Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten

Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten
Zalea dan Nathan sadar


__ADS_3

Edgar membaringkan Zalea di tempat tidurnya, diusapnya mata sang istri yang terlihat sembab, ia merasa gagal menjadi suami untuk Zalea karena telah meninggalkannya hanya untuk urusan dunianya. Sekarang Edgar tahu bagaimana rasanya ditinggalkan oleh seorang ibu, rasanya berkali lipat dibandingkan saat ia diberitahu kalau ibunya sendiri sudah wafat dan di makamkan sejak usianya masih kecil.


"Jika aku berada di posisimu pastinya aku akan sangat terpukul, baru kali ini aku merasakan dadaku sesak seperti tertimpa bebatuan yang begitu besarnya, aku juga kehilangan seorang ibu. Namun, aku tidak tahu bagaimana badannya terbujur kaku, bahkan rupanya pun saat itu aku tak tahu. Ternyata sesakit ini Lea, aku juga menganggap mertuaku sebagai ibu kandungku sendiri, aku melihat proses pengobatannya, tanpa kau ketahui dia sudah lama ingin menyerah, tetapi aku terus mendorong semangat untuknya agar tetap bertahan demi kalian." ucap Edgar menatap Zalea sendu.


Ceklek.


Pintu kamar Zalea terbuka, dilihatnya Cindy dan juga Indah masuk ke dalam kamar. Mereka berdua berjalan mendekati ranjang dimana Zalea di baringkan, Edgar langsung mengusap air matanya dengan kasar takut dilihat oleh Indah maupun adik iparnya.


"Menangislah, mommy tahu kau juga sama-sama merasa kehilangan." ucap Indah memegang tangan Edgar.


"Aku kehilangan seorang ibu, dan ini untuk yang kedua kalinya. Aku memang tidak becus menjaga ibu, hikss." sesal Edgar.


Ari mata yang ia sembunyikan akhirnya tumpah juga dihadapan Indah, Edgar mengangis karena merasa gagal menjadi menantu yang baik untuk ibu mertuanya.


"Kau sudah berhasil, setidaknya kau bisa membuat Naraya lebih banyak waktu untuk Lea dan Nathan. Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri, kau harus lebih kuat lagi karena Lea dan Nathan membutuhkanmu." ucap Indah mengusap air mata Edgar.


"Kakak, mommy benar. Ibu Naraya pasti bangga dan merasakan tenang karena kedua anaknya berada ditangan yang benar, apa jadinya jika ia meninggalkan kedua anknya ditangan ayahnya, kau bisa membayangkan bagaimana hancurnya masa depan keduanya." tambah Cindy mengusap pundak kakak iparnya.


Zalea mulai menggerakkan tangannya, bola matanya mengerjap-erjap menyesuaikan cahaya lampu yang masuk kedalam matanya. Menyadari Zalea sudah sadar, Edgar langsung mengusap air mataya dengan cepat. Zalea mengubah posisinya menjadi duduk, dia mulai mengingat kejadian sebelum ia tak sadarkan diri, sedetik kemudian buliran air matanya kembali turun dengan begitu derasnya. Edgar langsung mendekap tubuh Zalea kedalam pelukannya, dia harus kuat dihadapan Zalea tanpa harus memperlihatkan air matanya.


"Tenanglah, ada aku disini." ucap Edgar lembut.


"Kenapa ibu tega ninggalin Lea, kenapa om? Kenapa!?" lirih Zalea.

__ADS_1


"Dengarkan aku. Ikhlaskan ibu pergi, setelah dia pergi ia tidak perlu merasakan sakit lagi, kau juga melihat bagaimana ibu bertahan hidup di tengah banyaknya obat-obatan, banyaknya suntikan dan rasa sakitnya kemoterapi. Apa kau akan tega nelihat ibu terus-terusan seperri itu? Dengan kau ikhlas, ibu akan tersenyum bahagia karean langkahnya menemui sang pencipta tidak tertahan." ucap Edgar.


"Sulit om, sangat berat untuk itu. Apakah aku bisa ikhlas? Kenapa harus ibu? Kenapa.. Huhuhu.." ucap Zalea melemah.


Edgar membelai surai Zalea, dia memberikan isyarat kepada Indah dan Cindy untuk meninggalkan mereka berdua. Indah dan juga Cindy paham akan isuarata Edgar, mereka berdua pun keluar dari dalam kamar Zalea memberikan ruang untuk keduanya.


.


.


Dikamar Nathan.


Adel masih setia menunggu Nathan sadarkan diri, dia membelai rambut Nathan dan jugs mengusap sisa air mata di wajah Edgar. Albert masuk kedalam kamar Nathan membawa si kembar yang merengek minta susu, Adel segera mengambil alih si kembar untuk di berikan asi, sedangkan Albert mengunci kamar Nathan agar tidak ada yang masuk dan melihat istrinya yang tengah menyusui si kembar di kiri dan kanannya.


Tak lama kemudian Nathan melenguh, si kembar yang sudah tertidur pun langsung di pindahkan oleh Albert di samping Nathan. Adel membantu Nathan untuk duduk, dia mengambilkan segelas air minum kepada Nathan, Nathan langsung menenggak air minum tersebut sampai habis setengahnya.


"Hiks, aku mau ketemu ibu." lirih Nathan.


"Aku akan membawamu menemui ibumu untuk yang terakhir kalinya, tapi sebelum itu. Maukah kau mendengarkan ucapanku? Supaya kau lebih tenang." ucap Adel lembut.


Nathan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, Adel mengusap pipi Nathan sebelum ia mengeluarkan suaranya.


"Seperti yang sudah kita ketahui, bahwasannya kini ibu Naraya sudah tiada. Ibu Naraya pernah memberikan pesan padaku, jika suatu saat ia sudah dipanggil oleh yang maha kuasa, dia tidak mau kalian bersedih. Nathan, ikhlaskan ibu ya? Aku tahu ini berat untuk kalian berdua, tetapi dengan kalian ikhlas semua itu akan memudahkan ibu Naraya menuju ke surganya sang pencipta. Kau juga tahu bagaimana menderitanya ibumu, kau juga tahu seperti apa sakit yang di derita ibumu, sejauh ini dia sudah bertahan untuk kalian sebagai anaknya. Sekarang dia sudah tenang, tidak merasakan sakit di tubuhnya bahkan tidak perlu meminum obat yang sebegitu banyaknya, dia juga tidak perlu merasakan sakit saat kemoterapi, dia juga tidak akan menerima kekerasan dari bapakmu lagi. Tugasmu hanyalah mendoakan ibumu, wujudkanlah apa yang ia impikan dan apa yang ia inginkan dari kalian sebagai anaknya, tidak perlu berlarut dalam kesedihan. Ingat, kami akan selalu ada untuk kalian baik suka maupun duka." jelas Adel.

__ADS_1


"Anggaplah kami sebagai kakak, anggaplah mommy Indah dan juga daddy Rio sebagai orangtuamu." tambah Albert.


Nathan menundukkan kepalanya sambil menangis, Adel dan Albert memeluk tubuh Nathan memberikan kekuatan pada anak lelaki yang kini tengah rapuh. Nathan menangis pilu dalam dekapan Adel dan Albert, sampai beberapa saat kemudian ia tenang dan tangisnya pun mulai mereda.


"A-aku in-ingin melihat i-bu, hiks." ucap Nathan terbata.


"Baiklah, aku akan membawamu keluar. Dinda, kau jaga si kembar takutnya mereka menangis." ucap Albert.


"Baik, kakanda." sahut Adel.


Albert mengajak Nathan keluar dari dalam kamarnya, begitu pintu terbuka terdengar lantunan suara orang-orang yang mengaji, mendoakan Naraya sebelum di kebumikan. Langkah Nathan terhenti dan mematung di tempatya, Albert meraih tangan Nathan dan memberikan isyarat padanya kalau semuanya baik-baik saja.


Di tengah ramainya orang-orang yang mendoakan ibunya, netra Nathan hanya tertuju pada kain yang digunakan untuk menutupi tubuh ibunya. Dia berusaha kuat karena tak mau membuat ibunya kecewa, sebagai anak lelaki dia tidak boleh lemah, begitulah pikirnya.


"Boleh aku membuka kainnya?" tanya Nathan dengan tatapan kosong.


"Boleh, tetapi kau harus kuat." jawab Albert.


Nathan berjalan mendekat kearah jenazah ibunya, dia duduk tepat di sebelah tubuh ibunya. Perlahan ia membuaka kain yang menutupi wajah sang ibu, wajahnya yang dingin dan pucat serta mata yang sudah tertutup. Nathan menc**m seluruh wajah ibunya untuk terakhir kalinya, dia tetap menahan tangisnya yang seakan ingin pecah saat itu juga.


'Ibu, maafkan Nathan yang tidak bisa menjaga ibu selama nafas ibu masih berhembus. Nathan janji, suatu saat Nathan akan menjadi seorang pria yang sukses seperti apa yang ibu harapkan, tenang dialam sana ibu, Nathan sayang ibu meskipun ibu telah tiada' batin Nathan.


Nathan kembali menutup kainnya, dia menengadahkan kedua tangannya mendoakan ibunya. Beruntung air matanya masih tetap ia pertahankan, Albert dan yang lainnya menatap salut pada ketegaran Nathan.

__ADS_1


__ADS_2