
Setelah dirasa cukup tenang, Edgar melepaskan pelukannya dari tubuh Zalea, dia mengusap airmatanya dengan kasar diiringi isakan kecil yang masih tersisa.
"Bisa cerita sekarang?" tanya Zalea dengan lembut.
"Tadi aku kan cari ayam rainbow, kata Nathan suka ada di pasar jadi aku meluncur ke pasar tradisional, eh tauny gak ada. Nathan bilang suka ada di depan sekolahnya dulu, jadi aku putusin buat kesana dan syukurnya sih ada, yang buat aku sedih penualnya kakek-kakek yang sudah tua dan bungkuk. Kamu tahu gak, tangannya gemeteran sambil megangin perutnya, begitu aku bilang mau beli semua ayamnya dia nangis sambil sujud diatas tanah, HUAAA..." jelas Edgar diakhiri derai air mata lagi.
"Oh Astaga mas, kenapa malah makin kenceng." ucap Zalea frustasi.
"Aku kasihan lihat kakek itu, jalannya gemeteran saking laparnya." ucap Edgar.
"Begitulah mas namanya hidup dan takdir, semua orang memiliki jalan hidupnya masing-masing. Aku juga berasal dari kelas bawah sebelum menjadi istri kamu, bahkan aku rela menjadi kuli panggul demi mendapatkan biaya untuk kehidupan sehari-hari, banyak dari mereka yang meskipun sudah tua tetap mencari nafkah demi kelangsungan hidup mereka. Kamu tahu kan, aku kurang suka berbelanja dan menghamburkan uang yang katamu tidak akan habis tujuh turunan? Lebih baik aku gunakan uang tersebut untuk membantu masyarakat kalangan bawah terutama anak-anak yang putus sekolah, orangtua yang bekerja dikala usianya renta, bahkan balita yang kekurangan asupan gizi karena ketidak mampuan orangtuanya dna masih banyak lagi. Setiap kali aku selalu mengatakan padamu untuk selalu bersyukur, roda kehidupan terus berputar siapapun akan menempati posisi atas dan bawah secara bergantian, jika bukan amal yang kita bawa suatu saat nanti, mungkin saat ini orang-orang akan terus sibuk mengwjar dunia tanpa mengingat akhiratnya." jelas Zalea.
Wajar saja Edgar syok melihat kehidupan masyarakat yang tak pernah ia lihat sebelumnya, dia terlahir dari keluarga kaya bahkan apapun yang ia mau hanya tinggal bilang saja. Sejak kecil Edgar selalu dituntut belajar dan menjadi sempurna oleh ibu tiri dan juga kakeknya, berbeda dengan Satria yang bisa bergaul dengan siapa saja dan menjalani kehidupan dengan bebas tanpa ada kekangan, keluarga Wiguna memang selalu mengajarkan pada keturunannya untuk tetap merendah meskipun kaya. Banyak pelajaran yang bisa Edgar ambil dari pencariannya bersama Nathan, dia bisa melihat begiu banyaknya orang yang membutuhkan sampai rela bekerja berat hingga lupa makan.
"Terus kamu bawa kakek itu atau gimana?" tanya Zalea.
"Aku bawa dia makan di restoran, mukanya seneng banget katanya makanannya enak-enak. Aku kasih uang satu koper, sebelum sampe ke restoran aku nelpon si ompong buat ambil uangnya , gak hanya itu kok yang. Pas aku anterin si kakek balik rumahnya gak layak dipakai makanya aku sampe nangis kayak gini, dia tinggal berdua sama istrinya yang sama-sama udah tua, anaknya pada ngilang entah kemana. Aku suruh Leo buat siapin rumah yang lebih layak untuk si kakek sama istrinya, aku mau mereka menikmati hidup di usianya yang sudah tua." tutur Edgar.
"Aahhh, baik sekali suamiku ini." puji Zalea membelai pipi sang suami dan menatapnya intens.
"Ayamnya ada di belakang mansion, kalau mau lihat aku gendong ya." ucap Edgar.
__ADS_1
"Mau, mau, mau." seru Zalea bersemangat.
Zalea menyingkap selimut yang menutupi kakinya, tubuhnya tiba-tiba melayang di udara sontak membuatnya terkejut. Zalea melingkarkan tangannya di leher sang suami, sedangkan Edgar berjalan sambil mengecupi wajah Zalea dengan gemas sebelum benar-benar keluar dari dalam kamarnya.
*
*
Di Perusahaan.
Terlihat Halimah yang tengah duduk menatap layar komputer di hadapannya, dia sangat fokus dengan pekerjaannya sampai tak sadar jika ada yang sednag berdiri menatap kearahnya sambil bersandar di depan pintu.
"Ekhhemm." dehemnya.
"EKKHEEMM, OYY , EKKHEEM." dehemnya semakin keras.
"Astagfirullah." refleks Halimah memegangi dadanya terkejut.
Halimah menatap kearah seorang pria yang tengah tersenyim kearahnya, lebih tepatnya senyum jahil dan terkesan menyebalkan. Siapa lagi kalau bukan Rasya calon imamnya, Rasya berjalan ke arah meja Halimah kemudian duduk di depannya sambil menopang wajahnya.
"Hallo, calon makmum." sapa Rasya.
__ADS_1
"Bisa gak sih kalau masuk tuh ngucap salam, bukannya OY! OY! Gak sopan tau." gerutu Halimah.
"Utututu, calon makmum marah nih ya." goda Rasya menarik pipi Halimah dengan gemas.
Halimah melepaskan tangan Rasya dari pipinya, terlihat bekas kemerahan di pipi Halimah akibat ulah Rasya.
"Sakit tau kak." omel Halimah.
"Ya habisnya gemesin." ucap Rasya.
"Tumben jam segini kesini? Kangen ya?" tanya Halimah.
"Ya kangenlah, rasanya pengen cepet nikah biar gak jauh-jauhan kayak gini. Udahlah gas nikah aja, aku udah gak tahan harus jauh dari kamu sayangku, my humairah." ucap Rasya.
"Sabar dulu, kan aku belum minta restu sama orangtuaku dulu. Anak perempuan itu harus ada walinya agar nikahnya sah, bapak aku masih hidup jadi gak mungkin di wakilkan." jelas Halimah.
"Kapan dong minta restunya bro Halimah?" rengek Rasya.
"Lusa, semua proyek penting kemungkinan beresnya lusa dan aku bisa minta cuti. Sabar dulu ya kak, aku juga gak mau menunda-nunda hal baik." ucap Halimah.
"Beneran nih? Yeeeaayyy, mommy Sya bakalan kawin. Burayotnya gak dianggurin nanti, bakal ada yang nemenin main." sorak Rasy.
__ADS_1
Halimah sontak menutup wajahnya yang memerah, dia menggelengkan kepalanya melihat kerandoman Rasya yang selalu tidak bisa tertebak. Mungkin diluar Rasya bisa bersikap dingin sama halnya dengan Leo dan Edgar, tapi jika sudah bersamanya sikap dinginnya luntur semua, sampai dia hampir gila menghadapi kerandoman Rasya.
Apa katanya tadi? Burayot? Seketika otak Halimah traveling, dia tahu burayot itu apa dan bayangannya semakin tak bisa terkendali.