Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten

Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten
Kenyataan pahit


__ADS_3

Kemoterapi ibunya sudah selesai di lakukan, seperti biasanya Zalea akan membawa ibunya pulang ke rumah setelah berbincang dengan dokter mengenai kondisi Naraya. Naraya duduk di kursi roda, Zalea mendorongnya melewati lorong rumah sakit, dia melihat sekeliling rumah sakit yang di datangi para pasien dengan penyakit yang berbeda.


"Ibu, bagaimana rasanya sekarang?" tanya Zalea.


"Lebih baik," jawab Naraya tersenyum.


"Syukurlah, ibu harus janji sama Zalea kalau ibu bakalan sembuh." ucap Zalea.


"Ibu akan berusaha nak," sahut Naraya.


'Maaf nak, ibu sudah berbohong padamu' batin Naraya.


Zalea menghubungi supir yang ditugaskan Edgar untuk menjemputnya, seorang pria datang menghampiri Zalea yang tengah menunggu di depan rumah sakit, supir tersebut bernama Heri. Heri mengambil alih kursi roda dari tangan Zalea, dia mendorongnya menuju mobil yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri.


Heri membantu Naraya masuk kedalam mobil, sedangkan Zalea mengyimpan kursi roda kebelakang bagasi mobil. Setelah dirasa sudah selesai dan aman, Heri masuk kedalam mobil bagian depan, ia menyalakan mesin mobilnya lalu melajukannya meninggalkan rumah sakit.


Beberapa menit berlalu.


Mobil yang di tumpangi oleh Zalea sudah sampai di halaman rumah, Naraya dibantu kembali oleh Heri turun dari mobilnya.


"Ibu, istirahat dulu ya. Lea mau masak makan siang buat om Edgar, nanti Lea bawain makan siang buat ibu juga ya." ucap Zalea.


Naraya mengangguk lemah sebagai jawaban, Zalea mendorong kursi roda ibunya masuk ke dalam kamar, dia mengangkat tubuh ibunya yang semakin hari semakin ringan. Setelah merebahkan ibunya, Zalea menyelimuti tubuh ibunya sebatas dada.


"Tunggu sebentar ya bu," ucap Zalea.


"Iya nak," sahut Naraya lemah.


Zalea keluar dari dalam kamar Naraya, dia melangkahkan kakinya menuju dapur. Zalea mulai memotong sayuran dan mengeluarkan wajan untuk memasak, Nathan masuk kedalam rumah serya memberi salam.


"Assalamu'alaikum," ucap Nathan memberi salam.


"Wa'alaikum salam, dek kok udah pulang? Biasanya kan agak sore." sahut Zalea.


"Iya kak, katanya gurunya ada rapat mendadak. Semua murid di pulangkan, ada sebagian yang ikut eskul." jawab Nathan.


"Oh begitu, kamu bersih-bersih dulu gih, nanti kamu jagain ibu soalnya kakak mau maska dulu." ucap Zalea.


"Iya kak," sahut Nathan.


Nathan pun melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar, dia pergi ke kamar mandi membersihkan tubuhnya, setelah selesai Nathan kembali berjalam menuju kamar ibunya.


Ceklek.

__ADS_1


"Ibu," panggil Nathan.


Nathan masuk ke dalam kamar Naraya, dilihatnya sang ibu tengah memejamkan matanya dengan begitu tenang. Nathan naik keatas kasur ibunya, dia duduk di sebelah tubuh ibunya, Nathan memijat tangan ibunya yang terasa dingin, ia juga menceritakan aktifitasnya selama di sekolah barunya.


Zalea menyelesaikan masakannya dengan cepat, dia menata makanannya kedalam piring dan juga mangkuk. Entah mengapa perasaannya kini tidak enak, dengan hati yang gelisah Zalea membawa makanan untuk ibunya kedalam kamar.


Ceklek.


"Dek, ibunya lagi tidur?" tanya Zalea.


"Iya kak, daritadi ibu tidur." jawab Nathan.


Zalea menyimpan makanan yang dibawanya keatas meja di sebelah Naraya, dia menatap wajah ibunya yang semakin pucat, tetapi berbeda dari biasanya.


"Kak, kok tangan ibu dingin ya?" tanya Nathan.


"Perasaan kamu aja kali," ucap Zalea.


"Enggak kak, coba kakak pegang tangan ibu." ucap Nathan kekeh.


Zalea mengikuti ucapan Nathan, dia memegang tangan ibunya yang ternyata benar adanya, tangan Naraya begitu dingin dan putihnya berbeda. Dengan pikiran yang mulai berkecamuk serta tangannya yang gemetar, Zalea memgang nadi ibunya tepat di lehernya.


Deg!


"Kak, ibu kenapa kak?" tanya Nathan cemas.


Zalea tak menghiraukan pertanyaan adiknya, dia menyingkap selimut yang menutupi tubuh ibunya.


"Ibu, ibu bangun, bu." ucap Zalea menggoyangkan tubuh ibunya.


"Ibu, ibu kenapa bu hiks. Ibu sadar bu, buka matanya." ucap Nathan mulai menangis.


Zalea tak bisa menahan tangisnya, dia menangis sambil terus menggoyangkan tubuh ibunya, dia berharap apa yang ada dipikirannya itu salah.


Indah masuk kedalam rumah Naraya, dia mencari Zalea berniat untuk menjenguk ibunya. Tetapi Indah mendengar suara tangisan yang saling bersahutan, dengan langkah cepat Indah mencari sumber suara.


"Lea, ada apa? Kenapa kalian berdua menangis?" tanya Indah cemas.


"Ibu, hikss.." jawab Zalea dengan tenggorokannya yang tercekat.


Indah menatap kearah Naraya, dia berinisiatif mengecek tubuh Naraya dimulai dari suhu tubuhnya dan juga memeriksa nadinya.


Deg!.

__ADS_1


"Innalillahi wainnailahi roji'un." ucap Indah.


"HUUAAA, IBUUUUUU." teriak Zalea dan Nathan bersamaan.


Zalea dan Nathan memeluk tubuh ibunya, mereka berdua menangis sejadinya. Indah pun tak kuasa menahan tangisnya, tak bisa di pungkiri ia juga merasa kehilangan sosok Naraya yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri. Indah keluar dari dalam kamar Naraya, dia mencoba menghubungi Edgar yang kini tengah berada di perusahaan.


Tuuutttt..


'Edgar, cepat pulang nak, hiks..'


'Mommy kenapa? Kenapa mommy menangis?'


'Naraya sudah pergi Ed, sekarang Lea sama Nathan masih belum bisa menerima semuanya'


'APA? Aku akan pulang sekarang mom'


Tuttt..


Indah menutup telponnya secara sepihak, dia kembali menghubungi anggota keluarga lainnya memberitahukan kepergian Naraya. Dari dalam kamar Zalea dan Nathan terus menangis, mereka seakan tak mau melepaskan dekapannya dari tubuh ibunya.


Di tempat lain.


Begitu mendapat kabar dari Indah, Edgar langsung memeberitahukan kepada ayahnya dan juga Leo, mereka langsung turun ke bawah menuju parkiran. Edgar terus menyalahkan dirinya karena meninggalkan Zalea dan ibunya di rumah sakit, dengan pikiran yang sudah tak karuan Edgar melajukan mobilnya setengah edan.


Tak hutuh waktu lama Edgar sudah sampai di kediaman Naraya, dia memarkirkan mobilnya ke sembarang arah, dilihatnya Albert dan yang lainnya pun datang bersamaan. Edgar langsung berlari menuju kamar mertuanya, dilihatnya istri dan juga adiknya masih betah memeluk tubuh ibunya yang sudah tak bernyawa, Edgar mendekat kearah Zalea mengusap punggungnya.


"Lea," panggil Edgar.


"Om, ini bohong kan om. Ibu gak pergi, dia lagi tidur kan? Om bangunin ibu ya, kan om menantu kesayangan ibu jadi dia bakal dengerin ucapan om." racau Zalea.


"Ikhlaskan ibu ya Lea, sekarang dia udah gak bisa merasakan sakit lagi." ucap Edgar dengan suara bergetar menahan tangisnya.


"HUAAA... IBU, HIKSS.." raung Zalea.


Edgar melepaskan tubuh Zalea dari Naraya, dia mendekap tubuh Zalea memberikan ketenangan padanya. Adel berjalan melepaskan Nathan dari tubuh ibunya, awalnya Nathan menolak tetapi sesaat kemudian tubuhnya ambruk tak sadarkan diri.


"Bawa Nathan ke kamarnya." ucap Edgar.


Tak lama kemudian Zalea pun ikut pingsan karena masih syok, Edgar keluar dari kamar Naraya membawa Zalea.


"Tolong kalian urus jenazah ibu, aku akan membawa Lea ke kamar dulu." ucap Edgar.


Indah dan yang lainnya pun menganggukkan kepalanya, mereka langsung mengurus Naraya dari mulai memandikannya, menyiapkan tempat peristirahatan terakhirnya dan lain sebagainya.

__ADS_1


__ADS_2