
Rasya berjalan kearah kamar kakaknya Albert, begitu dia mengetuk pintu Albert langsung saja membukanya.
Ceklek.
"Kamu udah sampai Sya?" tanya Albert basa basi.
"Iya, pas sampe disuruh kesini katanya bantuin kagain si kembar." jawab Rasya dengan wajah cemberut.
"Sebenernya si kembar tadi nangis, cuman sekarang udah tidur lagi." ucap Albert.
"Lah, terus si madam ngapain suruh gue ke sini?" bingung Rasya.
"Dia nyuruh kamu kesini itu ada maksudnya, tadi dia gak sengaja ketemu sama Rena tau." ucap Albert.
"Si cewek jadi-jadian ada disini?" syok Rasya.
Flashback
Adel tak tenang kalau harus berdiam diri di kamar, tetapi begitu ia akan membersohkan tubuhnya si kembar langsung nangis.
"Sayang, mereka nangis." ucap Albert.
"Yaudah sini, aku mau kelonin Sheza dulu. Kamu gendong Delvan, nanti kalau udah beres kelonin Sheza baru giliran Delvan." ucap Adel.
Albert menganggukkan kepalanta sebagai jawaban, dia menggendong tubuh Delvan untuk di tenangkan, tanpa menunggu lama Delvan kembali tidur tanpa harus di berikan asi oleh ibunya. Adel perlahan melepaskan tangan Sheza yang tengah memegang bajunya, dia turun dari atas kasur dnegan pelan agar anaknya tidak bangun.
"Delvannya tidur?" tanya Adel.
"Iya sayang, mas tidurin dulu ya." ucap Albert.
Adel pun mengiyakan ucapan Albert, dengan perlahan Albert menidurkan Delvan disamping kakaknya. Tak sengaja tangan Albert menyentuh kaki Sheza, yang akhirnya Sheza pun merengek.
"Papapa, eeeeeuuu, papa." rengek Sheza.
"Ututu, anak papa keganggu ya, hmm." ucap Albert mengusap lembut pipi Sheza.
Albert pun tidur di sebelah Sheza karena memang jika anaknya sudah merengek dia harus menemaninya tidur.
__ADS_1
"Sayang kalau mau mandi, mandi aja. Anak-anak biar aku yang jagain, keburu Rasya dateng." ucap Albert.
"Iya kakanda, tapi aku niatnya mau nyusul Rasya takutnya si Luna p*rk*s* Rasya kan bahaya." ucap Adel.
"Kamu ini ngaco kalau ngomong." omel Albert.
"Hillih, siapa tahu kan namanya bawa orang mabok, biasanya kan kalau dalam pengaruh Alkohol tuh suka gak ke kontrol kaya di novel-novel." ucap Adel.
Albert pun memikirkan ucapan Adel, ada benarnya jika memang Luna hilang kendali ia takut Rasya macam-macam dengannya, adiknya juga normal kalau di kasih umpan bisa aja dimakan.
"Tapi ini Sheza gimana dong? Masa kamu pergi sendirian?" bingung Albert.
"Aku ngajak si Leo aja, Satria kan lagi gak bisa ninggalin Cindy yang lagi hamil." ucap Adel.
"Yaudah, kamu hati-hati ya." ucap Albert.
"Iya kakanda." ucap Adel.
Adel keluar dari dalam kamarnya, ia berjalan menuju kamar Leo yang berada lumayan jauh dari kamarnya. Begitu Adel sudah sampai di kamar Leo ia mengetuk pintunya dari luar, namun tidak ada jawaban sama sekali, Adel menghubungi Leo yang ternyata orang yang dicarinya tengah berada di parkiran. Adel masuk ke dalam lift menuju lantai bawah, butuh waktu lama ia sudah sampai di lantai dasar.
Adel berjalan melewati bagian resepsionis, namun matanya tak sengaja menangkap sosok yang agak familiar di dalam ingatannya. Dia mengingat siapa sosok yang sekarang tengah dilihatnya, sedetik kemudian ia membulatkan matanya, diam-diam ia bersembunyi menguping pembicaraan seseorang yang tengah dilihatnya.
"Mohon maaf, saya tidak bisa memberitahukan kamar tuan Rasya karena itu privasi." ucap Resepsionis menolak dengan sopan.
"Oh gitu ya, tadi saya di suruh mengantarkan berkas penting untuk meeting besok, berhubung mbaknya tidak mau memberitahu saya dimana kamarnyajangan salahkan saya kalau besok mbak di pecat. Ini berkas penting loh mbak, jangan main-main soalnya kalau berkas ini tidak datang tepat waktu maka tuan Rasya akan mendapatkan kerugian yang sangat besar." ucap seseorang tersebut.
Resepsionis tersebut pun langsung panik, tanpa berpikir panjang dia memberitahukan letak kamar Rasya pada seorang wanita cantik dengan rambut pirangnya, dia adalah Rena transgender cantik yang tergila-gila pada Rasya. Adel yang mendengar Rena mencari kamar Rasya pun langsung syok, dia bisa menebak kalau Rena memiliki niat buruk pada adik iparnya.
"Wah, ni b*nc*ng gak bisa dibiarin, gue harus bertindak." ucap Adel.
Adel kelur dari persembunyiannya, dia merapikan penampilannya dan begitu Rena berjalan melewatinya ia menabrakkan tubuhnya.
Bukk.
"Isshh, maaf gak sengaja." ucap Adel meminta maaf.
"Kalau jalan lihat-lihat dong." ucap Rena kesal.
__ADS_1
"Maaf gak sengaja." ucap Adel mengatupkan kedua tangannya.
"Menyebalkan." gerutu Rena.
"Eehh, tunggu. Mbak wajahnya pake apa ya kalau boleh tahu? Kok bisa glowing bersih gitu?" tanya Adel pura-pura takjub melihat kecantikan Rena.
Rena pun langsung berubah moodnya, dia paling senang jika sudah ada orang yang memuji kecantikannya.
"Ya perawatan lah, karena cantik itu mahal." ucap Rena dengan penuh percaya dirinya.
"Pasti sekarang mau ketemu pacarnya ya? Soalnya dandannya udah cantik banget." tebak Adel.
"Iya dong," ucap Rena tersipu.
'Huek, najis' batin Adel.
"Mbak udah cantik, tapi rambutnya agak berantakan. Parfumnya juga kurang wangi, biasanya kalau cowok tuh suka lihat ceweknya rapih dan wangi, kalo gak gitu nanti cowoknya ilfil loh." ucap Adel.
"Benarkah? Ahh, lebih baik aku ke toilet dulu rapihin rambutku, nanti ayang Rasya gak mau deket-deket sama aku." ucap Rena.
"Wihh, cakep tuh. Mending rapihin lagi deh, sayang udah very beautiful soalnya." ucap Adel.
"Makasih ya sarannya." ucap Rena tersenyum.
Rena pun berpamitan pada Adel untuk pergi ke toilet, Adel yang melihat kelrgian Rena pun langsung menghubungi Leo membatalkan kepergiannya. Adel membuka pesan yang dikirimkan oleh Rasya, dia berjalan kearah toilet mengikuti kemana Rena pergi, begitu sampai di toilet Adel mengunci pintu dimana Rena berada. Adel langsung keluar dan berlari menuju lift, dia kembali ke kamarnya mengambil paper bag yang berisikan pakaian ganti untuk Luna. Adel menjelaskan apa yang ia lihat pada Albert, dia meminta pada suaminya agar membiarkan Rasya bersembunyi dikamarnya karena ia yakin Rena akan nekat menemui Rasya. Adel berpamitan kembali pada suaminya, dia berjalan ke arah kamar Luna yang diberitahukan oleh Rasya. Setelah sampai di kamar Luna, Adel langsung menyuruh Rasya pergi ke kamarnya dengan alasan membantu Albert menjaga si kembar.
Flashback off
"Njir, tuh orang gila ngapain sih ngejar Sya terus kak?" heran Rasya.
"Gak tau, makanya kamu celet cari cewek biar gak diganggu terus." ucao Albert.
"Belum ada yang nyantol kak, tapi dia tahu darinana aku ada di hotel ya?" jawab Rasya.
"Kamu lupa, sekarang kan pernikahannya Edgar. Ada wartawan juga yang meliput kebersaman keluarga kita, bisa jadi dia tahunya daei media sosial." ucap Albert.
"Dasar Rena Reno sialan!" ucap Rasya murka.
__ADS_1
"Yaudah, kamu diem aja dulu disini. Kakak udah nyuruh satpam buat bukain pintu toiletnya, sekalian ngusir orang gila itu." ucap Alber.
"Iya kak." sahut Rasya.