Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten

Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten
Beradu mulut


__ADS_3

Laki-laki yang sebelumnya memanggil Halimah pun memghampiri meja dimana Rasya dan Halimah tengah duduk, ia dengan percaya dirinya duduk bersebelahan dengan Halimah tanpa memperdulikan wanita yang datang bersamanya.


"Halimah, kau kemana saja?" tanya Damian sambil memegang tangan Halimah.


Halimah menarik tangannya, dia bangkit dari duduknya kemudian berpindah tempat ke belakang tubuh Rasya. Rasa takutnya masih ia rasakan kala mengingat malam dimana Damian membawanya ke sebuah hotel, bahkan bekas luka yang ia tutupi di bagian tubuhnya masih membekas. Damian menatap kearah Halimah dengan tatapan yang tak bisa diartikan, Rasya yang melihatnya pun menatap tidak suka pada Damian.


"Dami, kenapa kau malah deket-deket Halimah sih? Kamu anggap aku apa?" protes Naina.


"Ck, diam kau!" sentak Damian.


"Kasihan sekali kau nona, kau sudah menurunkan harga dirimu, sedangkan pria brengsek ini malah menganggapmu sebagai mainan saja." sindir Rasya.


"Bukan urusanmu!" tekan Damian menatap tajam Rasya.


Rasya hanya menanggapi Damian dengan senyum miringnya, sedetik kemudian ekspresinya berubah menjadi dingin bahkan lebih menusuk. Rasya tahu betul siapa Damian, saat ia pertama kali bertemu dengan Halimah Rasya memerintahkan Difa mencari informasi mengenai keluarga Halimah dan juga Damian.


"Tentu saja ini urusanku, kau sudah berani menyentuh wanitaku!" ucap Rasya dengan dingin dan juga penuh penekanan.


Orang-orang mulai menatap kearah Rasya, sedangkan Halimah memainkan jemarinya bergetar ketakutan. Naina diam tanpa melakukan apapun, dia juga terkejut saat Rasya mengatakan kalau Halimah adalah wanitanya.


"Wanitamu? Heh, bahkan dia sudah di jodohkan denganku oleh orangtuanya." ucap Damian tersenyum mengejek.


"Oh begitu ya, emm. Apa kau tahu siapa aku? Aku bisa mendapatkan apapun yang aku mau loh, termasuk menjebloskanmu kedalam penjara atas tuduhan pelecehan pada Halimah." ucap Rasya dengan begitu santainya.


"Aku tidak peduli siapa dirimu! Aku tidak akan terpengaruh dengan ancamanmu, bahkan kau tidak mempunyai bukti apapun untuk melakukannya." ucap Damian.


"Tentu saja punya, hotel Dahlia, kamar nomor 36. Pukul 7 malam, melakukan pelecehan sampai korban mendapati luka di bagian tubuhnya. Apakah aku benar tuan Damian Pradana, duta botol kecap. Hihihi." ucap Rasya diakhiri kekehannya.


Halimah dan Damian membulatkan matanya, keduanya terkejut mendengar ucapan Rasya. Damian mengepalkan tangannya lengkap dengan tatapan tajamnya, Halimah tidak bisa berkata-kata karena yang diucapkan oleh Rasya itu benar adanya, kejadian itu masih membekas dalam ingatannya yang membuatnya trauma.


'Siapa sebenarnya dia? Kenapa dia mengetahuinya? Sial, kalau dia benar-benar melaporkannya ke pihak kepolisian karirku bisa hancur terlebih lagi perusahaan papa' batin Damian resah.

__ADS_1


"Tuan, lebih baik kita pergi dari sini." ucap Halimah dengan pelan.


"Baiklah, tunggu sebentar." ucap Rasya.


Rasya bangkit dari duduknya, dia mencondongkan tubuhnya kearah Damian. Rasya membisikkan sesuatu sampai mata Damian membulat sempurna, tangannya terkepal kuat sampai urat tangannya pun terlihat.


"Ayo beb, sepertinya tempat kita bukan disini. Selera makanku jadi hilang sebab melihat botol kecap berjalan, beruntung sekali kau tidak jadi menikah dengannya, bagaimana keturunanmu nanti jika botol kecap dan susu murni bersatu." ucap Rasya.


Masih sempat-sempatnya Rasya meledek Damian, tak terima karena terus mendapat ledekan dari Rasya, Damian bangkit dari duduknya kemudian melayangkan tangannya ke arah wajah Rasya. Belum juga tangan itu sampai ke wajah kaki Damian sudah di tendang terlebih dahulu oleh Rasya sampai tubuhnya terjatuh hilang keseimbangan.


Rasya menarik tangan Halimah pergi sambil bersiul, ia tidak mungkin membuat wajahnya menjadi jelek hanya karena meladeni orang seperti Damian, Halimah melirik sekilas kearah Damian kemudian beralih menatap Rasya.


"Sudahlah, biarkan saja. Bukannya dia datang bersama bonekanya, jadi jangan pikirin botol kecap serbaguna itu." ucap Rasya.


"Aku tidak mengkhawatirkannya, aku cuman mau bilang kalau tuan keren." ucap Halimah.


"Oh jelas dong, aku tidak mungkin membiarkan orang lain memukul wajah mulusku yang ganteng paripurna ini, nanti kau akan ilfil melihatnya." ucap Rasya.


"Aww pede boros, aku baru tahu kalau CEO satu ini sangat percaya diri." ucap Halimah.


"Catri?" tanya Halimah mengerutkan keningnya.


"Calon istri, hahahha." jawab Rasya tertawa.


Blusshh..


Wajah Halimah memerah mendengar kata calon istti yang di lontarkan oleh Rasya, saat tengah beradu mulut bersama Damian di dalam, Rasya juga menyebutnya dengan wanitaku, apakah Halimah harus percaya dengan ucapan Rasya. Saat ini jantung Halimah tengah tidak aman, pasalnya berdekatan dengan Rasya membuat jantungnya seakan ingin lari dari tempatnya sampai tangannya pun gemetar.


"Apaan sih." ucap Halimah memalingkan wajahnya.


'Jiaahhh, kayaknya udah mulai baper ini.' batin Rasya.

__ADS_1


Sampai di parkiran tepat di samping motornya, Rasya memakaikan Halimah helm di kepalanya. Wajah mereka begitu dekat, Rasya mendekatkan wajahnya kearah Halimah membuat si empu gugup seketika, Halimah memejamkan matanya saat hembusan nafas Rasya menerpa wajahnya.Tangan Rasya menyentuh wajah Halimah, dan..


"Kamu tadi mandi gak sih? Kok belekkan." tanya Rasya sambil membersihkan sudut mata Halimah.


Refleks Halimah membuka matanya dengan lebar, Rasya menunjukkan kotoran yang menyempil di sudut mata Halimah. Halimah sangat malu, bahkan ia menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.


"Kenapa di tutup mukanya?" tanya Rasya.


"MALU..HUHUHU." teriak Halimah.


"Bah, hahahaha." Rasya tertawa.


Tingkah Halimah sangat lucu dimata Rasya, rasanya ia gemas dan ingin memasukkan Halimah kedalam karung kemudian membawanya ke penghulu. Rasya menurunkan tangan Halimah yang di gunakan untuk menutupi wajahnya, senyuman manis ia tunjukkan pada Halimah tapi masih dengn diiringi wajah tengilnya.


"Wajahmu sangat menyebalkan tuan." ucap Halimah.


"Benarkah? Tapi aku bisa melihat dari matamu kalau kau jatuh cinta padaku." goda Rasya.


"Mana ada." kilah Halimah.


"Hayoo ngaku, katanya kalo orang jujur nanti di kuburannya ada ac nya loh." goda Rasya lagi.


"Itu kuburan apa hotel bro." ucap Halimah.


"Wuiiddiihh, bro katanya guys. Wah gilaa, bro Halimah ternyata gaul juga ya." ledek Rasya.


"Hahahhaa." Halimah tertawa dengan lebarnya.


Dari kejauhan Damian dan Naina melihat interaksi Rasya dan Halimah yang tertawa tanpa beban, Damian mengepalkan tangannya tak terima melihat kedekatan Rasya dan juga Halimah. Berbeda dengan Damian, Naina justru menatap sendu kearah Halimah yang dulu menjadi sahabatnya, nasib Halimah selalu dihinggapi keberuntungan berbeda dengannya yang tidak beruntung dalam hal apapun.


"Imah, kamu selalu beruntung karena di kelilingi orang baik." lirih Naina.

__ADS_1


'Gue bakal ambil yang seharusnya menjadi hak gue!' batin Damian.


Dirasa cukup tertawa, Rasya mengajak Halimah untuk naik keatas motornya. Dari kaca spion Rasya bisa melihat keberadaan Damian dan Naina, ia mengulas senyumnya karena berhasil membuat Damian marah, tadinya ia ingin membuat perhitungan pada Damian. Tetapi, ia malah bertemu disaat yang tidak tepat, walaupun begitu Rasya tetap bersyukur karena bisa menyicil untuk memanas-manasi Damian.


__ADS_2