Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten

Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten
Berjoget bersama


__ADS_3

Edgar dan Zalea kini tengah berada di pelaminan, mereka bak raja dan ratu ditengah meriahnya pesta, meskipun hanya sedikit tamu undangan yang hadir tetapi pesta tetap heboh jika Adel and the geng hadir.


"Kakanda, si kembar gak mau tidur siang nih." ucap Adel.


"Gapapa, biarin aja. Mungkin mereka suka lihat pestanya, jarang-jarang loh mereka liat keramaian." ucap Albert.


"Aku mau joged, kamu mau ikut gak?" ucap Adel seraya mengajak suaminya.


"Mau aja sih, udah lama juga gak geol." ucap Albert setuju.


"Yaudah, aku titipin si kembar ke mommy sama Cindy ya." izin Adel.


"Yaudah, sini Sheza nya biar aku yang bawa dan kamu bawa Delvan biar gak repot." ucap Albert.


"Aaahh, kakandaku tersayang perhatian banget sama istrinya, jadi tambah cinta aja deh. Saranghae, love you sebumi pokoknya." gombal Adel.


"Kumat deh penyakitnya, dulu kamu yang ngurus aku sampai aku bisa jalan lagi, sekarang kita udah punya anak kembar. Masa aku harus repotin kamu lagi, kita kan harus saling kerjasama." ucap Albert.


"Emang paling bener deh punya suami kayak kamu, udah pinter, kaya, penyayang lagi." puji Adel.


Albert menggendong tubuh Sheza, sedangkan Adel menggndong Delvan yang sama-sama gembul seperti kakaknya. Mereka menitipkan si kembar pada Indah dan juga Cindy yang tengah duduk mengusap perutnya yang begah akibat banyak makan. Setelah selesai menitipkan anaknya, Adel mengajak pasukannya untuk naik keatas panggung, dia langsung saja mengambil mic berdiri diantara para lelaki ganteng doyan joget. Diatas panggung tidak ada wanita lain yang menemani Adel, Nabila yaiti istri Burhan tengah kerepotan mengurus anaknya, sedangkan Cindy tengah hamil besar jadi Satria melarangnya untuk ikut naik.


"Selamat datang dan selamat menikmati makanan yang sudah dihidangkan, untuk para tamu undangan yang hadir dalam acara kali ini, mohon izinkan saya untuk menghibur kalian dengan bernyanyi diatas panggung. Jika kalian tidak mengizinkan pun saya akan tetap bernyanyi, karena saya orangnya nekat. Untuk kedua mempelai, saya ucapkan selamat menempuh hidup baru, semoga kalian menjadi keluarga sakinah mawaddah dan waromah, jangan jadi keluarga yang sakarepnya dan wassalam nantinya." tutur Adel tersenyum.


Para penonton terkekeh mendengar Adel yang tengah berbicar dengan percaya dirinya diatas panggung, Albert hanya tersenyum saja melihat tingkah istrinya yang memang sudah tak heran lagi. Para lelaki yang naik diatas panggung tak lain diantaranya, Albert, Rasya, Burhan, Leo dan Satria. Edgar menatap dari arah pelaminan, rasanya kakinya gatal sekali ingin ikut naik keatas panggung, tetapi tamu terus berdatangan untuk bersalaman dengannya.


"Om kenapa?" tanya Zalea berbisik di telinga Edgar.


"Pengen dangdutan." jawab Edgar berbisik pula.


"Nanti dong, Lea juga mau dangdutan." ucap Zalea.


"Lu juga suka dangdut? Kalau begitu, kita tunggu reda dulu nih antrian." ucap Edgar sedikit terkejut.


"Suka lah om, orang Lea pernah ikutan audisi dangdut." jawba Zalea.


"Lah, kenapa malah kerja di restoran? Emangnya audisinya gak lolos?" tanya Edgar.


"Enggak, katanya suaranya fals, hehehe." jawab Zalea nyengir kuda.


"Aku suka percaya dirimu kawan." ledek Edgar.


Edgar dan Zalea kembali menyambut para tamu dengan senyum yang dipaksakan, padahal di dalam hatinya mereka menggerutu ingin segera naik keatas panggung.


"Lagu apa nih guys?" tanya Adel pada gengnya.


"Gala-gala Versi koplo, itu loh yang lagi viral." jawab Rasya.


"Setuju." seru yang lainnya.


"Akang kendang, gala-gala verso koplo, tapi yang dungplak-dungplak biar luwes jogetnya." ucap Adel pada pemain kendang.


Pemain kendang mengacungkan jempolnya pada Adel, para pasukan sudah mulai mengatue posisi, mereka sudah menyiapkan uang recehan untuk menyawer artisnya yaitu Adel. Kenapa gak artisnya yang nyanyi? Jawabannya anak buah Adel tidak mau naik kalau bukan Adel yang bernyanyi, Indah, Nabila dan Cindy bersorak sambil bersiul menyemangati para geng sengklek.


Jreng...Jreng..Jreeengg..


Plaakk..Palakk..dungplakkk..dung, dung tek..duunngggg


"Awal yang menarik pemirsah, ayo joged bersama." ucap Adel begitu pemain musik mengetes alatnya.


Kini 'ku telah kembali


Kembali padamu, kasih


Setelah lama kutinggal pergi


Lama sudah 'ku menanti


Menanti memadu kasih


Penuh rasanya rindu di hati


Oh, tiada terkira


Rindu segala-gala-galanya


Oh, tiada terkira


Rindu segala-gala-gala-gala-galanya


Oh, tiada terkira


Rindu segala-gala-galanya


Oh, tiada terkira


Rindu segala-gala-gala-gala-galanya


Kurindu gayamu ketika bercanda


Tawa lepas renyah ceria


Kurindu gayamu ketika bermanja


Meluluhkan segenap jiwa


Kurindu bagaimana engkau membujuk


Ketika 'ku merajuk


Kurindu bagaimana engkau mengasihi


Ketika kubersedih


Kini 'ku telah kembali


Kembali padamu, kasih


Setelah lama kutinggal pergi


Lama sudah 'ku menanti


Menanti memadu kasih


Penuh rasanya rindu di hati


Oh, tiada terkira


Rindu segala-gala-galanya


Oh, tiada terkira


Rindu segala-gala-gala-gala-galanya


Oh, tiada terkira


Rindu segala-gala-galanya


Oh, tiada terkira


Rindu segala-gala-gala-gala-galanya


Kurindu gayamu ketika bercanda

__ADS_1


Tawa lepas renyah ceria


Kurindu gayamu ketika bermanja


Meluluhkan segenap jiwa


Kurindu bagaimana engkau membujuk


Ketika 'ku merajuk


Kurindu bagaimana engkau mengasihi


Ketika kubersedih


"Abang jangan kerja teruuuss, nanti aku gak terurus.


Abang terus kerja lembuuurr, donat neng jadi ngaanngguuurr... Yeaah, hobbaahh." heboh Adel.


Rasya dan Burhan bergoyang paling heboh diantara yang lainnya, sedangkan Satria masih terlihat kaku karena ini adalah kali pertamanya ikut sengklek. Albert terus bergoyang merapatkan tubuhnya pada Adel yang tengah bernyanyi, alunan musik yang menggema mengundang para tamu untuk bernyanyi dan berjoget bersama. Edgar dan Zalea semakin tak bisa menahan diri, mereka mengetuk-ngetukkan kakinya begitu mendengar alunan musik.


"Taaarrriiikkkk.. Maaanggggg.." seru Rasya.


"Aasseeelllooolleee..." seru Burhan.


"Ji, ro, lu, pat.. GOYANG SEMUANYA.." teriak Adel.


Semua tamu berdiri ikut bergoyang, terkecuali Zafier yang memang tidak suka lagu dangdut. Edgar melihat tamu sudah mulai surut, dia langsung menarik tangan Zalea untuk bergabung ke atas panggung.


"Wooowww...wooooww.. Ternyata pengantin kita sudah gatal ya pemirsah, sepertinya saya akan menyanyikan lagu sesuai permintaan pengantin nih, apalagi pengantin pria nya Edgar, uhhhh.. Sleebbeww, dia paling suka lagu dangdut asalkan musiknya yahuuuddd.." ucap Adel bersemangat.


"Lagu apalagi nih penganten?" tanya Burhan.


"Apapun lagunya, kalo di koploin pasti seru." jawab Edgar.


"Yang rame ya musiknya, kalo bisa yang ada jreng. Jrengnya.." request Zalea.


"Bagaimana kalau rungkad dinda?" saran Albert.


"Boleh dong sayangku." jawab Adel membelai wajah Albert.


"Eeuuumm, manisnya dindaku." gombal Albert.


"Eemmm, mulai deh lu berdua. Lama-lama bumi ini gue gulung juga, heran gak dimana-mana bikin panas aja." protes Rasya.


Bagiamna ia tidak protes, diatas panggung hanya dia dan Leo saja yang statusnya masih jadi tanda tanya, sedangkan yang lainnya sudah berumah tangga dan memiliki anak.


"Udah deh, Sya mending lu diem aja deh. Madam ayo buruan gas lagi, udah gatel nih." desak Edgar.


"Kalau gatel ya di garuk om." celetuk Zalea.


"Am om aja, sama suami panggilnya kok om." protes Edgar.


"Sorry masih belum terbiasa," ucap Zalea.


"Yaudah ayo, pasukan! Siapkan tenaganya, keluarkan duitnya." seru Adel.


"Siap." seru yang lainnya.


"MUSIK." teriak Adel.


Musik pun mulai dimainkan, Adel dan yang lainnya sudah mulai menggerakkan badannya masing-masing.


RUNGKAD.


Rungkad


Entek Entek an


Kelangan Koe Sing Paling Tak Sayang


Stop Mencintaimu


Gawe Aku Ngelu


Aku Terlalu Cinta


Aku Terlalu Sayang Nganti


Ra Kroso Dilarani


Pancen


Ku Akui Kusalah


Terlalu Percoyo Mergo


Mung Nyawang Rupo


Saiki Aku Wes Sadar


Terlalu Goblok Mencintaimu


Rungkad


Entek Entek an


Kelangan Koe Sing Paling Tak Sayang


Bondoku Melayang Tego Tenan


Tangis Tangisan


Rungkad


Entek Entekan


Tresno Tulusku Mung Dinggo Dolanan


Stop Mencintaimu


Gawe Aku Ngelu


Aku Terlalu Cinta


Aku Terlalu Sayang Nganti


Ra Kroso Dilarani


Pancen


Ku Akui Kusalah


Terlalu Percoyo Mergo


Mung Nyawang Rupo


Saiki Aku Wes Sadar


Terlalu Goblok Mencintaimu


Rungkad


Entek Entek an

__ADS_1


Kelangan Koe Sing Paling Tak Sayang


Bondoku Melayang Tego Tenan


Tangis Tangisan


Rungkad


Entek Entekan


Tresno Tulusku Mung Dinggo Dolanan


Stop Mencintaimu


Gawe Aku Ngelu


Rungkad


Entek Entek an


Kelangan Koe Sing Paling Tak Sayang


Bondoku Melayang Tego Tenan


Tangis Tangisan


Rungkad


Entek Entekan


Tresno Tulusku Mung Dinggo Dolanan


Stop Mencintaimu


Gawe Aku Ngelu


Stop Mencintaimu


Gawe Aku Ngelu


Edgar goyang bersama Zalea tanpa memperdulikan tatapan penonton yang melongo kearahnya, pastinya orang yang begitu mengenali sikap dingin dan juga kejamnya Edgar sangat syok. Bagaimana tidak, Edgar menjelma menjadi orang yang berbeda cenderung sengklek.


"Apa aku tidak salah lihat?" tanya kolega A.


"Ini rasanya seperri mimpi," timpal kolega B.


"Fokusku bukan pada tuan Edgar saja, tetapi penerus Wiguna semuanya gacor." ucap kolega C melongo.


Mereka terus bertanya-tanya dengan apa yang mereka lihat, tidak ada satupun yang lercaya melihat pemandangan tersebut. Bagaimana tidak, mereka semua tahu bahwa pengusaha nomor satu dan dua di negaranya itu terkenal dingin, kejam, dan juga arogan. Di pertengajan lagu, Edgar memberikan kode pada Leo yang hanya mereka lah yang tahu. Leo menepuk pundak Rasya pamit untuk turun daei atas panggung, dia berjalan menghampiri Geril yang sudah menunggu kedatangannya.


"Ikut aku." ucap Leo menepuk punggung Geril.


Geril tersenyum simpul begitu Leo datang, dia langsung mengikuti kemana Leo pergi. Si botak dan si ompong sudah menunggu diluar, melihat kedatangan Leo keduanya langsung berdiri tegap.


"Bawa dia." titah Leo.


"Loh, loh, kau mau bawa aku kemana? Sesuai perjanjian, kau akan memberiku uang yang banyak dan rumah baru, kau tidak lupa akan janjimu bukan?" cecar Geril.


"Tentu saja, bukankah kau ingin melihat rumah barumu?" tanya Leo tersenyum miring.


"Aaahh, iya kau benar. Apa aku akan diantarkan sekarang ke rumah baruku? Kalau begitu, ayo kita pergi secepatnya." ucap Geril bersemangat.


"Kau tidak sabaran sekali" cibir Leo.


Si botak pun membawa Geril pergi dari hadapan Leo, sedangkan si ompong bertugas menjaga keamanan di hotel. Leo tersenyum miring melihat tingkah bodoh Geril, mana mungkin ia dan Edgar akan membuatnya senang begitu saja setelah apa yang sudah ia lakukan pada Zalea.


'Rumah baru yang dingin, hahahha' batin Leo.


Edgar sengaja memancing kehebohan agar tidak ada siapapun yang melihat kepergian Geril, termasuk Zalea yang kini tengah berjoget bersamanya. Setelah lagunya selesai dinyanyikan, Adel dan yang lainnya mengusap keringatnya masing-masing karena lelah bergoyang.


"Edgar, Lea, balik ke pelaminan lagi." titah Adel.


"Iya kak, sekarang aku kesana lagi." ucap Zalea.


"Hiih, padahal masih seru." protes Edgar.


"Jangan protes, sekali lagi lu protes gue jamin mic ini kena perkutut loe." ancam Adel.


HAHH?


Para pria yang berada diatas panggung refleks memegangi pedangnya, rasanya ngilu sekali membayangkan bagaimana mic yang di pegang Adel terjun ke pedangnya.


"Haiisshhh, madam bisanya ngancem doang." ucap Edgar cemberut.


"Oh, ngelawak ya!" sewot Adel mengangkat micnya keatas.


"Ralat tuh mulut, yang ada ngelawan bukan ngelawak." tegur Rasya.


"Suka-suka gue lah, napa lu yang repot." kesal Adel.


"Udah kak, mending balik aja. Kasihan tuh perkututnya, udah mah otw sembuh nanti kalau di timpuk mic beneran ngeri, ucapan madam gak pernah main-main." saran Satria pada kakaknya.


Dengan perasaan dongkol Edgar mengajak Zalea kembali ke pelaminan, melihat Zalea yang kesusahan berjalan membuat Edgar jengkel sekaligus merasa kasihan. Dengan gerakan cepat, Edgar menggendong tubuh Zalea, riuh tepuk tangan dan siulan membuat suasana ramai seketika.


Prok..Prok..Prok..


WIUUUWIIITT.. WWIITTT.. WIIIWWW..


"LAKINYA GAK SABARAN!" teriak Rasya dari panggung.


Adel kembali menyalakan mic nya, sedangkan yang lainnya sibuk bertepuk tangan melihat Edgar yang berlaku romantis dihadapan para tanu undangan.


"Malam masih lama pak, udah main gendong aja nih.. CIEEEE..." ucap Adel.


"PELAN-PELAN PAK SUPIR." teriak Satria.


"An****, pada guuobblokkss semua." gerutu Edgar.


"Om ngapain sih pakai acara gendong segala, kan jadinya malu." protes Zalea.


"Jalan lu lelet kek kura-kura." Kesal Edgar.


"Bajunya om, aku gak biasa pake heels." ucap Zalea.


"Ck, masa iya lu pake kebaya bagus kebawahnya pake sendal jepit, kan gak lucu cil." ucap Edgae berdecak.


"Om, diliat dari deket ternyata om ganteng juga ya." ucap Zalea memuji ketampanan Edgar.


"Benarkah?" tanya Edgar dengan wajahnya yang tersipu.


"Heem, Tapi tetep aja gantengan Cha Eunwo." ucap Zalea.


"Siapa Canewo? Baru nikah kok udah muji cowok lain? Siapa dia? Apa dia tukang martabak?" cecar Edgar tidak suka.


'Asem nii orang, masa idola gue dibilang tukang martabak' gerutu Zalea dalam hati.


"Sembarangan! CHA EUNWO bukan CANEWEO." sewot Zalea.


Edgar mendudukkan Zalea diatas kursi pelaminan, seketika wajahnya berubah dingin membuat Zalea bingung. Sungguh Edgar tidak suka kalau Zalea menyebut kata tampan selain ditujukkan untuknya, hatinya seakan panas mendengarnya.


'Sialan, berani banget dia bandingin gue sama cowok lain. Awas aja, gue bakal cari tuh yang namanya Canewo dan ngasih dia pelajaran' batin Edgar kesal.


Tamu-tamu mulai pergi satu persatu, acara pernikahan Edgar hanya dilaksakan dari pagi sampai sore saja. Itu semua atas kesepakatan kedua mempelai, mereka tak ingin ada acara resepsi lagi karena bagi keduanya sudah cukup sampai sore saja, lagipula tidak banyak tamu yang diundang untuk acara pernikahannya.

__ADS_1


__ADS_2