Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten

Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten
Meminta restu


__ADS_3

Di mansion Wiguna.


Sepasang orangtua tengah duduk sambil melihat isi rumah megah bak istana, Indah berjalan menghampiri keduanya dengan wajah datar.


"Selamat sore, apa benar kalian orangtua Halimah?" Sapa Indah.


"Benar sekali nyonya, saya Jana. Dan ini istri saya, Lasmi." Jawab ayah Halimah.


"Perkenalkan, nama saya Indah. Jangan panggil saya nyonya, kita akan menjadi besan." Ucap Indah.


Sejujurnya Indah enggan sekali mengobrol dengan orangtua Halimah, dia masih mengingat bagaimana cerita Rasya yang mengatakan bahwa orangtua Halimah dengan teganya mengusir adik dari Halimah, mereka juga yang menjodohkan Halimah sampai di lecehkan.


Tak..Takk..Takk..


Suara derap langkah terdengar berjalan menuju ruang tamu, ketiga orang disana menatap siapa yang datang. Albert menggendong putranya ikut bergabung dengan orangtua Halimah, tatapannya tidak perlu ditanyakan lagi. Belum juga Albert mengeluarkan suaranya, Rasya datang bersama Halimah.


"Hallo semuanya, maaf aku terlambat." Ucap Rasya.


"Duduk." Titah Albert dengan dingin.


"Halimah, kamu duduk disamping mommy." Pinta Indah.


Halimah menganggukkan kepalanya, sekilas ia menatap kedua orantuanya yang tengah memperhatikannya.


'Halimah berubah, bahkan menyapa orangtuanya pun ia enggan. Dasar anak gak tau di untung, punya pacar konglomerat kayak gini kok gak bilang-bilang.' Batin Lasmi.


"Berhubung semuanya sudah ada disini. Aku sebagai wali dari Rasya yang menggantikan almarhum daddy, saya disini ingin memberitahukan bahwa adik saya ingin meminang putri sulung Anda." Ucap Albert.


"Saya dan Halimah sudah menjalin hubungan beberapa minggu terakhir, sengaja saya membawa kalian kesini agar tidak ada tetangga yang mencampuri urusan pribadi keluarga. Saya sudah tahu semuanya, dari mulai perjodohan Halimah sampai Nisa yang diusir dari rumah. Kami berdua sudah memutuskan untuk melanjutkannya ke jenjang yang lebih serius, untuk itu saya memohon restu dari bapak dan juga ibu." Jelas Rasya.


"Mohon maaf sebelumnya, tapi saya sudah berjanji untuk menikahkan Halimah dengan Damian. Bahkan uang yang di berikan oleh Damian begitupun orangtuanya sudah kami pakai, jika perjodohan ini di batalkan maka saya harus mengganti uangnya dua kali lipat." Jelas Jana.


"Aku bisa membayarnya, bahkan sepuluh kali lipat dari yang mereka berikan." Tegas Rasya.


"Baiklah kalau begitu, kami merestui hubungan kalian berdua. Untuk menentukkan kapan pernikahan itu dilaksanakan, kami ikut keputusan kalian."Putus Jana.


"Mommy mau penikahan kalian di percepat, agar tidak terjadi fitnah diantara kalian berdua karena sering pergi berduaan. Bagi mommy kalian sudah cukup saling mengenal, dan untuk persiapan pernikahannya kalian tidak perlu khawatir karena mommy akan menyiapkan semuanya." Ucap Indah.

__ADS_1


"Satu minggu lagi kalian menikah, tidak ada penolakan!" Tegas Albert.


"Baik kak." Sahut Rasya tersenyum senang.


Halimah diam saja sembari menatap lekat kearah orangtuanya, perasaannya campur aduk antara marah, kecewa, senang menjadi satu. Indah mengajak kedua orangtua Halimah untuk makan bersama, Adel, Satria dan Cindy pun ikut bergabung setelah maid memanggil mereka atas perintah Albert.


*


*


Di sisi lain.


Nisa semakin putus asa setelah bertemu dengan kakaknya, dia merasa menjadi manusia yang sangat tidak berguna dan kotor. Keputus asaannya mendorongnya untuk mengakhiri hidupnya sendiri, dia mengambil sebuah silet yang sudah ia arahkan ke pergelangan tangannya.


"Maafkan aku kak, aku rasa tidak ada gunanya lagi aku hidup." Lirih Nisa.


Srett..


Darah segar mengalir dari pwegelangan tangan Nisa di barengi isakan tangis pilunya, tak lama kemudian pintu apartemen di buka oleh seseorang yang setiap hari memeriksa keadaannya.


Seseorang tersebut langsung mengikat tangan Nisa menggunakan sapu tangannya, dia melihat wajah pucat Nisa yang semakin hari semakin kurus.


"Jangan bodoh Nisa, hiisss kau ini." Kesal Orang tersebut .


Dia menggendong tubuh Nisa keluar dari unit apartemennya, sesampainya di parkiran ia langsung memasukkan Nisa kemudian ia duduk di kursi kemudia mnancapkan gasnya. Seperti orang kesetanan, dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena khawatir akan nyawa Nisa.


*


*


Selesai makan.


Jana dan Lasmi kembali duduk di ruang tamu keluarga, kini Halimah tidak akan tinggal diam lagi. Dia mengeluarkan suaranya yang mana membuat orangtuanya membeku, rasa kecewanya pada kedua orangtuanya tak bisa ia tahan lagi.


"Setelah menjualku, kenapa kalian juga mengusir Nisa?" Tanya Halimah.


"B-bagaimana kau tahu?" Tanya Lasmi tergagap seraya menatap bergantian semua orang yang tengah berkumpul disana.

__ADS_1


"Apa tidak cukup dengan kalian menjualku saja, kalian sudha menambah rasa hancur Nisa. Bukankah apa yang di perbuat oleh Nisa itu kesalahan dari kalian? Kalian terlalu sibuk memikirkan dunia kalian tanpa memperhatikan adikku yang butuh dukungan, dia sampai mencari sandaran pada orang lain yang berakibat dirinya sendiri di rusak. Apa kalian tahu mengapa aku memutuskan untuk kabur dari rumah? Saat aku di jodohkan dengan Damian, dia berusaha melecehkanku. Apa saat itu kalian mendengarkanku? Semua kebenaran yang aku ungkapkan kalian balas dengan makian hanya karena sebuah uang!! APA UANG LEBIH PENTING DARIPADA ANAKMU? JAWAB?!" Halimah benar-benar meluapkan emosinya pada Jana dan Lasmi. Meskipun ia tidak membenarkan apa yang sudah Nisa perbuat, tapi semua yang terjadi bukan sepenuhnya salah adiknya.


"Maafkan kami Imah, kami terpaksa mengusirnya karena desakan warga. Orangtua mana yang tidak malu saat mengetahui anaknya hamil diluar nikah, kami memang bersalah sebagai orangtua karena kelalaian kami sendiri." Ucap Jana. Dia menundukkan kepalanya, rasanya sangat malu menatap wajah putri sulungnya.


"Kenapa kalian berunah hanya karena uang, hikss.. Kenapa?" Tangis Halimah terdengar begitu pilu, suaranya sangat lirih namun masih bisa di dengar.


Adel yang ikut bergabung disana merangkul tubuh Halimah, dia mengusap punggung wanita berhijab itu sambil ikut menangis. Sesama wanita ia paham apa yang tengah di rasakan oleh Halimah, bahkan Albert pun ikut mengeratkan rahangnya.


"Biadab!" Satu kata yang meluncur dari mulut Albert, meskipun hanya satu kata namun ucapannya menusuk ke dalam hati orangtua Halimah.


Suara ponsel Rasya berdering menandakan ada panggilan masuk, disana tertera nama Difa selaku assisten pribadinya. Rasnya mengusap layar berwana hijau menjawab panggilan Difa.


[Ada apa Difa]


[.....]


[Apa?! Aku kesana sekarang.]


Tuut.


"Ada apa Sya?" Tanya Albert.


"Nisa masuk rumah sakit, dia berusaha bunuh diri lagi." Jawab Rasya.


Halimah langsung menatap kearah Rasya, dia segera bangkit dari duduknya.


"Ayo kak, kita ke rumah sakit sekarang." Ucap Halimah dengan air mata yang kian berderai.


"Ayo sayang." Sahut Rasya menarik tangan Halimah.


"Sayang, kamu sama Cindy di rumah saja. Aku akan ke rumah sakit sama mommy, jaga anak-anak ya." Ucap Albert pada Adel.


"Oke kakanda, hati-hati." Ucap Adel.


"Kalu kalian ingin ikut, ikutlah." Ucap Indah.


Albert berjalan mengikuti Rasya dan Halimah, tak lupa ia juga mengambil kunci mobil miliknya.

__ADS_1


__ADS_2