Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten

Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten
Menjemput Pasutri


__ADS_3

Leo memenuhi janjinya untuk menjemput Luna, dia sarapan bersama dengan wanita yang sudah ia dekati selama beberapa hari belakangan. Luna juga terlihat lebih ceria dari biasanya, hari-harinya kini semakin berwarna sejak dekat dengan Leo, luka yang sudah di ciptakan oleh ibu dan juga mantan kekasihnya kini sudah membaik.


"Bapak Leo, makasih ya sarapan gratisnya." ucap Luna.


"Sama-sama, besok sarapan bareng lagi ya." ucap Leo.


"Dengan senang hati, rezeki anak soleh sarapan gartisnya gak boleh di tolak." ucap Luna.


"Gimana sekarang? Masih galau gak sih?" tanya Leo.


"Enggak sih bapak Leo, sekarang udah gak galau lagi kok, tapi untuk saat ini ngebuka hati untuk cowok lain tuh berasa susah, rasa sakitnya berubah menjadi rasa takut." jawab Luna.


"Kenapa harus takut? Gak semua lelaki seperti itu, banyak pria yang baik yang mau denganmu tanpa kau sadari Luna, tapi kau tenang saja. Aku akan bantu kamu keluar dari rasa takutmu, semuanya tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena itu tidak baik." ucap Leo.


"Untuk kembali mengulang cinta itu gak mudah bapak Leo, aku kehilangan materi, tenaga dan waktu yang terbuang dengan sia-sia karena kebodohanku sendiri. Bukan hanya aku yang berjuang mengobati lukaku, ada bapak yang sama-sama sakit disini, aku disakiti oleh dua orang sekaligus terutama ibuku." jelas Luna.


'Sampai kapanpun aku akan menunggumu Luna, cintaku habis di kamu Lun, andai kau tahu bagaimana perasaanku. Apakah kamu akan sama takutnya, dasar Dodi sialan.' batin Leo.


Luna memang sudah sembuh dari lukanya, tetapi untuk kembali mengukir cinta dihatinya sangatlah berat, rasa takutnya lebih mendominasi dibandingkan kemauannya untu mencoba. Memang ada beberapa pria yang mendekatinya, tapi dia selalu enggan untuk berdekatan kembali dengan pria yang memiliki tujuan untuk menjalin hubungan dengannya.


"Bapak Leo, aku harus segera berangkat takutnya kesiangan." ucap Luna.


"Baik, aku akan mengantarmu karena memang jalannya satu arah menuju bandara." ucap Leo.


"Mau ngapain ke bandara?" tanya Luna.


"Mau ngereog disana." jawab Leo asal.


"Yang bener dong kalau jawab, tak sledding tau rasa loh." ucap Luna.


"Mau jemput si bos non, maen sledding aja." ucap Leo.


"Oh yaudah, yuk kita capcus." ajak Luna.


Luna dan Leo pun beranjak dari duduknya, keduanya masuk kedalam mobil. Leo melajukan mobilnya mambelah jalanan, dia mengantarkan Luna ke cafe nya terlebih dahulu sebelum ia menjemput bosnya di bandara.


Beberapa menit kemudian.


Mobil yang di tumpangi Leo sudha sampai di depan Cafe dimana Luna bekerja, dari kejauhan seseroang berdiri di depan Cafe menatap kearah mobil Leo. Luna keluar dari mobil Leo, dia melambaikan tangannya kearah Leo yang masih duduk di dalam mobilnya.

__ADS_1


"Makasih bapak Leo, hati-hati di jalannya pak, kalau ada apa-apa nanti hubungin ambulance ya." ucap Luna.


"Kamu doain saya celaka? Kenapa gak bilang hubungin kamu." kesal Leo.


"Ya enggak lah, cuman kan kalau di jalan kenapa-napa takutnya bapak gak bisa kabarin saya, soalnya kuota aku udah habis jadi gak bisa di hubungin nantinya." jawab Luna.


"Serah kamu deh, saya pergi dulu." ucap Leo.


"Oke, bye bapak Leo." ucap Luna.


Leo memundukan mobilnya kemudian membelokkannya kearah kanan, Luna menatap kepergian Leo sampai mobilnya sudah tak terlihat lagi. Setelah memastikan Leo pergi, Luna berjalan hendak masuk kedalam cafe, tapi ternyata ada pemilik cafe yang tengah berdiri di samping pintu masuk.


"Luna." panggilnya.


"Eh, ibu Iren. Ada apa bu? Ada yang bisa saya bantu?" ucap Luna dengan sopan.


"Tadi kamu kesini diantar siapa? Saya tadi liat kamu turun dari mobil." tanya Iren.


"Oh itu, saya diantar sama temennya suami bestie saya bu. Namanya Leo, kayaknya dia seumuran ibu." jawab Luna.


"Kamu pacarnya?" tanya Iren.


"Begitu kamu keluar dari dalam mobil, saya melihat sekilas pria yang dateng bareng kamu, saya seperti mengenalnya. Eh, taunya bener dong, dia Leo teman saya waktu kuliah." jelas Iren.


"Oh iya, lain kali aku ajak dia masuk biar ibu bisa ngobrol sama bapak Leo." ucap Luna.


"Iya Luna, sekarang kamu mulai kerja ya. Bilang sama yang lain buat rapihin tempatnya sebelum jam 9, kita akan kedatangan tamu spesial nanti." ucap Iren.


"Baik bu." sahut Luna.


Luna menuruti perintah bosnya, dia pergi mengganti pakaiannya dengan seragam cafe. Iren menatap kearah jendela luar, senyuman terbit dari bibirnya.


'Akhirnya aku bisa melihatmu lagi Leo, setelah sekian lama aku pergi dan disaat aku kembali aku melihatmu untuk pertama kalinya lagi, semoga Tuhan mengizinkan aku untuk menjadi bagian dari hidupmu.' batin Iren.


*


*


Leo tengah berdiri disamping mobilnya, dia menunggu kedatangan Edgar dan juga Zalea. Tak lama kemudian keluarlah dua orang yang sedang ia tunggu, Leo tidak mau masuk kedalam, dia lebih memilih menunggu di area parkiran.

__ADS_1


"Dasar sinting loe, kenapa gak masuk sih." omel Edgar begitu ia sampai di mobil Leo.


"Selain malas, tiba-tiba kaki gue lemes yang kanan. Tadi habis jatoh di kamar mandi, kayaknya kerasanya baru sekarang efeknya." sahut Leo.


"Nanti ke dokter kak, biar di obatin kalau dibiarin takutnya kenapa-napa." ucap Zalea.


"Iya Lea, kayaknya habis dari sini mau manggil Burhan aja biar dia yang cek di mansion sebelum berangkat ke kantor." ucap Leo.


"Ishh, lu ada-ada aja sih. Yaudah, gue yang nyetir." ucap Edgar.


"Iyalah lu yang nyetir bos, kalau gue yang nyetir yang ada kalian masuk rumah sakit." ucap Leo.


"Sayang, kamu duduk di depan ya sama aku." ucap Edgar.


Zalea menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, Edgar membukakan pintu untuk Zalea menyurihnya masuk. Sedangkan Edgar sendiri, ia memasukkan barang bawaannya kedalam bagasi mobil, Leo sudah anteng duduk di belakang sambil memainkan ponselnya.


"Enak juga ya kalau jadi bos, tinggal duduk anteng gak perlu mikirin ini itu, haeeuuhh senangnyaaa." gumam Leo.


Brakk.


Edgar menutup pintu mobilnya dengan sedikit keras, dia membalikkan badannya kearah belakang menatap Leo, tangannya terulus mengambil tisu yang di gulung jadi satu.


Pluk..


"Bukannya bantuin juga." omel Edgar.


"Ahh elah, baru juga kali ini bos. Sekali-kali ngerasain jadi bos sehari doang gapapa kali, pelit amat sih." protes Leo.


"Serah lu dah." ucap Edgar.


"Udah gapapa mas, lagian kaki kak Leo juga lagi sakit." ucap Zalea sambil mengusap lengan Edgar.


"Iya sayang," ucap Edgar tersenyum.


"Perih mata gue liatnya, hawa bulan madu masih kerasa sampe sini. Hargailah hambamu yang masih jomblo ini tuan dan nyonya, apakah tidak iri dan sakit melihatnya? Sungguh kejam sekali." protes Leo.


"Udah jangan dengerin yang, penyakitnya lagi kambuh." ucap Edgar.


Zalea hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, sudah biasa ia melihat tingkah konyol suami dan asistennya itu. Edgar melajukan mobilnya membelah jalanan, sesekali dia menatap kearah Zalea membuat Leo semakin panas melihatnya. Leo lebih memilih memejamkan matanya daripada melihat kebucinan pasutri di depannya, bayangan ia dan Luna duduk di dalam satu mobil muncul dalam benaknya, senyum terukir di wajahnya meskipun matanya terpejam.

__ADS_1


__ADS_2