
"Bukankah semua itu terjadi karena kesalahanmu Mark? Kenapa kamu tidak rela?" Mark kembali terbungkam karena ucapan sang oma.
"Entahlah oma."
"Kamu terlalu membanggakan wanita lain disaat ada Jennie disampingmu Mark."
"Maafkan aku oma tapi memang dalam hati Mark saat ini tidak menerima kehadiran Jennie." Mark mencoba jujur walaupun pasti membuat hati sang oma sakit.
"Aku tau kau tak mudah mencintai seseorang Mark, tapi cobalah buka hatimu untuk perempuan lain."
"Tapi aku berpacaran dengan JJ oma, sangat sulit untuk membuka hati kalau JJ tau pasti menuduhku selingkuh." Ungkap Mark.
"Apa kamu yakin hubungan kamu dengan JJ itu dilandasi cinta?"
"Iya dong oma, jangan meragukan cinta aku kepada JJ." Ucap Mark.
"Baiklah terserah kamu saja, yang penting oma mau kamu besok harus membeli cincin pernikahan, oma tekankan harus besok, salah satu suruhan oma akan memantau kalian berdua, hubungilah Jennie." Oma Rose memutuskan hubungan telepon.
Mark menghela nafas lelah, kalo sudah seperti ini maka perintah omanya harus segera Mark laksanakan, kalau tidak pasti omanya akan terus meneror Mark tidak berhenti. Apa perintah oma Rose yang menyuruh untuk membagi hatinya untuk Jennie dan JJ, juga harus Mark patuhi.
"Aku merasa kurang adil jika membagi cintaku untuk dua wanita." Gumam Mark sambil mengusap rambutnya, rambut Mark jadi semakin berantakan, mungkin sekarang Mark terlihat seperti orang stres. Mark mencoba untuk melupakan perintah oma Rose itu. Tapi tetap saja Mark masih memikirkan perintah Oma Rose untuk segera membeli cincin pernikahan, Mark menggapai ponselnya dan mulai mencari kontak Jennie, Mark menekan tombol menelepon. Baru 2 detik Mark menekan tombol, Jennie sudah menyapa Mark.
"Halo, ada apa Mark?" Tanya Jennie karena merasa beda, biasanya Mark tidak akan menelepon Jennie.
__ADS_1
Mark terdiam sebentar, "ehem aku ingin besok kita membeli cincin pernikahan." Seru Mark.
Jennie tersenyum mendengar itu, apakah Mark telah menerima untuk menikah dengan Jennie. "Baiklah, aku perlu menjemput mu diagensi?"
"Tidak usah aku akan membawa mobil sendiri, dan aku akan menjemput mu diapartemen mu, kirim alamat apartemen mu!" Perintah Mark singkat padat dan jelas. Andai Mark banyak berbicara dan menaruh perhatian lebih untuk Jennie pasti Jennie semakin yakin dengan pernikahan yang akan diselenggarakan nantinya.
"Baiklah." Jawab Jennie setelah itu Mark memutuskan sambungan telepon.
Jennie yang baru menerima telepon dari Mark berdecak lidah, kapan sih Mark bisa bersikap menghargai keberadaan Jennie?. Jennie menatap layar telepon disana tertera nama Mark.
"Walaupun kamu masih dingin kepada ku tapi entah kenapa aku merindukan suaramu Mark, ayah dari anak anak ku." Gumam Jennie sambil tersenyum.
Mungkin janin yang ada didalam perut Jennie sangat merindukan papanya. Jennie mengusap perutnya yang semakin tampak membesar, "cepatlah keluar nak, sepertinya saat kamu ada didunia papa kamu luluh." Jennie berakata dengan nada lembut supaya janin yang ada didalam perutnya mendengarkan, walaupun Jennie tidak terlalu yakin jika calon anaknya benar benar mendengarkan perkataannya.
"Kamu jangan berpikiran buruk seperti mama yah nak, kamu harus jadi anak yang baik dan selalu nurut sama kedua orang tua." Jennie kembali mengelus perutnya.
Ada seorang perempuan sedang duduk dimeja makan didalam apartemen. "Bagimana dengan hubunganmu dengan pria itu?" Tanya sang pria.
Sang wanita tersenyum penuh hati, "dia tidak akan meninggalkan aku."
"Kamu yakin?"
"Hubunganku dengan dia sangat baik malah semakin lama dia semakin menunjukan rasa cintanya kepada ku."
__ADS_1
Sang pria tertawa mendengar penuturan dari sang wanita, "jangan terlalu percaya, banyak pria yang mempunyai wanita simpanan." Pria itu berusaha membuat hati wanita yang sedang didepannya ini goyah.
"Kamu jangan membuat aku overthinkhing."
Pria itu tersenyum kemudian membelai pipi sang wanita. Pria itu akan terus membuat pertahanan sang wanita memilih untuk memutuskan hubungan dengan laki laki selain pria itu.
'Tenang saja hubunganmu dengan pria lain akan berakhir tidak lama lagi' Batin pria itu.
Jennie menatap sekelilingnya, janjiannya sudah satu jam yang lalu tapi kenapa Mark belum datang menjemputnya, apakah Mark kembali membatalkan janjian karena JJ?. Jennie jadi semakin geram, siapa sih yang mau jadi calon istri Mark.
"Kemana sih ini, laki laki gak bisa menempati janji." Geram Jennie.
Hari semakin panas tapi Mark belum kelihatan batang hidungnya. Jennie memilih untuk duduk dipinggiran tembok, Jennie kelihatan seperti pengemis.
Sebuah mobil bmw berhenti didepan tubuh Jennie, Jennie mendongak dan ingin melihat siapa yang turun dari mobil bmw itu. Ternyata calon suami Jennie yang gantengnya melebihi June Ikon.
'Untung ganteng jadi gak aku tinggal' Batin Jennie.
Mark mendekat kearah Jennie, "kamu udah lama nunggu?" Tanya Mark.
Jennie ingin menjawab dengan jujur tapi hatinya sepertinya menolak, "enggak kok aku baru aja nyampai." Dasar padahal baru bertemu beberapa bulan tapi Jennie sudah bucin. Emang sih kalo lagi mabuk cinta jadi harus berbohong sedikit. Hubungan tanpa kebohongan pasti gampang selesai.
Memang yah kalo laki laki itu gak cukup dengan satu wanita, gemes sendiri deh. Bisa gak sih satu wanita aja? Kalo gak bisa adil yah satu aja. Nanti kena karma loh :)
__ADS_1