Gagal

Gagal
71


__ADS_3

Jennie langsung melepaskan gaun cantik yang dipakainya. Setelah melepas gaunnya, Jennie langsung merebahkan tubuh kedalam bathup yang dialiri air hangat, wah tubuh Jennie langsung menjadi segar. Tubuh Jennie memang sedang rileks tapi pikiran Jennie berkelana, baru beberapa jam mengingkat janji pernikahan tapi sikap Mark sudah tidak menyenangkan hati Jennie.


‘Bagaimana kedepannya yah?’ batin Jennie.


Jennie menginginkan kehidupan bahagia dengan anaknya, apakah akan dikabulkan oleh Tuhan?.


Jennie semakin menengelamkan kepalanya kedalam air dibathup. Semoga saja overthinkingnya sampai sini.


Belum satu jam berendam, pintu kamar mandi digedor gedor, Jennie kaget dan langsung mengangkat mukanya dari air.


“Kenapa kamu lama sekali dikamar mandi!” sentak orang dari luar.


"kamu lama sekali dikamar mandi!” sentak orang dari luar.


Jennie memejamkan matanya sebentar, ternyata yang mengedor pintu ternyata suaminya sendiri.


“Aku akan keluar sebentar lagi.” jawab Jennie dari dalam kamar mandi.


“Cepat lah aku harus mandi.” ungkap Mark.


“Iya, sebentar.”


Jennie memoyongkan bibirnya, ‘bisa gak sih dia sabar sedikit?’ batin Jennie kesal kepada Mark.


Jennie hendak keluar kamar mandi, pas buka pintu Jennie kaget karena Mark setia menunggu didepan kamar mandi, kalau saja pernikahan Mark dengan Jennie benar benar pasti kelihatannya mark sedang merindukan Jennie, tapi realita tidak seindah ekspetasi, jangan terlalu berharap nanti dijatuhkan sakit J.


“Lama sekali.” gerutu mark.


Jennie menatap Mark yang sudah menutup pintu kamar mandi. Jennie membuka kopernya dan memasukan baju kotor, Jennie merebahkan tubuhnya disofa.


“Padahal dia tadi yang nyuruh aku buat duluan. tapi malah sekarang marah marah gak jelas, dasar cowok.” kesal Jennie.


Dari pada marah marah tidak jelas mendingan Jennie main handphone. Mark keluar tidak lama, laki laki memang kebanyakan cepat ketika mandi.


Mark melemparkan handuk begitu saja diatas kasur, wah sikapnya ini persis banget sama Gabriel, mengingat Gabriel Jennie jadi rindu adiknya itu.

__ADS_1


“Kau tak menyimpan handuk itu ditempat seharusnya?” tanya Jennie.


Walaupun pernikahan mereka bukan kemauan mereka berdua namun sebisa Jennie akan menjadi sesosok istri yang baik untuk Mark.


Mark menatap jennie tidak suka, “aku memang dari dulu seperti ini, kamu jangan ngurusin hidup aku.” lagi lagi Mark ketus kepada Jennie.


Jennie menghela nafas susah, kenapa hubungan mereka berdua tidak bisa lebih dekat sih? apa harus dikasih lem dulu biar nempel terus?.


“Kamu harus mulai terbiasa dengan tingkah laku aku.” ucap Mark tanpa melihat kearah Jennie. Setelah mengatakan itu Mark mulai melangkah dan hendak keluar dari kamar pengantin.


“Kamu mau kemana Mark?” Jennie bertanya.


Mark menutup matanya berusaha memendam emosi karena sedari tadi terus dicecar pertanyaan dari istrinya itu. “Bisa gak sih gak usah banyak tanya!” Mark sedikit meninggikan suaranya.


“Maaf.” karena dibentak Jennie menunduk takut.


“Kamu itu cuman istri dikertas, gak usah banyak tanya.” Mark masih saja emosi.


“Baik.” Jennie menjawab dengan lirih takut dibentak oleh mark.


“Aku mau keluar, kalau oma tanya aku dimana gak usah dijawab.” Mark membuka pintu dan keluar dari kamar pengantin.


Mark menuruni tangan, tangannya sudah merogoh saku dicelana mengelurkan ponselnya. Mark akan menelepon seseorang. Panggilan pertama tidak diangkat, Mark terus berusaha.


“Halo.” akhirnya sipenerima telpon mengangkat.


“Ada apa?” lanjut sipenerima bertanya.


“Manajer masih dimansion?” ternyata yang ditelpon Mark adalah sang manajer tercinta.


Diam sebentar. “Iya, aku masih dimansion. ada apa?”


“Aku mau kembali ke apartemen manajer.” jawab Mark.


“Hah! yakin kau mau kembali?”

__ADS_1


“Iya, kenapa?” mark balik bertanya.


“Kau gak mau belah duren dulu gitu?” Manajer yoo tertawa diakhir kalimat.


“Belah duren? buat apa kan sekarang bukan musimnya.” Mark tidak tau istilah belah duren sebenarnya.


“Kamu tidak gaul sekali.”


“Astaga kenapa harus membahas durian, aku ingin segera keluar dari rumah ini.” ucap Mark berusaha membujuk manajer agar menuruti kemauan Mark.


“Nanti aku dimarahin oma, kamu tahu oam itu lebih menakutkan dari pada Ceo agensi kita.” ungkap manajer yoo.


“Aku gak ngurus, cepat kamu dimana akan aku temui.”


“Mark, kamu beneran serius mau pulang ke apartemen?” Manajer bertanya lagi.


“Iya manajer.” Mark sudah sampai dilantai satu, mata mark berkeliaran dan akhirnya mark menemukan sang manajer yang kebingungan.  Mark berlari lari kecil dan sampai dimanajer.


Mark memukul bahu Manajer, “astaga.” manajer yoo kaget.


“Ayo manajer cepat keluar dari sini.” Mark membisiki kalimat ke telinga manajer.


Manajer Yoo menatap sekitarnya, “nanti kalau dimarahin oma mu gimana?”


“Tidak apa apa, jennie sudah aku suruh untuk tutup mulut.” jawab Mark.


Mark tidak berbicara lagi dan langsung menarik tangan manajer Yoo. Manajer Yoo mengikuti langkah Mark kesusahan, mark lebih tinggi otomatis manajer yoo harus lebih cepat dua kali untuk melangkah menyamai langkah Mark.


Setelah sampai diparkiran para tamu. Mark langsung masuk kedalam mobil manajer Yoo. Manajer Yoo menyusul masuk dan menjadi supir untuk tuan muda Mark.


Manajer Yoo menoleh kebelakang, “beneran kamu mau pergi ke apartemen?” Manajer yoo bertanya lagi supaya mark sadar atas kesalahannya.


Mark mengangguk, “beneran sumpah manajer aku ingin keluar dari rumah itu.” Mark sampai bersumpah artinya mark bener bener yakin sama keputusannya.


~~

__ADS_1


next gak nih sayang sayang ku?


Terima kasih cinta cinta ku, love untuk semua.


__ADS_2