
Jennie semakin menunduk, takut menatap bosnya yang sedang marah besar.
Pak Bram menghela nafas berat, berusaha mengatur emosinya. “Kamu udah berapa lama bekerja menjadi manajer disini Jennie?” ditanya seperti ini membuat hati Jennie ketar ketir takut kalau akan dipecat.
“Sudah lebih dari tiga tahun pak.” jawab Jennie.
“Sudah lama bukan? dari dahulu juga kamu gak pernah kerja gini! sekarang malah buat kesalahan gini!.” Pak Bram berkata dengan nada keras.
“Maaf pak.” Jennie menyesal.
Benar bukan kalau sampai dikantor pasti Jennie akan kena damprat Pak Bram.
“Setelah saya amati baru kemarin kemarin kinerja kerja kamu semakin menurun Jen. Ada apa? ada masalah dikehidupan mu? kalau ada masalah dikehidupan mu tolong jangan sampai berdampak kepada kinerja kerja kamu. Masalah rumah yah selesaikan dirumah jangan dibawa kekantor.” nasehat dari pak Bram.
“Baik pak.”
Pak Bram menjentikan tangannya dimejanya. “Ehm tentang tawaran kerja sama itu, sebaiknya jangan libatkan hotel. Kalau kamu sudah menemukan bagaimana caranya maka jangan libatkan hotel. Hotel tidak akan memberikan sepeserpun kepada kamu Jen.” ungkap Pak Bram tidak setuju dengan kerja sama antara pihak hotel dan resto.
“Kenapa pak?” Jennie bertanya karena merasa ada yang janggal.
__ADS_1
“Itukan kesepakatan pribadi kamu dengan resto bukan hotel dengan resto.”
Mulut Jennie langsung mengangga tidak percaya. “Pak gak ada keringanan apa? kasih saja uang awal deh pak? gimana?” Jennie berusaha menawar nawar.
“Enggak ada acara dana awal.” Pak Bram sudah menolak.
Jennie menjatuhkan tubuhnya untuk bersimpuh didekat kursi yang diduduki Pak Bram.
“Pak saya mohon dong pak.” Jennie meminta minta sedikit menjatuhkan harga dirinya.
“Saya tetap tidak mau hotel bekerja sama dengan resto itu lagi.”
Jennie menghela nafas kasar. “Mereka minta buat bekerja sama naikin pemasukan Hotel, mereka juga minta buat naikin pemasukan mereka. Kalau kita mau dan berhasil mendapatkan kenaikan nanti mereka akan membayar kerugian itu pak.” Jennie kembali mengungkapkan isi dari kerja sama itu semoga pak Bram berubah pikiran dan menyetujui kerja sama itu.
“Mau kamu membacakan isi kerja sama sebanyak seratus kali juga tetap saya tolak.” Pak Bram teguh terhadap pendiriannya.
Memang seorang pemimpin itu harus teguh dalam pendiriannya, tegas dan juga adil.
“Pak saya udah lama loh kerja disini. Pak Bram gak tega kan sama saya?” Jennie masih berusaha keras agar pak Bram mau menyetujuinya.
__ADS_1
Pak Bram meraup mukannya, frutasi juga membahas pekerjaan dengan Jennie. “Pendapatan hotel sudah menurun gratis karena berita tentang kerugian agensi itu Jen. Hotel mungkin gak kuat buat nambal dana dikerja sama dengan resto.” ungkap Pak Bram.
“Saya mau banget bekerja sama dengan resto itu. tapi dilihat dari pendapatan hotel sudah tidak bisa, mungkin hotel hanya bisa membayar gajian karyawan selama satu tahun setelah itu kalau tidak ada pemasukan juga pasti hotel ini akan bangkrut.” Jennie langsung merasa sedih. Hotel yang sudah lama ia tempati kerja mau bangkrut? Jennie harus bagaimana.
‘Jadi merasa bersalah.’ batin Jennie
“Lalu bagaimana dengan nasip saya pak?” Jennie bertanya dengan nada lirih.
“Saya gak bisa memprediksi Jennie, karena masa depan gak ada yang tau.” jawab Pak Bram.
Jennie mengangguk setuju. “Kalau begitu disini Jennie bakal semangat bekerja. Jennie sebagai manajer hotel akan berusaha biar hotel kembali berjaya.” ucap Jennie semangat menggebu gebu.
Pak Bram tersenyum. “Saya percaya kamu bisa Jennie.”
“Saya sudah mengetahui potensi kamu sejak lama. namun akhir akhir ini potensi mu semakin memudar.” lanjut Pak Bram.
Jennie menggeleng. “Potensi itu bakal Jennie gali kembali kok pak. Tenang saja.”
81
__ADS_1