
Mark
mengeluarkan dompetnya dan mengambil salah satu kartu ATM. Jennie menahan
tangan Mark, “kamu beneran mau membayar dua miliar? gak salah?” Jennie meragu.
Mark menata Jennie, “memangnya kenapa? uang aku masih cukup.”
‘Sombong
banget’ batin Jennie.
“Tapi menurut
aku itu terlalu mahal Mark.” Sebagai wanita pasti ada aja jiwa jiwa menghemat
ketika melihat barang yang terlalu mahal.
“Jangan begitu
kelihatan miskin sekali.” Mark mengatakan dengan entengnya, what Jennie
dikatain miskin emang sih bahkan membayar sewa apartemen aja sering nunggak.
Jennie terdiam
karena merasa sakit hati dengan perkataan Mark. Mark yang melihat keterdiaman
Jenniepun mulai kembali mengajukan kartu debit kepada pelayan.
“Saya bayar
mbak.”
“Baik pak
ditunggu sebentar yah.”
Setelah
membayar pelayan itu menyerahkan sepenuhnya cincin yang diidam idamkan para
wanita. Jennie dan Mark keluar dari toko perhiasan itu. Jennie masih diam
begitu juga Mark, Jennie diam karena masih merasa sakit hati dengan ucapan
Mark.
Didalam
mobilpun hanya ada keheningan, karena merasa bosan Mark menghidupkan music.
Jennie mendengarkan setiap alunan nadanya. Katanya ibu hamil disarankan untuk
mendengarkan music, apakah itu sangat berpengaruh?. Selama ini Jennie hanya
berhadapan dengan banyaknya berkas kantor, janin yang harusnya diperhatikan
juga akan tidak dihiraukan Jennie karena memang fokus utama Jennie itu keberkas
kantor. Jennie memang workaholic.
“Apa aku boleh
bertanya Mark?” Tanya Jennie memecah alunan nada lagu.
“Silakan.”
“Kalo kita
menikah, aku bolehkan tetap bekerja?”
Jennie harus
bekerja agar kebutuhan anaknya saat Mark telah menceraikannya masih bisa Jennie
tanggung. Jennie takut jika dirinya tidak bekerja dan tiba tiba Mark
menceraikannya pasti anaknya akan serba kekurangan.
__ADS_1
“Tentu kamu
bisa bekerja.” Untungnya Mark mengijinkan.
“Makasih
Mark.”
Hening kembali
mereka berdua terlalu cuek padahal akan menjadi sepasang suami istri.
Jennie keluar
dari mobil mahal milik calon suaminya, setelah menempuh perjalanan beberapa jam
akhirnya Jennie bisa pulang, Jennie sudah berencana setelah pulang Jennie akan
langsung beristirahat. Keadaan hamil muda membuat Jennie sering kelelahan.
“Terimakasih
Mark udah bersedia beli cincin.” Harusnya Jennie tidak usah berterimakasih.
Mark
mengangguk dan tanpa sekata kata Mark langsung menekan pedal gas dan membawa
mobil bmw meninggalkan gedung apartemen Jennie. Jennie menatap kepergian Mark
dengan lesu, tatapan Jennie turun dibag belanjaannya tadi.
“Setidaknya
kamu mau menemaniku Mark.” Jennie melangkah meninggalkan parkiran. Sebelum
sampai pintu depan apartemen, Jennie dikagetkan dengan teriakan dari seseorang
pria yang lumayan spesial untuk Jennie.
yang gantengnya tiada tara ini pulang.” Gabriel langsung meletakan tangannya
dibahu kakaknya.
Jennie menatap
Gabriel dengan tatapan malasnya, padahal Gabriel harusnya mendapatkan tatapan
kerinduan, tapi apa? sekarang kakanya seperti malas bertemu dengan Gabriel.
“Kak kenapa
tatapan kakak seperti orang lagi bokek?”
Jennie melotot
dan Gabriel menerima pukulan dari tas bermerek Jennie, “aduhh kasian tuh tasnya
pasti mahal.” Celutuk Gabriel.
“Apaan sih
kamu. udah kamu kembali keagensi aja.” Jennie mengusir Gabriel yang sudah
melangkah bersamanya dikoridor apartemen.
“Jadi kakak
ngusir aku yang kiyowok gini?” Gabriel kembali menerima pukulan dari Jennie.
“Aduhh kak
ampunnnn.” Gabriel teriak kesakitan, padahal sih pukulan dari Jennie tidak
berasa.
“Kapok?” Gabriel menggeleng.
__ADS_1
“Ya ampun
kakak harus gimana sih buat bikin kamu kapok?” Jennie gemas dengan adiknya
sendiri.
Gabriel
menggeleng, kemudian Gabriel memegang tangan Jennie membawa Jennie untuk
mengikuti langkah Gabriel, Jennie menatap wajah Gabriel yang jauh. Adiknya saja
bersikap baik seperti ini dan meratukan Jennie, nanti bagaimana dengan Mark?
Jennie yakin setiap laki laki pasti sikapnya berbeda beda bukan? Jennie jadi
takut salah pilihan menikah dengan Mark.
“Kak kita
masuk lif yah.” Gabriel masuk terlebih dahulu dan diikuti langkah Jennie.
“Kakak kenapa?”
Dari tadi ternyata Gabriel memperhatikan gerak gerik Jennie. Jennie menggeleng
agar Gabriel tidak terlalu mengkhawatirkan Jennie.
“Kenapa
sekarang kakak berubah? padahal dulu sangat terbuka dengan iel.” Lagi lagi
Gabriel menyadari perubahan dari Jennie.
Jennie menatap
Gabriel dan tersenyum, “dulukan kakak belum hamil Gabriel sekarang kakak hamil
dan pasti sikap kakak akan berubah.” Jennie berusaha menutupi dengan
kehamilannya.
“Jujur saja
aku sebagai adik kakak sungguh belum menerima kalo kakak hamil.” Ungkap
Gabriel.
Kini mereka
berdua sudah sampai didepan pintu apartemen. Jennie ingin bertanya kenapa
Gabriel masih belum menerima calon anaknya? Tapi Gabriel menahan Jennie,
Gabriel menyuruh Jennie untuk masuk kedalam rumah dahulu nanti melanjutkan
pembicaraan didalam apartemen.
Jennie duduk
disofa dan diikuti Gabriel, “kenapa kamu belum menerima calon anakku?” Nada
sinis keluar dari mulut Jennie. Gabriel tau kalo Jennie pasti sangat kesal
dengan perkataan Gabriel, Jennie pasti akan langsung berubah 180 derajat.
“Aku sakit
hati kak. kenapa kakak hamil dengan cara seperti ini?,”
“Gabriel
menyesal kenapa Gabriel terlalu sibuk sampai lupa menjaga kakak.” Lanjut
Gabriel dengan nada sendu.
Jennie memegang
tangan Gabriel, “ini bukan salah kamu Gabriel.
__ADS_1