Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten

Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten
Membawa Zalea pulang


__ADS_3

Tak butuh waktu lama mobil yang di kemudikan oleh Leo sudah sampai di mansion, Zalea di gendong oleh Edgar karena tak tega mebangunkannya. Rios dan Cindy menatap heran pada Edgar yang datang menggendong tubuh Zalea, di susul oleh pak Didin dengan kening yang dibalut plester.


"Loh, kok kalian pulang? Terus pak Didin kepalanya kenapa?" tanya Rio.


"Biar Leo yang jelasin dad, aku mau bawa Lea ke kamar." ucap Edgar.


Edgar pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift menuju kamarnya, dia tidak mungkin menaiki tangga dengan membawa Zalea dalam gendongannya, bukan hanya berat tetapi dia takut menggelinding bersama.


"Leo, ada apa ini?" tanya Rio pada Leo.


"Euuh, itu dad. Tadi sebelum ke kantor Lea katanya mampir dulu beli sepatu buat Nathan, terus pas udah beres dia seperti biasanya nganterin makan siang, eh gak lama kemudian ada kabar kalau Lea kecelakaan." jelas Leo.


"KECELAKAAN!" beo Rio.


"Tapi kakak ipar gapapa kan? Gak ada luka yang serius kan?" tanya Cindy khawatir.


"Gapapa, cuman pegel aja badannya. Kalau pak Didin ada luka di kepalanya. Tapi kata dokter katanya gapapa dan gak ada luka serius juga, jadi pas kita kesana di bolehin pulang." jawab Leo.


"Kecelakaan tunggal? Disengaja? Atau gimana?" tanya Rio.


"Kata Lea sih di sengaja, pacar mantannya yang sengaja nabrak dad." jawab Leo.


"Segera urus Leo, daddy gak mau orang itu berkeliaran bebas di luar sana." titah Rio.


"Pak Didin, emangnya yang nabraknyagak ditangkep?: tanya Cindy.


"Langsung kabur bawamobilnya non, bapak juga gak tahu soalnya kita berdua lagi pusing habis jedag-jedug di mobil. Pelaku nabrak mobil bagian belakang, nabraknya kenceng banget sampai keseret jauh, untungnya ada pengendara lain yang teriakin." jelas pak Didin.


"Yasudah, bapak boleh pergi. Istirahat aja di kamar ya, nanti Cindy suruh pelayan buatin makanan buat bapak." ucap Cindy.


"Baik non, makasih." ucap pak Didin.


.


.


Seorang pria tengah duduk di sebuah kursi, dia menatap kearah layar yang masih menyala di hadapannya. Pikirannya berkecamuk dengan apa yang tengah ia kerjakan, seorang wanita dengan wajah yang sudah keriput menghampirinya.


"Sudahlah nak, lagipula mommy sudah mengikhlaskan semuanya." ucap wanita tua tersebut.

__ADS_1


"Gak bisa mom, aku akan memperjuangkan apa yang memang seharusnya menjadi hak kita sedari dulu. Saat ini adalah kesempatan yang paling bagus untukku merebut semuanya, mommy sudah cukup menderita selama ini karena lelaki brengsek itu." ucap Gavin dengan emosi.


"Walau bagaimanapun, lelaki yang kamu bilang brengsek itu adalah ayahmu sendiri nak." ucap Jessica.


Jessica adalah orangtua tunggal untuk Gavin kainandra Giomani, ia sengaja menambahkan marga Giomani pada putranya karena memang di dalam darah yang mengalir di tubuh Gavin ada darah Baskara Giomani. Gavin dan Jessica sudah mengetahui perihal kematian Baskara, untuk itu Gavin menggunakan kesempatan tersebut dengan tujuan mengambil alih harta Giomani. Jessica dan Baskara menjalin hubungan tanpa adanya pernikahan, sampai akhirnya Jessica mengandung benih Baskara namun tidak ada pertanggung jawaban sama sekali.


Baskara begitu terobsesi pada mendiang istri Rio, yaitu Nadia. Ibu dari Edgar dan juga Satria, Baskara adalah pria yang bisa di bilang cassanova, dia seringkali meniduri dari satu wanita ke wanita lainnya. Jessica termasuk wanita kesekian yang di tiduri oleh Baskara, saat dia memberitahukan bahwa dirinya hamil disaat itu pula Baskara pergi meninggalkannya.


Gavin Kainandra Giomani, peria berumur 37 tahun. Memiliki perusahaan yang cukup sukses di dunia bisnis, dia terus berusaha berdiri tegak agar bisa melawan Edgar dan juga Rio. Gavin bersikukuh akan merebut semua kekayaan Giomani, hal tersebut sebagai penebus rasa sakit ibunya yang selama ini hidup susah dan serba kekurangan disaat dirinya hadir dalam kehidupannya.


"Aku tahu dia ayahku, tapi sampai kapanpun aku tidak akan menganggapnya ayah walaupun dia masih hidup. Mommy cukup diam dan apa yang akan ku lakukan, mereka bisa bersenang-senang sedangkan kita menderita." ucap Gavin dingin.


"Nak, caramu salah. Kau bisa sukses tanpa harus merebut hak orang lain, lagipula mommy lah yang bodoh , mommy lah yang salah disini." ucap Jessica.


Gavin seolah tak ingin mendengarkan ucapan ibunya, dia lebih memilih keluar dari dalam ruangannya meninggalkan ibunya yang tengah menatap sendu kearahnya.


.


.


Di sisi lain.


Tok..Tok..Tok..


"Edgar." panggil Rasya dari luar.


Beberpaa kali mengetuk pintu, tetapi tak ada jawaban dari dalam. Rasya masui kedalam ruangan Edgar, namun todak mendapati siapapun disana.


"Kok gak ada." gumam Rasya.


Rasya keluar dari dalam ruangan Edgar, dia berjalan menuju ruangan Leo yang bersebelahan dengan Edgar. Begitu dia masuk kedalam ruangan Leo, dia melihat seorang wanita berhijab yang tengah berdiri di samping meja kerja Leo, dilihatnya dia tengah memeriksa beberapa berkas disana.


"Permisi," sapa Rasya.


Halimah mendongakkan kepalanya, dia menatap kearah Rasya yang tengah menatap kearahnya. Rasya di buat speecless melihat aura kecantikan Halimah, pandangannya langsung terkunci lengkap dengan tubuhnya yang mematung.


'Bidadari dari mana ini? Masyaallah, canrik sekali' batin Rasya.


"Mohon maaf sebelumnya, apa tuan mencari tuan Leo?" tanya Halimah.

__ADS_1


"E-eh, iya. Aku mencari Edgar tadi, tapi dia tidak ada di ruangannya, sekarang aku mencari Leo. Dimana dia sekarang? Dan apakah kau pegawai baru?" jawab Rasya gugup.


"Tuan Edgar dan Tuan Leo sedang ada urusan, jika tuan ada perlu mengenai pekerjaan, tuan bisa membicarakannya dengan saya karena saya sekertaris baru disini." ucap Halimah.


"Aku ingin mendiskusikan proyek kerjasama kita yang berada di malang, tapi karena Edgar tidak ada lebih baik dibahasnya nanti saja." ucap Rasya.


"Baiklah kalau begitu, nanti akan aku sampaikan pada tuan Edgar begitu dia kembali, atau aku akan menelponnya jika memang dia tidak kembali lagi ke perusahaan. Kalau boleh tahu, dengan tuan siapa saya berbicara?" ucap Halimah.


"Oh, aku hampir saja lupa. Perkenalkan namaku adalah Rasya, pemilik perusahaan Wiguna group." ucap Rasya mengulurkan tangannya pada Halimah.


"Saya Halimah, sekertaris tuan Edgar." ucap Halimah menerima uluran tangan Edgar.


Halimah langsung menarik tangannya dari Edgar, dia enggan berlama-lama salaman dengan lawan jenis karena ia memiliki trauma tersendiri.


"Sya." panggil seseorang dari belakang.


Rasya membalikkan badannya melihat siapa yang memanggilnya, dilihatnya Leo tengah berdiri diambang pintu bersama Edgar.


"Baru aja gue nyariin loe berdua, habis dari mana bro?" tanya Rasya.


"Istri gue kecelakaan, jadi gue balik dulu." jawab Edgar.


"Hah? Kecelakaan dimana? Kenapa gak ngabarin gue ege." cecar Rasya.


"Nanti gue ceritainnya, seakanga gue mau tanya. Loe ngapain kesini? Tumben banget, biasanya kalau tiba-tiba datang kesini palingan ngehindar dari cewek 50%." tebak Edgar.


"Kagak ada 50%, yang ada mah 20% modal muka sama permak badan doang." ucap Rasya.


"Hahaha, emangnya baju di permak." ucap Leo tertawa.


"Yaudah, yuk ke ruangan gue. Dah lama gue gak peluk loe, kangen tauk." ucap Edgar sedikit menggkda Rasya.


"Najis!" sewot Rasya.


Edgar dan Leo pun terkekeh, ketiga pria tersebut pergi meninggalkan ruangan Leo, mereka masuk kedalam ruangan Edgar yang masih berantakan karena pekerjaannya yang banyak. Rasya terus mesam-mesem membuat Leo dan Edgar saling bertukar pandangannya, keduanya langsung beringsut di pojok sofa.


"Dia gak gila kan?" tanya Leo berbisik di telinga Edgar.


"Kayaknya sih, gilanya lagi otw." jawab Edgar asal.

__ADS_1


__ADS_2