
Leo segera bangkit, dia mengeluarkan senjata api di balik saku celananya, inilah saat yang ia tunggu-tunggu. Bermain senjata api sangatlah ia sukai, karena bidikannya selalu tepat sasaran.
Dorr.. Dorr..
Adrian dan Leo menembakkan senjata apinya secara bersamaan, Leo dapat menghindari peluru yang dilayangkan padanya, tetapi Adrian berhasil tertembak tepat di bahunya.
"HENTIKAN!" teriak seseorang dari arah pintu.
Edgar dan yang lainnya menatap kearah pintu, dilihatnya seorang wanita tengah berdiri dengab air mata yang terus berderai. Gavin menatap sang ibu dengan tatapannya yang mulai samar-samar, sedangkan Adrian kini tengah terkulai lemas lengkap dengan darah yang terus mengalir dari bahunya.
"Aku mohon, hentikan semua ini, hiks." ucap Jessica memelas memohon kepada Edgar.
"Mereka yang memulai, maka mereka jugalah yang harus menerima akibatnya." ucap Edgar dingin.
"Nak, aku mohon maafkan dia. Walau bagaimanapun dia tetaplah keluargamu, toling nak, tolong.hiks.." ucap Jessica menangis pilu.
Jessica bisa melihat secara langsung bagaimana terlukanya kakak dan juga anak semata wayangnya, apa yang ia takutkan kini sudah terjadi. Albert datang bersama Raden, ia mengantarkan Jessica karena ia sudah memberitahukan keberadaan Gavin. Jessica terus memohon kepada Albert agar melepaskannya, dia berjanji akan membawa Gavin dan juga saudaranya pergi jauh dari negaranya agar tidak kembali berulah.
"Kenapa kau membebaskannya Al?" tanya Edgar dingin.
"Walau bagaimanapun dia tetap pamanmu, lebih baik kau lepaskan dia. Aku sudah membicarakannya dengan daddy Rio, dia memintaku untuk menyampaikan pesan padamu, lepaskan Gavin dan juga saudara ibunya. Daddy Rio tak ingin kau menjadi seorang pembunuh, Zalea juga akan kecewa jika kau tetap melakukannya begitupun mommy." jelas Albert.
Edgar mencerna semua ucapan Albert, seketika ia terdiam memikirkan apa yang akan ia putuskan.
"Apa jaminannya?" tanya Edgar.
"Sebagai jaminan, aku akan membawa anakku dan saudaraku pergi jauh dari sini, agar mereka tidak bisa mengganggu kalian lagi." ucap Jessica.
"Tapi jika mereka kembali berulah?" tanya Edgar lagi.
"Kau bebas melakukan apapun padanya, aku sudah berusaha melindunginya. Tapi jika mereka tetap kekeh dengan pendiriannya, maka aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi." ucap.Jessica.
"Pergilah ke Amerika, disana ada perusahaan milik kakek tua itu. Hanya itulah harta yang masih tersisa miliknya, dengan begitu pula aku masih bisa memantau pergerakannya dari sini." ucap Edgar dengan datar.
"Terimakasih, terimakasih, terimakasih karena kau masih memberikan kesempatan pada anakku dna juga saudaraku. Maafkan mereka, karena kesalahanku mereka menjadi tamak dan jahat." ucap Jessica dengan tulus.
"Kuharap kau tepati janjimu." ucap Edgar dingin.
"Pasti, aku pasti akan menepatinya." ucap Jessica bersungguh-sungguh.
__ADS_1
"Bawa pria tua itu ke rumah sakit, tapi pastikan rumah sakitnya tak jauh jaraknya dari sini." titah Edgar.
"Baik bos." sahut Leo.
Leo memerintahkan anak buahnya untuk mengangkat tubuh Gavin dan juga Adrian, mereka membawanya ke rumah sakit terdekat dari lokasi kejadian. Jessica pun ikut ke rumah sakit menemani anaknya, sedangkan Edgar kini tengah melempar semua barang yanga ada di hadapannya.
Brakkk...
Prangg..
"AAAARRRGGGGHHHH." teriak Edgar dengan suara menggelegar.
"EDGAR GIOMANI, KENDALIKAN DIRIMU." teriak Albert.
Edgar tak menghiraukan teriakan Albert, dia lebih memilih meninju tembok sampai tangannya mengeluarkan darah. Rasya perlahan mendekat kearah Edgar, dia memegang bahunya meskipun di tepis oleh Edgar sendiri.
"Pergi Sya! Kalau tidak, kau akan terluka!" usir Edgar.
"Kau tidak ingin menemani Lea? Dia sekarang tengah membutuhkanmu, bagaimana bisa dia berjuang sendirian disana, sedangkan kau sendiri tengah menyakiti dirimu sendiri." bujuk Rasya dengan lembut.
'Njir, ucapan gue lembut banget, udah kayak ibu peri' batin Rasya.
"Bersihkan tubuh serta lukamu Ed, ingat Zalea." ucap Albert.
"Hemm." sahut Edgar berdehem.
Edgar mengelap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah, dia pergi berlalu begitu saja tanpa menghiraukan luka yang terdapat di tubuhnya. Albert menarik tangan Rasya yang mengekor di belakang Edgar, Rasya sempat kekeh ingin menemani bestienya tetapi Albert tetap melarangnya.
"Biarkan dia sendiri, kau awasi saja dari kejauhan." ucap Albert.
"Tapi kak-" ucap Rasya terpotong.
"Ikuti kata kakak, dia sekarang sedang kacau. Jadi kakak harap kau tidak menambah kacau pikirannya, berikan dia ruang untuk dirinya sendiri." ucap Albert.
"Baiklah kak." ucap Rasya.
Rasya dan Albert berjalan keliar dari dalam basecamp Gavin, mereka masuk kedalam mobilnya masing-masing. Edgar melajukan mobilnya dengan kencang, dia mengemudikan mobilnya menuju apartemen miliknya yang sudah lumayan lama ia tinggalkan. Rasya dan Albert mengikutinya dari belakang, sedangkan Leo masih mengurus Gavin beserta konco-konconya di rumah sakit, dia harus memastikan kesembuhannya dan juga keberangkatannya ke luar negeri.
"Jika bukan karena perintah dari majikanku, aku tidak akan sudi membiarkan mereka tetap hidup!" ucap Leo dingin.
__ADS_1
"Terimakasih, karena kau masih mau mangantarksn anakku walaupun secara terpaksa." ucap Jessica sendu.
"Botak, kau urus semua keberangkatan mereka sekarang juga!" titah Leo.
"Baik bos." sahut si botak.
Si botak langsung menjalankan perintah dari Leo, sedangkan Leo sendiri tengah berdiri tepat di depan ruang UGD dimana Adrian sedang di tangani. Dokter yang menangani Adrian keluar dari dalam ruang UGD, Leo langsung saja menghampirinya.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Leo datar.
"Pelurunya sudah berhasil di keluarkan karena luka tembakannya tidak terlalu dalam, pasien akan di pindahkan ke ruang rawat oleh suster." ucap dokter.
"Pastikan semuanya beres, urus juga kepindahan pasien karena ia akan dibawa terbang ke luar negeri begitu semuanya selesai." ucap Leo.
Sang dokyer hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, ia enggan menatap wajah Leo yang begitu menyeramkan saat di pandang. Di sisi lain Gavin masih terbaring lemah, wajahnya hampir tertutup oleh luka hasil bogeman Edgar.
*
*
Edgar kini sudah sampai di apartemen, dia langsung mausk menyambar handuk kemudian masuk kedalam kamar mandi. Di dalam kamar mandi Edgar menyalakan shower, dia berdiri dibawanya dengan kepala yang tertunduk.
"Dasar lemah!" ucapnya menyalahkan dirinya sendiri.
Dibawah kakinya mengalir darah yang berasal dari luka di tubuhnya, perih sudah pasti ia rasakan, tapi ia tidak memperdulikannya sama sekali. Dengan cepat Edgar membersihkan tubuhnya, bayangan wajah Zalea selalu muncul di dalam pikirannya.
"Semoga saja ketika aku kembali kau sudha membuka matamu, aku ingin mendengar ocehanmu ketika melihat luka ini, aku tidak akan mengobati luka ini karena aku ingin kau yang mengobatinya." gumam Edgar.
*
*
Di rumah sakit.
Rio berdiri disamping tubuh Zalea yang terbaring lemah, dia menatap wajah pucat sang menantu yang telah menyelamatkan dirinya dan juga Cindy.
"Nak, cepatlah sadar. Suamimu membutuhkanmu, jangan lama-lama ya tidurnya, keponakanmu pasti sudah menunggu aunty yang sudha menyelamatkan nyawanya menjenguknya. Adik iparmu sudah melahirkan, kata dokter bayinya kembar loh, tadi daddy juga denger tangisan mereka, tapi belum sempat melihatnya." ucap Rio.
Rio menghela nafasnya panjang, tak henti-tinya cobaan datang silih berganti menghampiri puta sulungnya. Tak ada orangtua yang bahagia melihat anaknya menderita, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa karena skenario Tuhan begitu sangat terjaga rahasianya.
__ADS_1