Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten

Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten
Bertemu Alina.


__ADS_3

Zalea mendorong tubuh Edgar darinya, dia mengelap mulutny yang basah seraya merapikan penampilannya. Edgar mengernyitkan dahinya menatap Zalea heran, sadar tengah di tatap oleh Edgar Zalea langsung memberikan isyarat menggunakkan matanya agar Edgar mengikuti arah geraknya. Edgar membalikkan badannya, dia melihat Nathan yang tengah berdiri membelakangi tubuhnya, mata Edgar langsung membulat sempurna.


"N-nathan." panggil Zalea.


Zalea nerjalan mendekat kearah Nathan, dia menepuk pundak adiknya agar berbalik kearahnya. Sedangkan Edgar berusaha merapikan penampilannya, dia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.


"Ehh, kak. Tadi aku disuruh nyusul kakak, maaf aku lancang masuk." ucap Nathan.


"Gapapa, lain kali ketuk pintu dulu dan jangan langsung masuk kalau tidak dapat izin. Sekarang kita ke bawah dulu, nanti kamu kesiangan sekolahnya." ucap Zalea.


"Iya kak," sahut Nathan.


Keduanya berjalan keluar dari kamar, Edgar mengekor dari arah belakang turun ke bawah menyusuri tangga. Negitu sampai di meja makan, Edgar dan Zalea terlihat canggung karena kejadian dikamar tadi, sedangkan Nathan sepertinya sudah melupakannya. Rio dan Satria saling bertukar pandangan, keduanya heran melihat gelagat Zalea dan Edgar, tetapi mereka tetap memilih diam dan melanjutkan sarapannya. Akhirnya semua orang sarapan dalam diam, hanya dengingan sendok dan garpu saja yang bersuara.


.


.


Siang hari.


Zalea sudah bersiap dengan pakaian serba hitamnya, dia sudah meminta izin pada Edgar untuk pergi ke salah satu mall terbesar di negaranya, dia ingin membeli sepatu dan juga beberapa barang yang ia butuhkan.



Zalea mengambil tasnya keluar dari dalam kamar, dia pergi diantar oleh supir yang ditugaskan Edgar untuk mengantarnya kemanapun ia pergi. Tak lupa ia mengambil bekal makan siang untuk suaminya dikantor, setiap harinya pastinya Zalea akan mengantarkan makan siang untuk Edgar dan Leo sekalian.


"Pak Didin, saya sudah siap." ucap Zalea.


"Baik non, mari masuk." ucap pak Didin mempersilahkan Zalea masuk kedalam mobil.


Zalea duduk di mobil bagian belakang, pak Didin langsung duduk di depan setelah memastikan Zalea sudah duduk manis di belakang, pak Didin menyalakan mesin mobilnya kemudian pergi meninggalkan mansion.


"Pak, kita ke mall sebentar. Nanti kalau udah beres, baru ke kantor tuan." ucap Zalea.

__ADS_1


"Baik, nona." sahut pak Didin.


Tak lama kemudian, mobil yang di tumpangi Zalea sudah sampai di sebuah mall besar. Zalea langsung saja keluar dari dalam mobilnya, sedangkan pak didin menunggu di parkiran. Zalea melangkahkan kakinya berjalan menuju tempat yang ia tuju, dia memilih sepatu yang cocok untuk Nathan karena memang adiknya itu hanya punya satu sepatu.


"Sepertinya ini cocok," ucap Zalea membolak-balikkan sepatu yang kini ada di tangannya.


Zalea akhirnya membawa sepatu tersebut ke kasir, dia membayarnya menggunakan kartu yang di berikan oleh Edgar. Selesai membeli sepatu, Zalea kembali berkeliling mencari toko pakaian pria. Sudah lama Zalea ingin ppmembelikan Edgar sesuatu, lusa adalah hari ulang tahun Edgar dan juga Satria, karena mereka kembar jadi Zalea akan membelikan keduanya hadiah.


"Si random sukanya apa ya? Terus kak Satria juga gak tahu sukanya apa? Kalau di samain kayaknya enggak deh, pasti si om ngomel dari pagi sampe pagi lagi." gumam Zalea.


Saat tengah memilah dan memilih pakaian di sebuah toko, seseorang menepuk pundak Zalea sampai ia menoleh melihat siapa yang sudah menepuknya. Dilihatnya Alina bersama dua orang temannya tengah menatap tidak suka pada Zalea, malas menanggapi Alina yang sudah bisa Zalea tebak kalau mentan temannya itu hanya akan berbicara unfaedah padanya.


"Maaf, saya tidak kenal." ucap Zalea berlalu begitu saja.


"Kurang ajar, sombong sekali wanita miskin ini." cibi Alina.


Alina langsung berjalan menghadang Zalea, dia mendorong dada Zalea sampai mundue beberapa langkah.


"Wah, wah, wah, lihatlah guys. Preman sekolah kita dulu sepertinya sudah berubah ya, tapi tetep aja masih jauh dibawahku." ejek Alina sombong.


"Mana ada cowok yang mau sama modelan preman kayak gini, yang ada mereka malah tersiksa." tambah Agnia.


"Udah ngomongnya?" tanya Zalea melipat kedua tangannya.


Zalea menubruk pundak Alina begitu saja, waktunya yang berharga menjadi sia-sia karena mendengarkan ocehan Alina. Tak terima dengan sikap Zalea yang cuek padanya, Alina dengan sekuat tenaga mendorong tubuh Zalea.


Sreeeettt...


Hap..


Tubuh Zalea hampir saja terjatuh, namun ada seseorang yang menagkap tubuhnya ketika ia di dorong oleh Alina. Zalea menatap siapa yang tengah menolongnya, ternyata Farhan yang pernah ikut balapan bersamanya.


"Lea, loe gapapa?" tanya Farhan.

__ADS_1


"Loe, Farhan kan?" tanya Zalea memastikan.


"Iya, yang waktu itu ngajak loe balapan sama Tamrin." jawab Farhan tersenyum.


"Oh iya, thanks ya. Gue gapapa kok," ucap Zalea.


Zalea membalikkan badannya, dia menatap tajam kearah Alina dan juga dua sahabatnya. Dengan wajah penuh emosi, Zalea berjalan kearah Alina dan langsung menarik rambutnya.


"Gue diam, bukan berarti loe berhak nyakitin gue!" tekan Zalea.


"Aawwhh, lepasin bodoh!" sentak Alina mencoba melepaskan rambutnya dari cekalan Zalea.


Agnia dan Teresa mencoba menolong sahabatnya, namun Zalea yang sudah diliputi emosi langsung mendorong kedua teman Alina menggunakan kakinya. Zalea seringkali dihina saat ia masih duduk dibangku sekolah oleh ketiga orang dihadapannya, tetapi sekarang dia tidak akan tinggal diam.


"Lepaskan Alina!" teriak seseorang dari kejauhan.


Alina dan Zalea sontak melihat siapa yang berteriak, Zalea memutar bola matanya jengah, dia tak melepaskan cekalannya begitu melihat siapa yang yang datang menghampirinya.


"Lea, lepaskan Alina. Apa-apaan kau ini, kenapa kau menarik rambutnya." ucap Zafier.


"Berisik!" sentak Zalea.


"Sayang, tolongin aku. Rambutku bisa rontok kalau terus di tarik, padahal aku gak sala apa-apa sama Lea, tepi dia langsung narik rambutku gitu aja." adu Alina.


"Akting yang buruk sekali nona, singa tidak akan menyerang jika tidak ada yang mengusiknya." ucap Zalea.


"Lea, tolong lepaskan Alina." pinta Zafier lagi.


"Katakan pada KEKASIHMU ini, jangan pernah merendahkan seseorang. Jika dia berani mengusik hidupku lagi, maka jangan salahkan aku kalau kepala dan juga tubuhnya tidak berada di tempatnya. Kalian tahu bagaimana aku, aku tidak pernah bermain-main dengan kata-kataku." ucap Zalea dengan nada mengancam.


"Kenapa kau berubah seperti ini Zalea? Kau menjadi kasar, dulu kau tidak seperti ini." ucap Zafier.


Zalea melepaskan rambut Alina, dia mendorongnya sampai terjatuh ke lantai. Dia mendekat kearah Zafier yang tengah menatapnya dalam, Zafier tidak membantu Alina bangkit dari duduknya saat Zalea mendorongnya, ia malah terpaku melihat Zalea yang lebih cantik dari sebelumnya meskilun penampilannya masih terkesan tomboy.

__ADS_1


"Aku berubah karena Zalea yang dulu berbeda dengan sekarang, aku tidak akan pernah mau ditindas lagi, setelah orang-orang yang membuatku hancur bahagia diatas pendeeitaanku. Aku kasar tergantung bagaimana orang lain menperlakukanku, jika dia sopan maka aku akan segan. Jika sebaliknya, maka aku tidak akan tinggal diam!" tegas Zalea.


Zalea membalikkan badannya, dia pergi meninggalkan Zafier yang tengah menatap punggung Zalea yang semakin jauh dari hadapannya. Farhan mengejar Zalea yang sudah berjalan jauh dari tempatnya berdiri, sedangkan Zalea sendiri mempercepat langkahnya tanpa memperdulikan siapapun karena jam makan siang Edgar hanya tinggal beberapa menit lagi.


__ADS_2