Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten

Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten
Koma


__ADS_3

Dokter menghela nafasnya panjang, seringkali ia harus menyampaikan berita yang bisa membuat hati manusia bimbang, tetapi walau bagaimanapun kabar baik atu buruknya tetap harus disampaikan kepada keluarga pasien yang ia tangani.


"Kira-kira, kapan pasien bisa sadar kembali dok?" tanya Rasya.


"Tida bisa dipastikan tuan, kami memang sudah berhasil menghentikan pendarahannya dan mentranfusinya. Tetapi, kondisi pasien begitu lemah yang membuatnya kritis, jika ia tidak melewati masa kritisnya dan tidak sadar dalam waktu 24 jam, maka pasien dinyatakan koma." jelas dokter.


Jedddeerrr...


Bak tersambar petir di sore hari, membuat jantung Edgar seperti di tikam belati dan juga bebatuan secara bersamaan. Nafasnya terasa begitu sesak mendengar kembali kenyataan, tetapi dia tidak boleh lemah demi istrinya, ia akan melakukan apapun demi kesembuhan Zalea.


"Apa tidak ada cara lain untuk membuatnya sadar?" tanya Edgar datar.


"Mohon maaf tuan, kami sudah melakukannya sesuai dengan kemampuan kami. Saya berharap pasien akan segera sadar secepatnya, kami juga akan terus memantau pekembangan pasien setiap dua jam sekali." jawab dokter.


"Boleh aku melihatnya?" tanya Edgar.


"Silahkan tuan, tapi sebelum itu. Mohon bersihkanlah pakaian anda, jika ingin menemui pasien sebaiknya harus pastikan tubuh anda steril." ucap dokter dengan hati-hati.


"Apa yang dokter katakan benar Ed, kau harus membersihkan tubuhmu terlebih dahulu. Mana mungkin kau datang dengan tubuh yang kotor? Apa kata Zalea jika ia sadar melihat penampilanmu seperti ini, dia pasti akan mendebatmu." ucap Rio.


Seketika Edgar membayangkan bagaimana Zalea berdebat dengannya, kedua sudut bibirnya tertarik namun bergetar, matanya berkedut hemdak keluar. Tetapi, dengan sekuat tenaga ia menahannya.


"Aku akan menelpon sekertarisku untuk mengantarkan pakaian ganti untukmu, setelah itu kau baru bisa menemui Zalea." ucap Rasya.


Edgar menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, sebelum benar-benar pergi. Edgar melangkahkan kakinya berdiri di depan pintu, dia bisa melihat dari kaca sang istrinyang tengah terbaring lemah dengan bantuan alat medis di tubuhnya. Wanita kuat yang ia nikahi belum lama ini harus merasakan sasaran dari musuhnya, Edgar mengepalkan tangannya dengan kilat amarah yang terpancar di matanya, sumpah demi apapun dia akan membalaskan apa yang sudah menimpa istrinya tanpa memandang siapa orang tersebut.


"Akan ku patahkan tangan yang berani melukaimu, jika perlu aku akan melenyapkan nyawanya." gumam Edgar dingin.


Rasya mendengar gumamam Edgar, dia langsung mengusap tengkuknya yang merinding mendengar kata yang terlontar dari mulut Edgar. Siapa yang tidak tahu Edgar, hello kitty di dalam rumah namun macan bertating di luar rumah.


'Njir, Edgar kalo lagi kode senggol b*c*k ngeri bener' batin Rasya.


Rasya menghubungi asisten pribadinya untuk membawakan pakaian ganti, sambil menunggu pakaian datang, Edgar segera membersihkan tubuhnya yang berlumuran darah.

__ADS_1


Beberapa menit berlalu.


Edgar sudah selesai membersihkan tubuhnya serta mengganti pakaiannya, kini ia tengah berdiri di samping tubuh Zalea yang terbaring lemah. Dengan susah payah Edgar menahan air matanya agar tidak tumpah, dia duduk sambil menatap wajah tenang istrinya yang sudah mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan 3 nyawa sekaligus. Tangan Edgar menggenggam tangan Zalea, dia mengecupnya dengan lembut menyalurkan kasih sayangnya.


"Cepatlah sadar sayang, aku mencintaimu. Aku ingin mengajakmu berdebat, menggodamu membuat hari-hariku menjadi lebih bersinar, bahkan aku sangat menyukai wajah jengkelmu dibandingkan wajah kau yang pucat seperti ini." ucap Edgar dengan mata yang berkaca-kaca.


Tak ada respon apapun dari Zalea, dia masih betah menutup matanya. Hanya suara mesin yang memecah keheningan keduanya, Edgar terus mengecupi tangan Zalea serta wajahnya, hatinya semakin tercabik-cabik jika terus melihat keadaan sang istri.


"Aku akan pergi sebentar, ku harap disaat aku kembali kau sudah membuka matamu." ucap Edgar.


Edgar bangkit dari duduknya, dia mengecup kening Zalea sebelum ia pergi dari ruangan istrinya. Disaat ia keluar dari ruangan, dia melihat Leo tengah menunggu kedatangannya.


"Siapa dalangnya?" tanya Edgar dingin.


"Gavin, dia tak sendirian. Dia dibantu oleh kakak dari ibunya yaitu Adrian, mantan mafia." jawab Leo.


"Ikut aku." ucap Edgar dingin.


"Aju akan menyelesaikan urusanku, mereka salah memilih lawan. Aku tidak mau ada korban lagi diantara keluarga kita, cukup sampai Zalea saja selebihnya jangan." jawab Edgar.


"Jaga dirimu, jangan sampai dikala Zalea sadar dia melihatmu terluka karena itu akan semakin membuat dirinya khawatir." pesan Rio.


"Aku titip Zalea selama aku pergi, jika dia sadar dan menanyakan keberadaanku, katakan padanya kalau aku akan segera kembali." ucap Edgar.


"Pergilah, daddy akan menjaganya." ucap Rio.


Wajah Edgar sudah sangat menyeramkan, tak hanya Edgar saja nyatanya Leo lebih menyeramkan daripada Edgar. Terlebih dia adalah singa Edgar, dia akan selalu menjaga keluarga tuannya beserta keluarganya dari ancaman marabahaya walaupun nyawa taruhannya. Rasya menelan ludahnya dengan kasar, dia mengekor dari arah belakang atas intruksi dari Rio menggunakan bahasa isyarat, karena Rio percaya Rasya bisa menenangkan Edgar jika Edgar dalam keadaan tidak terkontrol.


"Leo, kau sudah tahu keberadaannya dimana?" tanya Edgar.


"Di markas, ujung kota." jawab Leo.


"Siapkan semuanya!" perintah Edgar.

__ADS_1


"Semua sudah siap, kita tinggal berangkat saja." ucap Leo.


"Kerja bagus." ucap Edgar.


Ketiganya berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan wajah dingin, tak ada ekspresi apapun dari wajah mereka. Leo memberikan isyarat kepada bodyguard yang sudah ia siapkan di setiap penjuru rumah sakit, para bodyguard melihat majikannya berjalan sambil memberikan isyarat pun langsung mengerti.


*


*


Di sisi lain.


Jessica tengah di perjalanan menuju pusat perbelanjaan diantar oleh supir dan pelayannya, dia menatap kearah jalanan yang ramai kendaraan berlalu lalang. Pikirannya melayang memikirkan putranya yang bersikukuh ingin merebut harta peninggalan ayah kandungnya, jauh daei lubuk hati yang paling dalam, Jessica tidak pernah menginginkan sedikit pun harta dari Baskara Giomani.


"Tuhan, tolong ladamkan api ambisi di dalam hati putraku, aku tidak ingin terjadi sesuatu yang bisa membuatnya celaka." gumam Jessica pelan.


Jessica melihat jalan yang di lewatinya bukan jalan menuju pusat perbelanjaan, dia bingung dan berusahaa berfikir positif pada supirnya.


"Mungkin jalur cepat." gumam Jessica.


Pelayan yang duduk disamping Jessica, dia diam-diam mengeluarkan sapu tangan dari saku bajunya, supir yang berada di depan pun melihatnya dari arah kaca depan memberikan sebuah isyarat.


Hap..


"Eemmmhh.. Eemmhhh.." Jessica memberontak namun perlahan pergerakannya melemah.


"Baringkan dia dipangkuanmu." ucap supir.


"Baik." seru pelayan.


Sang supir melajukan mobilnya menuju tempat tujuan, keduanya bekerjasama membawa Jessica ke tempat yang sudah tuannya perintahkan. Supir dan pelayan yang asli tengah diikat di sebuah ruangan, mereka menyamar menggantikan posisi keduanya untuk melancarkan aksinya.


Maaf aku post nya dikit, lagi banyak kesibukan di dunia nyata 🙏😅

__ADS_1


__ADS_2