Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten

Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten
Cinta Leo


__ADS_3

Zalea dan Edgar memutuskan untuk jalan-jalan dengan berjalan kaki, kedua tangan mereka terpaut dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Keduanya sangat menikmati honeymoon yang sudah di siapkan oleh Rio, rasa cinta sudah benar-benar tumbuh di hati keduanya, tinggal menunggu kehadiran anggota keluarga baru sebagai pelengkap keluarga kecil mereka.


3 hari kemudian.


Zalea memasukkan semua bajunya dan juga baju suaminya kedalam koper, hari ini mereka akan kembali ke tanah air karena waktu honeymoonnya sudah habis, Edgar juga tidak bisa meninggalkan kantor dengan jangka waktu yang lama.


"Sudah siap?" tanya Edgar.


"Sudah." jawan Zalea.


Edgar mengambil kopernya dan juga Zalea, dia menyeret kedua kopernya keluar dari hotel. Senyum bahagia tak pernah lepas dari wajah keduanya, seorang pria sudah menunggu di luar hotel lebih tepatnya di samping mobil yang akan mengantarkan Edgar dan juga Zalea ke bandara.


"Biar saya yang membawanya tuan, silahkan masuk." ucap Pria tersebut dengan sopan.


Pria tersebut adalah supir yang di tugaskan untuk mengantar Edgar dan Zalea, ia mengambil alih koper daei tangan Edgar, dia juga membukakan lintu bagian belakang mempersilahkan keduanya masuk. Setelah Zalea dan Edgar masuk, sang supir memasukkan koper Zalea kedalam bagasi mobil. Ketika semuanya sudah beres, sang supir duduk di depan menyalakan mesin mobilnya kemudian melajukannya membelah jalanan menuju bandara.


*


*


Leo bangun dari tidurnya karena alarm yang berbunyi di hp nya, dia segera melihat jam yang ternyata menunjukkan pukul 6 pagi. Matanya membulat sempurna karena seharusnya ia sudah siap, ia sudah membuat janji dengan Luna yang akan mengantarnya pergi bekerja sambil sarapan bersama. Luna dan Leo kini semakin dekat, mereka memang tidak pacaran, tetapi perilaku mereka seakan mereka menjalin hubungan. Leo sudah memikirkan semuanya dengan matang, selepas Edgar kembali dari korea ia akan memperjelas perasaannya pada Luna.


"Gawat, gue udah telat ini. Mana nanti harus jemput si bos lagi, jangan sampai si Luna pergi duluan." gumam Leo.


Leo melompat dari ranjang tidurnya, ia segera menyambar handuk kemudian pergi ke kamar mandi. Tak butuh waktu lama, dia selesai dengan ritual mandinya.


Kriiinggg..Kriiing...


[Hallo]


[Bapak Leo, jadi enggak nganternya?]


[Jadi, tunggu aja di rumahmu]


[Iya bapak Leo, cuman mastiin aja takutnya gak dateng]


[Gue pasti nepatin janji, ya walaupun rada telat]


[Gapap telat juga, orang aku aja baru bangun hihi]


[Dasar kebo]


[Woooy, sembarangan aja kebo. Emaknya kebo ini, ah elah udah ah mau mandi dulu]


[Mau dong mandiin]

__ADS_1


[TIDAK, jangan sentuh aku, aku jijik, aku jijik]


[Jangan sok jual mahal, gue nikahin tau rasa lu]


[Aaaa..pengen dong dinikahin sama jomblo tajir, biar bisa beli mulut tetangga]


[Gas, tinggal ke KUA aja]


[Dahlah, mau mandi]


Tut.


Luna mematikan ponselnya sepihak, Leo kembali mengancingkan bajunya yang ia bawa sambil menelpon Luna. Tak sengaja matanya tertuju pada sebuah kotak kecil yang di simpan diatas nakas, ia mengambil kotak tersebut kemudian membukanya, didalamnya ada sebuah cincin yang sudah terukir nama pemiliknya.


"Aku gak tau sejak kapan rasa ini muncul, tapi kau membuatku menjadi nyaman dan hari-hariku lebih berwarna dengan tingkah menyebalkan dirimu." ucap Leo tersenyum.


Leo menutup kembali kotak cincin tersebut ke dalam laci, ia kembali merapihkan penampilannya dari mulai pakaian sampai rambutnya.


*


*


Di tempat yang berbeda.


"Anak mommy sangat mirip dengan daddy, penampilanmu kali ini membuat mommy rindu pada daddy mu kembali." ucap Indah dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Rasya memutar tubuhnya menghadap sang ibu, dia memeluk Indah yang tengah menatap sendu ke arahnya. Cinta Indah untuk Wiguna tak pernah pudar bahkan tak tergantikan, begitu banyak pria diluaran sana yang ingin menggantikan posisi Wiguna di hati Indah. Tapi, Indah sama sekali tidak ingin merajut cinta bersama orang lain, ia memang sakit dengan ke sendirian, namun akan lebi sakit jika ia bersama orang lain selain Wiguna.


"Mom, jangan sedih. Nanti Rasya beliin mommy es krim cokelat, atau mommy mau mobil baru? Nanti minta ke kakak ya." ucap Rasya.


Bug.


Indah memukul lengan Rasya dengan pelan, sedangkan Rasya sendiri malah terkekeh mendapatkan pukuln dari ibunya.


"Orang lagi sedih juga masih aja di becandain, gini nih kalo sedihnya lagi sama kamu berasa salah tempat tau gak." ucap Indah kesal.


"Mending salah tempat mom, daripada mommy sedih di pelukan suami orang kan ngeri." ucap Rasya.


"Asatgfirullah, mulutmu Rasya!" geram Indah.


"Hahaha, ibu singa mengamuk. Kaboooorrrr, kaboooorr.." ucap Rasya tertawa kemudian berlari keluar dari kamarnya.


Indah menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Rasya, walaupun begitu kesedihannya kini tergantikan dengan senyuman yang terukir di bibirnya.


"Terimakasih Sya, kamu selalu menghibur mommy disaat mommy susah maupun sedih." gumam Indah.

__ADS_1


Rasya berjalan menuruni tangga menuju meja makan, ia menghampiri kedua kakaknya yang tengah repot dengan si kembar.


"Hallo, ponakan om yang ganteng dan cantik." sapa Rasya.


"Oom, mamamm..ooomm.mmamam." seru si kembar.


"Iya, makan yang banyak ya biar sehat." ucap Rasya.


"Sya." panggil Adel.


"Apa madam?" tanya Rasya dengan was-was.


"Tolong bantuin mas Al suapin si kembar ya, aku lagi gak enak badan rasanya, kasihan mommy pasti kecapean ngurus si kembar sejak aku hamil lagi." ucap Adel.


"Sayang, kamu istirahat aja di kamar. Aku bisa ngurus si kembar kok, sekarang juga kakanda gak masuk ke kantos soalnya kerjaan juga gak numpuk dan bisa di handle sama Raden." ucap Albert.


"Kamu juga pastinya capek mas, orang aku hamilnya sekarang rewel begitupun si kembar. Pas malem mereka nangis terus, sampe kamu kurang tidur." ucap Adel.


"Yaudah gapapa, sini Sheza biar aku yang suapin." ucap Rasya.


Albert menggeserkan kursi Sheza ke samping Rasya, ia juga mengambilkan piring milik Sheza pada Rasya. Rasya menyendokkan nasi beserta lauknya, Sheza melihat makanan yang di sodorkan ke mulutnya pun langsung menyantapnya. Pipi Sheza menggembung karena makanannya penuh, Adel memijat pelipisnya ingin menegur Rasya tali seakan tubuhnya tak bertenaga bahkan untuk berbicara pun rasanya enggan sekali.


"Sya, jangan banyak-banyak dong nyuapinnya. Itu pipi Sheza sampai kayak ikan buntal, dikit-dikit aja biar gampang ngunyahnya." tegur Albert.


"Ammaammam..mammmm." ucap Sheza dengan mulutnya yang penuh.


"Di kunyah ya ponakan om, maafin ya kebanyakan." ucap Rasya.


Sheza malah tersenyum dengan begitu gemasnya, Adel merasakan gejolak di perutnya sampai terasa di aduk-aduk, dia setengah berlari ke kamar mandi ingin mengeluarkan isi perutnya.


Hueekk..Huekk..


Albert bangkut dari duduknya, dia menitipkan putranya pada Rasya dan berlari mengejar Adel. Dari arah belakang Albert memijat tengkuk istrinya, Adel tetap berusaha mengeluarkan isi perutnya yang terus memaksa keluar.


"Sayang, nanti kita ke rumah sakit ya." ucap Albert.


"Aku gak kuat nyium bau rumah sakit, mending suruh dokternya kesini aja ya kakanda." ucap Adel dengan lemas.


"Iya sayang, sekarang kamu istirahat aja ya di kamar. Jangan khawatirin si kembar, mereka biar mas dan maid yang jaga." ucap Albert.


"Tapi jangan terlalu di biarin sama maid, aku gak mau kejadian yang lalu terulang lagi." ucap Adel.


"Iya sayang." ucap Albert mengusap pucuk kepala Adel.


Adel khawatir kepada si kembar jika di titipkan pada maid, karena beberapa hari yang lalu ia di buat jantungan kala mendapati si kembar hampir terjun ke kolam berenang. Hal tersebut membuatnya tidak mau menitipkan kembali kedua anaknya pada maid, pernah sekali Albert mempekerjakan seorang babysitter, tapi ternyata babbysitter tersebut malah menggodai Albert dan juga Rasya sampai membuat kedua pria tersebht risih dan akhirnya di pecat. Itulah sebabnya dari awal Adel tidak mau mempekerjakan babbysitter, suami dan adik iparnya itu memiliki wajah yang tampan, wanita mana yang tidak akan tergoda melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2