
3 minggu kemudian.
Edgar dan Zalea masih bergelung di dalam selimut, perlahan Zalea membuka matanya merasakan sesuatu di perutnya, semakin lama perutnya semakin bergejolak memaksa untuk naik ke tenggorokan.
Hueekk..Huekkk..
Zalea langsung turun dari ranjangnya, dia berlari ke kamar mandi sambil menutup mulutnya. Edgar membuka matanya dan menatap kearah kamar mandi, dia mendengar suara Zalea yang tengah memuntahkan isi perutnya, buru-buru Edgar turun dari tempat tidurnya menyusul istrinya.
Hueekk..Huekk..
"Sayang." panggil Edgar.
Edgar mengusap tengkuk Zalea dari belakang, Zalea terus berusaha mengeluarkan isi perutnya sampai tidak ada yang bisa di keluarkan karena habis terkuras. Hanya air yang keluar dari mulut Zalea, setelah dirasa membaik Zalea mengelap mulutnya. Tubuh Zalea sangatlah lemas sampai ia berpegangan ke dinding kamar mandi, Edgar langsung menggendong tubuh Zalea keluar dari kamar mandi, ia meletakan istrinya ke atas tempat tidur.
"Kenapa sampai muntah-muntah sayang? Apa karena salah makan?" tanya Edgar khawatir.
"Enggak tahu, palingan asam lambungnya lagi naik." jawab Zalea.
"Jangan sampai telat makan sayang, sekarang kamu istirahat aja ya biar aku bawain sarapan buat kamu." ucap Edgar.
"Tapi aku mau sarapannya bubur." pinta Zalea.
"Iya, nanti aku minta sama maid biar di bikinin bubur." ucap Edgar.
"Enggak mau buatan maid, aku maunya buatan mommy Indah." rengek Zalea.
"Loh, kenapa harus buatan mommy? Gak enak yang, takutnya ngerepotin mommy. biar maid aja ya yang buat? Kamu tinggal bilang mau toping kayak gimana? Bubur ayam, bubur polos? Mau kayaka gimana?" jelas Edgar.
Bukannya menjawab ucapan Edgar, Zalea malah terlihat seperti ingin menangis, wajahnya memerah serta hidungnya kembang kempis. Dan..
"HUAAA.. Mas udah gak sayang sama Lea..hikkkss..." tangis Zalea pecah seketika.
Mata Edgar membulat sempurna mendengar tangisan Zalea, dia langsung menenangkan istrinya agar berhenti menangis, sebenarnya dia bingung kenapa tiba-tiba Zalea menagis hanya karena keinginannya di turuti.
"Cup, cup, cup, sayang jangan nangis ya. Kalo kamu berhenti nangisnya, aku mau telpon mommy biar di buatin bubur nya." bujuk Edgar.
"Hiks, hiks, tapi aku maunya mommy bikinnya disini, aku mau liat langsung cara bikinnya." ucap Zalea di sela tangisnya.
"Iya sayang, udah dulu ya nangisnya. Sekarang juga mas telpon mommy, kamu istirahat dulu ya." ucap Edgar dengan lembut.
'Ini si Lea kenapa coba? Pagi-pagi udah tantrum aja, bikin gue parno gak dapet jatah ini mah' batin Edgar.
Zalea menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, dia mengelap sisa air matanya walaupun bibirnya mengerucut. Edgar segera meraih ponselnya menelpon Indah, beberapa kali Edgar mencoba menelpon Indah namun tidak ada jawaban, dia mencoba menghubungi Albert dan akhirnya mendapatkan jawaban.
[Al, mommy kemana? Aku telpon kok gak diangkat sih?]
[Mommy lagi mandiin si kembar, emangnya kenapa?]
[Al, boleh bilangin gak ke mommy. Ini, Lea tiba-tiba aja mau dimasakin bubur sama mommy, tapi dia pengen liat mommy masak disini, tadi aku dah coba tawarin buat di bikinin maid aja eh taunya dia malah tantrum]
[Tunggu dulu, aku samperin mommy dulu biar kamu ngomong langsung ke mommy]
[Iya Al]
[Hallo nak, ada apa]
[Mommy, bisa datang kesini gak? Lea tiba-tiba muntah tadi, terus katanya dia mau bubur buatana mommy dan dia juga minta mommybikinnya disini.]
[Hah? Benarkah itu Ed? Kayaknya cucu mommy mau launching juga nih, tunggu sebentar mommy siap-siap dulu ya Ed]
[Hah? Lea H-hamil? Eh mom, biar Ed yang jemput ya]
[Kelamaan, biar mommy bareng Rasya aja sambil dia mau ke kantor, entar pulangnya kamu anterin mommy]
[Oh baiklah, makasih mommy ku sayang, mommy emang terbaik deh]
[Mommy tutup dulu telponnya yah, bye.]
Tuutt..
Indah menutup telponnya sepihak, Edgar kembali mrnyimpan hp nya ke atas nakas, dia kembali menatap wajah pucat Zalea. Dilihatnya Zalea tengah memijat kepalanya yang terasa pusing, Edgar menurunkan tangan Zalea kemudian ia memijat kepala Zalea.
"Kita periksa ke dokter ya? Aku takut kamu kenapa-napa." ajak Edgar.
"Aku gapapa kok mas, cuman pusing sama mual doang nanti juga sembuh kok." ucap Zalea.
"Please sayang, nurut sama suami. Tadi mommy bilang cucunya bakal launching begitu aku bilang kamu tiba-tiba pengen di masakin mommy, aku jadi penasaran pengen coba tes deh kali aja Edgar junior udah ada di perut." ucap Edgar.
__ADS_1
"Nanti aja mas, aku juga lupa kapan terakhir kali aku mens. Aku mau istirahat dulu aja, nanti kalo udah mendingan kita ke dokternya set.. Huekekk..huekkk.."
Zalea kembali turun dari kasurnya berlari ke arah kamar mandi, dia memuntahkan isi perutnya sampai kepalanya terasa berputar, Edgar berlari menyusul isttrinya dan..
Grepp.
Zalea pingsan tak sadarkan diri, Edgar menepuk pipi Zalea berulang kali berharap isttinya itu sadar. Edgar panik melihat kondisi Zalea, dia membawa Zalea keluar dari kamarnya menuruni anak tangga menuju lantai bawah. Cindy, Satria, Natham dan juga Rio tengah bersiap untuk sarapan, mereka melihat Edgar dengan wajah paniknya membawa Zalea.
"Ed, kenapa Lea?" tanya Rio.
"KAKAK." teriak Nathan.
"Kakak ipar kenapa kak?" tanya Satria.
"Kok wajah kakak ipar pucet banget, dia lagi sakit kah?" tanya Cindy.
"Nanti aku jawab, Satria tolong anterin aku ke rumah sakit sekarang juga, kalian tunggu di rumah aja." ucap Edgar.
Satria langsung bangkit dari duduknya, dia segera mengambil kunci mobil miliknya. Edgar keluar dari mansion membawa Zalea yang masih menutup matanya, Satria menyusul Edgar keluar dan membukakan pintu mobil untuk kakak iparnya.
"Dek, cepetan nyalain mobilnya." desak Edgar panik.
"Iya kak." sahut Satria.
Satria melajukan mobilnya keluar dari pekarangan mansion, wajah panik Edgar begitu tergambar jelas sampai keringat bercucuran di keningnya.
Beberapa menit kemudian.
Begitu sampai di rumah sakit Edgar langsung membawa Zalea keluar dari dalam mobil, Satria bergegas menyusul kakaknya masuk kedalam rumah sakit. Edgar memanggil perawat untuk membawakan brankar, satu perawat wanita dan pria datang menghampiri Edgar dengan membawa brankar, Zalea langsung di bawa kedalam ruang UGD untuk di periksa lebih lanjut. Burhan dipanggil oleh salah satu perawat untuk menangani Zalea, dia terkejut melihat Edgar dan Satria berada di luar ruang UGD.
"Edgar, Satria." panggil Burhan.
"Burhan, tolong selamatin istri gue. Dia ada di dalem, tadi dia muntah terus sampai akhirnya dia pingsan, sumpah Han gue takut banget Lea kenapa-napa." ucap Edgar panik.
"Sebentar, aku akan memeriksa keadaan Lea terlebih dahulu." ucap Burhan.
Burhan masuk kedalam ruang UGD, dia mengambil stetoskop kemudian mulai memeriksa keadaan Zalea. Sebuah senyuman terukir di wajah Burhan setelah tau kondisi Zalea, sebelumnya juga kasus ini pernah terjadi pada Adel selaku istri dari Albert sahabatnya.
"Pasien tidak apa-apa, tolong kalian bawa pasien ke dokter Meta untuk memastikan dugaanku." titah Burhan.
"Baik dok." sahut perawat laki-laki.
"Liat tuh kakak loe, saking paniknya sampe gak fokus." ucap Burhan pada Satria.
"Emangnya kakak ipar mau di bawa kemana?" tanya Satria.
"Liat aja nanti." jawab Burhan dengan senyum misteriusnya.
Kening Edgar mengkerut kala melihat tulisan yang terpampang jelas di depan pintu.
"Obgyn? Kenapa si puitis bawa istri gue ke obgyn?" gumam Edgar.
Zalea di bawa masuk kedalam ruangan obgyn oleh kedua perawat atas perintah Burhan, Edgar menatap kearah Burhan dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Dokter meta, tolong kau periksa pasien. Aku harap dugaanku itu benar, untuk memperjelas semuanya aku ingin kau melakukan USG." ucap Burhan.
"Baik dokter Burhan, saya akan melakukannya." sahut dokter Meta sambil tersenyum.
"Han, maksud loe?" tanya Edgar.
"Lihat saja Ed, semoga aja dugaanku benar. Jika benar, maka kau harus memberikan hadiah padaku." ucap Burhan dengan santainya.
"Cih, aku-kamu. Biasanya juga loe-gue bahasanya, sejak kapan dokter puitis ini berubah?" ledek Edgar.
"Ck, jangan merusak citraku di rumah sakit Ed," ucap Burhan berdecak kesal.
"Oh, formalitas toh. Hihihi, kirain dah berubah." ucap Edgar terkikik.
Dokter Meta menyingkap baju Zalea sampai terlihat bagian perutnya, Edgar lengsung menghentikkan aktifitas dokter Meta merasa tidak terima bagian tubuh istrinya dilihat oleh perawatpria dan juga pria lain yang ada di ruangan tersebut.
"Stop!!!!" pekik Edgar.
Dokter Meta tersentak, dia menatap kearah Edgar yang tengah menatap tajam kearahnya. Edgar segera menutup kembali perut rata Zalea sampai Zalea terbangun dari pingsannya, Burhan dan Satria yang mengerti pun keluar di ikuti oleh perawat pria.
"Lain kali kalau mau buka baju istri orang tuh izin dulu sama suaminya, mana di depan banyak cowok lagi." gerutu Edgar.
"Maaf tuan." ucap Dokter Meta.
__ADS_1
"Ssshh, mas aku dimana? Kenapa kamu kayak kesel gitu mukanya?" tanya Zalea.
"Kamu di rumah sakit sayang, tadi habisnya kamu pingsan jadi aku ajak Satria bawa kamu kesini." jawab Edgar.
"Maaf tuan, bisa kita mulai USG nya?" tanya dokter Meta.
Edgar menatap sekelilingnya sudah tidak ada pria lain selain dirinya, ia meganggukkan kepalanya sebagai jawaban pada dokter Meta selaku dokter kandungan yang akan memeriksa Zalea.
"Mohon maaf ya nona, saya akan buka sedikit bajunya." ucap dokter Meta dengan lembut.
Zalea yang tidak terlalu mengerti pun hanya menganggukkan kepalanya, dokter Meta mengoleskan gel khusus keatas perut rata Zalea, ia mengambil sebuah alat yang digunakan untuk memastikan apakah ada sebuah kehidupan di dalam perut Zalea.
"Tuan, nona. Lihatlah kearah layar disana." ucap dokter Meta menunjuk kearah layar yang memperlihatkan gambar hitam putih yang berisikan sebuah titik.
"Apa itu?" tanya Edgar cengo.
"Titik disana adalah sebuah kantong bayi yang menandakan kalau istri anda tengah mengandung, usia kehamilannya baru menginjak 2 minggu." jelas dokter meta.
"H-hamil dok." ucap Edgar syok.
"Mas." ucap Zalea dengan berkaca-kaca.
"Sayang, kamu hamil. Sebentar lagi kita akan jadi orangtua, aku senang sekali sayang, gak sia-sia honeymoon kita ke korea membuahkan hasil." ucap Edgar.
Tak terasa Edgar mengeluarkan air mata bahagianya, impiannya kini terwujud untuk memiliki sebuah keturunan, apa yang ia takutkan sudah pupus sudah berganti dengan kebahagiaan.
"Tuan dan nona, tolong di jaga buah hatinya ya. Jangan sampai kelelahan, stress dan yang terpenting harus jaga pola makannya, tidak boleh sembarangan. Usia kandungan nona masih sangat rentan, untuk itu kurangi aktifitas berhubungan intim agar tidak membahayakan janin, jika mau pun lakukan dengan pelan dan pastikan sang ibu nyaman." jelas dokter Meta.
"Baru aja mau nanya ninu-ninu, eh udah di jelasin duluan." ucap Edgar sambil menyeka air matanya.
Zalea mencubit tangan Edgar dengan gemas, entah kenapa Edgar selalu saja memikirkan blaem-blaem sampai tiap hari ia selalu meminta jatah. Edgar meringis kesakitan begitu tangannya di cubit oleh Zalea, sedangkan Zalea tersenyum kikuk kearah dokter Meta yang dibalas dengan senyuman pula oleh sang dokter.
Diluar.
Satria dan Burhan tengah menunggu diluar ruangan dokter kandungan, dari arah jauh terlihat Indah dan Rasya berlari kearah mereka dengan wajah khawatir, disusul oleh Rio dan juga Nathan yang cemas akan kondisi Zalea.
"Dimana Lea? Bagaimana kondisinya?" cecar Rio.
"Tenang dad, kakak ipar sedang di periksa di dalam." jawab Satria.
"Loh, kok ke dokter kandungan?" tanya Indah begitu menyadari tulisan di depan pintu.
"Kita tunggu saja hasilnya, aku tidak bisa menjawab sebelum kebenarannya terbukti." ucap Burhan.
"Nathan, udah jangan nangis lagi ya, kakak kamu baik-baik aja kok." ucap Satria.
"Iya kak, tapi Nathan takut." ucap Nathan dengan wajahnya yang basah oleh air mata.
"Gausah takut, kan ada mommy sama yang lain disini." ucap Indah memeluk tubuh Nathan.
"Jadi laki gak boleh cengeng Nathan, nanyi burungnya berubah jadi donat loh." ucap Rasya.
"Rasya!" tekan Indah menatap tajam Rasya.
"Hihi, peace mommy. Berchandyaa mom, biar gak tegang-tegang amat." ucap Rasya nyengir kuda.
Tak lama kemudian Edgar keluar dari ruangan dokter kandungan, dia menatap semua orang yang hadir disana dengan mata yang sudah berair, ia menubruk tubuh Rio dan mendekapnya dengan erat.
"Daddy, aku akan jadi ayah. Senjataku manjur dad, hiks.. Akhirnya aku bisa menunjukkan pada dunia kalau perkututku bisa memproduksi penerus perusahaan, aku gak impoten dad." ucap Edgar menangis dalam dekapan Rio.
"Daddy sebenernya terharu karena kamu mau jadi ayah, tapi mendengar kalimat yang diucapkan olehmu kenapa jadi terdengar menyebalkan ya, rasanya daddy mau nangis tapi mau ngomel juga sama kamu." ucap Rio.
"Maklumin aja dad, otak dia kan udah geser ke perut jadi fungsinya udah beda." celetuk Rasya.
"Selamat ya nak." ucap Indah.
"Makasih mom," ucap Edgar.
"Selamat Ed, akhirnya dugaanku benar." ucap Burhan menepuk pundak Edgar.
"Makasih Han, gue seneng banget sekarang. Nanti kalau anakngue lahir, gue mau jodohin anak gue sama anak lu atau enggak anaknya Al, pokonya diantara kalian berdua sama anak Leo juga Rasya." ucap Edgar.
"Zaman apa ini para hadirin, sorry meskipun gue belum nikah dan punya anak, saat ini juga gue menolak karena gue pengen anak gue milih kebahagiaannya sendiri." ucap Rasya.
"Issshh kakak, kenapa udah mikir jodoh-jodohan sih? Belum juga lahir anaknya." omel Satria.
"Biar seru aja dek, kalau mau ya aku jodohin dan kalau gak mau lun ya gak masalah." ucap Edgar.
__ADS_1
"Udah, udah, jangan di bahas lagi. udah tau anak daddy yang satu ini kan rada sengklek, kenapa kalian malah ladenin, mau sama sengkleknta juga?" lerai Rio.
Satria dan yang lainnya menggelengkan kepalanya pelan, sedangkan Edgar mengerucutkan bibirnya kesal kepada ayahnya.