat tuan Rasya jangung jadi gak aman gini' batin Halimah.


"Udah siap?" tanya Rasya.


"Ayo. " ajak Rasya.


"Tuan, duluan saja." ucap Halimah.


Rasya berjalan terlebih dahulu dengan Halimah yang mengekor dari belakang, mereka sama-sama berusaha menetralkan jantungnya yang berdetak tidak karuan. Tak terasa mereka sudah sampai di lantai bawah, Rasya mengajak Halimah keluar menuju parkiran. Rasya berjalan menghampiri sebuah motor gede yang terparkir disana, ia memberikan sebuah helm pada Halimah.


"Naiklah." ucap Rasya.


Halimah memakai helm yang di berikan oleh Rasya, dia naik keatas motor tepatnya di belakang Rasya.


"Udah?" tanya Rasya.


"Sudah." sahut Halimah.


"Kita cari rumah makan dulu ya, habis itu kita jalan-jalan." ucap Rasya.


"Terserah tuan saja," ucap Halimah.

__ADS_1


Rasya melajukan motor yang sudah ia sewa dari temannya yang sama-sama menginap di hotel, sebelumnya Rasya meminta pendapat kepada temannya di grup wa, dia sama sekali tidak tahu bagaimana cara mendekati perempuan yang sudah menutup jatinya untuk lelaki lain seperti Halimah. Beberapa saran ia dapatkan dari temannya, untuk itu Rasya mengajak Halimah keluar walaupun tak bisa di pungkiri kalau tubuhnya tengah lelah.


Di sepanjang perjalanan tidak ada percakapan antara Halimah dan Rasya, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Halimah menikmati angin sore yang menerpa kulitnya, rasanya sangat menyenangkan sampai ia tak sadar menyandarkan kepalanya ke bahu Rasya sambil memejamkan matanya. Kedua sudut bibir Rasya terangkat disertai tangan yang sedikit gemetar, rasanya tidak sia-sia ia mengajak Halimah keluar.


Tak lama kemudian Rasya menghentikan motornya ke sebuah rumah makan yang lumayan besar dan juga banyak pengunjungnya, Rasya mengajak Halimah duduk di bangku yang kosong sambil memesan makanannya.


"Ini menunya tuan, nona." ucap pelayan.


Rasya dan Halimah menyebutkan menu makanan yang mereka inginkan, pelayan pun mencatatnya kemudian pergi dari hadapan Halimah dan Rasya.


"Aku dengar kau banyak yang mendekati ya." ucap Rasya membuka percakapan.


"Tidak begitu banyak, mungkin ada beberapa." ucap Halimah.


"Kenapa tidak ada satupun yang kau terima?" tanya Rasya.


"Saya masih ingin sendiri tuan, mungkin belum waktunya saya untuk menikah." jawab Halimah.


"Apa karena kau trauma?" tanya Rasya lagi.


"Maksud tuan?" tanya Halimah pura-phra tidak mengerti.


"Kau trauma, karena kau pernah di jodohkan dengan lelaki brengsek yang hampir merusakmu." jawab Rasya.


"Tuan tau darimana?" tanya Halimah terkejut.


"Aku ta-" ucap Rasya terpotong.


"Halimah." panggil seseorang.


Degg!


Rasya tidak meneruskan ucapannya karena ada seseorang yang memanggil Halimah, ia juga bisa melihat raut wajah Halimah yang terkejut saat melihat siapa yang memanggilnya.


"Siapa dia?" tanya Rasya.


"Dia pria yang pernah di jodohkan dengan orangtuaku, dia juga datang bersama sahabatku, mereka menjalin hubungan." jawab Halimah.


"Ck, modelan kayak botol kecap aja belagu. Udah item, ganteng juga enggak, mainin perempuan lagi, hiiihb menjijikan sekali kaum simpanse ini." ucap Rasya berdecak.

__ADS_1


"Ppffftt." Halimah menahan tawanya mendengar ucapan Rasya.


__ADS_2