Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten

Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten
Leo dan Luna.


__ADS_3

Leo pergi dari mansion, dia mengendarai mobil pribadi milkniknya tanpa tujuan yang pasti. Di sepanjang perjalanan dia memikirkan bagaimana masa depannya, entah sampai kapan ia akan sendiri, sejatinya tak ada satu wanita pun yang menempati hatinya.


"Gue sering sok nasehatin orang jatuh cinta, padahal gue gak tahu rasanya punya pasangan, lebih konyolnya lagi gue nasihatin orang jatuh cinta lewat film romantis yang sering gue tonton. Hahahha, rungkad banget kelakuan gue." gumam Leo tertawa.


Saat tengah melewati sebuah taman, Leo tak sengaja menangkap sosok wanita yang ia kenal tengah beradu mulut dengan dua orang di hadapannya. Mata Leo menangkap wanita yang dikenalnya tengah ditampar oleh seorang wanita yang lebih tua darinya, sontak hal tersebut membuat ia menghentikan mobilnya.


"Bukannya itu Luna? Temennya si madam?" tebak Leo.


Leo turun dari dalam mobilnya menghampiri Luna, dia menahan tangan wanita paruh baya yang hendak melayangkan kembali tangannya pada Luna.


"Dasar anak durhaka!" berangnya.


Hap.


Leo menghempaskan tangan wanita paruh baya tersebut dengan kuat, pria yang berada di sampingnya langsung menahan tubuh wanita paruh baya yang hampir terjatuh.


"Kalau kau bukan ibuku, aku akan menghabisimu saat ini juga!" sentak Luna dengan sorot mata tajamnya.


"Luna, sudah. Untuk apa kau melayani cabe-cabean? Buang tenaga tau gak? Gue kira pria yang khianatin loe tuh ganteng, nyatanya kayak simpanse." ucap Leo dengan santainya.


Leo tahu kisah Luna dari Rasya dan juga Adel, sepulang menginap di hotel waktu pernikahan Edgar dan juga Zalea, Rasya sempat membicarakan perihal ia yang menjemput Luna mabuk di bar karena pacarnya selingkuh dengan ibunya sendiri. Pria yang Leo sebut simpanse pun menatap tajam kearah Leo, bukannya takut Leo malah menatap lebih tajam lagi pada mantan kekasih Luna yang bernama Dodi.


"Berani sekali kau menyebutku simpanse?!" sewot Dodi.


"Kenapa aku harus takut?" tanya Leo dengan menaikkan satu alisnya.


"Kita gak ada urusan sama kamu! Lebih baik kau pergi, sebelum aku yang akan menghabisimu!" usir Dodi.


Sreekkk..


Leo menarik kerah baju Dodi sampai tubuhnya terangkat keatas, kekuatan Leo tidak bisa diremehkan begitu saja, singa Edgar tidak takut oleh siapapun kecuali Tuhannya. Tia sebagai kekasih Dodi atau ibu dari Luna membulatkan matanya, dia mencoba melepaskan tangan Leo dari Dodi.


"Hey, lepaskan kekasihku! Dasar kurang ajar!" amuk Tia.


"Heelleehh, so jagoan. Ternyata baru ditarik aja udah ciut, pengecut sekali kau kadal buntung." ejek Leo.

__ADS_1


Brukkkk..


Leo menghempaskan tubuh Dodi ke tanah, ia menatap jijik melihat kelakuan ibunya Luna yang bucin kepada mantan kekasih Luna tersebut. Bahkan Leo sampai bergidik ngeri, Luna yang melihat Dodi berdiri dibantu ibunya pun berjalan mendekat kearahnya, dia menedang burung Dodi sampai si empu meringis kesakitan.


"Manuk'e!" teriak Tia.


"Haiiisshh, Apa yang kau lakukan Luna!?" tanya Dodi sambil meringsi memegangi burungnya.


"Gue ngelakuin apa yang harus gue lakuin, gara-gara burung nakal loe bikin gue sakit hati, makan tuh donat alot ibu gue!" sewot Luna.


Tia tak terima kala burung Dodi di tendang oleh anaknya, dia langsung menarik rambut Luna dengan kasar.


"Kenapa kau melakukannya hah?! Bagaimana kalau burungnya kenapa-napa? Aku hanya meminta uang padamu, tapi apa balasanmu? Kau malah menyakitu kekasihku!" marah Tia.


Leo tak tega melihat Luna yang di perlakukan kasa oleh ibunya sendiri, dia langsung mendekat kearah Luna, Leo menarik tangan Tia agar terlepas dari rambut Luna. Tia memeberontak kala Leo menyeretnya sedikit menjauh dari Luna, tubuhnya berjalan terseok-seok karena tak bisa menyeimbangi langkah kaki Leo, dengan satubkali tarikan Leo mengambis tas Tia kemudian menendangnya jauh dari tempatnya berdiri.


"Berani kau menyakitinya, maka kau akan menanggung akibatnya!" ucap Leo menatap tajam Tia, ia juga menunjuk tepat dihadapan wajah Tia.


"Siapa kau?! Kenapa kau membela babu itu?!" tanya Tia menaikkan nada bicaranya.


"Siapa aku tidak perlu kau tahu! Satu hal yang harus kau ingat, karma di dunia ini masih berlaku. Aku akan berlaku kasar pada siapapun tanpa melihat orang itu tua ataupun muda, sekalinya orang itu berbuat salah dan terlebih lagi perbuatanmu sangat tidak di benarkan, malah menjijikkan. Pergilah sebelum kesabaranku habis! Jangan lupa kau bawa pria jelek itu dari hadapan Luna, sebelum aku menyebarkan ke seluruh sosial media kelakuan menjijikkan kalian." ancam Leo.


Leo berlalu begitu saja dari hadapan Tia, dia tak menghiraukan ucapan Tia yang menjrutnya tidak penting. Leo menarik tangan Luna yang tengah menangis, entah apa yang Luna tangisi saat ini, dia tidak suka melihat ada air mata yang turun dengan begitu derasnya dari pipi mulus seorang Luna.


"Luna! Berhenti!" teriak Tia.


Leo menyuruh Luna masuk kedalam mobilnya, begitupun dia yang langsung duduk di kursi kemudi, dilihatnya Luna sudah duduk dan memakai seatbeltnya. Leo langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia membawa Luna pergi ke suatu tempat yang ia yakini bisa membuat Luna tenang.


Beberapa menit kemudian.


Cekiiiitt..


Leo menghentikan mobilnya di sebuah pantai, ia turun terlebih dahulu dari dalam mobilnya, Leo membukakan pintu mobil untuk Luna.


"Turunlah." ucap Leo.

__ADS_1


"Kenapa kita kesini?" tanya Luna.


Tanpa menjawab pertanyaan Luna, Leo menggenggam tangan Luna membawanya berjalan ke suatu tempat. Leo mengajak Luna duduk diatas pasir yang mengahadap kearah lautan, angin berhembus menerpa kulit mulus keduanya.


"Kalau kau ingin menangis, menangislah." ucap Leo tanpa melihat kearah Luna.


Mata Luna langsung berkaca-kaca, bibirnya bergetar di sertai hidung dan mata yang sudah memerah. Dia mengingat bagaimana perlakuan ibunya dan juga mantan pacarnya, mereka seakan gidak punya rasa malu menunjukkan kemesraannya setelah perselingkuhan mereka terbongkar. Hati siapa yang tidak hancur kala menemani sang pujaan hati dari bukan siapa-siapa, menjadi orang yang lumayan banyak di kenal orang. Penghianatan yang dilakukan mantan kekasihnya dan juga ibunya membuat goresan luka yang sangat hebat di hati Luna, bukan hanya ia saja yang terluka. Tapi, ayahnya. Sang ayah pun ikut terluka akibat ulah ibunya, selama ini ia dijadikan sapi perah oleh ibu dan juga mantan kekasihnya, siang malam ia bekerja keras tanpa kenala lelah, lantasi apa yang ia dapatkan? Pengkhiantan.


"Kenapa mereka melakukannya? Hikss, bahkan setelah pengkhianatan yang mereka lakukan padaku saja tidak cukup, mereka terus meminta uang yang bahkan aku sendiri membutuhkannya. Bagaimana nasib bapak? Dia yang selama ini mempercayai ibu selama bertahun-tahun harus menerima kenyataan pahit ini, aku yang baru berpacaran merasakan sakitnya begitu luar biasa, sedangkan bapak yang sudah menikah pasti sakitnya berkali lipat dari yang aku rasakan,hiksss..hikss.." ucap Luna menangis pilu.


Tubuh Luna bergetar hebat, begitu perihkah luka yang tengah ia rasakan, sampai-sampai tangisannya begitu menyayat hati. Luna tak berani menunjukkan wajahnya, dia menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya dengan kepala yang tertunduk menangis pilu. Leo merasakan kesedihan yang tengah Luna rasakan, dia memeluk tubuh Luna untuk pertama kali dalam hidupnya memeluk seorang wanita. Leo mengelus lembut surai Luna, dia juga mengusap punggungnua seakan memberikan kekuatan dan ketenangan pada wanita yang tengah ada dalam dekapannya.


"Mereka jahat, hikss..hikss..." ucap Luna sambil menangus sesenggukkan.


Srooottttt...


'Hah? suara apa itu?' batin Leo panik.


Luna dengan santainya mengelap ingusnya mengunakan jas Leo, Leo yang menyadari apa yang tengah Luna lakukan pun seketika membulatkan matanya. Ingin marah, tapi gak bisa.


"Sudahlah, untuk apa kau menangisi manusia pulu-pulu yang tak tahu malu itu?" ucap Leo.


"K-kau ti-tidak tahu ba-bagai-ma-na ra-sanya ja-jadi a-aku, hiksss.." ucap Luna terbata-bata.


"Ngomong apa sih?" bingung Leo.


"HUAAAA...BAPAAAKKK." teriak Luna semakin histeris.


Orang-orang mulai menatap kearah Luna dan Leo, tangisan Luna mampu membuat seorang Leo malu setengah mati, dia berusaha menenangkan Luna, tapi gadis dihadapannya malah semakin menjadi. Karena bingung sekaligus malu, Leo membungkam mulut Luna menggunakan mulutnya.


Cup.


Emmh


Leo manc*** b*b*r Luna yang membuat tubuhnya panas dingin, Luna sendiri langsung membulatkan matanya dengan tubuhnya yang langsung menegang. Leo memejamkan matanya dan meraih tengkuk Luna, dia memperdalam c******a, Luna diam saja tanpa membalas apa yang tengah Leo lakukan karena seketika otaknya blank.

__ADS_1


'Njir, kok enak' batin Leo.


Semakin lama c****n Leo semakin menuntut, entah dorongan darimana Luna pun membalas c***** tersebut walaupun masih kaku. Leo melepaskan tautannya begitu Luna memukul dadanya pelan karena kehabisan nafas, ia mengusap b*b*r Luna yang basah menggunakan ibu jarinya, Luna langsung memalingkan wajahnya salah tingkah.


__ADS_2