Gagal

Gagal
62


__ADS_3

Dokter mulai membuka kaos jennie, untung jennie hanya memakai kaos oblong seperti remaja. Dokter mulai dengan mengolesi permukaan perut Jennie dengan gel, jennie tidak tau fungsi gel itu untuk apa.


“rileks saja yah dek jennie, kita sebentar lagi bakal ketemu anak kamu.” ucap dokter


Jennie menatap layar usg, warna hitam putih tapi jennie merasa melihat dengan jelas anaknya, seketika jennie ingin sekali menangis tapi jennie tahan.


“Wah adeknya sehat.” ungkap dokter itu, jennie tersenyum menangapi.


“Ngomong ngomong panggilan calon bayi kamu apa jen?” tanya dokter itu penasaran.


‘panggilan bayi? nama bayi setelah lahir atau bagaimana?’ batin jennie bertanya tanya.


“Kamu pasti bingung bukan? kukira kamu sudah menyiapkannya jen, banyak sepasang suami istri yang menamai calon bayi mereka walaupun masih didalam perut, contohnya cipung sama baby a atau lainnya.”


Jennie tersenyum, memikirkan nama? memikirkan masa depan jennie dengan mark saja masih rumit kenapa harus memikirkan nama. “Saya dan suami saya belum memikirkan itu dok.” bohong jennie.


“Ajak suami kamu berdiskusi jen karena yang terpenting dalam rumah tangga itu adalah komunikasi,”


“ouh yah kamu udah berapa tahun menikah?” lanjut dokter bertanya.


Jennie harus menjawab atau diam saja? jennie bahkan belum menikah dengan mark bagaimana cara jawab pertanyaan dari dokter karin?


“coba tebak dok.” jawab Jennie enggan membuat kebohongan versi selanjutnya.


“Kayaknya nikah baru baru ini yah?” tebak dokter karin.


“bisa jadi.”


“entahlah jen aku tidak bisa menebaknya.” dokter karin menyerah.


Jennie berjalan disepajang koridor rumah sakit, jennie merasa lega bahwa bayi dalam kandungannya sehat artinya jennie sudah menjaga dengan baik walaupun terpaksa menerimanya. Ada anak kecil dari arah belakang yang menubruk tubuh jennie dan langsung memeluk kaki jennie, jennie menoleh kebelakang dan menundukan wajahnya.


“Sabrina kamu sama siapa disini?” tanya jennie kepada anak perempuan manis didepannya.


“sama saya mbak jen.” jawab pengasuh Sabrina.


“Kirain dia sendirian disini.” jennie mengelus surai sabrina, dan melebarkan kedua tangannya mengisyaratkan agar sabrina memeluk tubuh jennie, tentu saja Sabrina langsung menubruk tubuh jennie dan memeluk jennie erat sekali.


“Kamu kangen kakak jen jen?”


“tentu kak jen.” wah sabrina sekarang sudah lumayan pintar bicara.


“Kamu kesini mau apa?” jennie bingung karena bertemu sabrina dirumah sakit.

__ADS_1


“Mau mengecek kesehatan sabrina mbak.”


“emang sabrrina sakit?” jennie memperhatikan wajah sabrina, menurut jennie sabrina tidak pucat.


“tidak, tapi memang setiap dua bulan sekali sabrina periksa jaga jaga.” jawab suster pengasuh sabrina.


Tersenyum lantas jennie mengecup pipi gembul sabrina, “sabrina gak takut dokter yah? sabrina udah makan siang belum? kita makan siang bareng aja gimana? bolehkan sus?” tanya jennie memastikan.


“Boleh aja asal jangan makanan cepat saji mbak.”


“Bentar kakak jen jen sedang mikir kali ini mau makan apa.” jennie menyetuh dagunya berpura pura berpikir didepan sabrina yang lucu.


“disekitar sini ada restoran steak, gimana kalau kita kesana?” jennie langsung mendapatkan anggukan dari sabrina.


“sus.” jennie memanggil suster pengasuh sabrina.


“iya ada apa mbak?”


“suster makan steak gak?” tanya jennie takutnya suster tidak makan steak kan kasian nanti kalau cuman lihat jennie dan sabrina makan.


“saya mah pernah makan begituan mbak tapi saya gak terlalu suka.” sebenarnya suster sangat suka dengan jennie kalau dilihat lihat sangat cocok dengan tuannya yaitu Liam. Tapi suster gak mau berharap lebih takut kalau jennie sudah punya pasangan.


“jadi suster gak apa apa makan steak?” suster pengasuh mengangguk.


Jennie dan dua orang sudah sampai dimeja restoran steak yang lumayan terkenal. Jennie memanggil pelayan.


Jennie menatap sabrina, “mau makan apa cantik?”


“Aku mau kayak kakak jen jen.” jawab sabrina.


“Kalau suster mau apa? kalau gak suka steak, gimana kalau suster makan nasi goreng aja?” tawar jennie.


“boleh mbak.”


“Steak dua sama nasi goreng dua es krim dua es tehnya dua.” ungkap jennie. Pelayan itu menganggukan kepalanya dan berlalu pergi.


Tidak lama datanglah pelayan yang membawa pesanan jennie, “steak dua nasi goreng dua es krim dua es tehnya dua, selamat menikmati.”


Jennie dan dua orang didepannya sudah menyantap makanan yang tersaji, memang ternyata restoran ini memiliki makanan yang lezat patut sekali ramai.


“Makanannya enak gak?” tanya jennie kepada suster dan sabrina.


“enak.” jawab sabrina.

__ADS_1


“enak mbak pantes ramai.” jawab suster.


“Lain kali mampir dicafe kakak jen jen kerjanya.” ucap Jennie kepada sabrina.


“Kakak jen jen kerja dicafe?” tanya balik sabrina.


“Iya, kamu maukan mampir?”


“Tentu Sabrina dengan senang hati akan mampir.”


“Wah! kakak jen jen jadi senang deh kalau sabrina beneran kesana.”


Jennie baru saja menyelesaikan kegiatan makannya, ponsel jennie berdering, ternyata panggilan dari oma Rose.


‘apa oma rose mau ngomong tentang pemeriksaan?’ batin Jennie bertanya.


Daripada menerka nerka Jennie mending langsung mengangkat telepon, “sus aku kedepan dulu yah mau angkat telepon.” ungkap Jennie.


“Silakan mbak.” jawab suster.


Jennie mengulas senyum dan pergi, sudah sampai didepan cafe jennie mengangkat telepon dari oma Rose.


“Halo oma ada apa?”


“Kamu bisa kerumah? oma mau berbicara tentang persiapan pernikahan kamu.” ungkap oma rose ditelepon.


“Baik oma, tapi sepertinya jennie bakal molor oma, karena jennie sedang keluar.”


“Gak apa apa, oma tunggu kedatangan mu.” teleponpun dimatikan oleh oma rose, jennie menghela nafas, mungkin hari ini jennie juga akan libur bekerja dicafe.


Jennie menghubungi salah satu kenalannya dicafe itu dan mengungkapkan bahwa jennie meminta libur satu hari, jennie merasa kurang enak meminta libur padahal jennie masih termasuk anak baru, tapi kalau jennie tidak datang jennie takut jika oma rose akan marah. Jennie dilanda dilema saat ini, untungnya rekan kerjanya bilang bahwa pemilik cafe mengijinkan jennie libur, seketika jennie langsung mengelus dada lega rasanya.


Jennie masuk kedalam cafe untuk berpamitan dengan Sabrina, jennie langsung duduk ditempat duduk dan mengambil tasnya, “Sabrina maafin kakak jen jen yah, kakak jen jen mau pamit pulang, bolehkan?”


Sabrina menatap manik mata jennie dengan mata berkaca kaca, Sabrina sedih ditinggal jennie padahal baru bertemu kenapa langsung ditinggal, ibaratnya ditinggal pas sayang sayangnya uhh menyakitkan.


“Kenapa kakak jen jen buru buru tadikan baru ketemu Sabrina.” Sabrina berusaha mengungkapkan isi hatinya yang kecewa.


“Maafin kakak jen jen yah, hari ini kan bukan hari libur kakak jen jen harus kerja karena tadi dipanggil bos kakak buat cepat cepat kembali kekantor.” jennie berbohong kepada Sabrina agar sabrina percaya dan tidak bertanya


kembali.


“Katanya kakak jen jen kerja dicafe kok sekarang dikantor.” Sabrina ternyata cukup pintar untuk dibohongi.

__ADS_1


Jennie memandang suster berusaha mendapatkan pertolongan dari sang suster yang pasti sudah tau cara menenangkan sabrina bukan?.


“Tuan putri, Kakak jen jen kan manajer pastinya punya kantor sendiri dicafe, jadi kakak jen jen manggilnya kantor bukan cafe.”


__ADS_2