
Seorang pria tengah duduk di kursi kemudi mobilnya, ia menurunkan kaca mobilnya menatap kearah cafe dimana wanita pujaannya bekerja, pria tersebut yang tak lain adalah Leo. Sesekali Leo melihat kearah jam tangannya, dia keluar dari dalam mobilnya berjalan masuk kedalam cafe tersebut. Leo meminta pada salah seorang pelayan untuk memanggil Luna dan juga Iren untuk menemuinya, dia duduk di salah satu meja menunggu kedatangan Luna dan juga Iren.
Tak lama kemudian Luna menghampiri Leo dengan langkah yang ragu, tapi di sudut lain Iren keluar dari dalam sebuah ruangan menatap berbinar kearah Leo, dia berjalan tergesa menghampiri Leo yang tengah duduk dengan tatapan dinginnya.
"Leo, apa kau sudah lama disini?" tanya Iren basa-basi sambil mendudukan tubuhnya berhadapan dengan Leo.
"Hmm." dehem Leo.
Terlihat Luna beberapa kali menghela nafasnya dengan kasar, dia malangkahkan kakinya dengan perasaan tak karuan melihat Leo dan juga Iren.
"Kau, duduk disampingku." ucap Leo menarik tangan Luna.
"Tap-" ucap Luna terpotong.
"Tidak ada penolakan!" tekan Leo dengan sorot mata tajamnya.
Iren menatap tidak suka pada Luna, ada api kecemburuan yang telihat jelas di matanya tidak terima Luna duduk di samping Leo.
"Luna kenapa kau tidak bekerja? Bukannya banyak tamu yang datang?" tanya Iren.
"Luna tidak akan bekerja disini lagi, aku sanggup membiayai hidupnya beserta ayahnya tanpa harus membiarkannya bekerja." tegas Leo.
"Kau tidak perlu repot-repot bapak Leo, aku masih bisa menghidupi diriku sendiri dan juga bapakku tanpa merepotkan orang lain." ucap Luna hendak beranjak dari duduknya.
__ADS_1
Sebelum Luna pergi, dengan gerakan cepat Leo menahan tubuh Luna kemudian memaksanya untuk kembali duduk. Iren memberikan tatapan penuh makna kearah Luna yang Luna sendiri paham apa artinya, Leo yang paham pun menatap dingin kearah Iren.
"Berani kau mengancam wanitaku?!" ucap Leo penuh penekanan.
Suasana cafe yang tadinya terasa biasa saja seketika menjadi begitu mencekam, Iren hampir kesusahan menelan lundahnya bahkan rasanya nafasnya pun terasa tersengal melihat Leo. Luna sendiri tampak tersentak kala Leo tiba-tiba bertanya seperti itu, apakah Leo mengetahui kalau dirinya tengah diancam oleh Luna, padahal dia tidak pernah memberitahukan siapapun bahkan pada sahabatnya pun ia enggan.
"Kalian terkejut karena aku mengetahui apa yang kalian sembunyikan? Dan kau Iren, apa kau lupa akan penghinaanmu dan keluargamu dulu padaku seperti apa? Kenapa sekarang kau lancang datang kedalam kehidupanku dan menghalangi kebahagiaan yang akan aku bangun? Apa karena aku sudah mapan? Atau karena kau sudah terlalu murahan?" ucap Leo dengan santai menatap kearah Iren, dia memberikan tatapan tajamnya sampai Iren tak sanggup melihatnya.
"Apa maksudmu Leo? Kenapa kau menyebutku dengan murahan? Apa karena kau menyukai wanita miskin ini? Bahkan dia tidak pantas bersanding denganmu." seru Iren dengan angkuhnya.
"Punya nyali juga ternyata, jangan kau pikir karena aku diam kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan termasuk mengancam Luna? Jangan salah, diamku adalah kehancuran untuk dirimu." ucap Leo tersenyum miring.
"Kau pikir aku takut? Aku hanya tinggal menjentikkan jariku, maka Luna akan merasakan malu seumur hidupnya. Kalau kau ingin Luna selamat, maka kau harus menjadi suamiku." ucap Iren tak mau kalah.
Luna memejamkan matanya dengan tangan yang terkepal, saat ini dia hanya bisa diam tanpa melakukan apa-apa karena dia cukup lemah untuk melawan Iren, seandainya Iren tak mengancamnya maka sudah di pastikan Iren akan babak belur di tangannya. Leo tersenyum miring sambil menaikkan alisnya sebelah, malas sekali dia harus meladeni orang sok cerdik tanpa Iren sadari kalau Leo jauh lebih cerdas dan licik.
"Daur ulang? Maksudnya?" tanya Luna tidak mengerti.
"Ck, otakmu tidak sampe ternyata. Kau tahu, barang yang awalnya berharga menjadi sampah ketika tidak terpakai lagi, dan dia termasuk golongan sampah tersebut. Asal kau tahu saja Luna, dia itu sudah di jamah oleh beberapa laki-laki, dibuang oleh satu lelaki dan di daur ulang oleh lelaki lain yang tak lain adalah karena hawa n@fs* semata, apalagi kalau bukan sampah daur ulang? Dibuang dan dipungut oleh orang lain." ucap Leo berdecak.
"Jangan pake bahasa yang berbelit, tinggal bilang l0nth3 apa susahnya sih." ucap Luna dengan polosnya.
Sadar akan ucapannya, Luna langsung membekap mulutnya dengan mata yang melotot. Leo mengacungkan kedua jempolnya kearah Luna, Leo cukup senang mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Luna.
__ADS_1
Braakk..
Iren menggebrak mejanya tidak terima karena telah dihina oleh Luna dan juga Leo, dia mengeluarkan ponselnya untuk mengancam Luna.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Luna dengan khawatir.
"Tenang saja, dia tidak akan berani melakukannya, kalaupun berani maka dia akan menghancurkan dirinya sendiri dengan usaha orangtuanya." ucap Leo santai sampil menyeruput jus yang sudah di pesannya.
"Apa maksudmu Leo?" tanya Iren dengan tatapan menyelidik.
"Hadeuuh, sebenarnya aku malas sekali jika harus berurusan dengan orangtuamu dan juga dirimu yang munafik ini. Dengarkan baik-baik ya nona Iren yang terhormat, aku tahu tujuanmu mendekatiku karena aku adalah orang penting di perusahaan Giomani. Kau pikir aku bisa di bodohi olehmu? Aku sudah mengumpulkan semua bukti dimana kau membunuh seseorang hanya karena tidak terima dilabrak oleh istri sah kekasih gelapmu, bahkan video mu menggunakan barang haram bersama teman-temanmu, kau hanya di jadikan robot penghasil uang oleh orangtuamu yang gila harta itu. Apa ucapanku benar nona Iren Widyawati? Oh, satu hal lagi. Kau menggugurkan janin yang tak berdosa karena ayah biologisnya tidak mau bertanggung jawab, bahkan dengan kejamnya kau menyuruh seseorang untuk mencelakai pria dari ayah anak yang kau kandung saat itu sampai ia terbaring koma dan mengalami cacat di salah satu kakinya. Bagaimana? Kau masih mau mengancam calon makmumku? Atau kau ingin aku memberikan semua bukti itu ke pihak kepolisian? Pikirkan baik-baik ya, jangan sampai kau menggali lubang kematianmu sendiri." jelas Leo dengan senyum misteriusnya.
Iren tertegun mendengar penjelasan Leo, tubuhnya seketika membeku sampai hp yang tengah di pegangnya terjatuh keatas meja. Melihat kesempatan itu Leo mengambil hp Iren, dia mengotak-atik hp nya yang tidak terkunci kemudian mencari video yang Iren gunakan untuk mengancam Luna.
"B.E.G.O, Sama dengan pinter, hehehe." ucap Leo terkekeh.
"Ba-bagaimana-." ucap Iren.
"Kau tidak tahu siapa aku, jadi kau telah salah memilih lawan kawan." ucap Leo dengan senyum puasnya melihat Iren yang ketakutan.
Luna juga sama terkejutnya dengan Iren, dia tidak habis pikir karena majikannya ternyata sangatlah jahat. Pandangan Luna beralih menatap kearah Leo, dengan jahilnya Leo malah memonyongkan bibirnya kearah Luna dan..
"Muaahhh."
__ADS_1
"Menggelikan." ucap Luna bergidik.
Leo terkekeh melihat ekspresi Luna kala ia memperagakan ingin men**** Luna, dia tidak berani melakukannya sebelum Luna benar-benar memiliki perasaan padanya.