Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten

Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten
Makan lagi


__ADS_3

Malam hari.


Zalea kini tengah mengganti pakaiannya menggunakan kaos oversize berwana hitam di padukan dengan celana hotpants, selesai mengganti pakaian Zalea duduk di depan meja rias, dia menyisir rambut panjangnya. Edgar masuk ke dalam kamar dan dilihatnya istrinya tengah menyisir rambutnya, Zalea yang menyadari pintu terbuka membalikkan wajahnya melihat siapa yang datang.


"Darimana om?" tanya Zalea.


"Main catur, sama daddy." jawab Edgar.


"Ohh, yaudah sana mandi. Dari siang belum mandi, nanti bau lagi." titah Zalea.


"Gak mandi sekalipun gak akan buat badan aku bau, Lea boleh minta tolong gak?" ucap Edgar seraya meminta tolong.


"Minta tolong apa?" tanya Zalea.


"Buatin seblak, bisa gak? Kalau enggak bisa, mie instan yang ada kuahnya aja gapapa." ucap Edgar tiba-tiba.


"Loh bukannya om tadi udah makan ya? Perasaan tadi makannya banyak deh, kok tiba-tiba pengen seblak?" heran Zalea.


Entah mengapa, sejak menikah dengan Zalea Edgar lebih sering makan. Makanan buatan Zalea selalu pas di lidahnya, bahkan seringkali Edgar menunggu makan siang dari Zalea, kalaupun telat datang dia tetap menunggunya sampai makanannya datang tanpa memesan makanan dari luar.


"Kamu pikir main catur itu gak butuh konsentrasi? otak kalau di pake mikir tuh, lama-lama jadi nguras energi sampe akhirnya lapar deh, hihi." jawab Edgar cengengesan.


"Yaudah, aku buatin seblak aja ya. Oh iya, itupun kalau ada bahannya." ucap Zalea.


"Harusnya sih ada, soalnya Cindy suka bikin." ucap Edgar.


"Yaudah, mas bersih-bersih dulu. Aku turun ke bawah dulu buatin seblaknya, nanti kalau udah jadi aku panggil." ucap Zalea.


"Tadi panggil om, sekarang mas. Labil banget non?" ledek Edgar.


"Hehe, nanti biasain panggil mas." ucap Zalea cengengesan.


"Harus terbiasa, lebih bagus lagi kalau di panggil sayang. Kamu itu istri Edgar Giomani, apa kata orang-orang kalau tahu kamu masih manggil aku om? ya, emang sih kita tuh belum ada cinta, tetapi seenggaknya harus bersikap layaknya seorang suami istri pada umumnya di hadapan orang lain, meskipun itu keluarga kita sendiri." jelas Edgar.


Zalea terdiam mendengar ucapan Edgar, dia tidak tahu bagaimana perasaannya pada Edgar, entah cinta sudah mulai tumbuh di hatinya apa belum. Tapi, yang pastinya ia rasakan adalah nyaman di dekat Edgar, meskipun terkadang berdebar-debar.


"Oke mas, aku akan berusaha lebih baik lagi." ucap Zalea.


"Good girl, yaudah aku mau mandi dulu." ucap Edgar mengacungkan jempolnya.

__ADS_1


"Iya." jawab Zalea.


Edgar berlalu meninggalkan Zalea yang tengah menatap kepergianmu, ketika Edgar sudah masuk kedalam kamar mandi, Zalea mengganti celananya menggunakan celana panjang, setelah selesai dia keluar dari kamarnya, dia berjalan menuruni tangga menuju ke dapur. Mansion terlihat sepi karena hari sudah malam, sebagian orang mingkin sudah menjelajahi alam mimpinya.


"Cek bahannya dulu, habis itu bikin bumbunya." gumam Zalea.


Zalea membuka laci yang dan juga kulkas guna mencari bahan yang di butuhkan, ternyata Edgar benar kalau bahan seblak itu ada. Zalea mencuci beberapa potong daging ayam dan sayur hijau, dia juga mengupas bawang putih, setelah mengumpulkan semua bahan Zalea mencuci bumbu yang akan ia gunakan. Semua bumbu di uleg sampai halus, Zalea sengaja tidak menambahkan cabe rawit karena dia tahu kalau suaminya itu kurang cocok dengan makanan pedas. Zalea berkutat di dapur memasakkan seblak permintaan suaminya, aroma wanginya tercium harum membuat Cindy yang tengah berjalan kearah dapur pun mencari sumber aromanya.


"Wah, kakak ipar kau sedang membuat seblak?" tanya Cindy dengan wajah berbinar.


"Iya kak, tadi m-mas Edgar mau dibikinin seblak katanya." jawab Zalea.


"Kakak ipar, aku juga mau dong." ucap Cindy.


"Yaudah kak aku buatin, gapapa nunggu dulu? Soalnya aku bikinnya gak banyak, takutnya kak Cindy nanti kurang makannya." ucap Zalea.


"Aahhh, tapi aku pengennya sekarang." rengek Cindy mengusap perut besarnya.


Air liur Cindy hampir saja menetes, dia terus menelan ludahhya dengan kasar. Seblak yang kini tengah di masak oleh Zalea terlihat sangat menggiurkan, Zalea pun menjadi tak tega melihatnya.


"Yasudah, ini buat kak Cindy aja. Nanti aku buatin lagi buat mas Edgar, kak Cindy tunggu di meja makan aja kasihan nanti kakinya pegel." ucap Zalea.


Zalea mematikan kompornya terlebih dahulu, dia membantu Cindy untuk duduk di meja makan, usia kandungan Cindy sudah memasuki bulan ke sembilan tetapi belum ada tanda-tanda akan melahirkan. Zalea meringis melihat perut Cindy yang begitu besar, apalagi melihat cara jalannya yang yang terasa berat.


Satria keluar dari dalam kamarnya, dia mencari keberadaan istrinya yang pergi tanpa izin padanya. Saat tengah mengedarkan pandangannya, Satria menangkap sosok istrinya yang tangah duduk di meja makan sambil mengusap perutnya.


"Ayang " panggil Satria.


"Aku di meja makan ayang, sini." sahut Cindy.


Satria pun berjalan menghampiri Cindy dengan raut wajah yang tak bisa diartikan, dia duduk di samping istrinya yang teerus mengelus-ngelus perut buncitnya. Tak lama kemudian Zalea datang membawa semangkuk seblak dan diletakkannya diatas meja tepat dihadapan Cindy, dengan wajah yang berbinar Cindy langsung menarik seblak tersebut.


"Wahh, terimakasih kakak ipar." ucap Cindy senang.


"Sama-sama." jawab Zalea tersenyum.


"Kakak ipar yang membuatnya?" tanya Satria.


"Iya." jawab Zalea.

__ADS_1


"Maaf ya, jadi ngerepotin." ucap Satria.


"Enggak ngerepotin kok, harus maklum kan ibu hamil suka ngidam. Yasudah, aku kembali lagi ke dapur ya." ucap Zalea.


Satria mempersilahkan Zalea untuk kembali ke dapur, setelah memastikan Zalea sudah pergi, Satria menatap istrinya dengan tatapan kesal sekaligus khawatir.


"Jadi, kamu pergi gak bilang tuh mau seblak? Kenapa gak ngasih tahu dulu kalau mau keluar kamar, lihat sekarang perut kamu itu udah semakin besar, aku takut kamu dan bayi kita kenapa-napa." omel Satria.


"Maaf ayang, aku gak tega bangunin ayang. Tadinya pinggangku agak panas, jadinya aku mutusin buat jalan keluar sambil cari makanan, eh pas keluar cium wangi seblak taunya kakak ipar lagi masak seblak jadinya aku minta deh." jelas Cindy.


"Sepulas apapun tidur aku, kamu tetap harus bangunin atau aku tidak akan memaafkan diriku sendiri kalau terjadi sesuatu sama kalian, lain kali jangan di ulangi lagi!" tegas Satria.


"Iya papah, maafin kita ya." ucap Cindy menirukan suara anak kecil sambil mengusap perut buncitnya.


Satria tersenyum kecil kala Cindy menirukan suara anak kecil, jika sudah begitu tidak ada alasan lagi untuk dia marah pada istrinya. Satria mengambil alih mangkuk seblak dari tangan Cindy, dengan telaten dia menyuapi Cindy sambil mengobrol dan sesekali bercanda. Zalea melihat interaksi keduanya dari kejauhan, ada rasa iri dan juga senang melihat keromantisan Satria dan Cindy yang saling melengkapi satu sama lain.


Zalea kembali menyiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat seblak, dia menguleg bumbu sampai halus sampai akhirnya memasak semua bahan-bahannya menjadi satu. Saat tengah menunggu seblaknya matang, tiba-tiba ada tangan kekar yang melingkar di perutnya. Tubuh Zalea seketika menegang dibuatnya, dia mencoba membalikkan tubuhnya melihat siapa yang tengah memeluknya, tetapi dia kesulitan bergerak karena pelukannya begitu erat.


"Sudah, biarkan saja seperti ini." ucap Edgar.


"M-mas, jangan kayak gini. M-malu, nanti banyak yang liatin." ucap Zalea gugup di sertai wajahnya yang memerah.


"Bodo amat." ucap Edgar santai.


Edgar malah dengan sengaja menyandarkan kepalanya di pundak Zalea, hembusan nafasnya membuat Zalea berkeringat dingin. Bagaimana tidak, Edgar dengan jahilnya mengendus-endus leher Zalea.


"S-sepertinya seblaknya sudah m-matang." ucap Zalea gugup.


"Aku mau cobain dong." ucap Edgar.


Zalea pun mengambil sendok yang sudah ia siapkan untuk mencicipi seblak buatannya, dengan tangan yang sedikit gemetar Zalea menyendokkan seblak lalu meniupnya agar tidak terlalu panas saat akan di cicipi oleh suaminya. Edgar sejenak melepaskan pelukannya, dia membuka mulutnya menerima suapan dari Zalea. Setelah makanannya masuk kedalam mulutnya, Edgar menarik penggang Zalea merapat ke tubuhnya. Diluar prediksi Zalea, Edgar mengecup keningnya dengan begitu lembut.


"Seblaknya enak." puji Edgar.


"Hah? I-iya, aku akan menuangkannya ke d-dalam mangkuk, m-mas tunggulah di meja makan." ucap Zalea dengan wajah memerahnya.


"Oke, istriku." ucap Edgar tersenyum manis pada Zalea.


Blusshh..

__ADS_1


Wajah Zalea semakin bertambah merah dibuatnya, entah mengapa Edgar tiba-tiba bersikap padanya membuatnya meleleh.


'Om lu harus tanggung jawab! Jantung gue gak aman wooyyy, meleeyyyoott ini' batin Zalea.


__ADS_2