
Jennie sudah bisa menghidangkan satu makanan.
“Wah bujen hebat juga, baru beberapa kali saya ajarin ehh langsung bisa.” chef memberikan aplouse untuk Jennie.
Jennie tersenyum menanggapi. “Terimakasih chef.”
“Saya bisa kan karena Chef juga yang dengan baik hatinya membantu saya.” lanjut Jennie.
Chef yang sudah mengajari Jennie tersenyum, “bisa aja bujen.”
Setelah menyajikan makanan untuk konsumen, Jennie berpindah membantu teman kerja lainnya, “aku bantu cuci piring yah?” tawar Jennie.
Salah satu pelayan yang sedang mencuci menggeleng, “jangan bujen. Bujen gak pantes kalau masalah cuci piring. Bujen kan manajer.”
“Kenapa memangnya? seorang manaje enggak boleh ikut nimbrung cuci piring?”
Lagi lagi yang didapat Jennie adalah gelengan. “Saya takut nanti dimarahin pak Sam bujen.”
Jennie menggeleng, “gak bakalan dimarahin kok, kan ini inisiatif saya sendiri.”
“Tetap aja bujen pasti pak Sam gak bakalan percaya sama kita kita.” ungkap Pelayan cuci piring itu.
Sam membuka pintu dapur, mata semua pelayan menuju kearah Sam.
“Selamat sore pak.” sapa semua pelayan termasuk dengan Jennie.
__ADS_1
Sam membalas dengan senyuman.
“Aku dari tadi mencari mu Jen.” ungkap Samuel.
Jennie mengeryitkan dahi, “kamu beneran cari aku Sam?” Jennie memang sudah sepakat untuk tidak terlalu formal dengan Samuel.
Samuel mengangguk, “aku dari tadi mencarimu, kukira kamu diruangan manajer ternyata kamu disini.”
“Maaf, kalau kamu mencari ku kenapa tidak langsung menelepon ku saja? kenapa harus rela mencariku sampai diruang ini?” tanya Jennie.
‘Yah karena aku tuh mau ketemu kamu Jen. Bukan cuman mendengar suara mu saja.’ Samuel hanya bisa mengungkapkan didalam hati.
“Baterai handphone aku low bat.” Samuel membuat buat alasan yang terdengar logis.
“Ouhh. Ada perlu apa kamu menemui aku?” Jennie bertanya.
“Sore ini?, kenapa tidak ngomong dari tadi siang.” Jennie jadi merasa bimbang.
“Karena memang dadakan Jen, kamu bisa atau tidak?”
“Pulangnya jam berapa?” Jennie bertanya untuk memastikan waktu sampai dirumah. Biar Gabriel tidak terlalu khawatir.
“Kita sampai disana sekitar satu jam saja, kurang lebih tiga jam untuk bolak balik.” Samuel menjawab.
Jennie tampak terdiam karena sedang berpikir, kalau menolak takut Samuel marah apalagi ini menyangkut kerjaan, tapi kalau mengiyakan Jennie takut nanti pulang kemaleman. Sekarang Jennie sudah jadi istri orang, kalau pulang malam takut dianggap negative dikalangan keluarga Mark.
__ADS_1
“Bagaimana Jennie?” Samuel masih berusaha untuk bertanya kepada Jennie.
“Kalau aku menolak gimana Sam?” Samuel yang mendengar kata kata ini langsung berubah lesu.
Samuel tetap tersenyum, walaupun dalam hati merasa kecewa. “Tidak apa apa sih.” jawab Samuel.
‘Kenapa ekspresi Samuel seperti itu? aku jadi tidak enak menolak.’ batin Jennie.
“Gak jadi deh Sam, aku mau ikut sekalian mau refreshing otak.” Jennie jadi berpindah haluan deh yang tadinya mau menolak tapi melihat wajah kecewa Samuel, bikin Jennie merasa tidak enak.
Samuel langsung memasang wajah senang, “beneran?” Samuel memastikan.
Jennie mengangguk sebagai jawaban.
“Baiklah aku akan bersiap siap dulu.” Jennie keluar dari ruang dapur.
Melihat Jennie yang sudah keluar, Samuel langsung tersenyum senang bahkan hampir mau loncat loncat. Setelah sadar Samuel langsung meninggalkan tempat dapur.
Pelayan yang melihat aksi rayuan Samuel kini bersatu membentuk barisan ghibah. “Waow aku baru pertama lihat loh pak Sam gitu, padahal sama manajer yang dulu gak pernah tuh ngajak pergi walaupun tentang kerjaan.” ucap salah satu pelayan.
“Pasti Pak Sam falling in love with bu jen bener gak sih? dilihat dari tatapannya aja udah beda kalau ngelihatin bu jen.”
“Tapi kasian pak Sam, kayaknya bu jen belum peka tuh.” celutuk seseorang.
\~\~\~\~
__ADS_1
Perhatian para readers!
Kayaknya author upnya bakal lama banget, maklum lagi dimasa sibuk sibuknya apalagi sekarang sekolah udah gak daring lagi. Doain Author yah semoga bisa meraih cita cita Auhtor.