
Zalea dan Edgar membersihkan tubuhnya bergantian, mereka berdua juga melanjutkan sarapan bersama. Selesai sarapan Edgar mengajak Zalea untuk ikut pulang bersama yang lainnya, mereka juga sudah memuguskan untuk tinggal bersama Naraya dan juga Nathan.
"Om, beneran nih tinggal di rumah ibu?" tanya Zalea.
"Iya, ibu juga masih butuh di dampingi karena menurutku dia belum pulih sepenuhnya, aku takut terjadi sesuatu seperti waktu di kontrakan tempo hari." jelas Edgar.
"Hmm, baiklah kalau begitu. Terimakasih sudah peduli pada ibuku, kau juga tak segan-segan mengeluarkan banyak biaya untuk kami, sampai aku tidak tahu harus membayar semuanya itu dengan apa." ucap Zalea sambil mengulas senyumnya.
"Kau tidak perlu membayar apa yang sudah aku berikan, kau cukup menjadi istri yang baik dan memberikan aku keturunan yang banyak." ucap Edgar.
"Agak serem nih kalau bahas anak, aku belum siap om." ucap Zalea.
"Aku sudah tua Lea, usiaku juga sudah menginjak kepala tiga, sudah waktunya aku memiliki keturunan. Walaupun begitu, aku tidak akan memaksamu melakukannya tanpa dasar cinta." ucap Edgar.
"Makasih om, aku yidak menyangka kau ternyata baik." ucap Zalea.
"Asal kau jangan memancing emosi, kau tidak tahu watak asli ku seperti apa." ucap Edgar serius.
__ADS_1
Zalea menelan ludahnya dengan kasar, dia bisa melihat dari raut wajah Edgar kalau suaminya itu memanglah menyeramkan. Dia belum tahu karakter Edgar seperti apa, karena sejak pertama kali bertemu Edgar pria itu hanya menunjukkan sifat menyebalkan dan juga baiknya, selebihnya dia masih bertanya-tanya.
Anggota keluarga lainnya sudah berkumpul untuk pulang ke rumahnya masing-masing, mereka menunggu kedatangan pasangan pengantin baru yang sudah memberitahukan kalau keduanya akan ikut pulang.
"Kenapa mereka ikut pulang? Bukannya mereka harusnya menghabiskan waktu untuk beberepa hari? Olahraga panas gitu." tanya Indah.
"Mom, mereka masih perlu beradaptasi satu sama lain, pernikahan mereka atas kesepakatan keduanya, bahkan belum ada cinta diantara keduanya. Aku dan Adel juga dulu tidak langsung melakukannya, setelah aku bisa berjalan dan cinta pun sudah tumbuh kita melakukannya sampai akhirnya aku mempunyai si kembar." jelas Albert.
"Aku setuju denganmu Al, biarkanlah mereka menjalani kehidupannya dengan cara mereka sendiri, kita doakan saja yang terbaik untuk keduanya." ucap Rio satu pendapat dengan Albert.
Naraya tidak ikut berbicara, dia hanya diam menyimak percakapan antar anggota keluarga barunya. Naraya percaya bahwa mereka akan mendukung apapun keputusan Zalea dan Edgar, tidak ada yang menghakimi ataupun memaksakan kehendak mereka, salutnya semuanya orang memahami dan memberi pengertian pada Zalea dan Edgar.
"Iya kak, ada masalah kah?" tanya Cindy.
"Masalah banget, dia jadi buruan donat berpedang xixixi." sahut Adel terkikik.
"Diem madam!" sewot Rasya.
__ADS_1
"Woow, kayaknya mommy ketinggalan berita nih." ucap Indah.
Rasya langsung saja mendekap tubuh ibunya, setiap kali ia tengah kesal atau menghadapi suatu masalah pelukan ibunya lah yang membuatnya bisa tenang. Indah mengusap punggunh Rasya dengan lembut, entah mengapa putranya terlihat murung seperri itu, diantara tiga bersaudara Rasya paling manja dan juga paling dekat dengan ibunya.
"Ada masalah apa, hmm?" tanya Indah dengan lembut.
Rasya menceritakan masalah Rena yang mencari dirinya, matanya sampai berkaca-kaca karena iba pada dirinya sendiri, Rasya bukannya tidak mempunyai ketertarikan pada wanita, tetapi setiap kali ia dekat dengan wanita pasti saja ada yang menggagalkannya dan ternyata itu semua adalah ulah Rena. Rena tak ingin ada sainfan mendapatkan Rasya, entah kenapa Rena begitu terobsesi dengan Rasya sampai-sampai ia menghalalkan segala cara untuk dekat dengannya.
"Kamu gak boleh putus asa nak, meskipun dia selalu menjadi penghalang untuk kau menemukan belahan jiwa, yakinlah Tuhan pasti menyiapkan sesuatu yang sangat indah dan tak terduga." ucap Indah.
"Sya juga mau menikah mom, Sya mau membina rumah tangga bersama wanita yang Sya cintai seperti kak Al, mana mungkin Sya sama Rena yang jelas-jelas sama-sama berpedang." keluh Rasya.
"Kakak akan bereskan dia dari dunia permodelan, dunia ini punya norma. Masih banyak perempuan diluaran sana yang masih bisa dijadikan model, tidak harus transgender sepertinya yang bisa membuat wanita yang berbakat tersingkirkan, wajahnya memanglah cantik, tetapi itu tidak murni." ucap Albert.
"Kalau bisa secepatnya kak, lau tidak kasihan pada adikmu yang tampan ini terus-terusan menjomblo. Aku tidak mau jadi perjaka tua, mau taruh dimana mukaku yang CEO terkenal ini." ucap Rasya lesu.
"Geli banget liat ekspresinya." ejek Leo.
__ADS_1
"Diem Lele, gue gak mau ladenin ejekan loe." kesal Rasya.