
Jennie
merentangkan tangannya, karena perkataan Gabriel saat makan malam, Jennie jadi
memikirkan dan tak bisa tidur. Pukul 1 dini hari Jennie merasa tubuhnya sangat
lelah dan kemudian tertidur. Jennie bangkit dari kasur dan melihat jam wekkers
disamping ranjang. Jam wekkers itu menunjukan pukul 08.00. Mata Jennie membola,
Jennie sudah terlambat untuk berangkat. Waktu hanya setengah jam, Jennie kurang
yakin sampai dikantor. Sebisa mungkin Jennie mandi dengan cepat, Jennie juga
tidak sempat sarapan. Jennie berlari dengan langkah tetap hati hati, Jennie
membuka pintu kamar Gabriel. Gabriel tidak ada dikamar artinya adiknya itu
sudah pergi keagensi.
“Kenapa dia tidak membangungkan aku?” Jennie menggerutu sendiri.
Jennie menghentak hentakan kakinya kesal, adiknya itu meninggalkan Jennie tanpa membangunkan terlebih dahulu. Gara gara Gabriel, Jennie terlambat.
“Wah nyonya Jennie baru masuk buk?” Shura langsung memberikan tanda hormat. Jennie menatap tajam kearah Shura, “diem deh. gak mood pagi pagi ribut sama kamu.”
“Biasanya juga pagi pagi udah ribut.” cibir Shura untuk Jennie. imut imut kalo ngomong suka pedes.
“Mau aku restuin jadi pacar Gabriel?” Shura mengangguk otomatis.
“Yaudah kamu diem.” setelah mengatakan ini, Jennie melangkah meninggalkan Shura. Tentu setelah mendengar penuturan Jennie, Shura kesal karena Jennie yang tiba tiba berubah mood.
Jennie duduk dikursi kerjanya, Shura mengetuk pintu.
“Bu Jennie saya mau mengantarkan berkas berkas.” ucap Shura.
Jennie menatap kearah pintu, “masuk.”
Shura masuk bak model, Shura memberikan tumpukan kertas kepada Jennie. “Berkas berkas
keuangan hotel dan berbagainya.”
“Kalo kamu cek ada perkembangan dari kunjungan hotel?” Jennie bertanya kepada Shura seperti
pemilih hotel.
__ADS_1
“Bagian pemasaran sedang gencar gencarnya promosi. kunjungan hotel meningkat satu
persen dari bulan lalu.” ungkap Shura.
Jennie tersenyum kemudian bertepuk tangan, “terimakasih Shura karena jawaban kamu itu
aku tidak akan susah susah untuk membaca ulang dokumen dokumen didepan ku ini.”
ungkap Jennie.
Shura membesengut, “demi kebahagian kamu serta restu kamu untuk aku dan Gabriel aku
rela ngelakuin ini.”
“Aku tetap tidak akan menerima mu.”
“Jahat sekali. aku tidak akan membantumu lagi kalau begitu.” Shura berusaha membalas dendam.
Jennie langsung meraih tangan Shura yang ada disamping tubuhnya, “jangan begitu dong.
kitakan teman.” Jennie berusaha membujuk Shura.
“Teman teman. kamu aja gak pernah ngasih restu kok.”
Jennie memejamkan mata, sepertinya membalas ucapan Shura akan membuat darah Jennie
Mata Shura berbinar, “tenang aja aku bakal bikin Gabriel klepek klepek sama aku.”
“Kamu mau pelet Riel. biar dia klepek kelepek dan gak bisa menjauh dari kamu?” Jennie menaruh curiga. Jennie tau Shura pasti akan melakukan apa saja untuk pujaan hatinya, Shura itu perempuan paling bucin.
"Bisa jadi.” sahut Shura tanpa merasa bersalah.
“Bersekutu sama setan itu dosa lohh.” Jennie berniat menakut nakuti Shura.
“Gak apa apa sifat aku kan udah mirip setan.” Jennie kaget. Memang kalo berbicara kepada
Shura itu harus waras dan sabar. Shura bisa mengiring opini dan menjebak serta
pemikirannya yang sangat tidak bisa dibayangkan juga akan keluar dari mulut
Shura.
“Aku mau pergi. nanti kalo ada yang nitip berkas titip kamu dulu.”
“Mau kemana emangnya?”
__ADS_1
“Mau cari uang dong. aku harus bayar kerugian hotel.” ungkap Jennie.
“Kenapa harus kamu?,” “kamu udah nawarin kerja sama dengan resto untuk membayar kerugian
ditanggung bersama?” lanjut Shura.
“Sudah Shura tapi tetap hasilnya nihil. bikin capek aja kalo kesana pasti diusir.”
“Kalo aku jadi kamu pasti aku akan tuntut mereka. lagian kesalahan mereka bukan? kenapa hotel
ini yang harus membayar denda.” kesal Shura.
“Entahlah. kalaupun menuntut mereka aku tidak punya uang untuk menyewa pengacara.” ungkap
Jennie.
“Padahal kamu seorang manajer kenapa bisa gak punya uang?” Shura kebingungan.
“Aku menggunakan uangku untuk makan. beli bensin bayar bulanan apartemen. dan juga
pajak pajak. sisanya aku tabung. dan uang tabungan ku gak cukup untuk membayar utang kepada agensi itu.” diam diam Jennie merasa sedih pada dirinya sendiri, begitu malang nasib Jennie.
“Aku akan meminjamkan kamu uang. biar kamu ringan dikit.”
Jennie menatap Shura, Jennie menggeleng tidak setuju. “Jangan aku sudah terlalu banyak
tungaan. takut nanti kalo kamu nagih aku gak punya uang.”
“Aku itu temen kamu yang seperti saudarakan? kenapa kamu merasa begitu?,”
“Aku bantu kamu dengan segenap jiwa dan hati kok.” lanjut Shura.
“Tetap saja aku merasa tidak enak.” Jennie masih
menolak tawaran Shura.
Shura menghembuskan nafas pelan. Jennie memang tipikal yang tidak mau merepotkan
orang lain, Shura tau itu percuma juga menawarkan bantuan kepada Jennie.
“Jadi nanti kamu mau kerja apa?”
“Entah.” jawab Jennie.
“Yaudah sebahagia kamu aja deh aku tetep bakal dukung kamu kok.”
__ADS_1
Terimakasih banyak untuk pembaca Idol on my heart :) Author akan berusaha tetep rajin up kok.