
Edgar kini sudah rapi dengan pakaiannya, dia keluar dari dalam kamarnya hendak pergi, tetapi dia melihat teman bobroknya tengah memakan cemilan sambil melamun.
BRAAAKKK..
"EMMAAKKKK.." teriak Rasya.
Rasya refleks memegangi jangtungnya yang seakan ingin loncat dari tempatnya, dia menetralkan nafasnya yang naik turun tak beraturan, kemudian dia menatap tajam Edgar. Bukannya takut, Edgar malah menaikkan salah satu alisnya menatap Rasya.
"Bangsat, kalau gue keselek ciki gimana? Lu mau gue mati dalam status perjaka? Masih mau ngejar Halimah nih gue." gerutu Rasya.
"Udah ngomongnya?" tanya Edgar santai.
"Kenapa si lu?" tanya balik Rasya.
"Stress gue, mana liat lu nyantai banget makan, tambah gedeg pikiran gue." ucap Edgar.
"Gue tahu permasalahan yang sedang loe hadapi ini rumit, tapi asal loe tahu. Tuhan pasti akan menyiapkan keindahan untuk semua manusia yang ia uji, belajar dari si madam sama kak Al. Loe pikir bahtera rumah tangga mereka gak rumit apa? Kak Al stres berat sampai depresi setelah kecelakaan yang membuatnya cacat dan kehilangan papa, Kakak gue di tinggalin begitu aja pas ortu Sonia minta pernikahan mereka dilangsungkan, betapa terpuruknya mommy saat itu, si madam juga harus cari biaya buat operasi ayahnya sampai relain masa depannya dengan di jodohkan sama kak Al, ujian mereka gak sampai di situ. Kak Al sering ngamuk dan gak terima dengan kondisinya, Sonia selalu datang mengganggu hubungan mereka, ayah Sonia berniat melenyapkan kak Al, bahkan mommy diam-diam berobat ke luar negri sampai melakukan operasi disana.Tapi, berkat kesabaran keduanya dan saling menguatkan satu sama lain mereka bisa melalui semuanya, dan loe tahu sendiri buah dari kesabaran yang mereka lalui kini kak Al bisa berjalan normal, mereka dikaruniai anak dan menjalani biduk rumah tangga yang bahagia, dan tentunya ujian Tuhan tetap akan berlanjut sampai kita menutup mata untuk selama-lamanya." tutur Rasya.
Edgar terdiam mendengar penuturan Rasya, berkata memang lebih mudah dibandingkan menghadapu kenyataannya, meskipun begitu Edgar dapat memetik pelajaran yang bisa dia ambil dari perjalanan rumah tangga Adel dan juga Albert. Edgar sedikit banyaknya tahu kisah Albert, dia juga bisa membayangkan bagaimana putus asanya Albert saat itu, hal tersebut membuatnya sadar dan kembali membangkitkan semangatnya untuk terus menerjang badai yang tengah ia hadapi.
"Thanks Sya," ucap Edgar.
"It's oke, gue selalu ada di belakang loe. Sekarang loe pergi ke rumah sakit, Lea lebih butuh loe sekarang, terlebih lagi Nathan belum tahu gimana kondisi kakaknya, lebih baik loe bicarain baik-baik sama Nathan biar dia gak syok." ucap Rasya.
"Astaga, kenapa gue lupa sama Nathan." ucap Edgar menepuk keningnya.
"Soal Nathan, biar gue yang urus." ucap Rasya.
"Tolong loe kasih pengertian ke dia ya, gue mau ke rumah sakit temuin Lea." pinta Edgar.
__ADS_1
Rasya menganggukkan kepalanya serta mengacungkan jempolnya, Edgar menyambar kunci mobilnya keluar daei apartemen meninggalkan Rasya yang masih sibuk dengan cemilannya.
*
*
Di mansion Giomani.
Nathan yang baru pulang dari sekolah mengedarkan pandangannya, dilihatnya mansion sangatlah sepi seakan tak berpenghuni.
"Semua orang kemana ya? Kok pada sepi sih?" gumam Nathan bertanya-tanya.
Seorang pelayan datang menghampiri Nathan, posisinya para pelayan hanya tahu kalau Rio dan Zalea keluar membawa Cindy yang akan melahirkan.
"Mbak, kok di mansion sepi? Kakak sama yang lainnya kemana?" tanya Nathan.
"Tuan besar, nona Cindy dan juga nona Zalea tengah keluar den, tadi nona Cindy sakit perutnya. Sepertinya nona Cindy akan melahirkan, jadi tuan besar dan nona Zalea membawanya ke rumah sakit." jawab pelayan.
"Yasudah, kalau begitu Aden ganti pakaiannya dulu. Bibi siapin makanan, kalau udah beres bersih-bersihnya tinggal ke meja makan aja ya." ucap pelayan dengan lembut.
"Iya mbak, makasih ya." ucap Nathan sambil tersenyum.
"Sudah jadi tugas saya den, jadi gak perlu berterimakasih." ucap pelayan.
Nathan hanya mengulas senyumnya kearah pelayan, dia pun berlalu menuju kamarnya. Semua pelayan di mansion Giomani menyambut dengan ramah kedatangan Nathan dan Zalea, tidak ada satupun dari mereka yang berani menindas ataupun berlaku tidak baik, karena sikap Nathan dan Zalea yang ramah membuat para pelayan nyaman.
Didalam kamar.
Perasaan Nathan sebenarnya gelisah, sebelum pulang pun dia tidak tenang karena merasa ada sesuatu yang membuat dadanya sesak.
__ADS_1
"Kenapa perasaanku jadi gak enak gini ya? Keinget terus sama kakak, tapi kata mbak kakak lagi nganter kak Cindy ke rumah sakit." gumam Nathan.
Nathan memutuskan untuk membersihkan tubuhnya, dia juga menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim yakni menunaikan sholat lima waktunya. Selesai dengan rutinitasnya, Nathan kwluar dari kamarnya menuju meja makan. Begitu sampai di meja makan, sudah ada beberapa menu makanan yang tersedia diatas meja, Nathan sampai menggelengkan kepalanya tak percaya. Padahal di mansion hanya ada dirinya, karena memang yang lainnya tengah berada diluar, melihat makanan yang tertata rapih diatas meja membuat hatinya nyeri kala mengingat bagaimana susahnya ia dulu ketika ingin makan.
"Kenapa disaat kita bisa makan enak, ibu malah pergi ninggalin Nathan sama kakak." lirih Nathan dengan kepala tertunduk.
"Aden, aden kenapa menunduk? Aden lagi ada masalah? atau makanannya ada yang aden gak suka? Biar mbak bikin yang baru lagi." tanya lelayan dengan beruntun.
"Eemmhh, gausah bik. Aku cuman lagi keinget almarhumah ibu aja, makanannya udah cukup kok mbak, malah kebanyakan." jawab Nathan.
"Oalah, Aden yang ikhlas ya. Ibu aden sekarang udah tenang di alam sana, bahkan di surga ia bisa menikmati apapun yang ia mau, lebih dari yang sedang aden nikmati." ucap pelayan.
"Benarkah mbak?" tanya Nathan.
"Iya, katanya di surga kita bisa meminta apa saja yang kita mau. Mau makanan enak, buah-buahan, atau apapun itu semuanya ada disana." jawab pelayan.
Pelayan menyendokkan nasi kedalam piring Nathan, dia juga mengambilkan beberapa lauk favorit Nathan, dia juga menghibur Nathan dengan bercerita sambil menemani Nathan makan agar tidak merasa kesepian.
*
*
Di sisi lain.
Alina melemparkan semua barang yang ada di kamarnya, usahanya untuk mencelakai Zalea gagal karena banyak pengendara yang melihat aksinya.
Prangg...
"Sumpah demi apapun, gue gak bakal biarin hidup loe tenang Lea! Gue akan merebut semua yang loe punya, sejak dulu loe selalu menjadi primadona para pria di sekolah meskipun kelakuan loe itu cenderung nakal dan barbar. Tapi KENAPA!? Zafier gak bisa gue milikin seutuhnya, dia sekarang malah ing kembali sama loe! Gue beci loe Lea! GUE BENCI... AAARRGGGHHHH..." amuk Alina.
__ADS_1
Sejak masa sekolah dulu, Alina dan juga Zalea bersahabat dengan Arya, Sheren dan Aldo. Diantara mereka Zalea dan Aldo lah yang paling nakal dan suka balapan, bahkan mereka seringkali bolos sekolah hanya untuk sekedar balapan atau tawuran. Rasa iri Alina ketika pria yang diam-diam ia sukai menjalin hubungan dengan Zafier, dengan terang-terangan Zalea dan Zafier mengumbar kemesraannya sampai satu sekolah tahu hubungan keduanya. Lama-kelamaan hubungan Zalea dan Zafier merenggang, itu semua ulah Alina yang menghasut Zafier agar membenci Zalea bahkan sampai memutuskan hubungannya, seakan merasa menang Alina terus memfitnah Zalea sampai ia berhasil membuat Zafier jatuh kedalam pelukannya. Ternyata, semua usahanya tidak selamanya berjalan dengan mulus, setelah sekian lama menjalin hubungan dengan Zafier baru-baru ini kekasihnya itu berubah, sikapnya menjadi cuek bahkan dingin pada Alina. Saat Zafier tengah mabuk berat, satu kata yang terus dilobtarkan oleh Zafier adalah Zalea yang membuat Alina naik pitam.