
Sheren dan juga Arya selaku sahabat Zalea datang begitu acara sudah mulai sepi, keduanya berjalan menghampiri pengantin dengan membawa masing-masing kado ditangannya.
"LEAAA.." jerit Sheren histeris.
"Sher, mulut loe bisa diem gak!?" sewot Arya.
"Iya tuh, dateng-dateng bikin gaduh aja." ucap Zalea.
"Sorry, beberapa hari gak ketemu bestie rasanya kangen banget, sekarang tahu-tahu udah nikah aja sama sultan gak nyangka banget, aku kangen sama kamu Lea huhu." ucap Sheren.
Sheren memeluk tubuh Lea dengan erat, dia adalah teman paling dekat dengan Zalea sekaligus tempat curhat kala Zalea tengah dilanda masalah. Gadis berkerudung itu menitikkan air mata bahagianya, dia bisa melihat kalau Zalea tengah merasakan kebahagiaan, Sheren melepas pelukan Zalea kemudian menghapus air matanya.
"Hiks, tadi pas masuk aku pangling banget liat kamu pakai kerudung." ucap Sheren sambil menangis.
"Ini permintaan ibu Sher," ucap Zalea mengulas senyumnya.
"Oh iya, Lea sorry ya kita gak siapin kado yang bagus soalnya kita tahunya dadakan."ucap Arya menyodorkan kado pada Zalea.
"Aku gak tau kamu bakalan suka atau enggak, tapi jangan lupa dipakai ya." ucap Sheren tersenyum.
"Makasih ya bestie." ucap Zalea menerima kado dari kedua sahabatnya.
"Arya, tuan Edgar mukanya kayak lagi gak bersahabat jadi takut." bisik Sheren.
"Gue juga takut ini." bisik Arya.
"Om kenalin, ini sahabat aku dari orok. Namanya Sheren dan Arya." ucap Zalea memperkenalkan sahabatnya pada Edgar.
"Hemm." ucap Edgar singkat.
Edgar hanya berdehem menanggapi ucapan Zalea, dia masih bersikap dingin karena ia masih kepikiran mengenai pria yang dipuji tampan oleh Zalea. Arya dan Sheren memutuskan untuk turun dari pelaminan, keduanya menikmati jamuan yang sudah di sediakan.
Geril tengah senyum-senyum sendiri mengira kalau dirinya akan dibawa ke rumah yang bagus, dia membayangkan dirinya banyak uang dan di kelilingi wanita cantik. Tetapi bayangan itu langsung buyar seketika, mobil yang di tumpanginya berhenti di sebuah kantor polisi. Si botak turun dari dalam mobilnya, dia membuka pintu mobil Geril dan memaksanya keluar, Geril tentu saja berontak dan mencoba untuk kabur. Namun, usahanya digagalkan oleh kedatangan polisi yang sudah ditugaskan untuk menahan Geril.
"Bawa dia masuk." titah polisi.
Kepala petugas kepolisin menyuruh dua orang polisi untuk membawa Geril masuk kedalam, lebih tepatnya di jebloskan ke dalam penjara. Si botak sudaj menyelesaikan tugasnya yaitu membawa Geril ke kantor polisi, dia berpamitan pada kepala petugas kepolisan untuk undur diri. Sebelumnya Leo sudah membuat laporan pada petugas kepolisian atas perintah Edgar, ia melaporkan kasus Geril dengan tuduhan KDRT dengan membawa beberapa bukti yang sudah dikumpulkan mulai dari foto luka memar di beberapa bagian tubuh Naraya saat di rumah sakit, dan juga saksi dari tetangga kontrakan maupun tempat tinggal Geril.
.
.
Hari semakin sore, tetapi masih ada satu hal yang harus Edgar dal Lea kerjakan yaitu melakukan konferensi pers. Wartawan sudah menunggu kedatangan Edgar dan Zalea , mereka sudah tak sabar menunggu kedatangan keduanya. Leo sudah mempersiapkan semuanya, dari mulai keamanan dan lain sebagainya.
"Eh guys, itu tuan Edgar sudah datang." ucap salah satu wartawan.
Edgar berjalan dengan Zalea yang menggandeng tangannya, mereka masih mengenakan baju pengantin. Edgar dengan wajah dinginnya duduk di kursi yang sudah di sediakan, Zalea gugup saat ia melihat banyaknya wartawan yang tengah menatap kearahnya dan juga kamera yang sudah menyala merekam wajah cantiknya. Edgae memegang tangan Zalea seakan tahu kalau istrinya itu tengah gugup, Zalea mengatur nafasnya sebisa mungkin untuk tetap terlihat tenang.
"Mohon perhatian semuanya, disini ada tuan Edgar dan juga istrinya akan memberikan klarifikasi tentang berita miring yang beredar di media sosial, jika ada pertanyaan silahkan tanyakan tapi harus secara bergantian." jelas Leo.
"Baik tuan." seru wartawan serempak.
"Kalian pasti sudah tahu siapa aku. Aku hanya ingin mengkonfirmasikan bahwa tuduhan atau berita yang beberapa hari kemarin beredar tidaklah benar, aku juga sudah mengamankan siapa yang sudah menyebarkan berita tersebut. Oh ya, perkenalkan disampingku adalah wanita yang baru beberapa jam sah menjadi istriku, dia adalah berlian dihidupku, Zalea Ananda." ucap Edgar.
"Ada pertanyaan?" tanya Leo.
"Mohon maaf sebelumnya tuan, di dalam berita tersebut sudah tercatat jelas bahwa tuan Edgar Giomani dinyatakan impoten, tapi tiba-tiba saja tuan Edgar langsung mengumumkan pernikahan. Apakah penikahan ini dilakukan hanya untuk menutup kasus yang sudah beredar agar nama perusahan tidak jatuh?" ucap wartawan A.
"Bukankah jika seseorang melakukan kejahatan dia sudah menyiapkan rencana sebelumnya, kau lupa kalau aku adalah pengusaha? kalau kau tanyakan kenapa aku tiba-tiba manikah, jawabannya adalah karena aku memang sudah menyiapkan semuanya sebelum berita tersebut beredar." jawab Edgar.
"Lalu siapa yang sudah membuat berita miring tersebut? Apakah dia juga pebisnis?" tanya wartawan B.
"Dia adalah anak dari seorang pengusaha, seorang wanita yang pernah di jodohkan denganku namun aku menolaknya. Dia adalah Emilie, putri dari tuan Edward. Dia memiliki dendam padaku karena aku sudah menolak untuk di jodohkan dengannya, maka dia menghalkan segala cara untuk menggagalkan pernikahanku dengan Zalea istriku." jawab Edgar.
"Tapi aku melihat cara jalan istri tuan berbeda, apakah kau menikahinya karena sudah melakukan hal yang seharusnya dilakukan suami istri?" tanya wartawan C.
Edgar mengepalkan tangannya emosi mendengar pertanyaan dari wartawan C yang dengan percaya dirinya melontarkan pertanyaan sensitif, Zalea mengusap lengan Edgar seraya menampilkan senyum manisnya memberilan isyarat agar ia menjawab pertanyaan wartawan tersebut.
__ADS_1
"Izin menjawab sebelumnya, pertanyaanmu sangat menyinggung perasaanku. Tetapi tidak apa, aku akan mejelaskannnya padamu. Point yang pertama, aku tidak pernah melakukan hal rendahan seperti itu, aku di didik menjadi wanita yang bermoral dan juga bermartabat meskipun aku bukan berasal dari keluarga kaya. Selebihnya, itu bukan urusanmu! Jika bukan karena suamiku yang memintaku untuk memberikan konfirmasi mengenai berita Viral kemarin, sudah di pastikan aku tidak akan mau menjawab pertanyaan yang seharusnya tidak perlu ditanyakan, karena pertanyaan yang dilontarkan bagiku itu sudah terlalu jauh sampai mengorek privasi kami dan membuat ketidaknyamanan, terutama bagiku!." jawab Zalea dengan tegas.
Para wartawan pun langsung terdiam mendengar jawaban dari Zalea, bukan hanya itu saja. Hal yang paling ditakuti adalah perubahan wajah Edgar menjadi sangat menyeramkan, tidak ada yang berani memberikan pertanyaan lagi pada keduanya karena takut pekerjaannya terancam.
"Disini aku hanya mengklarifikasi berita miring, salahnya kalian pastinya memanfaatkan kesempatan ini untuk mengorek tentang diriku dan juga istriku lebih jauh lagi. Kurasa cukup sampai disini aku memberikan klarifikasi, aku tekankan kembali pada kalian semua berita yang mengatakan kalau aku impoten itu TIDAK BENAR! jika ada yang berani membuat berita yang macam-macam tentanku ataupun keluargaku maka bersiaplah menanggung akibatnya." tekan Edgar.
"Konferensi pers cukup sampai disini, terimakasih." ucap Leo dingin.
Edgar mengajak Zalea untuk bangkit dari duduknya, dia menggendong tubuh Zalea ala vridal stle meninggalkan tempat yang digunakan untuk konferensi pers. Hari ini mood Edgar sangatlah buruk, tadinya ia kesal karena Zalea yang memuji ketampanan pria lain, ditambah lagi sekarang wartawan memberikan pertanyaan yang semakin membuatnya naik pitam. Beruntung ia bisa mengontrol emosinya yang ingin meledak-ledak, jika ia sampai murka di depan media dipastikan Adel dan juga Indah akan mencincangnya hidup-hidup.
Anggota keluarga yang lain sudah berada di kamarnya masing-masing, mereka memang tidak datang menghadiri konferensi pers yang dibuat oleh Edgar karena mereka percaya Edgar pasti bisa menyelesaikannya bersama Zalea disampingnya.
Sesampainya di kamar pengantin yang sudah di persiapkan oleh Indah, Edgar menurunkan tubuh Zalea diatas kasur. Edgar melangkahkan kakinya kearah sofa, dia menjatuhkan tubuhnya merasakan lelah ditubuhnya. Zalea tidak ingin mengganggu Edgar karena ia tahu kalau suaminya itu tengah capek, dia lebih memilih membuka satu persatu perintilan aksesoris yang ada dikepalanya, saat ia hendak melepaskan siger di kepalanya ada sesuatu yang membuatnya kesusahan melepaskan sigernya.
"Om, boleh minta tolong gak?" tanya Zalea memanggil Edgar.
"Minta tolong apa?" tanya balik Edgar.
"Ini, sigernya susah dibuka om." jawab Zalea.
Edgar mengubah posisinya menjadi duduk, dia melihat Zalea yang berusaha menarik siger dikepalanya sampai kerudung yang diapakainya pun tertarik keatas. Edgar terkekeh melihat wajah Zalea yang ikut tertarik, dengan manahan senyumnya Edgar menghampiri Zalea.
"Cepetan om." desak Zalea.
"Jidat lu jenong cil, hahaha." celetuk Edgar tertawa.
"Aaahh, om cepetan dong, Lea udah pegel ini." rengek Zalea.
"Bentar, gak sabaran bener jadi manten, kayak mau malam pertama aja." ucap Edgar.
"Heh, jangan macam-macam ya om." ucap Zalea takut.
"Gak macam- macam, orang cuman satu macam aja." ucap Edgar santai.
"Ihh, awas aja kalo sampe blaem-blaem Lea nanti Lea ajak om cerai." ancam Zalea.
Edgar menjitak kening Zalea sampai meninggalkan bekas kemerahan disana, dia tidak suka dengan ucapan Zalea yang tidak bisa berpikir panjang dan tidak sadar dengan ucapannya, Zalea mengusap keningnya sambil meringis kesakitan.
"Jangan sembarangan ngucapin kata cerai, kita menikah sekali seumur hidup. Walaupun belum ada landasan cinta diantara kita, bukankah sebelumnya gue udah bilang kalau gue akan belajar mencintai lu cil, begitupun sebaliknya. Jangan gegabah dalam berucap, karena setiap ucapan itu doa cil, lu mau bikin orangtua kita kecewa." ucap Edgar.
"Maaf om." ucap Zalea menundukkan kepalanya.
"jangan nunduk, kalau nunduk susah lepasin sigernya." ucap Edgar.
Zalea pun menegakkan kepalanya, Edgar dengan teliti melepaskan jarum yang menyangkut di kerudung Zalea, dan tak perlu menunggu lama siger pun terlepas.
"Udah cil." ucap Edgar.
"Makasih om," ucap Zalea tersenyum.
"Sama-sama." ucap Edgar.
Edgar melonggarkan dasinya yang terasa sesak dilehernya, doa juga melepaskan jas yang dipakainya lalu melemparkannya keatas sofa. Zalea melepaskan kebaya dari tubuhnya, dia memakai celana panjang leging jadi dia tidak perlu malu meskipun membukanya dihadapan Edgar.
"Cil lu.." ucap Edgar tak meneruskan ucapannya.
Edgar membalikkan tubuhnya hendak berbicara pada Zalea, namun seketika mulutnya terkunci kala melihat Zalea hanya memakai celana dan baju ketat yang memperlihatkan gundukan yang ukurannya menakjubkan. Perkutut Edgar pun seketika menggeliat meminta keluar dari sangkarnya, Edgar sampai memejamkan matanya menahan sesak dibagian bawahnya.
"Om mau ngomong apa?" tanya Zalea.
"E-emm, gak jadi." ucap Edgar gugup.
"Hiih, kok gak jadi? Kalau mau ngomong tinggal ngomong aja, atau om mau cerita? Sini Lea dengerin." ucap Zalea nyerocos begitu saja.
'S*** , ternyata melonnya gede juga sampai perkutut gue syok liatnya. Kalo gue grepek sekarang, yang ada gue juga yang bingung cara mainnya gimana' batin Edgar frustasi.
"Gue mandi duluan, kita gantian." ucap Edgar dengan suara tertahan.
__ADS_1
"Iya om." ucap Zalea.
Edgar segera berjalan kearah kamar mandi, dia mengunci pintu kamar mandinya kemudian menyalakan air untuk mengisi bath up.
"Sialan si Lea, gak tau apa gue hampir gila." gumam Edgar.
Edgar segera melepas pakaiannya lalu masuk kedalam bath up, seperti yang pernah dikatakan oleh Leo kalau perkututnya ngembang salah satu cara untuk menidurkannya kembali adalah dengan mandi air dingin.
Zalea memilih untuk tiduran diatas kasur empuk menunggu Edgar keluar dari dalam kamar mandi, karena tubuhnya terasa lelah Zalea pun memejamkan matanya.
30 menit kemudian.
Edgar keluar dari dalam kamar mandinya, dia melihat kearah kasur dimana Zalea tengah tertidur dengan posisi terlentang.
"Cobaan apalagi ini ya Allah." keluh Edgar.
Tak ingin melihat pemandangan yang bisa membuatnya khilaf, Edgar pun memutuskan untuk memakai pakaiannya yang sudah di siapkan oleh Leo. Zalea membuka matanya karena tubuhnya terasa lengket, dia mendudukkan tubuhnya sambil menggeliat kecil.
"OM UDAH BELUM?" teriak Zalea dengan mata tertutup.
plukk..
Edgar melemparkan handuknya yang badah kearah Zalea, dengan lesu Zalea mengambil handuk Edgar lalu melemparkannya kembali.
"Gak usah teriak-teriak, berisik tau gak," omel Edgar.
"Tinggal nyaut aja, takutnya om masih dikamar mandi." ucap Zalea.
"Udah, sono gih mandi. Liat tuh, hiiihhh ileran." ucap Edgar bergidik melihat wajah Zalea.
Zalea refleks mengelap bibirnya, ternyata benar kalau dia ileran. Dengan jailnya Zalea mendekat kearah Edgar yang tengah berdiri tak jauh darinya, Edgar segera memundurkan tubuhnya begitu melihat Zalea yang terus mendekat.
"Mau ngapain loe!? Jangan macem-macem ya, issh dasar jorok." sentak Edgar waspada.
"Rasain nih." ucap Zalea mendekatkan telapak tangannya pada Edgar.
Edgar segera menepis tangan Zalea yang hendak mengelapkan ilernya pada tubuhnya, Zalea terkekeh melihat wajah panik Edgar.
"Hahaha, komuknya lucu." tawa Zalea.
"Sono mandi, kalau gak pergi gue gibeng lu." ancam Edgar.
"Iya, iya." ucap Zalea.
Zalea melangkahkan kakinya masuk ke kamar mandi, Edgar bernafas lega begitu Zalea sudah masuk ke dalam kamar mandinya.
Tak butuh waktu lama Zalea sudah keluar dari dalam kamar mandi dengan rambut yang basah, Edgar tengah fokus mengotak-agik ponselnya duduk di atas sofa.
"Om, baju Lea dimana?" tanya Zalea.
"Ya di lemari lah cil, masa di balkon." jawab Edgar tanpa mengalihkan pandangannya.
Zalea membuka lemari pakaian yang ada dikamarnya, begitu membuka lemari dia terkejut melihat pakaian yang ada didalamnya.
"Ini bajunya kok gak ada yang bener sih?" bingung Zalea.
Zalea memilah dan memilih pakaian yang menurutnya tidak menerawang dan juga tidak terlalu kurang bahan, karena didalam lemari pakaian tersebut hampir semuanya lingerie. Zalea mengambil baju berwarna merah dengan tali yang kecil berbahan sutera, bawahnya celana pendek, bagian atasnya membelah dada.
"Gapapa lah yang ini aja, daripada gak ada baju yang lain." gumam Zalea.
Edgar tengah memesan makanan melalui hpnya, rasanya ia enggan keluar karena kepalanya yang terasa pusing. Zalea berjalan menghampiri Edgar yang tengah duduk di sofa, dia duduk disamping Edgar namun agak berjarak.
"Om, laper." ucap Zalea sambil memegangi perutnya.
Edgar mengalihkan pandangannya menatap kearah Zalea, seketika bola matanya membulat sempurna melihat baju yang di kenakan oleh Zalea.
Deg!
__ADS_1