
Setelah dirasa membaik, Leo mengambil air minumnya sambil menatap kearah Luna. Entah mengapa rasanya ia tidak terima kalau Luna akan melakukan hal bodoh, hatinya merasa cemburu dan panas menjalari pikiran dan juga hatinya.
"Yaaakkkk, wajahku jadi kotor bapak Leo yang terhormat!" sewot Luna.
"Suami orang mana yang akan kau aja ngedate hah? Segitu galaunya di selingkuhin, sampai mau gatelin suami orang, kau sama mantanku itu berarti gak ada bedanya ege." kesal Leo.
"Cuman bercanda bapak Leo, benean juga gapapa. Lagian nih ya, katanya suami orang lebih menantang pak." ucap Luna dengan wajah tengilnya sambil mengelap wajahnya menggunakan tisu.
"Matamu!" sewot Leo.
Luna menghentikan tangannya kala pandangannya tak sengaja menangkap seseorang yang di kenalnya, ternyata Dodi juga berada di tempat yang sama. Tapi, kali ini wanita yang bersama Dodi bukanlah ibunya, melainkan wanita lain berpenampilan seksi dan modis. Leo melihat Luna yang tengah menatap ke arah lain pun mengikuti arah pandang Luna, dia bisa melihat mantannya yang tengah berlaku manis pada seorang wanita.
Brak.
"Brengsek!" umpat Luna.
"Ngapa marah?" tanya Leo.
"Jelas marah lah, dia udah hancurin keluargaku! Sekarang dia juga dateng sama cewek lain, aku kira dia bakal sama ibu nyatanya dia masih saja mengincar wanita lain." amuk Luna.
Leo dengan santainya menyuapi Luna potongan daging, mata Luna masih asyik menatap kemesraan Dodi bersama wnita yang datang bersamanya, ia tidak asadar jika Leo terus menyuapinya. Leo menahan tawanya melihat pipi Luna yang hampir meledak karena penuh, ketika marah Luna tak bisa konsentrasi, nyatanya meskipun ia tak sadar di suapi oleh Leo Luna tetap mengunyahnya.
"Hahaha." tawa Leo akhirnya pevah juga.
Luna menatap Leo dengan tatapan bingungnya, dia geran meliha Leo yang tertawa memegangi perutnya. Sedetik kemudian Luna sadar jika mulutnya penuh oleh potongan daging, ia mengunyahnya dengan cepat walaupun kesusahan sampai ia tak bisa berbicara.
"Kenapa mulutku penuh?" tanya Luna tidak terdengar jelas.
"Kunupu mulutku punuh, hahaha." ledek Leo tertawa.
'Baru kali ini gue liat dia ketawa, aduhh senyumnya bikin gue lupa daratan' batin Luna.
*
__ADS_1
*
Brakkk.
Seseorang membuka pintu ruangan di salah satu rumah sakit, dua irang wanita yang berada di dalamnya terkejut melihat siapa yang datang. Elina dan Alina saling memandang satu sama lain, mereka melihat aura kemarahan dari ayahnya yang berbeda dari biasanya.
"P-papa." ucap Alina terbata.
"Jangan kalian pikir aku tidak mendengarkan percakapan kalian! Apa kalian berniat ingin menghancurkanku?! Di kantor, dengan susah payah aku mempertahankan perusahaan yang sudah ku bangun dari nol sampai kalian bisa merasakan hasilnya tanpa membantuku, inikah balasan kalian berdua!" geram Widyo-ayah Elina dan juga Alina.
Widyo memang mengatakan tidak mau menjenguk Alina, tetapi ia berubah pikiran karena khawatir pada keadaan putrinya, walau bagaimanapun Alina tetaplah anaknya meskipun ia sudah melakukan kesalahan besar.
"Elina! Aku menyuruhmu datang untuk membujuk Edgar agar mau bekerja sama kembali dan mananam saham di perusahaanku, bukan untuk merusak rumah tangganya! Apa kalian ingin menjadi ibumu yang j*l*ng itu hah?!" sentak Widyo.
"Papa, jangan seret nama ibu dalam masalah ini!" ucap Elina meninggikan suaranya.
"Kau ingin membela ibumu yang j*l*ng itu?! Kau lupa siapa yang sudah tega meninggalkan papa dengan dua anak yang masih kecil demi mengejar laki-laki lain? Aku sampai harus kelelahan membagi waktu antara pekerjaan dan juga mengurus kalian?" marah Widyo.
Elina dan Alina terdiam mendengar ucapan ayahnya, memang benar kalau Widyo adalah single parents sejak istrinya meninggalkannya demi laki-laki lain, bahkan saat itu Elina dan juga Alina baru duduk di bangku sekolah dasar. Widyo menghela nafasnya panjang, demi apapun ia tidak ingin kedua putrinya mengikuti jejak ibunya terlebih lagi menggangu rumah tangga orang lain. Air mata menetes dari wajah yang sudah terlihat tua, penampilannya yang sudah tak karuan bak orang gila. Hati Elina dan juga Alina pun sakit melihat keadaan sang ayah, mereka ikut menangis dengan kepala yang tertunduk.
"Baik pa." lirih keduanya.
Mau tak mau Elina dan Alina menuruti kemauan sang ayah, mereka cukup tahu bagaimana menderitanya Widyo selama ini. Penghianatan yang dilakukan oleh ibunya masih berputar dalam ingatan keduanya, ibunya yang dengabbteganya pergi tanpa menghiraukan isak tangis Elina dan Alina saat mereka masih kecil dulu.
*
*
Keadaan Zalea semakin membaik, hari ini juga ia tengah bersiap untu pergi honeymoon atas rekomendasi mertuanya. Edgar benar-benar menuruti ucapan Zalea dimana ia harus menahan hasratnya, meskipun ia harus tersiksa Edgar tetap mempertahannkannya karena tak tega juga melihat donat Zalea yang sedikit membengkak.
"Coba diingat kembali, takutnya ada yang kelupaan." ucap Rio.
"Kurasa tidak dad," sahut Edgar.
__ADS_1
"Baiklah, ayo kita berangkat." ucap Rio.
Edgar menggandeng tangan Zalea menunu mobilnya, Satria dan juga Rio mengantar Edgar dan juga Zalea menuju bandara yang di supiri oleh Leo. Senyum simpul tak lepas dari wajah Edgar, dia tidak sabar ingin segera sampai di korea karena disana ia bisa menuntaskan apa yang ia tahan.
"Bos, dua siluman bekicot sudah dikirimkan ke luar negeri." ucap Leo memberikan laporan pada Edgar.
"Baguslah, biar mereka gak mengganggu rumah tanggaku lagi." ucap Edgar.
"Siluman bekicot?bisa gak sih jangan pakai bahasa nama hewan, aku gak ngerti loh." tanya Zalea.
"Itu si Elina sama si Alina udah di pindahin ke luar negeri sama papa nya, aku menugaskan Leo untuk kembali menanam saham dan juga menerima kembali kerjasama papanya mereka yang tak lain adalah tuan Widyo, aku mengajukan syarat agar kedua anaknya di pindahkan ke luar negeri, kalau bisa sampai menikah disana agar yidka mengganggu ketenangan rumah tangga kita." jelas Edgar.
"Wah, suamiku ini memang terbaik dan sat set." puji Zalea.
"Tentu saja, aku ingin menikmati kebersamaan kita tanpa ada yang mengganggu." ucap Edgar.
Edgar memeluk Zalea dari arah samping, ia juga mengecupi seluruh wajah Zalea tanpa memperdulikan tiga orang pria yang tengah berada satu mobil bersamanya.
"Dad, ada tombol buat nabok gak sih di mobil ini?" tanya Leo kesal.
"Ada, kamu tinggal pegang aja tangan daddy. Nanti otomatis daddy akan melakukan apa perintahmu, tapi untuk sekarang daddy tidak akan melakukannya karena tidak ingin ribut." ucap Rio.
"Kalau gitu, lebih baik daddy jangan bicara. Moodku bisa jadi rusak melihat kebucinan mereka berdua, daddy aku mau nikah tapi jodohnya masih ngajak main petak umpet."ucap Leo.
"Sabar, nanti kamu juga bakalan ngerasain apa yang dirasain oleh Edgar, mungkin doa kamu belum kuat." ucap Rio.
"Kurang kuat gimana lagi dad? Aku berdoa sangat bersungguh-sungguh, tapi jodoh berkata lain." pasrah Leo.
"Jampi-jampi nya kurang kali Le," celetuk Satria.
"Mungkin sesajennya kurang." timpal Leo.
"Permisi, kalian buka praktek dimana?" tanya Edgar.
__ADS_1
"Sialan loe bos!" sewot Leo.