
Manajer Yoo dan Mark sudah sampai diapartemen. Mark langsung merebahkan tubuhnya disofa apartemen.
“Lelahnya.” gumam Mark.
Manajer Yoo duduk disingle sofa, “dia tidak apa apa ditinggal kamu mark?” tanya Manajer Yoo kepada Mark.
Mark menoleh kemanajer Yoo, “siapa lagi? oma?” Mark bingung karena sedari tadi yang dikhawatirkan manajer yoo adalah kemarahan oma Rose.
“Bukan,” manajer Yoo menggeleng.
“Tapi Jennie.” lanjut manajer Yoo.
“Bukannya aku sudah bilang, Jennie baik baik saja kesana asal dia mau tutup mulut.” jawab Mark dengan entengnya.
Manajer Yoo mengeleng geleng tidak suka dengan sikap Mark, “Mark kamu sudah menikah dengan
Jennie, otomatis kamu bertanggung jawab sama Jennie, dan aku juga dengar kalau mama mu tidak suka dengan Jennie, coba pikirkan apa Jennie akan aman berada dirumah mu sendirian?” ucap manajer yoo panjang lebar.
Pikiran Markpun melayang, benar juga apa yang dikatakan manajer Yoo pasti Kate akan selalu membuat Jennie merasa susah.
Tiba tiba Mark tersenyum, “tapi manajer sekejam kejam nya mama ku, mama ku tetap akan kalah sama oma.” ungkap Mark.
__ADS_1
Manajer Yoo mengangguk anggukan kepalanya saja, capek juga memberi nasehat kepada mark.
Padahal Mark yang sudah nikah duluan tapi rasanya mark belum pantas, lebih pantas lagi kalau manajer yoo yang menikah, tapi sayang manajer yoo gak ada calonnya.
Jennie merebahkan tubuhnya, ternyata hidup berdua sama seorang idola itu sangat memusingkan. Walaupun baru beberapa jam tapi Jennie sudah merasakan pusing.
“Lebih baik aku tidur saja.” Jennie merebahkan tubuhnya disofa, walaupun tidak ada Mark tapi Jennie tidak mungkin melanggar peraturan Mark dan tidur diatas ranjang.
Jennie mulai mengantuk kemudian sayup sayup penglihatan Jennie mulai ngeblur. Jennie sudah berada dialam mimpi.
Sinar mentari mulai melewati gorden gorden dikamar Mark, Jennie yang masih tertidur mulai terganggu karena sinar mentari.
Mata Jennie sedikit mulai sedikit mulai terbuka. Jennie kaget, ‘aduh aku dimana sekarang?’ panik Jennie didalam hati. Jennie mulai mengingat ingat kejadian kemarin, Jennie baru sadar kemarin melangsungkan pernikahan dengan salah satu idola.
Jennie bangun dari tidur kemudian langsung bangkit menuju kekamar mandi, hari pertama menjadi seorang menantu dirumah mertua sudah pasti Jennie harus rajin walaupun sempat bangun terlambat.
Jennie memakai pakaian kerja karena setelah ini Jennie akan langsung bekerja, tidak ada hari libur.
__ADS_1
Jennie juga mengoleskan make up natural biar tidak kelihatan pucat. Setelah semuanya selesai, Jennie melangkah untuk turun kelantai dasar dimansion sebesar ini.
Langkah Jennie memelan karena melihat mertuanya yang menatap tajam, ‘wah pagi pagi kok udah dapet tatapan singa.’ batin Jennie menjerit.
Tubuh Jennie sudah melangkah mendekat kearah meja makan disana sudah ada papa mertua, mama mertua dan juga jangan lupa oma Rose.
“Selamat pagi.” Jennie menyapa terlebih dahulu.
“Selamat pagi Jennie.” oma Rose balik menyapa sedangkan mama mertuanya tidak memandang Jennie, mungkin masih terlalu emosi anaknya menikah dengan Jennie. Sedangkan papa mertuanya terlihat tidak peduli.
Jennie duduk dikursi makan dan hendak mengambil makan karena perut Jennie sudah kelaparan. “Kamu bener tidak sopan yah! kamu harus nunggu suami kamu turun dulu dong!.” Kate membentak Jennie.
Jennie memandang Kate, bingung ingin menjawab seperti apa, gak mungkin Jennie jujur karena dia dan Mark sudah berjanji untuk tutup mulut.
Oma Rose memandang Kate dengan tatapan tidak suka, “kamu! diam.” sentak oma Rose kepada Kate. Kate langsung diam dan tertunduk.
Giliran oma Rose menatap kearah Jennie, “Jennie, kemana suami mu?” tanya oma Rose kepada Jennie.
Jennie memandang oma Rose dan terus terdiam tidak menjawab. “Jawab dong jangan diam aja.” sempat sempatnya Kate membentak Jennie yang bingung karena kelakuan anak Kate sendiri.
~~
__ADS_1
next gak nih?