Gagal

Gagal
53


__ADS_3

Mark


mengeluarkan dompetnya dan mengambil salah satu kartu ATM. Jennie menahan


tangan Mark, “kamu beneran mau membayar dua miliar? gak salah?” Jennie meragu.


Mark menata Jennie, “memangnya kenapa? uang aku masih cukup.”


‘Sombong


banget’ batin Jennie.


“Tapi menurut


aku itu terlalu mahal Mark.” Sebagai wanita pasti ada aja jiwa jiwa menghemat


ketika melihat barang yang terlalu mahal.


“Jangan begitu


kelihatan miskin sekali.” Mark mengatakan dengan entengnya, what Jennie


dikatain miskin emang sih bahkan membayar sewa apartemen aja sering nunggak.


Jennie terdiam


karena merasa sakit hati dengan perkataan Mark. Mark yang melihat keterdiaman


Jenniepun mulai kembali mengajukan kartu debit kepada pelayan.


“Saya bayar


mbak.”


“Baik pak


ditunggu sebentar yah.”


Setelah


membayar pelayan itu menyerahkan sepenuhnya cincin yang diidam idamkan para


wanita. Jennie dan Mark keluar dari toko perhiasan itu. Jennie masih diam


begitu juga Mark, Jennie diam karena masih merasa sakit hati dengan ucapan


Mark.


Didalam


mobilpun hanya ada keheningan, karena merasa bosan Mark menghidupkan music.


Jennie mendengarkan setiap alunan nadanya. Katanya ibu hamil disarankan untuk


mendengarkan music, apakah itu sangat berpengaruh?. Selama ini Jennie hanya


berhadapan dengan banyaknya berkas kantor, janin yang harusnya diperhatikan


juga akan tidak dihiraukan Jennie karena memang fokus utama Jennie itu keberkas


kantor. Jennie memang workaholic.


“Apa aku boleh


bertanya Mark?” Tanya Jennie memecah alunan nada lagu.


“Silakan.”


“Kalo kita


menikah, aku bolehkan tetap bekerja?”


Jennie harus


bekerja agar kebutuhan anaknya saat Mark telah menceraikannya masih bisa Jennie


tanggung. Jennie takut jika dirinya tidak bekerja dan tiba tiba Mark


menceraikannya pasti anaknya akan serba kekurangan.

__ADS_1


“Tentu kamu


bisa bekerja.” Untungnya Mark mengijinkan.


“Makasih


Mark.”


Hening kembali


mereka berdua terlalu cuek padahal akan menjadi sepasang suami istri.



Jennie keluar


dari mobil mahal milik calon suaminya, setelah menempuh perjalanan beberapa jam


akhirnya Jennie bisa pulang, Jennie sudah berencana setelah pulang Jennie akan


langsung beristirahat. Keadaan hamil muda membuat Jennie sering kelelahan.


“Terimakasih


Mark udah bersedia beli cincin.” Harusnya Jennie tidak usah berterimakasih.


Mark


mengangguk dan tanpa sekata kata Mark langsung menekan pedal gas dan membawa


mobil bmw meninggalkan gedung apartemen Jennie. Jennie menatap kepergian Mark


dengan lesu, tatapan Jennie turun dibag belanjaannya tadi.


“Setidaknya


kamu mau menemaniku Mark.” Jennie melangkah meninggalkan parkiran. Sebelum


sampai pintu depan apartemen, Jennie dikagetkan dengan teriakan dari seseorang


pria yang lumayan spesial untuk Jennie.


yang gantengnya tiada tara ini pulang.” Gabriel langsung meletakan tangannya


dibahu kakaknya.


Jennie menatap


Gabriel dengan tatapan malasnya, padahal Gabriel harusnya mendapatkan tatapan


kerinduan, tapi apa? sekarang kakanya seperti malas bertemu dengan Gabriel.


“Kak kenapa


tatapan kakak seperti orang lagi bokek?”


Jennie melotot


dan Gabriel menerima pukulan dari tas bermerek Jennie, “aduhh kasian tuh tasnya


pasti mahal.” Celutuk Gabriel.


“Apaan sih


kamu. udah kamu kembali keagensi aja.” Jennie mengusir Gabriel yang sudah


melangkah bersamanya dikoridor apartemen.


“Jadi kakak


ngusir aku yang kiyowok gini?” Gabriel kembali menerima pukulan dari Jennie.


“Aduhh kak


ampunnnn.” Gabriel teriak kesakitan, padahal sih pukulan dari Jennie tidak


berasa.


“Kapok?”  Gabriel menggeleng.

__ADS_1


“Ya ampun


kakak harus gimana sih buat bikin kamu kapok?” Jennie gemas dengan adiknya


sendiri.


Gabriel


menggeleng, kemudian Gabriel memegang tangan Jennie membawa Jennie untuk


mengikuti langkah Gabriel, Jennie menatap wajah Gabriel yang jauh. Adiknya saja


bersikap baik seperti ini dan meratukan Jennie, nanti bagaimana dengan Mark?


Jennie yakin setiap laki laki pasti sikapnya berbeda beda bukan? Jennie jadi


takut salah pilihan menikah dengan Mark.


“Kak kita


masuk lif yah.” Gabriel masuk terlebih dahulu dan diikuti langkah Jennie.


“Kakak kenapa?”


Dari tadi ternyata Gabriel memperhatikan gerak gerik Jennie. Jennie menggeleng


agar Gabriel tidak terlalu mengkhawatirkan Jennie.


“Kenapa


sekarang kakak berubah? padahal dulu sangat terbuka dengan iel.” Lagi lagi


Gabriel menyadari perubahan dari Jennie.


Jennie menatap


Gabriel dan tersenyum, “dulukan kakak belum hamil Gabriel sekarang kakak hamil


dan pasti sikap kakak akan berubah.” Jennie berusaha menutupi dengan


kehamilannya.


“Jujur saja


aku sebagai adik kakak sungguh belum menerima kalo kakak hamil.” Ungkap


Gabriel.


Kini mereka


berdua sudah sampai didepan pintu apartemen. Jennie ingin bertanya kenapa


Gabriel masih belum menerima calon anaknya? Tapi Gabriel menahan Jennie,


Gabriel menyuruh Jennie untuk masuk kedalam rumah dahulu nanti melanjutkan


pembicaraan didalam apartemen.


Jennie duduk


disofa dan diikuti Gabriel, “kenapa kamu belum menerima calon anakku?” Nada


sinis keluar dari mulut Jennie. Gabriel tau kalo Jennie pasti sangat kesal


dengan perkataan Gabriel, Jennie pasti akan langsung berubah 180 derajat.


“Aku sakit


hati kak. kenapa kakak hamil dengan cara seperti ini?,”


“Gabriel


menyesal kenapa Gabriel terlalu sibuk sampai lupa menjaga kakak.” Lanjut


Gabriel dengan nada sendu.


Jennie memegang


tangan Gabriel, “ini bukan salah kamu Gabriel.

__ADS_1


__ADS_2