Gagal

Gagal
75


__ADS_3

Jennie sedang santai masih bisa duduk duduk dikursi kerjanya, berkas berkas diatas meja kerja sudah bersih karena Jennie sudah mengerjakan. Ponsel diatas meja berdering ada yang menelepon nomer Jennie. Jennie meraih ponselnya dan melihat siapa yang menelepon Jennie.


“Oma Rose?, tumben menelepon ada apa yah?”


Karena takut oma Rose ada kepentingan, jadi Jennie langsung mengangkat panggilan dari oma Rose.


“Hallo oma, ada apa?” Jennie langsung to the point.


“Kamu setelah kerja pulang kerumah bukan?” disini maksud oma Rose adalah mansion besar keluarganya.


Jennie sempat terdiam, Jennie berpikir sebentar. Tidak mungkin Jennie kemansion keluarga Mark, disana tidak ada Mark, pasti Kate akan selalu memojokan Jennie. Jennie membuat keputusan hari ini, setelah pulang kerja Jennie akan kembali keapartemen.


“Oma, maaf tapi Jennie sepertinya akan balik keapartemen.” jawab Jennie.


“Kenapa? balik keapartemen kamu?, kamu itu udah jadi istri orang loh Jen. Harusnya kamu ikut suami kamu. Kalau kamu gak bisa tinggal dimansion, yah kamu ikut tinggal dengan Mark diapartemennya.”


“Tidak oma, lebih baik aku tinggal diapartemen aku sendiri.” Jennie merasa kurang suka kalau tinggal diapartemen Mark, Jennie ingat kalau Mark dan dirinya tidak bisa dipaksa untuk bersama. Dihati Mark sudah ada perempuan lain.


“Udah, kamu hari ini boleh pulang keapartemen dengan catatan pulang karena mau beres beres barang. Setelah itu kamu pindah keapartemen Mark.” keputusan terakhir dari oma Rose.


“Tidak oma, aku tidak mau tinggal dengan Mark.” sebisa mungkin Jennie menolak.

__ADS_1


“Kamu sudah jadi bagian keluarga kami, jadi ikuti aturan kami!” oma Rose menyudahi obrolan telepon.


Jennie memijat pelipisnya, bagaimana ini? hari ini rasanya Jennie tidak mau berantem dan berdebat dengan orang lain. Semakin kesini sifat asli dari keluarga Mark semakin ketara, bahkan dihari pertama menjadi bagian keluarga Mark, Jennie merasa tidak kuat, merasa sangat dikenkang.


“Aku telepon mark aja atau gimana yah?” Jennie kebingungan.


“Kalau telepon nanti aku minta pendapat mark, bener gak sih?” Jennie masih kurang yakin.


Jennie mengusap rambutnya, rambutnya yang tertata rapi sekarang berubah seperti pohon randu. “Ah entah lah.” gusar Jennie.


Jennie akhirnya menelepon Mark, kalau tidak dijawab ya sudah mau bagaimana lagi. Seperti biasa kalau menelepon mark itu harus berkali kali, mungkin karena kesibukan jadi waktu memegang handphone untuk seorang Mark itu sangat jarang.


“Ada apa?” tanya Mark, Mark tidak mau terlalu basa basi dengan Jennie.


“Oma menyuruhku untuk tinggal dimansion keluarga kamu.” ungkap Jennie.


“Ya sudah tinggal kesana, emangnya kenapa?, gak harus dong ngomong keaku itukan pilihan kamu sendiri.” Jennie geram, Mark pernah denger kata kata kalau jalinan pernikahan akan langgeng karena saling terbuka bukan sih? kenapa jatuhnya Mark egois. Hidup Mark yah hidupnya kalau hidup orang lain mark sepertinya tidak akan mengurusinya, baik sih begitu tapi kan Jennie adalah istrinya.


“Bukan begitu Mark, tapi aku tidak suka tinggal disana kalau kamu tidak ada.” Jennie mengungkapkan isi hatinya, biarlah kalau malu juga ditanggung sendiri.


“Kalau begitu kamu maunya apa?” kini giliran Mark bertanya.

__ADS_1


“Kamu nanti malam tidak akan kembali kemansion keluarga mu bukan?”


“Iya.” jawab Mark.


“Oke, jadi nanti malam aku tidur diapartemen aku sendiri.” ucap Jennie.


“Hemm.” Mark mematikan telepon begitu saja.


Setelah itu Jennie mengelus perutnya, “lihat tuh papa kamu itu udah ketus gak mau peduli lagi dengan kita.”


“Iya yah ma, kasian banget kita berdua.” Jennie menirukan suara anak kecil.


\~\~\~


Gomawo, Merci, Kamsahamnida buat kalian semua yang udah baca plus ngasih hadiah dan vote.


Sayang sayang kalian semua deh :)


Ouh yah untuk bab berapa itu author lupa, maaf yah karena ada kesalahan upload, harusnya bab itu duluan eeh yang keupload malah bab selanjutnya.


Sekali lagi maaf dari author.

__ADS_1


__ADS_2