
Disaat Leo dan juga Halimah tengah frustasi karena tidak bisa fokus pada pekerjaannya, tiba-tiba Rasya datang mencari Edgar karena ada meeting dengannya.
"Samperin catri dulu gak sih." gumam Rasya tersenyum.
Rasya melangkahkan kakinya menuju ruangan Halimah, dia ingin menemui wanita yang ia idamkan dan yang selalu mengusik pikirannya setiap harinya.
Tok..Tok..Tok..
"Permisi." ucap Rasya.
Halimah yang tengah menutup wajahnya langsung tersadar, dia bangkit dari duduknya kemudian berjalan kearah pintu karena ada yang mengetuknya.
Ceklek.
Begitu membuka pintu ruangannya, Halimah dapat melihat sosok lelaki tampan dan juga rapih serta wangi tengah berdiri dihadapannya, pandangannya langsung terkunci melihat senyum manis di bibir Rasya. Rasya melambaikan tangannya kearah wajah Halimah, dia bingung melihat Halimah yang tiba-tiba saja melamun.
"Halimah, hey. Are you oke??" tanya Rasya.
Seketika lamunan Halimah buyar, dia berusaha menetralkan jantungnya yang berdegup di hadapan Rasya.
"Maaf tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Halimah dengan nada yang sedikit gemetar.
"Apa kau sedang sakit? Kenapa bicaramu terdengar gemetar seperti itu?" tanya Rasya dengan santainya memegang kening Halimah.
Halimah Refleks memundurkan wajahnya dari Rasya, dia menundukkan kepalanya karena merasa kurang nyaman. Rasya sadar akan tindakannya yang bisa dibilang tidak sopan, dia segera menarik tangannya yang ia gunakan untuk memegang kening Halimah.
"Ah, maafkan aku karena sudah lancang." ucap Rasya tidak enak hati pada Halimah.
"Tidak apa-apa tuan, apa anda mencari tuan Edgar?" jawab Halimah.
"Ah, iya. Dimana dia? Bukannya hari ini kita ada meeting? " jawab Rasya mengalihkan pembicarannya dengan memberikan pertanyaan pada Halimah.
Halimah tidak mungkin memberitahukan Rasya kalau majikannya tengah berolahraga yang membuat otaknya travelling, tapi dia juga harus mencegah Rasya yang bisa saja nyelonong masuk kedalam ruangan Edgar.
"Mohon maaf tuan, tuan Edgar sedang ada keperluan sebentar. Saya akan memanggilkan tuan Leo untuk mewakili tuan Edgar jika beliau belum menyelesaikan urusannya, mari saya antar ke ruangannya." ucap Halimah dengan sopan.
"Baiklah." sahut Rasya.
Halimah berjalan terlebih dahulu, sedangkan Rasya mengekor di belakang Halimah seraya pandangannya terus mengikuti kemana wanita pujaannya membawanya pergi. Sebelum masuk kedalam ruangan Leo, Halimah mengetuk pintunya terlebih dahulu, setelah mendapat jawaban dari Leo ia masuk kedalam bersama Rasya. Padahal tanpa diantar oleh Halimah pun Rasya bisa dengan mudahnya masuk ke ruangan Leo maupun Edgar, memang dasarnya modus ingin berdekatan dengan Halimah.
"Eh, loe Sya. Ngapain kesini?" tanya Leo.
"Loe lupa, sekarang kan kita mau meeting proyek di malang gimana seh?" heran Rasya.
"Oh sorry, gue sekarang bener-bener gak fokus." ucap Leo meminta maaf pada Rasya.
__ADS_1
"Kenapa loe? Gak biasanya loe kayak gini." tanya Rasya.
"Halimah, tolong siapkan berkas untuk meeting kita bersama perusahaan Wiguna. Kalau meetingnya sudah mau di mulai, nanti saya akan menelponmu sekalian kamu bawa berkasnya." ucap Leo.
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi." ucap Halimah sambil meninggalkan ruangan Leo.
Begitu Halimah keluar, Leo menghela nafasnya panjang. Rasya yakin ada cerita menarik kala melihat raut wajah Leo, dia segera menajamkan telinganya serta menatap lekat kearah Leo.
"Cerita dong." ucap Rasya.
"Loe tahu gak yang bikin gue gak fokus sekarang?" tanya Leo.
"Ya kagak lah, orang loe belum cerita." jawab Rasya.
"Bos gue penyebabnya-" ucap Leo terpotong.
"Itu sih udah pasti, karena menurut gue gak bakal jauh-jauh dari si Edgar nih." sambung Rasya.
"Belum selesai setan, dengerin gue dulu." kesal Leo.
"Oh, Sorry bro." ucap Rasya.
"Bos gue tuh mau honeymoon kan ya lusa, daddy Rio udah nyiapin tiketnya ke korea. Singkat cerita, tadi si Elina dateng menggatal sama si bos, kebetulan bininya dateng sama si Halimah dan terjadilah bakbuk istri sah sama pelakor. Yang bikin gue gak fokus adalah, saat masalah beres gue sama Halimah keluar, gak lama kemudian kita barengan bawa berkas yang harus di tandatangani, begitu gue masuk kedalam kedengeran tuh suara lucknut alias si boss lagi main kuda-kudaan." jelas Leo.
"Loe serius? Bukannya dia gak bisa blaem-blaem?" tanya Rasya.
"Buktinya, kedengeran pak empak tuh." ucap Leo.
"Anjoy, gue gak nyangka hahahha." ucap Rasya tertawa.
*
*
Dikamar.
Edgar perlahan membuka matanya, dilihatnya istrinya masih tertidur didalam dekapannya. Wajah cantik nan bersih begitu damai dan sejuk dimata, wanita yang kini sudah menjadi miliknya seutuhnya.
"Aku sangat mencintaimu, sayang." ucap Edgae sambil mengusap lembut pipi Zalea.
Edgar perlahan melepaskan dekapannya, dia mengecup pipi dan juga bibir Zalea sekilas sebelum turun dari ranjangnya. Saat hendak turun, dia melihat pakaiannya berserakan dibawah, senyumnya merekah kala mengingat kejadian panas yang ia lakukan bersama Zalea.
"Aahh, aku tidak menyangka. Ternyata aku bisa melakukannya, dan rasanya sangat menyenangkan." ucap Edgar.
Edgar mengambil pakaiannya dan juga pakaian Zalea menyimpannya ke keranjang cucian agar tidak berantakan, dia melangkahkan kakinya ke kamar mandi guna membersihkan tubuhnya. Setelah beberapa menit di dalam kamar mandi, Edgar keluar dari dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Kayaknya Lea kecapean, lebih baik aku biarkan dia tidur." gumam Edgar.
Edgar mengambil pakaian ganti yang ada di lemari, dia memakai pakaiannya kemudian merapikan penampilannya tanpa bercermin. Setelah dirasa cukup, Edgar keluar dari dalam kamarnya, dia mengambil hp nya kemudian menghubungi Leo untuk masuk kedalam ruangannya.
[Leo, ke ruanganku sekarang]
[Bail bos]
Tuut.
Edgar duduk di kursi singgasana miliknya, dia memeriksa berkas-berkas penting sebelum Leo datang. Tak berapa lama kemudian, Leo datang bersama Rasya yang mengekor di belakangnya.
"Widdih, ada yang udah gak perjaka nih." goda Rasya.
"Astaga, Sya lihatlah. Banyak banget lukisannya, barbar juga ternyata bininya si bos." ucap Leo menunjuk leher Edgar.
Tanpa Edgar sadari, begitu banyak tanda kepemilikan di lehernya. Mendengar kedua bestienya yang menggodanya, Edgar menyalakan kamera hp nya melihat penampilannya, matanya membulat sempurna kala ia melihat tanda kepemilikan yang begitu banyaknya.
"Anjaaaayyy, bini gue emang rakus." ucap Edgar bangga.
"Pakk..empaakk..empaakk." ledek Leo.
"Loe denger le?" tanya Edgar.
"Gue denger sama Halimah bos, mana bu bos kenceng juga desahnya." jawab Leo kesal.
"Gimana? Keren kan gue." tanya Edgar dengan bangganya.
"Good job bro! Semoga ponakan gue cepet launching, jadi pengen cepet punya istri juga gue." ucap Rasya mengacungkan jempolnya.
"Loe juga cepet cari lah Le, biar malem ada yang ngelonin." ucap Edgar.
"Iya Le, gue sih kalem aja udah ada inceran ini. Jangan lama-lama jomblo, nanti loe jadi perjaka tua atau enggak, jadi aki-aki hahahha." ledek Rasya.
"Ngomong apa loe?!" sewot Leo.
Leo langsung memiting leher Rasya, Edgar yang melihatnya pun begitu senang karena sudah lama ia tak melihat pertarungan kedua teman bobroknya.
"Hajar! Hajar! Hajar!" seru Edgar bersemangat.
"Jangan sentuh aku, jangan sentuh akuuu!! Aku jijik, aku jijikkkkk." ucap Rasya memberontak.
"@ny1n9, setan, bangsat, gue gedeg ama lu." ucap Leo melontarkan umpatannya.
Begitulah ketiganya jika sudah berkumpul, jika mereka tidak ribut bukan trio bobrok namanya. Edgar terkekeh geli mendengar ucapan Rasya yang mengatakan jijik pada Leo meniru sinetron yang pernah ditontonnya, ia begitu ingat saat Adel mengajaknya menonton sinetron kemauannya saat hamil si kembar.
__ADS_1