
Sampai di rumah sakit. Edgar langsung keluar dari dalam mobilnya dan langsung berlari, dia mengampiri meja resepsionis menanyakan dimana Zalea di rawat.
"Zalea Ananda dan juga Didin, korban kecelakaan di rawat dimana?" tanya Edgar dengan wajah paniknya.
"Oh, yang baru saja mengalami kecelakaan. Pasien di rawat di ruang anggrek, dari sini lurus terus belok kanan." jawab resepsionis.
Edgar langsung berjalan dengan langkah tergesa menuju ruangan yang ditujukkan oleh resepsionis, dia menerobos masuk kedalam ruang rawat dimana Zalea berada.
Brakkk.
"Lea, kamu gapapa kan? Mana yang sakit? Kenapa bisa seperti ini? Tadi ada yang nelpon katanya kamu kecelakaan." cecar Edgar.
Zalea menjatuhkan rahangnya, dia menatap tak percaya Edgar datang secara tiba-tiba memborong banyak pertanyaan tanpa ada jeda sedikitpun. Zalea mengubah posisinya hendak duduk, namun Edgar langsung menahannya.
"Udah tiduran aja." cegah Edgar.
"Pengen duduk mas, gak enak tiduran daritadi." protes Zalea.
"Haiisshh, ini ibu-ibu suka ngeyel kalau di bilangin." omel Edgar.
"Siapa sih yang udah ibu-ibu, aku masih imut tauk." ucap Zalea tak terima.
"Nanti aku hamilin, biar jadi ibu-ibu beneran." celetuk Edgar.
"STOP." teriak Leo dari arah pintu.
Zalea dan Edgar langsung merapatkan mulutnya.
"Bisa gak sih, dalam keadaan kayak gini jangan debat." kesal Leo.
"ENGGAK." sahut keduanya kompak.
"Terserah loe berdua deh, sekarang pak Didin dimana?" tanya Leo.
"Saya disini tuan," cicit pak Didin dari sebelah tempat Zalea, hanya saja terhalang tirai rumah sakit.
Leo langsung berjalan dengan langkah panjangnya, dia membuka tirai rumah sakit dan dilihatnya pak Didin tengah terbaring diatas brankar.
"Pak Didin terluka di bagian tubuh mana? Kenapa bisa terjadi kecelakaan." tanya Leo.
"Saya cuman lecet di kepala sama tangan doang kok tuan, tidak ada luka yang serius. Kalau soal gimana terjadinya kecelakaan, kita gak tahu pastinya seperti apa, hanya saja pas tadi kita menuju jalan pulang tiba-tiba ada mobil yang kayaknya sengaja nabrak dari arah belakang." jawab pak Didin.
"Aku tau kok siapa yang nabrak, jadi gak heran kalau dia sengaja ngelakuin itu semua." ucap Zalea.
"Maksud kamu?" tanya Edgar.
__ADS_1
Zalea menghela nafasnya panjang, mau tidak mau Zalea harus jujur pada Edgar siapa yang sudah menabrak mobilnya.
"Tadi pas di mall aku gak sengaja ketemu sama si boneka santed, dia sengaja mau celakain aku sampe dorong tubuh aku dari belakang karena sempet adu mulut juga. Entah kebetulan atau lagi sial mungkin dia liat aku di mobil, begitu ada mobil yang nabrak dari belakang ya aku langsung lihat mobil siapa, eh ternyata boneka santed." jelas Zalea.
"Siapa boneka santed yang kamu maksud?" Tanya Leo.
"Alina, pacarnya Zafier." jawba Zalea malas.
"Segera urus Leo, dia sudah melewati batas." titah Edgar.
"Baik, akan segera aku urus." seru Leo.
Leo merogoh sakunya menghubungi si botak, dia memerintahkan si botak untuk mengecek cctv lalu lintas untuk menyimpannya sebagai bukti, tak hanya itu Leo juga memberikan tugas pada si ompong untuk mengambil rekaman cctv di mall seperti yang Zalea katakan.
"Untung aku ini titisan samson, jadi celaka dikit gak ngaruh wiirr..uhhuuyy.." ucap Zalea bangga.
Pletak.
"Heh, ibu-ibu. Dimana-mana orang kecelakaan itu sedih, ini malah bangga. Aneh banget sih, dasar bocil jadi-jadian." heran Edgar.
Edgar menjitak kening Zalea sampai meninggalkan warna kemerahan disana, Zalea mengusap-uap keningnya yang sakit karena ulah Edgar.
"Ssshh, awww.."ringis Zalea.
"Tangan Lea sakit, tadi kayaknya kejepit pas di mobil." jawab Zalea.
"Yaudah, aku panggilin dulu dokter." ucap Edgar.
"Udah gapapa, lagian masih bisa di gerakin kok." ucap Zalea.
"Biar afdol aja, aku panggilin dokter, takutnya tangannya kenapa-napa." kekeh Edgar.
"Gapapa kok, ini juga udah enakan. Mending pulang aja, lagian kata dokter juga gak ada luka yang serius kok." ucap Zalea meyakinkan Edgar.
"Tadi udah panik tau, kirain kecelakaan serius makanya sampai ngibrit kesini. Tadi yang nelpon siapa? Kenapa hp kamu ada di tangan orang lain?" ucap Edgar dengan memberikan pertanyaan pada Zalea.
"Oh itu, tadi tangan aku gak bisa di gerakin, kebas aja rasanya. Banyak orang-orang yang nyamperin lihat keadaan kita, terus aku nyuruh salah seorang buat telponin mas." jawab Zalea.
"Oh gitu ya. Yaudah, kalian berdua istirahatnya di mansion aja biar ada pelayan yang jagain sekalian ada yang ngurus." ucap Edgar.
"Iya, lagian siapa juga yang mau lama-lama di rumah sakit." ucap Zalea.
"Emmm, maaf tuan dan nona. Saya kayaknya harus ke toilet dulu, pengen buang hajat udah gak ketahan." ucap pak Didin ragu.
Duuuttttt...wwuussshhh...
__ADS_1
"Wah, terompet bunyi!" pekik Edgar.
"Hahahhaa." Zalea dan Leo Tergelak.
"Pak, sini saya bantuin turun. Jangan be'ol disini, ayo cepet turun nanti keburu terjun punya." ucap Edgar.
"Iya tuan, ini juga saya langsung melesat." ucap Pak Didin.
Begitu berhasil turun dari brankar, benar saja pak Dodin langsung melesat pergi ke toilet. Zalea dan yang lainnya menunggu pak Didin menuntaskan hajatnya, dokter datang menghampiri ketiganya berniat untuk kembali memeriksa kondisi Zalea dan pak Didin.
"Selamat siang." sapa sang dokter.
"Siang dok." balas Zalea.
"Apa ada keluhan lagi nona?" tanya dokter Seny.
"Tidak ada dok, cuman sedikit nyut-nyutan di bagian kepala mungkin karena terbentur ke depan." jawab Zalea.
"Syukurlah jika tidak ada keluhan lain, jika rasa sakitnya berlanjut lebih baik di periksakan kembali ya nona. Kalau begitu nona dan bapak yang tadi di perbolehkan pulang, apa ada yang mau ditanyakan lagi?" ucap dokter Seny.
"Enggak ada dok, terimakasih." ucap Zalea.
"Kalau begitu, saya pamit undur diri karena masih banyak pasien yang harus di periksa." pamit dokter Seny.
"Silahkan dok, sekali lagi terimakasih." ucap Zalea.
Dokter Seny menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, dia keluar dari ruangan Zalea menuju ke ruangan pasien yang lain.
Tak lama kemudian pak Didin datang, dia mengusap-usap perutnya yang terasa lega setelag menuntaskan hajatnya.
"Saya sudah selesai tuan, nona." ucap pak Didin.
"Yaudah, kita pulang." ucap Edgar.
Edgar membungkuk membelakangi tubuh Zalea, dia meminta istrinya itu untuk naik ke punggungnya.
"Ayo naik." titah Edgar.
"Ngapain harus naik? Aku masih bisa jalan, jadi ngapain harus di gendong segala bapa Edgar Giomani." heran Zalea.
"Punya bocil satu gak peka, suaminya lagi perhatian nih. Tinggal iyain aja, apa susahnya sih?" omel Edgar.
"Yaudah deh, iya." ucap Zalea pasrah.
Zalea naik ke punggung Edgar, dengan sigap Edgar membenarkan posisi Zalea sebelum keluar dari ruang rawat. Akhirnya, keempatnya keluar dari dalam ruang rawat tersebut, Zalea anteng di gendong oleh Edgar sampai ia ketiduran.
__ADS_1