Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten

Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten
Ulah mommy Vs madam


__ADS_3

Edgar tersentak melihat penampilan Zalea yang terlihat begitu aduhai, ia segera mengambil bantal lalu menutupi buah semangka yang menggelantung melambai-lambai seakan ingin di dibelah.


Plukk..


"Apaan sih om?" protes Zalea.


"Lu ngapain pake baju kurang bahan? Katanya gak mau blaem-blaem, tapi lu nya mancing coeg." ucap Edgar.


"Ya habisnya gak ada baju lagi om, semua bajunya di lemari kurang bahan semua dan cuman ini yang mendingan." ucap Zalea.


"Pasti ini ulah mommy Indah sama si madam, bentar lu pakai baju gue aja." ucap Edgar.


"Oke om, jangan lama-lama ya om ganteng."goda Zalea.


Wajah Edgar langsung merona seperti remaja yang sedang kasmaran, tetapi wajahnya langsung berubah seketika kala mengingat nama Cha Eunwoo.


'Cih, sekarang muji gue ganteng, tadi aja dia bilang si Canewo lebih ganteng dari gue. Awas aja lu cil, gue pasti bakalan bikin lu takluk sama gue' batin Edgar.


Edgar mencari baju yang akan di berikan pada Zalea, setelah memilih baju kaos yang akan di kenakan oleh istrinya, Edgar melangkahkan kakinya mendekat kearah Zalea yang tengah meringkuk diatas sofa.


"Lu napa cil? Sakit?" tanya Edgar.


"Aku laper om, cacing di perutnya udah pada demo." ucap Zalea.


"Ya ampun, lu udah kayak gak makan tujuh hari tujuh malam. Ganti baju dulu, bentar lagi makanan dateng kok. " ucap Edgar.


Dengan malas Zalea mengambil baju dari tangan Edgar, dia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk mengganti bajunya.


Ting nong.. Ting nong.


Makanan yang sudah di pesan Edgar pun datang, dengan langkah cepat Edgar membuka pintu. Pelayan hotel mendorong rak yang digunakan untuk mengirimkan makanan, Edgar langsung saja membawanya masuk kedalam. Saat sudah beres mengganti bajunya, Zalea keluar dari kamar mandi melihat Edgar yang tengah menata makanan diatas meja, ia segera menghampiri Edgar dengan wajah sumringah.


"Yeeyy, makan." ucap Zalea girang.


"Giliran makan, semangat lu." ledek Edgar.


"Iya saking udah laparnya om, ayo om makan jangn malu-malu." ucap Zalea tersenyum.


"Sontoloyo," ucap Edgar.


Zalea mengambilkan air minum untuk ia dan suaminya, Edgar menyodorkan sepiring nasi pada Zalea, dengan senang hati Zalea menerimanya dengan tak sabar. Tak menunggu lama Zalea langsung menyantap makanannya dengan cepat, Edgar sampai melongo dibuatnya, bahkan ia sampai kesusahan menelan makanannya.


"Lu laper, apa kesurupan Lea?" tanya Edgar heran.


"Laper." jawab Zalea dengan mulutnya yang penuh.

__ADS_1


Tiba-tina Edgar langsung merasa kenyang melihat Zalea makan dengan cepatnya, tanpa memperdulikan tatapan suaminya Zalea fokus dengan makanannya.


"Kurang? nih punya gue ambil, lagian gue udah kenyang kok." ucap Edgar memberikan tawaran.


"Enggak, ini udah cukup kok. Kalau aku makan punya om, takutnya perutku gak bisa menampungnya." ucap Zalea.


"Yaudah, lanjutin makannya. Nanti ada yang mau gue omongin sama lu, sekalian ngobrol-ngobrol santai aja." ucap Edgar.


Zalea menganggukkan kepalanya seraya mengacungkan jempolnya pada Edgar, dia melanjutkan makannya sampai pipinya menggembung. Edgar merasa gemas sendiri melihat tingkah laku istrinya, dia masih bertanya-tanya di dalam hati dan juga benaknya, apakah sudah ada tumbuh rasa cinta pada istri kecilnya? Rasanya Edgar tak ingin melepaskan Zalea dari genggamannya, ini bukan perkara Zalea pawangnya ataupun karena amanah dari Naraya, tetapi perasaan ingin memiliki Zalea seutuhnya murni dari dalam hatinya.


.


.


Di kamar lain.


Adel dan Albert sudah menidurkan kedua anaknya, kini mereka berbagi peluh diatas peraduan. Disaat yang lain mulai makan malam, mereka malah berolahraga panas dikamarnya. Awalnya Albert sedang menidurkan Sheza, tetapi Adel tiba-tiba meminta jatahnya, Albert tidak dapat menolak kemauan istrinya karena ia juga menginginkannya.


"Eemmhhhh." lenguh Adel.


Albert menaburkan bibit unggulnya setelah lamanya ia bermain, tubuhnya ambruk diatas tubuh Adel yang sama-sama kelelahan.


"Lemes dinda." ucap Albert lesu.


"Dinda juga cape, kakanda." ucap Adel.


"Dinda, hp nya bunyi." ucap Albert.


"Kamunya awas dulu, aku mau lihat siapa yang nelpon." ucap Adel.


Albert pun melepaskan pedangnya yang masih terbenam di dalam gua, dia turun dari atas tubuh istrinya kemudian berguling kesamping. Adel mengambil hp nya melihat siapa yang menghubunginya, begitu ia membuka layar hp nya tertera sahabat dari oroknya menghubunginya.


"Siapa dinda?" tanya Albert.


"Si Farida." jawab Adel.


"Coba angkat, takutnya penting, siapa tahu dia mau kasih kabar ibu sama ayah." ucap Albert.


"Hallo, ada apa nyet?" tanya Adel.


"Heh sableng, sembarangan aja lu ngatain gue ya!"


"Suka-suka gue lah, cepetan mau ngomong apa?"


"Loe bisa bantuin gue gak? Ini gue lagi bingung nih, si Luna lagi mabok di club dan sekarang udah ngaco."

__ADS_1


"Hah? Sejak kapan dia nyoba minum kayak gituan? Sok-sok'an mabok, minum air putih aja dia mah gumoh."


"Any****, cepetan kesini kalo bisa. Loe tahu sendiri kan gue punya bini lagi hamil, gue gak bisa ninggalin dia lama-lama, kerjaan gue juga masih banyak."


"Aduh, mana gue masih capek lagi. Loe jagain dulu nyet, gue mau nyuruh orang buat jemput tuh cewek oon, ngapain sok-sok'an mabok kalau mau ribetin orang, gue gibeng juga tuh si Luna."


"Yey, dia kek gini juga karena dia lagi stress, lu tahu gak? Pacarnya selingkuh."


"Selingkuh tinggal cari lagi bego, jadi cewek kok rapuh."


"Masalahnya cowoknya selingkuhnya sama NYOKAPNYA."


"WHAT!? Tunggu disana, gue telpon Rasya dulu."


Tuut


Adel langsung mematikan ponselnya, dia mencari nomor adik iparnya yaitu Rasya untuk menjempun Luna di club. Farid mengirimkan lokasi Luna saat ini pada Adel, dengan cepat Adel mengirimkan lokasi yang di berikan oleh Farid pada Rasya.


Tuutt..


"Hallo, madam."


"Sya, tadi gue ngirim alamat ke Wa lu. Tolong jemput si Luna di club ya, gue habis olahraga masih lemes jadi gak bisa jemput."


"Kok gue sih madam?"


"Cepetan Sya, nanti gue jelasin deh. Sekarang je.putin dulu si Luna, bawa di kehadapan gue."


"Tapi.."


"Gak ada tapi-tapian, lu tinggal pilih aja mau gue gantung atau sleding?"


"Hahh!? I-iya, gue berangkat sekarang."


Tutt.


Adel matikan ponselnya sepihak, Albert mengerutkan keningnya melihat raut wajah Adel yang cemas.


"Kenapa dinda?" tanya Albert.


"Aku khawatir sama Luna, Farid bilang si Luna mabok gara-gara pacarnya selingkuh." jawab Adel.


"Kok di selingkuhin larinya ke minuman sih? Kenapa gak cari orang baru yang levelnya lebih tinggi dari cowoknya, biar cowoknya nyesel?" heran Albert.


"Masalahnya bukan gitu kakanda, aku tahu banget kalau si Luna sama pacarnya udah jalin hubungan dah lama banget, dia yang nemenin pacarnya sampai sekarang jadi sarjana. Kalau selingkuh sama cewek lain kayaknya dia fine aja, tapi masalahnya yang jadi selingkuhan cowoknya itu ibunya sendiri." jelas Adel.

__ADS_1


"Daebakk, sama emak-emak?" ucap Albert terkejut.


Adel menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, dia juga sebenarnya tak habis pikir kenapa pacar Luna dan ibunya sampai sebegitu teganya.


__ADS_2