Gagal

Gagal
29


__ADS_3

Jennie sedang berjalan jalan ditaman. Selalu saja taman yang menjadi tempat healing terbaik Jennie. Jennie merasa taman itu banyak menyimpan memori kebahagiaan, oleh karena itu Jennie suka ketaman untuk mengukir momen kebahagiaan Jennie sendiri.


"Kak Jennie." panggil seorang anak kecil dengan nada melengking


Jennie sangat mengenali suara ini, Jennie menoleh kebelakang. Anak kecil yang memanggil Jennie, memeluk kaki Jennie, Jennie tinggi sedangkan anak kecil itu masih pendek.


"Sabrina, tumben kesini sama siapa?" tanya Jennie


Sabrina digendong Jennie, mumpung perut Jennie terlalu besar jadi masih aman untuk mengendong anak kecil seperti Sabrina. Sabrina menunjuk orang yang berpakaian seperti baby sister.


"Halo mbak." sapa Jennie


Baby sister itu tersenyum kemudian mendekat kearah Jennie, "saya tadi kaget kenapa non sabrina langsung lari, takut kejadian seperti yang kemarin kemarin." ungkap baby sister


Jennie menatap wajah Sabrina, "kamu jangan asal lari. kasian nanti mbaknya." nasehat Jennie untuk Sabrina


Sabrina menggeleng tidak mau, seusia Sabrina pasti sedang aktif aktifnya.


"Sabrina pasti selalu bermain ketaman ini yah?" tanya Jennie


Sabrina sibuk bermain dengan rambut Jennie. Jennie tersenyum entah kenapa sekarang kalo sama anak kecil jadi lebih suka, mungkin efek hamil.


"Sabrina suka dengan rambut kakak?" tanya Jennie


Sabrina mengangguk, "besok esok Sabrina mau ambut kayak kakak Jen." ucap Sabrina masih belum terlalu lancar.

__ADS_1


"Paman Liam bagaimana kabarnya?" tanya Jennie kepada Sabrina


Sabrina menaruh jarinya dipipinya, lucu sekali Jennie jadi gemas sendiri. Kalo bisa Jennie akan mengarungi Sabrina untuk dibawa pulang.


"Paman baik, tapi jarang pulang." ungkap Sabrina setelah itu Sabrina sedih mungkin kangen dengan Liam.


"Paman Liam pernah menelepon kakak? aku pernah mendengarnya." celutuk Sabrina


Diam bergerak mengetahui semuanya. Kalo pacaran Sabrina harus dikurung didalam kamar saja, takut mendengar percakapan yang kurang pas dengan usia Sabrina.


Jennie membawa Sabrina untuk duduk dikursi taman, baby sister Sabrina juga mengikuti Jennie.


"jadi selama ini Sabrina selalu mendengarkan telepon dari paman Liam?" tanya Jennie


Sabrina mengangguk, "aku belum pernah mendengar paman Liam menelepon orang selama ini, paman Liam selalu memandang langit ketika pulang kerumah."


"Pasti paman mu kesepian." ucap Jennie


"ketika aku mendekat kearah paman Liam, paman langsung tersenyum kak, sepertinya paman baik baik saja."


Jennie mengelus kepala Sabrina, "kehidupan saat memasuki fase dewasa itu menyulitkan dan tidak bisa dipandang hanya dengan mata saja. bisa jadi seseorang itu memendam masalahnya demi kelihatan baik baik saja."


"Jadi? Sabrina harus selalu kecil?"


Jennie tertawa, pantas anak kecil suka dibilang masih polos, "jangan kecil terus nanti gak bisa merasakan cinta." canda Jennie

__ADS_1


"Cinta itu apa kak?" tanya Sabrina sambil memajukan tubuhnya kearah Jennie


"Cinta itu perasaan tertarik sama seseorang yang bisa bikin kita bahagia juga sakit." jawab Jennie


"Bahagia? seperti paman dan kakak? jadi paman sama kakak saling cinta?" Sabrina menanyakan itu dengan nada antusias.


'Andai kisah cintaku berakhir dengan Liam, pasti sangat bahagia, tapi ternyata takdir tak seindah itu' batin Jennie


Jennie mengangguk, "mungkin paman Liam sedang difase mencintai seseorang. tapi bukan kakak."


Sabrina langsung menunduk sedih, apakah impiannya untuk bisa bermain dengan Liam dan Jennie akan berakhir sampai disini?


"Kakak bisa beri cinta untuk paman?" harap Sabrina


Jennie hening seketika, kalo Jennie belum mengenal Mark dan karena kejadian itu bisa jadi Jennie akan memberikan ruang hati untuk Liam. Tapi semua sudah terlambat.


"Sabrina. cinta tak semudah itu." ungkap Jennie


Nyatanya memberikan hati kepada seseorang kadang bahagia dan menyakitkan. Apapun yang berhubungan dengan hati itu sangat susah.


Jangan lupa follow


IG:griliyy


*******: Amalia alfa

__ADS_1


GWP :Deaamalia


Fizzo: Alfaedaas


__ADS_2