
Satu minggu kemudian.
Sudah satu minggu Naraya melakukan beberapa kali kemoterapi, tetapi hasilnya tidak begitu terlihat karena memang kondisi Naraya yang sudah drop. Rambut Naraya pun sudah menipis, wajahnya pun semakin terlihat pucat. Edgar selalu ada mendapingi mertuanya, selain itu dia juga menguatkan Zalea yang setiap harinya sedih kala melihat ibunya melakukan kemoterapi.
"Aku kasihan lihat ibu." ucap Zalea menatap sendu menatap ke ruangan kemoterapi.
"Yakinlah, semuanya akan baik-baik saja." ucap Edgar.
"Bagaimna ka-." ucap Zalea terpotong.
"Ssstt, kita berdoa saja agar ibu bisa kembali sehat, tidak ada yang tidak mungkin selama kita meminta pada Tuhan." ucap Edgar menempelkan telunjuknya di bibir Zalea.
Zalea menahan air matanya yang hanya tinggal satu kedipan saja bisa luruh, dadanya selalu saja sesak melihat ibunya, beruntungnya dia memiliki suami yang pengertian dan selalu ada kapanpun Zalea membutuhkannya.
Kriingg..Kriinggg..
Telpon Edgar berdering menandakan ada panggilan masuk, dia merogoh sakunya mengambil hp milikny, dilihatnya Leo menghubunginya dan memberikan banyak pesan padanya.
"Halo."
"...."
"Oke, aku akan kesana sekarang."
"...."
Tut.
Raut wajah Edgar langsung berubah dingin, Zalea yang melihatnya pun merasa takut karena tatapan Edgar begitu mengerikan.
__ADS_1
"Lea, aku akan ke kantor sebentar karena ada masalah disana." ucap Edgar.
"Pergilah om," Sahut Zalea tersenyum.
Senyum Zalea mampu membuat hati Edgar tenang, dia mangatur emosinya agar tidak meluap. Edgar segera bangkit dari duduknya, sebelum pergi dia membelai wajah Zalea dan mengusap surainya.
"Aku akan kembali, jika semua urusanku selesai." ucap Edgar.
"Baik, berhati-hatilah om." sahut Zalea.
"Hubungi aku jika terjadi sesuatu padamu maulun ibu, jangan pernah ragu menghubungiku, kau mengerti?" ucap Edgar.
"Oke om, semangat!" ucap Zalea memberikan semangat.
Edgar membalas ucapan Zalea dengan sebuah senyuman, dia beelalu begitu saja meninggalkan Zalea yang tengh duduk sendirian, ekspresi wajahnya kembali dingin begitu ia melangkah jauh dari ruangan kemoterapi. Leo memberitahukan ada masalah yang serius di kantor, ia dan juga Rio tak bisa menghandle semuanya karena ada masalah lain juga yang harus di selesaikan.
"Mari kita bermain, bedebah!" gumam Edgar tersenyum licik.
15 menit kemudian.
Edgar memarkirkan mobilnya di sembarang arah, dia berjalan dengan langkah tegapnya memasuki perusahaan yang kini sudah resmi menjadi atas nama dirinya. Leo sudah menunggu kedatangan Edgar tepat di depan lift khusus CEO, begitu melihat Edgar datang Leo langsung menghampirinya dan membisikkan sesuatu di telinganya.
"Kita bahas diatas, terlalu rawan jika kita membicarakannya disini, karena banyak tembok yang memiliki telinga." ucap Edgar.
Ting.
Pintu lift terbuka, keduanya masuk bersamaan menuju ruang kerja Edgar. Begitu lift berhenti dan pintunya terbuka, Edgar langsung melangkahkan kakinya ke ruangan dimana ayahnya sudah menunggu kedatangannya.
Ceklek.
__ADS_1
Edgar masuk kedalam ruangannya, dilihatnya ayahnya masih berkutat dengan laptop di tangannya serta berkas yang berjejer di atas meja.
"Daddy." panggil Edgar.
"Duduklah dulu, daddy akan menyelesaikan pekerjaan ini terlebih dahulu." ucap Rio.
Edgar pun menuruti ucapan ayahnya, dia duduk di sofa bersama Leo seraya membaca berkas penting yang akan mereka bahas. Rio menyelesaikan pekerjaannya, dia menutup laptopnya kemudian berjalan kearah Edgar, dia duduk di sofa tunggal menghadap putra sulungnya.
"Keluarga kita dalam pengawasan, kau harus lebih hati-hati." ucap Rio.
"Tidak perlu khawatir, aku akan menanganinya secepat mungkin, dan jika di perlukan aku akan meminta bantuan tuan Arion." ucap Edgar.
"Kau benar, yang paling aku khawatirkan adalah keselamatan Cindy dan juga Satria, mereka pasti mengincar mereka apalagi Cindy tengah berbadan dua." ucap Rio.
"Albert dan juga kakaknya yang lain akan melindungi Cindy, daddy tahu sendiri kalau keluarga Wiguna memiliki singa betina yang sangat ditakuti." ucap Edgar.
"Tetap saja kita harus waspada, jangan berfokus menjaga salah satu diantara keluarga. Bahkan istrimu juga dalam bahaya, mereka pasti akan menghalalkan segala cara mengingat penghalang terbesar mereka sudah tidak ada." jelas Leo.
"Aku tahu, bahkan aku akan menyiapkan permainan yang menarik untuk mereka." ucap Edgar datar.
Edgar sudah menyiapkan segala sesuatu yang akan ia hadapi, dia juga akan meminta bantuan orang lain untuk menyelesaikan masalahnya, Edgar sudah lelah jika harus terus di bayangi buntut masa lalu yang tak pernah ada habisnya. Mulai saat ini, dia hanya ingin membahagiakan orang yang ia sayangi, tanpa harus ada yang menjadi korban keserakahan orang lain yang memang bukan hak orang tersebut.
"Leo, katakan pada HRD untuk mencarikan seseorang untuk menjadi sekertari, pria maupun wanita asalkan dia berkompeten, gesit, tidak ceroboh." ucap Edgar.
"Kenapa tiba-tiba?" tanya Leo heran.
"Kedepannya kau akan sibuk, memangnya aku tidak cape mendengar rengekanmu yang terus meminta sekertaris?" jawab Edgar sedikit kesal.
"Nah, gitu dong. Kenapa gak dari dulu sih, mungkin sekarang pekerjaanku gaka bakalan numpuk sampe lembur." ucap Leo mengacungkan jempolny pada Edgar.
__ADS_1
Leo merasa sangat senang karena Edgar sudah memperbolehkannya memperkerjakan sekertaris, jujur saja dia seringkali kewalahan, tetapi walau begitu ia tetap bisa menyelesaikan pekerjaannya.