
Sore hari.
Zalea perlahan membuka matanya, dia menggeliatkan tubuhnya yang terasa pegal. Zalea turun dari kasurnya kemudian berjalan kearah kamar mandi, dia membasuh wajahnya agar lebih segar.
"Aduh, jam berapa ini? Gue kan mau nemenin daddy check up." gumam Zalea.
Zalea keluar dari dalam kamar mandinya, dia melihat jam di laya hpnya. Sedikit merapihkan penampilannya, Zalea turun kebawah hendak menemui mertuanya. Dari atas Zalea melihat Cindy tengah meringis memegangi perutnya, dia segera berlari menghampirinya karena takut terjadi sesuatu pada adik iparnya itu.
"Kak Cindy, perut kakak sakit?" tanya Zalea khawatir.
"Iya kakak ipar, mulesnya makin sering. Kayaknya mau melahirkan deh, mana suami aku lagi meeting lagi." Jawab Cindy sambil menahan nyeri di perut serta pinggangnya.
"Yaudah, kita ke rumah sakit sekarang." ucap Zalea.
"Tolong ambilkan tas yang udah aku siapkan ya kakak ipar, di walk in closet tas warna cokelat. Sekalian sama hp diatas kasur, maaf ya kalau ngerepotin." ucap Cindy.
"Its okey kak, aku akan ambil semua barang yang kak Cindy butuhkan." ucap Zalea.
Zalea langsung berlari ke kamar Cindy, dia segera mencari tas yang Cindy maksud untuk di bawa ke rumau sakit.
"Daddy, DADDY!" teriak Zalea.
Rio keluar dari dalam kamarnya, dia segera menghampiri Zalea yang berteriak memanggilnya.
"Ada apa Lea?" tanya Rio.
"Kak Cindy mau melahirkan dad, kita harus segera bawa dia ke rumah sakit." jawab Zalea panik.
"Hah? Yasudah, ayo kita berangkat sekarang juga." ucap Rio ikut panik.
Zalea memberikan hp pada Cindy, Cindy mencoba menghubungi Satria dan memberitahukan bahwasannya dia akan melahirkan. Rio segera memangil supir lain untuk mengantarkannya ke rumah sakit, Cindy terus merintih kesakitan karena rasa sakitnya yang luar biasa.
"Lea, kabari Edgar." titah Rio.
Zalea langsung menghubungi nomor suaminya, sedangkan Rio berusaha mengebari keluarga Wiguna.
Tuttt...
Hallo, Mas.
Ada apa Lea? Kenapa suara kamu kayak orang panik?
Mas, kak Cindy mau brojol. Eh, maksudku mau lahiran.
Hah? Kamu udah hubungin Satria belum?
Tadi sih udah sama kak Cindy, kalau mau nyusul ke rumah sakit Wiguna aja ya mas.
Oke, oke, hati-hati Lea.
__ADS_1
Tuut..
Tuut..
Hallo, Ada apa Rio?
Cindy mau lahiran Indah.
Apa? Sekarang dia dimana?
Aku lagi bawa dia ke rumah sakit milik suami kamu, kalau mau nyusul datang saja ke rumah sakit.
Baik, aku sama Adel langsung meluncur.
Tuuttt..
Keduanya mematikan ponselnya bersamaan, keringat sudahulai membanjiri kepala Cindy, Zalea bingung harus melakukan apa karena dia tidak punya pengalaman melahirkan ataupun menemani orang lahiran.
"Aaauuhhh, daddy sakit.." rintih Cindy.
"Tahan dulu ya nak, sebentar lagi kita sampai." ucap Rio.
"Sabar kak, demi dedek bayi." ucap Zalea.
Zalea membantu mengusap perut Cindy yang membuncit namun keras ketika di pegang, hal tersebut ternyata mampu membuat rasa nyeri yang dirasakan Cindy berkurang.
"KELUAR!" teriak salah seorang dari mereka.
"Daddy gimana ini? Aku udah gak kuat lagi." tanya Cindy sambil kesakitan.
"Kamu tenang aja, mereka biar daddy yang urus." ucap Rio.
"Daddy jangan! Lebih baik, daddy bawa kak Cindy ke rumah sakit. Mereka biar jadi urusan Lea, kalau buat hadapin mereka mah gampang dad, yang penting kak Cindy dan bayinya selamat." cegah Zalea.
Zalea tidak mungkin membiarkan mertuanya menghadapi ketiga orang tersebut dikala kesehatannya tangah menurun, lagipula dia sudah lama tidak menghajar orang.
"Tapi Lea--" ucap Rio terpotong.
"Percayakan semuanya sama Lea daddy." ucap Zalea kekeh.
"AARRGGHH.."teriak Cindy.
Byaaaarr...
Ketuban Cindy pecah saat itu juga, Rio dan Zalea semakin panik di buatnya.
"Daddy cepat pergi! Tabrak aja mobil yang di depan, lagipula mobilnya kosong." titah Zalea.
"Baiklah, Cindy tahan sebentar ya nak." ucap Rio.
__ADS_1
Zalea keluar dari dalam mobil, dia langsung di todongkan pisau ke lehernya. Dari arah luar Zalea memberikan isyarat agar mertuanya langsung membawa Cindy pergi, dia tidak akan mungkin kalah meskipun lawannya main keroyokan.
"Pak, jalankan mobilnya." titah Rio.
"Tapi ada mobil di depan tuan." ucap supir.
"Terobos saja, nyawa Cindy dan bayinya sedang dalam bahaya." ucap Rio.
Sang sulir pun menuruti ucapan Rio, dia segera menerobos jalanan sampai mobil di hadapannya terpental kesamping jalanan. Jalan yang di lewati menuju rumah sakit tengah sepi, jadi memudshkan sang supir melajukan mobilnya tanpa terhalang oleh pengendara yang lain.
"Kejar mobil itu!" titah penjahat yang tengah menodongkan pisau pada Zalea.
Zalea langsung mengambil pisau dari tangan penjahat tersebut, dia memutar tangannya kebelakang sampainsi empu meringis kesakitan.
"Elleehh, baru gitu aja udah sakit."ejek Zalea.
"Kurang ajar! Seeang dia!" teriak penjahat A.
Penjahat B dan C langsung menyerang Zalea menggunakan senjata tajamnya, Zalea mampu menghindar dari semua serangan yang di tujukkan padanya, tetapi saat ia tengah melawan penjahat C dari arah belakang penjahat B menggoreskan pisau ke pipi mulusnya sampai mengeluarkan darah segar dari pipinya.
Sreettttt ..
Amarah Zalea langsung naik pitam, tenaganya menjadi berkali lipat melawan semua penjahat itu sampai mereka tumbang.
Bugghh.. Bughh.. Bughh..
"Dasar pengecut!" sentak Zalea.
"LEA!" teriak seseorang dari arah belakang.
Zalea membalikkan tubuhnya melihat siapa yang memanggilnya, ternyata Edgar datang bersama Leo menyusulnya. Dengan sisa tenaga yang di milikinya, penjahat B menodongkan senjata api yang disimpan di saku celananya kearah Zalea. Zalea tak menyadari jika dirinya tengah dalam bahaya, Edgar yang melihatnya pun segera berlari kearah Zalea hendak menyelamatkannya namun..
"ZALEA, AWAS!" teriak Edgar.
Dorr...
Punggung Zalea berhasil tertembak, tubuhnya langsung ambruk terduduk diatas aspal. Leo mengambil senjata api dadi dalam mobilnya, dia menembakkannya kearah penjahat tersebut.
Dorr..
Senjata api yang di pegang penjahat B langsung terpental, tembakan Leo tepat mengenai sasaran yaitu lengan penjahat B. Edgar menambah kecepatan berlarinya menangkap tubuh istrinya, Leo langsung berlari menuju para penjahat yang sudah terkapar dibawah.
"Lea, bangun Lea." ucap Edgar menepuk pipi Zalea.
Zalea menutup matanya tak sadarkan diri, darah segar mengalir dari punggung Zalea, dengan cepat Edgar membawa Zalea masuk kedalam mobilnya.
"Ku mohon, bertahanlah Lea." ucap Edgar.
Begitu sampai di mobilnya, Zalea langsung membaringkan tubuh Zalea di mobil bagian belakang. Pikiran Edgar kini tengah kalut, dia lanhsung melajukan mobilnya dengan edan seedannya. Leo membereskan penjahat yang menyerang Zalea, dia harus mengusut tuntas motif yang mendasari kejahatan yang di tujukkan pada Zalea karena kemungkinan besar dari musuhnya.
__ADS_1