Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten

Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten
Kondisi Zalea


__ADS_3

Edgar sudah sampai di rumah sakit, dia langsung menggendong tubuh Zalea yang sudah berlumuran darah. Edgar berteriak memanggil dokter begitu masuk kedalam rumah sakit, beberapa perawat membawa brankar dan salah satu dokter menghampiri Edgar.


"Bawa pasien ke ruang UGD!" titah sang dokter.


Para perawat dan dokter langsung mendorong brankar dimana Zalea di letakkan, Edgar ikut mendorong brankar tersebut masuk kedalam ruang UGD.


"Maaf tuan, demi kenyamanan kami para tim medis tolong anda tunggu di luar. Serahkan pasien kepada kami, jika tuan disini akan mengganggu konsentrasi dokter yang menangani pasien." ucap salah satu suster.


"Tolong selamatkan istriku!" pinta Edgar.


"Akan kami usahakan tuan, silahkan keluar." ucap suster membawa Edgar keluar dari ruang UGD.


Dengan terpaksa Edgar keluar dari ruangan tersebut, dia menunggu diluar dengan perasaan yang gelisah. Di dalam, Zalea langsung di tangani oleh dokter, ia dipasangkan alat bantu okssigen dan juga pengangkatan peluru di belakang punggungnya.


Di ruangan lain.


Dokter kandungan menghampiri Rio yang tengah menunggu kelahiran sang cucu, Rio yang melihat kedatangan sang dokter pun segera berdiri.


"Ada apa dokter? Apa keadaan menantu dan cucuku baik-baik saja?" tanya Rio khawatir.


"Pasien harus segera melakukan operasi caesar, bayi yang ada didalam perutnya tidak bisa lahir secara normal karena posisi kepalaya tidak berada di panggul, lebih jelasnya posisinya sungsang dan mereka kembar." jelas dokter.


"Lakukan operasinya sekarang juga, tong selamatkan mereka dokter!" putus Rio.


"Baiklah, anda harus menandatangani surat persetujuan terlebih dahulu sebelum kami melakukan operasi." ucap dokter.


"Baik, aku akan menandatanganinya." ucap Rio.


Seorang suster membawa berkas yang harus di tandatangani oleh Rio sebagai wakil dari keluarga Cindy, setelah mendapatkan persetujuan dari keluarga Cindy langsung di bawa ke ruang operasi. Dengan tubuh yang sudah lemas dan menahan sakit, Cindy kelusr di dorong oleh beberapa suster diikuti oleh dokter kandungan yang menanganinya.


"Yang sabar sayang," ucap Rio.


Dari kejauhan Satria berlari menuju ruangan Cindy, dengan nafas yang tersengal ia menghampiri ayahnya.


"Daddy, dimana Cindy?" tanya Satria.


"Dia dibawa ke ruang operasi, posisi anaknya sungsang jadi harus segera di tindak lanjuti." jawab Rio.


"Aku harus menemani istriku dad, dia membutuhkanku." ucap Satria.


"Pergilah, sebelum operasinya dimulai." ucap Rio.


Satria langsung menyusul Cindy ke ruang operasi, ia meminta izin pada dokter untuk ikut menemani ostrinya di dalam, beruntung dojter mengizinkan Satria masuk. Kini Satria duduk menemani istrinya yang sudah siap di operasi, dia terus mengecupi kening Cindy seraya meminta maaf karena telah meninggalkannya di mansion.

__ADS_1


"Sayang maafkan aku, aku telah meninggalkanmu, hiks. " ucap Satria sambil menangis.


"Gapapa ayang, doakan aku dan anak kita supaya operasinya berjalan lancar." ucap Cindy.


"Pasti sayang, pasti." ucap Satria.


" Walaupun hampir terlambat, tapi aku bersyukur karena ayang masih bisa nemenin aku lahiran." ucap Cindy.


"Akan aku lakukan apapun demi kalian, semangat sayang perjuanganmu akan di mulai." ucap Satria memberi semangat pada Cindy.


Tak dipungkiri keduanya kini tengah cemas, mereka was-was menantikan kelahiran anak-anaknya. Para dokter mulai berdoa sebelum opedasi dimulai, jantung Satria seakan berdetak dengan begitu cepatnya kala dokter mulai melakukan operasi. Satria berusaha terlihat baik-baik saja dihadapan Cindy, ia tahu istrinya juga kini tengah cemas.


"Tenanglah sayang, semuanya akan baik-baik saja." ucap Satria menggenggam tangan Cindy.


Waktu pun berlalu, terdengar suara tangisan bayi yang melengking dengan begitu kerasnya. Satria dan Cindy menangis haru kala mendengar suara anak pertama mereka, disusul anak keduanya yang menangis sama kerasnya seperti anak pertama.


"Selamat tuan, nona. Bayi kalian kembar, keduanya berjenis kelamin laki-laki." ucap dokter.


"Alhamdulillah, terimaksih dokter." ucap Satria.


"Yang, anak kita udah lahir." ucap Cindy dengan mata berkaca-kaca.


"Iya sayang, selamat ya. Kamu adalah ibu yang hebat, terimakasih sudah melahirkan putra-putra kita ke dunia ini." ucap Satria.


"Ayang, gimana keadaan kakak ipar?" tanya Cindy.


"Maksudnya?" tanya Satria.


"Sebelum ke rumah sakit, ada 3 orang yang menghalangi jalan kami, mereka mengeluarkan senjata tajam dan kakak ipar melawannya sendirian." ucap Cindy.


"Oh, kakak ipar baik-baik saja. Sekarang dia sedang bersama kak Edgar, jangan memikirkan hal lain ya. Lebih baik kamu fokus dulu ke diri kamu sendiri, jika kamu banyak pikiran akan berpengaruh pada kesehatanmu." bohong Satria.


Satria belum tahu apa yang terjadi dengan Zalea, dia hanya dikabari kalau istrinya masuk ke rumah sakit hendak melahirkan, selebihnya dia akan mencari tahunya nanti setelah Cindy dan anak-anaknya berhasil ditangani.


Diluar ruang operasi, Rio menunggu dengan gelisah. Tak lama kemudian keluarga Cindy datang, mereka langsung menanyakan kondisi Cindy.


"Rio, bagaimana keadaan Cindy?" tanya Indah.


"Dia sedang ditangani Indah, Satria juga ada di dalam." jawab Rio.


Terdengar suara tangisan bayi yang melengking membuat semua orang yang tengah menunggu Cindy pun menghela nafas lega, terlihat raut wajah bahagia mereka menyambut kehadiran keluarga baru.


"Alhamdulillah, akhirnya cucuku sudah lahir." ucap Rio.

__ADS_1


"Cucuku juga kalau kau lupa." sahut Indah.


"Aku hampir lupa menanyakan kabar Zalea." ucap Rio menepuk keningnya.


Rio merogoh saku celananya, dia menghubungi ponsel Edgar khawatir dengan menantunya.


[Hallo, Ed kamu dimana nak?]


[Aku dirumah sakit, Lea sedang di ruang UGD karena tertembak]


[APA?! Daddy akan kesana sekarang!]


[Daddy, aku takut. Aku takut-]


[Jangan takut Ed, Lea pasti akan baik-baik saja]


tutt.


Indah dan yang lainnya saling bertukar pandangan, mereka bisa melihat raut wajah cemas Leo yang terpancar dengan begitu jelasnya.


"Rio, ada apa? Kenapa wajahmu terlihat sangat cemas?" tanya Indah.


"Zalea tertembak Indah, aku akan segera menemui Edgar ke ruang UGD." jawab Rio.


"Bagaimana bisa? Rio, apa yang sudah terjadi?" desak Indah panik.


"Nanti akan aku ceritakan, sekarang aku harus menemani Edgar karena dia membutuhkanku." ucap Rio.


"Aku ikut dad." ucap Rasya.


Rasya dan Rio segera pergi meninggalkan ruang operasi, mereka berdus langsubg mencari keberadaan Edgar. Begitu sampai di ruangan dimana Zalea ditangani, dilihatnya Edgar tengah mondar-mandir di depan pintu ruang tindakan.


"Edgar." panggil Rio.


Edgar langsung mendekap tubuh sang ayah, dia takut terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan pada istrinya. Dia tidak sanggup jika apa yang tengah di pikirkannya terjadi, Rio mengusap punggung Edgar memberikan kekuatan pada anaknya. Rasya menatap iba pada Edgar, dia tahu kalau kini Edgar tengah rapuh karena istrinya sedang berjuang antara hidup dan mati di dalam ruangan sana.


Tak berselang lama dokter yang menangani Zalea keluar dari dalam ruangan, dia menghampiri pihak keluarga dari Zalea. Edgar langsung saja melepaskan pelukannya dari sang ayah, dia segera mendekat kearah dokte.


"Bagaimana keadaan istriku dokter?" tanya Edgar.


"Peluru di punggungnya sudah berhasil di keluarkan, tetapi pasien kehilangan banyak darah, dan sekarang ia dinyatakan kritis." jawab sang dokter.


Deg!

__ADS_1


Seketika tubuh Edgar mematung, ia menggeleng-gelengkan kepalanya seakan tida terima akan ucapan sang dokter. Rio mengusap pundak Edgar memberikan kekuatan padanya, perlahan tubuh Edgar luruh kebawah yang langsung ditahan oleh Rasya dan juga Rio. Cinta sudah mulai tmbuh dihati Edgar, Tapi mengapa begitu cinta itu datang Tuhan memberikan ia cobaan yang berat untuknya.


__ADS_2