
3 hari berlalu.
Edgar dan yang lainnya kini tengah menikmati sarapan paginya di meja makan, Zalea sudah sembuh dan lukanya juga sudah mengering.
"Ed, daddy udah siapkan tiket bulan madu untuk kalian berdua." ucap Rio tiba-tiba.
Uhuukk..uhukk..
Zalea langsung terbatuk mendengar kata bulan madu, memangnya harus bulan madu meskipun pernikahannya dan Edgar bisa dibilang sudah lama. Edgar menepuk punggung Zalea dan memeberikan air minum untuk istrinya, setelah dirasa cukup Edgar pun mulai mengeluarkan suaranya.
"Kapan dad?" tanya Edgar.
"Lusa." jawab Rio.
"Dimana tempatnya? Baru aja, aku mau nyuruh Leo buat siapin tempat kita haneymoon." tanya Edgar lagi.
"Kalian honeymoon ke luar negeri, lebih tepatnya korea. Bukannya Lea suka negri korea, jadi daddy sudah menyiapkan tiket honeymoonnya. Kamu mau kan Lea? Sekalian jalan-jalan disana." jelas Rio.
"I-iya dad, aku mau kok." jawab Zalea gugup.
"Yeey, aku mau nyetak keturunan." ucap Edgar dengan riangnya.
"Hah?!" Zalea melongo di buatnya.
Satria dan Cindy saling pandang satu sama lain, mereka tidak ingin ikut campur urusan rumah tangga kakaknya, tapi disisi lain mereka juga bingung. Dalam benak keduanya mereka bertanya-tanya, apakah Edgar sudah tahu caranya blaem-blaem.
"Ehh, kak. Setelah sarapan, boleh gak kita bicara sebentar? Ada yang mau aku omongin sama kakak." ucap Satria.
"Oke, kita ngobrol di ruang kerja aja dek." sahut Edgar.
Satria menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, Edgar segera menyelesaikan sarapannya. Zalea dan yang lainnya pun sama halnya menyelesaikan sarapannya, Satria dan Edgar berjalan beriringan ke ruang kerja.
Ceklek.
Satria dan Edgar duduk berdampingan di sofa ruang kerja, Edgar menatap kearah adiknya mengisyaratkan kepada Satria untuk berbicara.
"Kak, beneran kakak mau honeymoon?" tanya Satria.
"Emangnya kenapa?" tanya balik Edgar.
"Emang kakak tahu caranya blaem-blaem?" tanya Satria lagi.
"Enggak, kata Al sih ikutin naluri aja." jawab Edgar.
"Tapi disini kak Ed gak tahu caranya sama sekali bukan? Aku takut kakak bakalan nyakitin kakak ipar, apalagi ini pertama kalinya kakak ipar melakukannya." ucap Satria.
"Tenang aja, mana mungkin aku bakalan nyakitin istri sendiri." ucap Edgar.
"Yasudah, aku hanya ingin membicarakan soal itu. Selebihnya aku serahkan pada kakak, jaga kakak ipar jangan sampai dia kesakitan oke. Oh iya, lakikan semuanya dengan perlahan." ucap Satria.
"Iya, iya dek." ucap Edgar.
Satria keluar dari ruangan kerja Edgar, sedangkan Edgsr kini tengah memikirkan ucapan Satria barusan.
"Katanya ngelakuinnya enak, aku jadi penasaran deh." gumam Edgar.
Dikamar.
Zalea sudha menyiapkan semua keperluam Edgar, dia sudha menyimpan laptop kedalam tasnya, menyiapkan dasi dan juga sepatu Edgar sebelum pergi ke kantor.
Ceklek.
Edgar masuk kedalam kamarnya, ia memeluk tubuh Zalea dari belakang lengkap dengan kecupan diatas kepala sang istri.
__ADS_1
"Kamu mau jalan-jalan gak?" tanya Edgar.
"Jalan-jalan kemana?" tanya Zalea balik.
"Kita kan mau honeymoon, bagaimana kalau beli perlengkapan buat pergi kesana. Kamu kan gak punya jaket tebal, di korea kan ada tiga musim jadinya harus punya pakaian hangat." ucap Edgar.
"Emangnya mas mau temenin aku beli perlengkapannya?" tanya Zalea.
"Kalau gak ada meeting penting sih aku mau nemenin, kalau gak ada ya maaf aja ya, kamu kan tahu aku sibuk terus di kantor." ucap Edgar.
"Oh yaudah, gapapa. Aku pergi sendirian aja." ucap Zalea.
"Jangan! Aku gak mau kamu pergi sendirian lagi, aku gak mau kamu terluka lagi seperti pas kamu pergi sama supir sampai kecelekaan. Aku mau telpin Leo dulu, kalau jadwalnya kosong aku temenin. Kalau jadwalnya lagi ada meeting penting, aku suruh asisten aku buat nemenin kamu belanja, kalau minta tolong sama Cindy, si madam kan mereka punya anak kecil terlebih lagi si madam lagi hamil." ucap Edgar.
"Yaudah, aku ngikut aja apa kata suamiku ini." ucap Zalea pasrah.
Edgar menghubungi Leo menanyakan jadwal pekerjaannya, ternyata ada meeting penting dengan tuan Zico selaku parter kerjasamanya yang sangat amat penting.
"Gimana?" tanya Zalea.
"Maaf ya sayangku, kamu perginya sama Halimah dulu. Kapan-kapan aku akan nemenin kamu jalan-jalan, nanti kita berangkat ke kantor bareng, biar kamu berangkatnyai sama Halimahnya barengan dari kantor." ucap Edgar.
"Iya gapapa kok mas, aku ngerti kok." ucap Zalea mengulas senyumnya.
"Yasudah, kamu siap-siap dulu gih." titah Edgar.
"Oke, bos." ucap Zalea memberi hormat pada Edgar.
Sambil menunggu Zalea bersiap, Edgar memakai keperluannya yang sudah di siapkan istrinya. Tak lama kemudian Zalea keluar dari walk in closet, dia memakai pakaian serba hitam dengan celana sedikit sobeksobek di bagian pahanya.
"Kalau pake baju yang bener dong." protes Edgar.
"Emang kenapa sih?" tanua Zalea.
"Yang anggun dong sayangku, jangan kayak lakik gini. Apa kata orang kantor lihat penampilanmu kayak gini? Mereka bakal ngiranya mas gak normal, orang dandanan kamu kayak laki." omel Edgar.
Zalea tak mau mendengar omelan suaminya lagi, dia berjinjit mendekat kearah Edgar memberikan kecupan manis di pipi suaminya. mendapat kecupan manis daei sang istri membuat senyuman Edgar merekah sempurna, Zalea yakin kalau Edgar akan langsung berubah moodnya jika ia sudah nyosor duluan. Zalea menarik tangan suaminya keluar dari dalam kamarnya, mereka berjalan beriringan menuruni anak tangga untuk pergi ke kantor bersama.
Beberapa menit kemudian.
Zalea dan Edgar sudah sampai dikantor, mereka kini tengah berada di dalam ruangan Edgar.
"Le, tolong panggilkan Halimah." ucap Edgar.
"Oke." sahut Leo.
Leo pun menjalankan perintah dari Edgar, tak berselang lama ia kembali bersama Halimah ke dalam ruangan Edgar.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya Halimah.
"Hari ini, kamu temani istri saya berbelanja kebutuhan untuk honeymoon. Istriku sudah menulis semua barang yang akan dia beli, jadi kamu tinggal ikuti kemana pun dia pergi dan pastikan kalau dia baik-baik saja." ucap Edgar dengan datar.
"Baik tuan." ucap Halimah.
"Sayang, pergilah. Belanja sesukamu, berangkat dengan selamat maka pulang pun harus selamat pula." ucap Edgar.
"Ay ay kapten." ucap Zalea memberikan hormat pada Edgar.
Sebelum pergi, Zalea menyalimi tangan suaminya. Edgar dengan tanpa rasa malunya mengecup kening dan juga bibir istrinya, Leo dan Halimah memalingkan wajahnya melihat kebucinan sang majikannya.
"Ayo kak Halimah," ajak Zalea.
"Baik nona." ucap Halimah.
__ADS_1
Zalea melambaikan tangannua kearah Edgar, suaminya membalas lamabaian tangan sang istri lengkap dengan senyum manisnya. Halimah dan Zalea kini sudah masuk kedalam mobilnya, mereka diantar oleh supir pribadi Edgar.
Beberapa menit kemudian.
Mobil yang di tumpangi oleh Zalea sudah sampai di sebuah mall yang besar dan juga luas, ia turun bersama Halimah yang ditugaskan untuk menemaninya. Dari kejauhan seseorang menatap Zalea yang keluar dari dalam mobil mewah, dia mengucek matanyabtakut apa yang dilihantnya itu salah.
"Itu si Lea kan? Kenapa dia keluar dari dalam mobil mewah?" gumamnya.
Zalea melangkahkan kakinya masuk kedalam mall tersebut diikuti oleh Halimah di belakangnya, dia membeli semua barang yang ia perlukan untuk haneymoon bersama suaminya. Setelah beberapa jam berkeliling di mall, Zalea merasakan lapar di perutnya, ia mengajak Halimah untuk singgah ke restoran.
"Kak, aku lapar. Kita ke restoran dulu ya, ada yang masih mau aku beli takutnya nanti pingsan dijalan." ucap Zalea.
"Mari, nona." ucap Halimah.
"Kak, aku tidak suka di sebut nona. Lebih baik jika kita sedang berdua seperti ini kau panggil aku Lea saja, suamiku juga gak akan marah kok tenang aja." ucap Zalea.
"Saya tidak berani nona," ucap Halimah.
"Kalau masih panggil nona, aku gak mau ke restoran." ucap Zalea merajuk.
Halimah pun bingung di buatnya, dia takut kalau Edgar marah jika ia menyebut nama istrinya dengan sebutan naman tampa embel-embel nona karena Zalea adalah istri dari majikannya.
"Baiklah, bagaimana kalau nona Lea saja? Saya takut kalau tuan akan marah." saran Halimah.
"Kalau gitu sih sama aja, udahlah. Mending kuta makan saja." ucap Zalea.
Halimah pun mengikuti Zalea yang sudah berjalan terlebih dahulu, mereka masuk kedalam restoran dan duduk memesan makanannya. Saat makanan datang dan keduanya tengah menikmati makannya, ada seseorang yang tiba-tiba datang meghampiri mejanya.
Brakk..
"Woyy Lea! Ada hubungan apa loe sama tuan Edgar?!" sentak orang tersebut dengan menggebrak meja.
Zalea menatap sekilas siapa yang datang menghampirinya, dengan santai Zalea melanjutkan makannya.
"Terusin aja makannya kak, jangan dengerin orang gila." ucap Zalea.
Seakan tak terima diabaikan oleh Zalea, orang tersebut mengambil air minum lalu menumpahkannya keatas kepala Zalea.
Syuuurr..
"YYAAKKK, ALINA." amuk Zalea seketika berdiridari duduknya.
Orang yang menghampiri Zalea adalah Alina, dia tiba-tiba datang marah-marah pada Zalea tanpa sebab yang jelas. Halimah yang melihat Zalea disiram pun seketika mengambil air minumnya, dia menyiramkannya tepat di wajah Alina.
Syuurr..
"Wooyy! Berani banget loe nyiram muka gue! Skincare gua mahal, sembarangan tau gak loe!" sentak Alina.
Alina hendak melayangkan tangannya pada Halimah, tapi Zalea langsung menepis tangannya dengan kuat. Sudah habis kesabaran Zalea menghadapi sikap Alina yang semakin semena-mena padanya, dia akan tunjukkan bagaimana sifat aslinya keluar.
PLAKK.
Zalea menampar pipi Alina dengan kuat sampai meninggalkan bekas kemerahan di pipinya, dia juga mendorong dada Alina samlai mundur ke belakang.
"Mau loe apa sih?! Dari dulu gak puasnya loe ganggu hidup gue, setelah loe berusaha nyelakain gue dengan nabrak mobil gue dari belakang gak ada puasnya. Gue masih berbaik hati sama loe karena gak balas perbuatan loe lebih jauh lagi, ternyata di sabarin makin bgelunjak loe bangsat!" berang Zalea.
"Gara-gara loe, tuan Edgar cabut kerjasamanya sama bokap gue! Sekarang perusahaan bokap gue diambang kehancuran, puas loe!" sewot Alina.
"Gue gak peduli!" tekan Zalea.
"Sialan loe!" sentak Alina.
Alina menyerang Zalea, namun Halimah langsung menghadanganya. Zalea memberikan isyarat pada Halimah agar membiarkannya mengahadapi Alina sendirian, dia menarik rambut Alina kemudian menyeretnya ke meja.
__ADS_1
"Berani loe sentuh tubuh gue, habis loe!" abcam Zalea.
Kepala Alina di tekan oleh Zalea diatas meja, tangannga di cekal menggunakak salah satu tangannya. Sungguh Zalea sudah muak menghadapi sikap egois Alina, untuk sekarang biarlah dia membalas semuanya.